
2 tahun kemudian.
"Huuffft... Basah semua!" Keluhku sambil membersihkan bajuku dari beberapa air yang masih tersisa di beberapa bagian bajuku.
Hujan tiba-tiba saja turun sangat deras disaat aku hendak pergi menuju pintu gerbang alam vampire, untung saja aku mendapatkan halte dipinggir jalan yang menggunakan atap untuk berteduh.
Ku perhatikan sepanjang jalan, kiri dan kanan hanya terdapat hutan lebat dan pohon-pohon tinggi lainnya. Walau pun langit masih terlihat terang di sore hari ini, namun suasana di sini cukup menyeramkan dengan kesunyiannya dan hujan menambah sebuah dramatis untuk suasana ini.
"Ku rasa nasipku kurang beruntung hari ini" Keluhku lalu mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya.
Pagi tadi aku mendapatkan sebuah surat di dalam kotak pos surat yang ada di depan pintu rumah milikku, surat itu berisikan sebuah tawaran pekerjaan di kediaman Vilan. Sebuah pekerjaan di dunia Vampire namun dengan upah yang terlihat cukup besar dibandingkan upah atau gaji di alam manusia ini, tanpa menunggu lama aku menelepon nomor kediaman itu dan menawarkan diri untuk menjadi salah satu pelayan di sana.
Perjalanan menuju pintu gerbang alam Vampire membutuhkan waktu hampir dua jam dari rumahku, cukup jauh untuk berkendara dengan sebuah kendaraan roda dua yang sudah lumayan tua. Motor peninggalan ayah untuk diriku, kenangan dua tahun silam kembali terbayang.
Sejak kejadian itu hidupku mulai terasa berat, merasakan tidak memiliki siapapun sebagai orang tua. Kehilangan masa-masa bahagiaku di sekolah dan harus mencari pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidup, selama dua tahun hidup sulit benar-benar aku rasakan. Walaupun ibu dan ayah menyimpan beberapa tabungan untukku, namun semua itu ku gunakan untuk sekolah hingga aku lulus sekolah beberapa bulan lalu dan membayar beberapa tagihan rumah. Air mataku mulai tergenang di kedua kelopak mataku, mengingat semua kenangan tentang ayah dan ibuku namun aku tidak ingin berlama-lama terlarut dalam kesedihan itu sebab ayah dan ibuku pasti menatapku jauh di atas sana.
Aku menatap langit yang mulai gelap ditutupi awan kabut, nampaknya hujan akan turun semakin deras dan akan lama dengan awan yang cukup tebal. 'Mungkin sebaiknya aku jalan saja, jika hujannya semakin deras akan semakin lama aku di sini'. Ucapku dalam hati.
Ku perhatikan arloji yang melekat di lenganku, waktu menunjukkan pukul 17.15 dan hari semakin sore. Akan semakin gelap jika semua awan-awan gelap itu berkumpul, maka aku segera membuka jok motorku untuk menaruh ransel milikku di dalam jok yang lumayan luas itu, menyalakan stopkontak motorku lalu segera kembali menempuh perjalanan.
"Untung saja tadi aku mengisi full bensin motor ini, jika tidak maka akan sangat sulit untuk perjalan jauh nanti" Ucapku sendiri lalu segera melaju dengan motor dan hujan yang masih lumayan deras.
Sepanjang perjalanan hujan terus menerpaku dan membuat seluruh tubuhku juga bajuku yang tanpa sebuah mantel pelindung menjadi basah, esok aku akan membeli mantel untuk berjaga-jaga. Ucapku sedikit kesal dalam hati, kini tubuhku mulai merasa sangat kedinginan.
Pandanganku mendapatkan hal yang sangat membahagiakan hatiku, Gerbangnya. Kurang lebih seratus meter di hadapanku, terlihat sebuah gerbang besar dan sebuah bangunan rumah untuk posko penjaan.
Sebuah posko yang lumayan besar untuk hanya sekedar penjagaan, sepertinya yang berjaga di sana pun menetap atau tinggal di rumah itu. Aku menaikkan gas motorku agar semakin melaju kencang dan segera tiba di gerbang itu, saat tiba di depan gerbang aku mematikan kendaraanku dan pergi melapor di salah satu orang yang berjaga di situ.
"Tunjukkan undanganmu dan sebutkan namamu" Kata salah satu penjaga yang ada di hadapanku.
