
"Untuk hal yang anda tanyakan itu akan segera anda dapatkan jawabannya setelah menandatangani beberapa perjanjian nanti, jika Nona Hyorin tidak ada hal lain yang di inginkan lagi maka saya undur diri" Ucap Gideon menghindari diriku sesegera mungkin.
Aku tidak tahu perjanjian apa yang Gideon maksudkan itu, tetapi pikiranku mengatakan bahwa perjanjian itu mungkin saja menyangkut sebuah rahasia yang harus aku tutupi. Atau lebih tepatnya aku sebuah ancaman untukku agar tidak membocorkan semua kejadian yang aku alami, Mungkinkah Tuan Vilan melindungi tunangannya itu?
Kegelisahan terus saja menghantui pikiranku, namun aku tidak dapat bertanya lagi sebab Gideon telah pergi dengan kecepatan kilatnya.
"Benar-benar menghindariku..." Ucapku kesal.
Aku kembali berjalan menuju perpustakaan untuk menghilangkan rasa jenuhku, kini aku tidak lagi berani keluar istana milik Tuan Vilan ini. Beberapa kejadian sebelumnya sudah cukup membuat diriku merasakan trauma, aku tidak ingin menggali kuburanku sendiri atau menempatkan diriku lagi dalam bahaya.
Sepanjang hari aku terus mengurung diriku di dalam ruang perpustakaan tanpa melihat waktu, begitu banyak buku tentang sejarah dan teknologi yang ada di dalam perpustakaan.
"Apakah kau akan terus mengurung dirimu di dalam perpustakaan ini?"
Aku mendongak ke atas untuk mendapatkan sosok seorang pria yang bertanya kepadaku, sosok yang telah ku kenal sedang berdiri tepat di samping bangku tempatku duduk.
"Ryu..? apa yang kau lakukan di sini?" Tanyaku merasa kaget mendapati Ryu yang berdiri sambil tersenyum menawan padaku.
"Aku mengantar Chitose kemari, beliau sedang berbicara empat mata dengan Alaric..." Jelas Ryu.
"Nenek itu datang kemari? Untuk apa?!" Ucapku sedikit kesal.
Ryu hanya mengangkat bahunya menandakan bahwa ia tidak tahu tujuan Chitose datang kemari, walaupun aku tidak mempercayai hal itu namun aku hanya diam.
"Semua luka-lukamu sembuh hanya dalam semalam di rumah ini..." Ucap Ryu sambil menatap bagian punggungku yang sedikit terekspos karena model bajunya yang terbilang lumayan sexy menampakkan sebagian punggungku, namun tetap terlihat elegan.
"I..iya, begitulah..." Ucapku canggung.
Aku tidak ingin menjelaskan pada Ryu tentang bagaimana cara Tuan Vilan menyembuhkan semua luka-luka itu, sungguh memalukan jika aku harus menjelaskannya pada Ryu. Terlebih lagi Ryu masih terbilang adalah tunanganku dan seseorang yang telah membeli diriku dengan sangat mahal, jika aku mengatakan semua itu maka Ryu akan sangat sangat membenci hal itu.
Pasti...!!!! Ucapku meyakinkan diriku agar tetap diam.
"A..ayo kita keluar..?" Anakku mengalihkan pembicaraan agar Ryu tidak fokus pada kulitku yang telah menjadi mulus, bahkan terlihat sangat mulus dan indah dari sebelumnya.
"Baiklah, mari..." Jawab Ryu sambil menuntunku disampingnya.
Aku dan Ryu terus berjalan hingga di ruang tengah, aku mengajak Ryu duduk di ruang santai yang ada di dekat taman kecil.
__ADS_1
"Aku tidak tahu jika kamu akan kesini" Ucapku pada Ryu.
"Pagi ini Chitose menghampiriku dan menyuruhku mengantarnya segera setelah membuat janji..." Jelas Ryu.
"Jika Nenek itu bermaksud mengajakku tinggal bersamanya, maka aku akan menolaknya Ryu... kau tahu sendiri bahwa aku hanya merasa aman jika bersama Tuan Vilan dan kini yang ku butuhkan adalah rasa aman itu, setelah semua kejadian buruk yang ku alami..." Ucapku sedikit merasa takut jika aku harus berpisah lagi dengan Tuan Vilan.
"Hyorin, harusnya kau pun mengerti bahwa kau adalah satu-satunya keturunan dan pewarisnya..."
"Aku tidak inginkan itu semua Ryu..!" Bantahku.
"Hyorin..."
"Ryu, ku mohon katakan padanya kalau aku tidak mengharapkan semua itu... mengertilah Ryu..." Mohonku pada Ryu sambil menggenggam tangannya.
"Kau tidak perlu memohon seperti itu Hyorin..."
"Tuan Vilan..." Ucapku kaget melihat Tuan Vilan dan Chitose yang telah berdiri jauh di belakangku.
Ryu bangkit dari kursinya dan memberikan salam kepada Ryu juga Chitose, aku ikut berdiri dan sedikit memberi salam juga.
