BLOODY RING

BLOODY RING
12


__ADS_3

"Apa yang terjadi dengan matamu itu? apa hari ini kau berias ala zombie?" Ucap Tuan Vilan saat ia telah selesai mandi di pagi hari dan menatap aku yang sedang terduduk di atas sofa dalam kamar Tuan Vilan dengan kedua mata yang penuh lingkaran hitam di bawah mata dan wajah yang pucat.


Cih..!! kau pikir ini salah siapa?! karena dirimulah hingga aku tidak dapat tidur semalaman. Keluhku dalam hati.


Ku abaikan Tuan Vilan dan berjalan perlahan menuju ranjang dan membaringkan tubuhku, pagi-pagi buta Tuan Vilan telah terbangun dan membersihkan dirinya. Nampaknya ia akan menghadiri sebuah pertemuan, pakaian yang Tuan Vilan kenakan lumayan rapih.


"Jangan tengkurap seperti itu, terlentanglah. Aku akan berikan mu injeksi sebelum aku pergi" Ucap Tuan Vilan dan aku membalikkan tubuhku agar ia dapat melakukan kegiatan suntik-menyuntikku, ku buka kedua mataku saat jarum suntikan itu menembus kulit pahaku.


"Tuan akan kemana?" Tanyaku


Seperti biasanya, Tuan Vilan tidak menjawab pertanyaan yang menurutnya aku tidak perlu tahu. Kebisuan terus menghiasi ruangan hingga kegiatan menyuntikku selesai, Tuan Vilan membereskan perlengkapan injeksi itu dan menyimpannya di laci lalu ia keluar dari kamar meninggalkanku sendiri lagi.


"Bosan..." Ucapku.


Aku bangkit dari tidurku dan pergi menyegarkan tubuhku, memakai pakaian dan mulai berjalan menuju pintu kamar.


ku buka pintu itu dan mencondongkan sebagian tubuhku lalu melihat ke samping kiri dan kanan, memastikan tak ada seorangpun yang akan mencegahku.


"Yups... kosong, aman..." Ucapku sambil berjalan keluar pintu kamar dan berjalan menyusuri lorong menuju tangga.


saat menuju arah tangga, pandanganku tertuju pada sebuah pintu kaca yang terlihat baru.


"Oh... rupanya liftnya sudah ada..?" Ucapku girang menatap pintu lift yang ada di hadapanku, dengan lift itu maka kakiku yang masih lemah ini tidak perlu menuruni puluhan tangga lagi.


"Coba kita lihat... apakah lift ini sudah dapat bekerja?" Ucapku sambil menekan tombol untuk membuka pintu itu, tanpa menunggu lebih lama pintu kaca lift terbuka.


Kebahagiaanku terpancar dari raut wajahku, aku memasuki lift dan menekan tombol menuju lantai satu. Liftnya bekerja dengan sangat baik, pemandangan setiap lantai terlihat dari balik pintu kaca lift yang jernih dan bening.


Pintu lift telah terbuka, aku melangkahkan kakiku menuju halaman belakang rumah ini. Dalam perjalanan, dari kejauhan aku melihat Tuan Vilan. Dengan buru-buru aku mencari tempat persembunyian dibalik pot bunga yang besar, aku berjongkok dan mengoceh-ngoceh pelan karena kebetulan yang sungguh sial bagiku.


"Apa yang dia lakukan di situ sih..." Keluhku sambil melihat Tuan Vilan yang sedang berbicara bersama Gideon dan beberapa pria yang bertubuh tinggi besar, kemungkinan itu adalah beberapa bawahan Tuan Vilan.

__ADS_1


"Apa yang mereka bicarakan..?" Tanyaku pada diriku sendiri, aku memasang indra pendengaranku baik-baik agar dapat mencuri dengar pembicaraan mereka. Namun yang ku dapat hanyalah sebuah percakapan dengan bahasa yang tidak ku pahami, tetapi aku melihat sedikit raut wajah Tuan Vilan yang kurang senang.


Tuan Vilan berbalik ke arahku, rasa terkejut membuatku segera menyembunyikan kepalaku dibalik bunga-bunga rimbun yang ada di dalam pot besar seukuran tubuhku.


"Jika dia melihatku maka tamatlah sudah, dia pasti akan sangat marah padaku" Ucapku memperingatkan diriku sendiri.


"Siapa yang kau maksud dengan 'Dia' itu?" Suara Tuan Vilan sangat jelas terdengar dari arah belakangku, aku menelan ludah ku karena merasa gugup dan tidak berani menatap ke arah belakang.


"Berdiri dan perlihatkan wajahmu itu padaku" Perintah Tuan Vilan.


Aku berbalik dengan perlahan dan mulai berdiri lalu menatap wajah Tuan Vilan, raut wajahnya nampak sangat tidak senang mendapatku di balik pot bunga.


Kulemparkan senyuman yang terasa kaku pada Tuan Vilan, berharap ia tidak terlalu mempermasalahkan diriku yang mencari udara segar diluar kamar mewah miliknya itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Vilan.


Ku paling kan tatapanku menuju arah Gideon yang ada jauh dibelakang bersama beberapa kawannya, rasa takut membuatku tidak berani menatap langsung mata Tuan Vilan.


