
CIT... CIT... CIT...
kicauan burung terdengar bagaikan sedang bernyanyi merdu, cahaya sinar pagi kini masuk di dalam kamarku melalui jendela yang terbuka lebar.
Semalam aku lupa menutup jendela kamarku saat tidur, rasa lelah di tubuhku dan rasa kantuk masih membuatku bergelayut di atas ranjangku. Rasanya sangat malas dan tidak ingin bangun, mengingat jadwal kegiatanku di pagi hari tak ada atau kosong hingga sore hari maka aku dapat melanjutkan tidurku sejenak.
Kini aku paham, mengapa jadwal kerjaku dimulai saat sore hari. Semalam aku melayani tuan Vilan dan menunggunya hingga pukul tiga subuh, aku kembali ke kamarku setengah empat subuh dan dapat tertidur lagi setelah pukul lima di pagi hari.
Aku mengambil jam arlojiku yang ada di samping bantalku, semalam aku melepaskan arloji itu dari lenganku dan menaruhnya tidak jauh dariku agar aku dapat melihat waktu dengan cepat saat aku terbangun.
"Sudah pukul sembilan pagi..." Ucapku malas, aku menaruh kembali arloji itu dan memejamkan mataku lagi.
KRUUUU~UUUK... KRUUU~UUUK...
"Sungguh merdu dan sangat indah nyanyianmu itu wahai kau perutku sayang, sepertinya kau tidak ingin kalah bertanding nyanyi dengan burung-burung yang ada di luar sana..." Ucapku sangat kesal.
Bagai mana aku dapat tidur kembali dengan pulas jika suara keroncongan yang keras terus terdengar dari dalam perutku, dengan sangat kesal aku bangkit dari tidurku dan berjalan keluar kamarku menuju ruang makan di lantai satu.
Berharap ada sedikit makanan di dapur atau di lemari penyimpanan makanan, dengan pandangan yang masih penuh kantuk dan piyama tidurku aku berjalan menuruni tangga-tangga.
"Tuan Vi~la~an... harusnya kau menyediakan lift di rumahmu yang mewah ini..." Ucapku dengan suara yang malas bagai orang mabuk.
"Aku bisa mati cepat hanya karena tangga-tanggamu ini jika setiap hari aku harus berjalan melewati ratusan tangga yang ada di sini..." Lanjutku, aku menghentikan langkahku tepat di tangga ke dua puluh. Masih ada tiga puluh tangga lagi yang harus ku lewati di bawahnya dengan kondisiku yang begitu ngantuk dan juga lapar, aku terduduk lemas di tangga itu.
"Aku lapar..." Ucapku lagi dengan suara parau menahan tangisan.
"Hentikan ocehanmu yang seperti anak kecil itu"
Terdengar sebuah suara tepat di belakangku, aku menoleh ke belakang dan melihat sosok Tuan Vilan yang sangat menyebalkan.
"Tu~an..." Ucapku dengan bibir yang mulai berbentuk aneh karena menahan tangisanku.
"Gideon" Panggil Tuan Vilan.
Tidak ada lima menit, Gideon telah berdiri dan menghadap Tuan Vilan tepat di tangga yang ada di bawahku. Gideon menundukkan kepalanya seperti biasa untuk menghormati Tuan Vilan.
"Saya Tuan?" Ucap Gideon.
__ADS_1
"Suruh seorang pelayan yang ada di dapur membawakan makanan ke kamar Hyorin untuknya, aku rasa sebentar lagi dia akan mati jika melanjutkan langkahnya menuju ruang makan" Ucap Tuan Vilan sambil menatapku dengan senyuman jahil miliknya.
"Dan panggilkan instruktur bangunan untuk membuat sebuah lift yang menuju ke semua tingkatan bangunan ini, kaki Hyorin begitu kecil untuk melangkahi tangga-tangga di rumah ini" Lanjut Tuan Vilan yang masih memerintah Gideon tanpa lupa sedikit sindiran jahil untuk mengataiku, Gideon hanya menahan tawanya mendengar sindiran Tuan Vilan.
Aku menatap Tuan Vilan dengan penuh kesal, namun suara gemuruh perutku yang keroncongan kembali menguras tenagaku hingga aku melupakan rasa kesalku padanya.
"Aku hanya seorang manusia Tuan, aku tidak punya tenaga super seperti kalian" Jelasku.
Tuan Vilan hanya diam menatapku dengan senyuman liciknya, sedangkan Gideon langsung pergi meninggalkan aku dan Tuan Vilan untuk melaksanakan tugasnya.
"Apakah kau butuh bantuanku untuk menuju kamarmu?" Ucap Tuan Vilan dengan nada jahilnya.
"Tidak, terima kasih..." Ucapku kesal sambil memaksakan diriku untuk bangkit dan segera berjalan kembali menuju kamarku.
lima menit kemudian makanan telah sampai diantarkan ke kamarku oleh seorang pelayan wanita, tatapan pelayan itu terlihat sangat tidak senang saat menyerahkan semua makanan itu padaku. Namun aku abaikan sikap pelayan itu, yang aku utamakan saat ini adalah perutku.
Aku menaruh makananku di atas meja rias besar yang ada di samping ranjangku dan aku duduk di bangku kecil yang ada di depan meja rias ku itu untuk menikmati makananku dengan lahap, tinggal satu suap sendok terakhir dan sup hangat yang akun makan akan habis.
