
"TIIIIIDAAAAAAAAAK..."
Aku terbangun dengan tubuh yang penuh dengan keringat dan membasahi baju yang aku kenakan, air mataku telah mengalir dengan sangat deras.
Aku melihat kedua tanganku, keduanya dipasangi infus yang berbeda. Bagian tangan kiri terpasang infus dengan cairan warna bening, dan tangan yang lainnya terpasang infus cairan darah. Aku beralih memperhatikan sekelilingku, tirai biru menutupi dan mengelilingi tempat tidurku.
Rumah sakit? ucapku dalam hati. Ingatanku kembali akan peristiwa yang aku alami sebelumnya, aku segera mencabut kedua infus itu dari semua tanganku dan berlari keluar ruangan.
Suster terus mengejarku. Saat kakiku tinggal beberapa langkah melewati pintu keluar rumah sakit, seorang dokter menangkap lenganku. Menarikku dan mengunci kedua lenganku di masing-masing ke dua sisi pinggangku, dokter itu memeluk pinggangku dengan sangat erat dari belakang.
Aku memfokuskan seluruh kekuatanku pada kakiku dan mencurahkan segala amarahku dengan menginjak kaki sang dokter sekuat tenaga hingga dokter itu merasakan sakit, namun ia menahan teriakannya agar tidak menimbulkan keributan.
"Hei... Hei... Tenanglah Nona, kau baru saja tersadar. Kau belum benar-benar pulih, jangan bertingkah seperti itu" Ucap sang dokter.
"Tidak!!! ayah... ibu..!!" Rontaku sambil menangis dan berusaha lepas dari pelukan sang dokter yang terus saja menahanku.
"Tenanglah Nona.., suster! segera berikan penenang untuk Nona yang cantik ini"
Suster yang diperintahkan segera menuju ke arahku dan memberikan sebuah injeksi padaku agar aku bisa lebih tenang, beberapa menit kemudian kakiku tidak lagi bisa menahan berat tubuhku karena efek dari obat bius yang disuntikkan padaku.
"Jangan khawatir Nona, jika anda sadar nanti maka anda akan mendapatkan informasi yang anda inginkan" Dokter itu menggendongku dan membawaku kembali ketempat tidurku semula, memasangkan kembali infus yang sudah aku lepaskan dari kedua tanganku.
"Ibu... ayah..." Ucapku sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku kembali.
__ADS_1
Selama 2 jam lamanya aku dalam pengaruh obat bius lalu tersadar, ku lihat langit-langit di atas tempatku berbaring.
"Selamat datang kembali..."
Suara seorang pria terdengar dari sebelahku, aku menatap pria itu dan ternyata itu adalah dokter yang tadi menangkapku. Aku mencoba bangun dan berusaha duduk, dokter itu membantuku dengan memberikan sanggahan bantal dibelakang punggungku.
"Ayah dan ibuku..?" Tanyaku langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Tim kami baru tiba di sana saat semua telah terbakar, hanya dirimu lah yang selamat karena berada di luar jalan dengan tubuh yang penuh dengan darah" Jelas sang dokter.
Aku tak kuasa menahan air mataku dan kesedihanku, orang tua yang sangat ku sayangi dan hanya mereka keluargaku kini telah tiada. Walaupun dokter tidak mengatakan tentang kematian mereka namun dari penjelasannya bahwa semua telah terbakar, maka aku dapat memahaminya. Bagaimana tidak ku pahami, ingatanku masih jelas tentang semua kejadian itu dan ayah juga ibu terkurung di dalam mobil tak dapat bergerak. Sedangkan diriku...
'Diriku..? bagai mana bisa aku di luar mobil itu? dan mengapa hanya aku yang selamat?'
'Mengapa aku tidak mengingat bagai mana aku bisa ada di luar mobil? apa yang terjadi sebenarnya?'
Air mataku terus menetes membasahi pipiku, aku benar-benar tidak mengerti dan tidak mengingat apa yang terjadi setelah kecelakaan itu. Apakah aku terlempar keluar mobil ataukah aku yang berusaha keluar sendiri? aku tidak mengingat semua itu, mengapa?