"Apakah kau segitu bencinya padaku hingga tidak ingin tinggal bersamaku?" Tanya Chitose.
"Dan apa tujuanmu yang sebenarnya?" Tanyaku tegas pada Chitose.
"Sebentar lagi malam gerhana bulan merah dan malam itu akan membangkitkan kekuatan yang bersemayam selama ini, kau tidak akan bisa menahan kekuatan itu. Bahkan Alaric sekalipun tidak akan bisa menolongmu sebab kau bukan termasuk dalam golongannya, satu-satunya cara adalah tinggal bersamaku selama masa itu" Jelas Chitose.
"Kekuatan yang bersemayam dalam diriku? hahahaha... apakah kau berkhayal? aku hanyalah manusia biasa, aku bukan rasmu!" Bantahku.
"Hyorin...!" Bentak Ryu menegurku yang sedikit kasar.
"Tidak apa-apa Ryu..." Ucap Chitose.
"Saat ini kau memang belum merasakan kekuatan itu, namun samar-samar aku dapat merasakannya walau itu belum terlalu kuat. Dan aku rasa Alaric pun dapat merasakan kekuatan itu sedikit..." Ucap Chitose lagi sambil mengalihkan pandangannya menatap Tuan Vilan.
Aku mengikuti arah pandangan Chitose yang menatap Tuan Vilan, berharap apa yang dikatakan Nenek itu tidaklah benar.
"Kau tidak akan selamanya di sana Hyorin..." Ucap Tuan Vilan.
__ADS_1
"Itu artinya, semua itu benar?" Ucapku syok.
Aku kembali terduduk dan mencoba tenangkan diri, Tuan Vilan berjalan menuju diriku dan berjongkok di hadapanku sambil menggenggam tanganku.
"Hyorin, aku janji akan segera menjemputmu saat kau telah melewati masa itu. Aku pun ingin tetap bersamamu dan menemanimu, namun aku pun sedikit ragu akan hal itu sebab dimalam itu pun aku akan sedikit sulit mengendalikan diriku... kau harus tetap aman Hyorin" Jelas Tuan Vilan.
Air mataku menetes, merasa tidak ikhlas harus pergi walau hanya sementara. Padahal baru saja bersama, baru saja berjumpa dan merasa bahagia aku telah kembali. Namun kini aku harus kembali berpisah dengan Tuan Vilan, rasanya sangat menyakitkan...
"Kapan... kapan aku harus pergi?" Tanyaku sedikit parau.
"Secepatnya akan lebih baik" Ucap Chitose.
Pandanganku langsung tertuju pada Nenek itu, amarah dari wajahku sangat terlihat jelas.
"Hyorin..." Panggil Tuan Vilan sambil menyentuhkan tangannya ke pipiku.
Aku kembali menatap Tuan Vilan dan tangisanku kini terpecah, aku memeluk bahu Tuan Vilan yang sejajar denganku. Air mataku tidak dapat ku hentikan, tangisanku menjadi terasa sangat sedih dan pilu juga putus asa.
"Jangan sekarang... ku mohon, jangan hari ini... aku tidak mau..." Rengekku memohon pada Tuan Vilan bagai anak kecil.
"Hyorin..." Ucap Tuan Vilan sambil mengelus-elus punggungku dan terus berusaha menenangkanku.
"Ku mohon Tuan... aku masih belum ingin berpisah denganmu, aku tidak mau berpisah lagi secepat ini... Tuan..." Ucapku terus merengek.
Tuan Vilan terus menyeka air mataku dan terus menatapi wajahku yang menangis tanpa henti, aku bagaikan seorang anak kecil manja yang terus memohon pada Tuan Vilan.
"Hyorin..." Ucap Tuan Vilan lalu ia mencium bibirku dengan lembut di hadapan Ryu dan Chitose.
Tangisanku menjadi tertahan karena ciuman Tuan Vilan dan semakin lama tangisanku pun terhenti, pikiranku tidak dapat ku fokuskan ke arah lain kecuali ciuman Tuan Vilan.
Ryu dan Chitose yang menyaksikan kami menjadi sangat kaget, namun mereka tidak menghentikan tindakan Tuan Vilan.
"Aku akan segera menjemputmu, percayalah..." Ucap Tuan Vilan setelah usai memberikan ciuman yang sedikit panas di bibirku.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan Tuan Vilan, senyuman menawan tersungging di bibir Tuan Vilan saat melihat wajahku yang memerah akibat merasa malu dan menangis.
"Alaric... sepertinya kita harus membahas satu hal lagi..." Ucap Chitose.
__ADS_1
"Tidak ada lagi yang perlu kita bahas Chitose, kau pun telah sadar akan hal itu" Ucap Tuan Vilan tegas.
Tanpa bantahan dan kata-kata Chitose berbalik pergi meninggalkan kami diikuti oleh Ryu, raut wajah Chitose sangat tidak senang dengan hal yang dikatakan oleh Tuan Vilan namun hal itu tidak menggoyahkan Tuan Vilan.