PRANG...!
Tubuhku mulai mati rasa juga lemah dan dadaku semakin sesak, mulutku mulai mengeluarkan darah. Makananku diracuni?
BRAK..!
Pintu kamarku terbuka dengan sangat kasar, Tuan Vilan dan Gideon segera berlari menuju ke arahku dan tubuhku diletakkan dalam pelukan Tuan Vilan.
"Siapa yang melakukannya?" Tanya Tuan Vilan.
Aku tidak tahu pertanyaan itu ditujukan padaku ataukah pada Gideon, namun aku atau pun Gideon tidak ada yang dapat menjawabnya segera.
"Akan saya selidiki Tuan" Ucap Gideon lalu pamit pergi meninggalkan kami berdua.
Pandanganku mulai kabur dan nafasku mulai putus-putus, Tuan Vilan terus memanggil namaku dan mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja.
"Minum..." Ucap Tuan Vilan sambil menekankan lengannya yang basah pada bibirku, cairan rasa tembaga terasa di tenggorokanku.
Darah..!! Seketika bayangan dejavu seakan menyerbuku, gambaran-gambaran saat kecelakaan dan rasa darah yang mengalir masuk lewat tenggorokanku. Semua bayangan itu terlintas di dalam pikiran dan membuat kepalaku menjadi sakit, saat tenagaku mulai kurasakan sedikit aku memalingkan wajahku dari lengan Tuan Vilan agar tidak meminum darahnya itu.
__ADS_1
"HYORIN!!!" Bentak Tuan Vilan.
"Jangan membuatku mengulangi perkataanku berulang-ulang kali, MINUM..!!" Ucap Tuan Vilan sambil kembali menekan lengannya di mulutku.
"Buka mulutmu... jika kau tidak mematuhiku, maka aku akan membuatmu meminum darahku dengan paksa" Ancam Tuan Vilan padaku.
Air mataku mengalir membasahi pipiku, bayangan-bayangan akan kecelakaan dua tahun silam semakin tergambar jelas di ingatanku. Dan di dalam sebuah hutan, pria itu adalah Tuan Vilan.
Pria yang menyelamatkan aku dari kecelakaan itu adalah Tuan Vilan dan kini aku harus kembali diselamatkan olehnya, Apa bayaran yang harus aku berikan atas semua bantuannya ini?
"Apa kau lebih senang mati dan membiarkan pengorbanan ayahmu menjadi sia-sia?"
Ucapan Tuan Vilan semakin memukul hati dan juga perasaanku, kini bayangan ayahku muncul dalam ingatan dengan perkataannya yang menyuruhku harus tetap hidup. Air mataku semakin deras, aku mulai membuka mulutku dan menjilati lengan kekar milik Tuan Vilan yang masih menyisakan sedikit darah yang menempel pada kulitnya.
Tuan Vilan kembali menggigit lengannya dan menyodorkannya lagi padaku, aku kembali menikmati sensasi darah yang keluar dari kulit lengan Tuan Vilan. Sambil terbayang kedua orang tuaku yang memelukku dengan tangisan mereka dan bayangan Tuan Vilan yang berusaha menolongku, tangisanku membuatku terisak dan tersedak beberapa kali.
"Jangan menangis Hyorin, teruslah meminum dengan tenang..." Ucap Tuan Vilan dengan lembut, matanya kini telah berubah menjadi merah menyalah.
Tuan Vilan menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya padaku dan kepala kami saling bertautan. Ia memejamkan matanya, sedangkan aku masih terus menjilati kulit dan menghisap setetes demi setetes darah yang keluar dari lengan Tuan Vilan.
Cukup lama aku meminum darah Tuan Vilan hingga Gideon muncul dengan membawa kabar untuk Tuan Vilan, Gideon membisikkan kabar itu di telinga Tuan Vilan hingga selesai.
"Aku sendiri yang akan melakukannya" Ucap Tuan Vilan pada Gideon.
"Panggilkan dokter untuk memeriksa Hyorin"
"Laksanakan Tuan" Ucap Gideon.
Tuan Vilan mengangkat tubuhku yang masih terkulai lemah dan berjalan keluar kamarku, dengan kecepatan penuh Tuan Vilan berjalan hingga sampai di dalam ruang kamarnya.
Aku dibaringkan di atas ranjang miliknya yang semalam sempat aku gunakan untuk beristirahat, walaupun tubuhku sudah dapat merasakan sedikit tenaga namun aku masih belum cukup bertenaga untuk meninggalkan ruangan Tuan Vilan atau menolak Tuan Vilan.
"Aku akan segera kembali, untuk sementara ini kamu tidur saja di sini. Jang pernah berfikir untuk keluar dari ruangan ini walau hanya selangkah, kau akan kuberi hukuman jika tidak mendengarkan perintahku" Ucap Tuan Vilan dengan sedikit ancaman.
"Beberapa menit lagi Gideon akan datang mengantarkan seorang dokter untukmu, bersabarlah..." Jelas Tuan Vilan lagi.
"Aku pergi dulu untuk mengurusi beberapa keperluan" Ucap Tuan Vilan lalu ia pergi meninggalkanku.
__ADS_1