"Tidak Tuan..." Ucapku dan langsung menatap mata Tuan Vilan yang telah berubah menjadi merah menyalah, dugaanku dia pasti sangat marah saat ini.


"Aku hanya merasa bosan di dalam kamar dan ingin mencari udara segar diluar" Jelas ku pada Tuan Vilan.


"Gideon!! Pastikan Hyorin tidak melakukan hal yang dapat memancing emosiku" Ucap Tuan Vilan lalu berbalik pergi dengan kecepatan kilat nya meninggalkan aku dan Gideon berdua.


"Mari Nona, saya antar anda kembali ke dalam kamar Tuan" Ucap Gideon yang telah berdiri di sampingku.


"Apakah aku seorang tahanan saat ini?!" Tanyaku kesal.


"Tuan tidak bermaksud seperti itu Nona, Tuan hanya mencoba melindungi anda" Jelas Gideon.


"Melindungiku? dari apa? mengapa aku tidak diizinkan keluar kamar walau hanya untuk mencari udara segar di taman belakang?" Ucapku dengan suara yang agak meninggi, amarahku meluap-luap karena kekesalanku.

__ADS_1


"Apakah aku tidak dapat menyegarkan pikiranku sejenak? jika dia sangat takut aku melakukan hal yang dapat merugikannya, maka suruh saja seorang bawahannya untuk menemaniku dan menjagaku. Apakah itu pun tidak bisa?" Ucapku lagi.


"Baiklah Nona, saya akan menyuruh seseorang menemani anda sejenak di luar agar anda dapat menyegarkan pikiran anda" Ucap Gideon dan ia pun memanggil seorang pria bertubuh kecil dan tidak terlalu tinggi yang ada di dekat ruangan tempatku berdiri saat ini.


Gideon memberikan perintah kepada pria itu agar menemaniku kemanapun aku pergi, rasa kesalku semakin memuncak saat Gideon menyuruh pria itu mengawasiku 24 jam dan melaporkan semua kegiatanku pada Gideon setiap 15 menit.


Aku benar-benar telah menjadi tawanan di dalam rumah ini, aku segera melangkahkan kakiku dan berjalan meninggalkan Gideon. Pria yang diperintahkan Gideon mengikutiku dari arah belakang hingga aku sampai di taman belakang rumah, udara segar di pagi hari menyapu kulit dan wajahku.


Aku duduk disalah satu bangku yang telah tersedia di taman itu khusus untuk bersantai dan minum teh disaat senggang, pepohonan dan gunung-gunung yang hijau memanjakan mataku. Kicauan burung bernyanyi-nyanyi dengan suara merdu meraka, membuat suasana hatiku kembali stabil.


Taman belakang sangat indah dengan banyak bunga-bunga beraneka warna dan jenis yang menghiasi di tiap-tiap bagiannya, juga terdapat bunga-bunga yang dijadikan sebuah labirin tepat ditengah lapangan ini.


Taman labirin itu jika dilihat dari lantai atas terlihat sangat indah dan ditengah-tengah labirin itu terdapat sebuah taman air mancur kecil yang dibuat untuk memperindah labirin itu, hati kecilku selalu mengajakku ke sana namun tidak disaat bawahan Tuan Vilan itu mengekorku bagai anak itik yang tidak mau lepas.


Dua jam aku berada di taman belakang, sesekali menyusuri bunga-bunga dan sesekali kembali duduk.


"Aku haus, bisakah kau mengambilkan teh untuk ku nikmati?" Tanyaku pada pria yang selalu mengikuti langkah kakiku, pria itu mengambil sebuah telphon genggam dan berbicara menggukan bahasa yang lagi-lagi tidak aku pahami.


Sepertinya dia melapor kepada Gideon sebelum dia pamit sejenak untuk mengambilkan teh yang aku pinta, seharusnya Gideon tidak akan melarangnya sebab aku telah lama di taman ini tanpa setetes air pun.


Saat pria itu pergi memasuki istana Tuan Vilan yang megah, aku berjalan menuju labirin bunga untuk menyusurinya dengan senang hati. Tiap-tiap labirin kususuri dan terkadang mendapati jalan buntu, namun aku tidak putus asa dan melanjutkan jalanku.


"Aku harus sampai di taman air mancur itu" Ucapku semangat sambil berjalan.


Ditengah perjalananku, aku dihadang oleh seorang pria yang tidak aku kenal.


"Hello, Ladies..." Ucap pria itu padaku sambil melemparkan seringaiannya hingga nampak barisan gigi-giginya yang putih yang rapih dan dua taringnya.


Sedikit demi sedikit aku berjalan mundur, perasaanku mengatakan untuk segera pergi dari pria itu. Rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuhku, aku segera berbalik dan mencoba berlari. Namun lenganku berhasil ditangkapnya dan ia menarik tubuhku mendekat ke arahnya, aku berteriak sekuat tenaga meminta tolong.


Saat kali berikutnya mulutku terbuka untuk berteriak, Pria itu menciumku dan memasukkan sebuah cairan ke dalam tenggorokanku melalui mulutnya. Aku terus memberontak, hingga akhirnya tubuhku merasa lemah dan kesadaranku mulai menghilang digantikan dengan pandangan yang gelap.

__ADS_1


__ADS_2