Tangisanku semakin terdengar frustasi, aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku dan menangis sekerasnya.
"Tenanglah, kendalikan dirimu. Aku tau ini semua berat, tapi kau harus tetap bisa mengendalikan dirimu. Jangan biarkan emosimu mengalahkan dirimu, kau harus kuat" Ucap sang dokter sambil memelukku untuk mencegah tindakanku yang terus-terus meramas-ramas rambutku.
Aku bagai kehilangan segalanya, orang tuaku dan bahkan diriku sendiri. Semangat hidupku kini benar-benar seakan pergi meninggalkanku, sekarang apa yang harus ku lakukan? dan bisakah aku hidup sendiri tanpa ayah dan ibuku?
__ADS_1
Hatiku terasa amat sakit dan pedih, aku terus menangis dalam pelukan dokter. Meredam suara tangisanku dalam jubah putihnya, jika saja aku bisa memutar waktu. Maka aku akan memilih untuk tidak pergi berlibur, aku akan tetap dalam tidurku agar kecelakaan itu tidak terjadi dan aku tidak kehilangan orang tua yang aku sayangi.
'Tuhan, jalan apa yang ingin Engkau tunjukkan padaku sehingga Engkau berikan kehidupan ini padaku? mengapa hanya aku yang tidak Engkau panggil Tuhan? ini tak adil, Engkau merebut ayah dan ibuku sekaligus. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, Tuhan?'
"Istirahatlah, tenangkan dirimu" Dokter itu membaringkanku dan mulai menjauh.
"Do..dok..dok..ter..." Panggilku dengan terbata-bata karena tangisanku, aku memegang lengan jubah sang dokter enggan melepaskannya. Dokter itu kembali mendekat dan mengelus-elus kepalaku.
"Istirahatlah, kami semua ada di sini. Kau tidak perlu khawatir, tidurlah" Bujuk sang dokter.
Aku memejamkan mataku dan berusaha tidur, namun aku tetap enggan melepaskan peganganku pada dokter itu. Seakan-akan jika aku melepaskannya maka aku akan benar-benar sendiri tanpa siapapun, aku butuh seseorang yang dapat membuatku merasa nyaman. Kini aku tidak memiliki siapapun, aku tidak ingin semuanya pergi meninggalkan aku begitu saja.
Dalam beberapa menit aku pun tertidur lelap karena kelelahan, dalam tidurku aku bermimpi ayah dan ibuku datang melihatku. Mereka memelukku, mencium pipiku dan menangis...
"Sayang, hiduplah dengan bahagia. Jangan pernah salahkan dirimu atau sesali apa yang telah terjadi, ibu dan ayah akan selalu bersamamu. Menjagamu dan melihatmu, ibu dan ayah akan selalu menyayangimu. Hyorin kami yang paling kami cintai..." Ucap ibuku sambil memelukku dan mengelus-elus kepalaku seperti biasanya, air mataku semakin merembet membasahi pipiku.
"Ibu... Hyorin pun sangat mencintai ayah dan ibu" Aku memeluk ayah dan ibuku bersamaan dan menangis dalam pelukan mereka.
"Kami harus segera pergi Hyorin, ingat satu hal yang ayah katakan ini Hyorin. Pilihlah jalan hidupmu sendiri dan jangan pernah kau menyerahkan hidupmu pada kematian, hiduplah dengan bahagia Hyorin kami..."
"Ayah dan ibu mau kemana? Hyorin mau ikut dengan ayah dan ibu, bolehkan?" Ucapku sambil menangis tersedu-sedu, mereka menggelangkan kepala bersamaan lalu mencium pipiku bersamaan di masing-masing sisi pipiku.
Ayah dan ibuku mulai melepaskan pelukan mereka, perlahan-lahan mereka mulai menjauh. Aku terus mengejar mereka dan memanggil-manggil mereka untuk kembali, rasa sakit di hatiku semakin meneteskan air mataku saat bayangan mereka benar-benar hilang dalam kegelapan.
__ADS_1
Aku terjatuh bersandarkan kedua lututku dan menopang tubuhku dengan kedua tanganku dilantai, menangis sekuat-kuatnya.