__ADS_1
Aku mengambil ranselku dari dalam jok motor dan mencari surat yang aku terima sebagai undangan lalu menunjukkannya kepada penjaga itu dan menyebutkan namaku, setelah beberapa menit penjaga itu menulis sebuah registrasi untuk persyaratan dan sebagai data di sana agar aku dapat masuk ke alam Vampire. Setelah beberapa menit menyelesaikan registrasi, dia pun mengambil sebuah telepon yang telah tersedia di hadapannya lalu memencet beberapa nomor dan kemudian terdengar sebuah suara dari balik telepon itu bertanda telepon itu sedang diterima.
Penjaga itu berbicara cukup lama dan menggunakan bahasa yang tidak aku ketahui, mungkin itu adalah bahasa mereka. 'Semoga saja bukan hanya orang-orang yang ku temui saat ini dan yang menerima teleponku pagi tadi yang dapat berbahasa manusia, tetapi ku harap orang-orang di sana yang lainnya pun mengerti dan tau berbahasa manusia'.
Aku melihat sekitar pos tersebut, terdapat dua orang di hadapanku dan dua orang lainnya di dalam rumah pos itu sedang menikmati cemilan mereka sambil berbincang dan tertawa. Disisi lain jauh di depan pintu gerbang itu terdapat sebuah parkiran kendaraan yang cukup luas dengan atap di atas nya dan juga ada lumayan banyak kendaraan roda dua yang tersimpan di sana, mungkin sekitaran 20 kendaraan.
"Silahkan tunggu sebentar di dalam ruangan, beberapa menit lagi mereka akan datang menjemputmu" Ucap penjaga itu.
"Hei Louise, berikan handuk dan hot milk juga beberapa makanan kecil untuk tamu Tuan Vilan" Teriak penjaga itu pada seorang pria yang bernama Louise yang ada di dalam rumah, pria itupun mengambilkan handuk untukku dan menyerahkannya padaku.
"Masuklah, nikmati waktumu" Ucap Louise padaku, ia pun menuntunku masuk ke dalam rumah itu dan menyuruhku duduk di sebuah sofa panjang dan empuk yang telah tersedia di sana dengan segelas hot milk cokelat dan beberapa kue-kue kering yang terlihat sangat lezat di atas meja.
Tiga puluh menit aku menunggu di dalam ruangan dengan suasana yang begitu tegang juga sunyi tanpa ada satupun yang berbicara, meraka hanya menatapku dengan tatapan yang cukup menyeramkan.
"Baumu sangat manis" Ucap Louise padaku, aku menatapnya dengan perasaan yang mulai ketakutan.
"Hahaha... kau tidak perlu cemas, kami tidak akan memakanmu sebagai santapan makan malam kami hari ini" Ucap Louise bercanda sambil tertawa karena melihat keteganganku, satu hal yang aku ketahui bahwa Vampire meminum darah sebagai keburuhan utama mereka dan itu artinya aku tidak sedang tidak aman saat ini.
"Aku heran, mengapa kau ingin bekerja di alam Vampire dengan nyali yang ciut seperti itu" Ucap Louise lagi sambil menahan tawanya.
"Tenang saja kami tidak pernah menyakiti setiap tamu yang datang kemari dengan menjadikan mereka sebagai hidangan makan malam kami, terlebih lagi tamu Tuan Vilan. Kami di sini telah mengikat kontrak dan sumpah sebelum bekerja di sini, maka kami akan berlaku sebagai penjaga untuk para tamu yang datang ke sini selayaknya tugas yang harus kami jalani. Walaupun kami tidak dapat menghindari aroma manis yang sangat lezat dan menggiurkan yang keluar dari tubuh para tamu, namu anda tidak perlu khawatir atau cemas sebab kami semua di sini telah terlatih" Jelas seorang pria yang tadi menjaga kasir posko dan melayaniku.
"Apakah keluarga Vilan sangat berpengaruh di alam kalian?" Tanyaku pada mereka semua.
"Ya begitulah, keluarga Vilan adalah salah satu bangsawan yang paling berpengaruh di kalangan Vampire"Jelas seorang pria berambut pirang yang berada di sebelah Louise, pria yang tadi tertawa bersamanya saat aku masih berada di depan meja kasir.
"Apakah di sana ada seorang Raja?" Tanyaku lagi.
"Raja? hmmm... jika dikatakan raja untuk semua orang seperti di alam kalian ini, maka jawabannya tidak. Ras kami memiliki raja, tetapi bukan untuk semua. Di sana ada beberapa raja dalam kalangan bangsawan, salah satunya di tempat tujuanmu nanti yaitu keluarga Vilan" Ucap seorang pria lagi yang tadi melayaniku di kasir penjaga, aku tidak menanyakan nama mereka semua sebab aku merasa hal itu tidak aku butuhkan.
__ADS_1
"Ada seorang Raja di keluarga Vilan?" Tanyaku merasa penasaran, tetapi sebelum mereka menjawabku seorang penjaga yang berada di luar ruangan ini memanggilku dan memberikan kabar bahwa jemputan ku dari kediaman Vilan telah datang. Aku keluar dan bersiap-siap untuk pergi, berjalan menuju motor milikku.
"Maaf Nona, tapi kendaraan anda harus tetap berada di pos ini" Ucap penjaga pos itu.
"Heh? jadi aku ke sana..?"
"Anda menaiki kendaraan yang menjemput anda, jangan khawatir tentang motor anda. Kami akan merawatnya dan tidak akan hilang, saat anda kembali dari sana dan ingin kembali ke rumah anda maka kami akan menyerahkannya dalam keadaan utuh" Ucap sang penjaga posko itu, dia menyodorkan sebelah tangannya padaku untuk meminta kunci motor yang aku pegang.
Dengan berat hati aku memberikan kunci itu, pria itu tersenyum ramah padaku dan berkata terima kasih lalu menyerahkan kunci itu kepada salah satu temannya untuk membawa motorku ke tempat parkiran yang telah tersedia.
"Mari Nona, sudah saatnya kita berangkat" Ucap seorang supir yang entah sejak kapan ia telah berada di sampingku, aku tidak merasakan kehadirannya sejak tadi hingga ia berbicara kepadaku.
"Ba..baiklah" Ucapku merasa sedikit syok.
Bukannya aku merasa takut atau khawatir, tetapi aku belum terbiasa dengan semua hal semacam itu. 'Mungkin setelah beberapa hari di sana aku akan segera terbiasa', ucapku dalam hati.
"Selamat menikmati hidup baru Nona..." Teriak Louise sambil melambai-lambaikan tangannya sebagai tanda salam perpisahan.
Mobil yang aku tumpangi saat ini terbilang sangat mahal dan cukup mewah, mobil yang bermerk Cadillac One. Mobil itu mulai berjalan menuju pintu gerbang yang telah terbuka lebar, aku tercengang melihat isi di dalam gerbang itu. Cuacanya berbeda dengan cuaca di sini, di balik gerbang itu tidak ada satupun hujan yang turun sedangkan di sini hujan begitu deras di luar mobil ini.
Mobil itu terus melaju hingga akhirnya melewati gerbang tersebut dan perasaanku serasa bagai terjun bebas dari sebuah tebing yang tinggi, jantungku berpacu begitu cepatnya saat melewati gerbang itu.
"Apa anda baik-baik saja Nona?" Tanya sang supir yang ada di depanku, aku duduk di kursi belakang dan supir itu sendiri di kursi pengemudinya.
"I..iya, kurasa begitu" Jawabku sambil menelan ludahku dengan susah payah.
Rasanya tenggorokanku tiba-tiba menjadi sangat kering dan kepalaku sedikit pusing. Pikirku, mungkin itu karena aku terkena hujan tadi dan masih menggunakan baju yang basah saat ini. Seharusnya aku membawa pakaian ganti di ranselku, tetapi aku tidak membawa satupun pakaian ganti sebab seseorang yang menerima teleponku saat pagi tadi mengatakan bahwa aku tidak perlu membawa baju apa pun selain yang ada di badanku.
"Bagi manusia melewati gerbang itu bagai melewati sebuah dimensi, efaknya bisa membuat manusia menjadi mual dan lain-lain" Jelas sang supir dan kini aku pun paham mengapa perasaanku menjadi aneh setelah melewati gerbang itu, buka karena sakit akibat hujan atau baju basah yang aku kenakan. Tetapi karena menyeberangi sebuah dimensi lain, yah katakanlah seperti itu agar lebih mudah untuk ku cerna.
__ADS_1
Aku tidak tahu raja seperti apa nanti yang akan menjadi tuanku di sana, yang jelasnya mereka semua adalah Vampire. 'Apa aku bisa bertahan di sana? tidak, tidak. pertanyaannya adalah apakah aku bisa hidup di sana? apakah ada makanan untuk manusia sepertiku di sana?' Pikiranku mulai tidak beres dengan khayalan tentang alam dan kehidupanku kelak di sana.