BLOODY RING

BLOODY RING
4


__ADS_3

"Kita sampai, Nona..."


Aku membuka mataku, ku lihat jam arloji milikku untuk memastikan waktu. Kini sudah pukul 19.50, namun suasana di luar masih terlihat sangat terang dan jelas akibat pantulan cahaya bulan purnama. Selama setengah jam perjalanan menuju tempat tujuan kami, aku menggunakan waktu itu untuk memejamkan mataku sejenak dan beristirahat dengan nyaman di dalam mobil. Begitu aku keluar dari mobil yang mewah itu, aku melihat rumah tujuan kami dan aku melongo.


Kata rumah tidak cukup untuk menjabarkan bangunan berwarna putih dan biru yang ada di hadapanku, aku bahkan harus mendongak tinggi-tinggi untuk dapat melihat atap bangunan itu. 'Ini mah bukan rumah, tapi istana' Ucapku dengan takjub.


Bangunan yang ada di hadapanku saat ini memiliki empat lantai, dengan lantai tambahan berbentuk kubah segitiga yang menjulang tinggi di setiap sudut atapnya. Rumah yang bergaya gotik dengan banyak patung dan tiang-tiang tinggi yang menghiasi bangunan, benar-benar tidak jauh dari kata Vampire.


Rumah ini setidaknya memiliki ratusan pekerja dan penjaga, sebagian dari mereka berdiri dengan sangat tegak di depan pintu gerbang dan beberapa sudut bangunan.


Selain tingginya tiang-tiang yang ada di rumah ini, hal yang lebih membuatku penasaran adalah lebarnya juga luasnya istana ini. Lebarnya di sisi sebelah kanan aku melihat seluas lapangan bola, begitu pula di sisi bagian sebelah kiri. Dinding batu dengan menara pengawas mengelilingi istana ini, ada hutan lebar dan gunung-gunung menjadi benteng di bagian belakang gedung menambah kesan megah tempat ini. ini benar-benar sebuah istana berbenteng yang megah.


"Nona Hyorin...?"


Suara supir yang membawaku ke sini mengalihkan perhatianku padanya.


"Mari saya antar anda ke dalam"


Aku mengikuti sang supir dari belakang menuju dua pintu besar yang mulai terbuka lebar, kami pun masuk ke dalam.


"Astaga... tempat ini bahkan lebih besar dari pada yang ku lihat di siaran TV" Gumam ku begitu takjub.


Aku tidak dapat mencegah diriku menoleh ke sekeliling dengan penuh pesona, kini aku berada di dalam aula raksasa dengan langit-langit yang didekorasi dengan lampu kristal yang sangat besar, lukisan-lukisan dinding, ukiran-ukiran berbentuk pola yang indah di setiap tiang dan tirai-tirai panjang yang berwarna merah darah. Di bagian sebelah kiri terdapat sebuah taman berlantaikan kaca bening dengan kolam ikan koi di bawah lantai tersebut dan di bagian atasnya terdapat berbagai bunga indah yang ditata rapi mengelilingi sebuah air mancur marmer berukuran besar.


Kami berjalan ke samping taman dan aku melihat sekilas keindahan taman tersebut, benar-benar sebuah ruangan yang indah. Aku terus mengikuti sang supir, melawati beberapa ruangan dan di depan bagian sebelah kanan terdapat sebuah lorong yang sangat panjang, namun kita tidak menuju ke sana. Kami terus berjalan melewati ruangan-ruangan hingga akhirnya sampai di depan sebuah tangga besar yang memutar-mutar menuju lantai atas.


Aku mengikuti langkah sang supir menaiki satu persatu anak tangga, pandanganku melihat ke atas masih ada beberapa anak tangga yang harus ku tempuh. Setelah melewati sekitar lima puluh anak tangga, kami sampai di landasan tangga.


Aku merasa sangat lega karena sang pelayan berbelok, bukannya melanjutkan rangkaian tangga selanjutnya yang ada di depan. aku terus mengikuti supir itu melewati beberapa ruangan-ruangan dan jendela-jendela kaca patri yang indah, di sebelah kanan terdapat sebuah lorong yang pandang dan luas. Kami melewati lorong tersebut dan di ujung lorong ini terdapat sebuah jendela kaca polos besar dengan tirai yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kirinya, cahaya rembulan masuk melalui kaca tersebut dan pemandangan hutan juga pegunungan dapat terlihat jelas dari jendela itu.

__ADS_1


Kami berhenti tepat di depan pintu setelah melewati empat ruangan tertutup, supir itu membuka pintu itu lalu bergeser ke samping dan mempersilahkan aku masuk.


"Ini adalah ruangan anda" Ucap sang supir


Aku mencoba bersikap tak acuh dan biasa-biasa saja, namun ruangan yang aku tempati tidak dapat dikatakan sebagai ruangan untuk seorang pekerja. Ruangan itu sangat megah, sama halnya dengan ruangan-ruangan lainnya. Aku tidak akan pernah bisa terbiasa dengan semua kemewahan ini, terlebih lagi aku di sini hanyalah seorang pelayan nantinya.


"Apakah anda tidak menyukai ruangan ini?" Tanya sang supir.


"Eh..? bukan begitu hanya saja... ini terlihat... luar biasa..." Kataku pada sang supir yang terlihat sepertinya sedang menanti jawaban juga responku apakah aku menyukai kamar itu atau tidak.


"Aku senang jika anda menyukainya" Jawab sang supir.


"Anda akan menemukan banyak pakaian ganti di lemari" Lanjut supir itu.


"Selain itu, makan malam akan disajikan pukul sembilan di ruang makan utama yang ada di lantai satu. Namun sebelum itu anda harus berganti pakaian dulu dan menemui Tuan, beberapa menit lagi saya akan menjemput anda dan mengantar anda menemui Tuan nanti" jelas sang supir.


"Jika anda membutuhkan bantuan atau ada perlu, anda dapat memanggil saya dengan nama Gideon. Saya adalah kepala pelayan di rumah ini sekaligus tangan kanan Tuan Vilan." jelas Gideon yang ternyata bukanlah seorang supir biasa, tidak heran dia mengantarku hingga di depan ruanganku.


"Jika anda membutuhkan bantuanku anda dapat menarik tali yang ada di sebelah pitu itu" Jelas Gideon sambil menunjukkan sebuah tali yang terletak di dalam kamarku, tepatnya di sebelah pintu kamar bagian dalam.


"Baiklah, terima kasih" Kataku.


"Dengan senang hati" Ucap Gideon lalu pergi meninggalkanku dengan kecepatan yang diluar nalar manusia, bagai tubuhnya memiliki kekuatan turbo untuk berjalan cepat.


Aku menutup pintu kamarku dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diriku sebelum aku benar-benar terserang flu karena hujan tadi, aku melihat fasilitas di dalam kamar mandi itu dilengkapi pancuran kaca yang lumayan besar dan bathtub yang bisa ku gunakan sebagai kolam renang, toilet, dan beberapa perlengkapan mandi juga lemari handuk.


Tak perlu terpesona terlalu lama, aku pun segera menanggalkan semua pakaianku dan mulai membersihkan tubuhku di bawah pancuran. Menikmati hangatnya air yang keluar dari dalam pancuran, menghilangkan rasa pegal yang ada pada tubuhku selama perjalanan dan menaiki lima puluh anak tangga. Ok.., dan sebentar lagi hal itu akan ku lakukan saat makan malam atau bisa jadi saat menemui Tuan rumah ini. Mengingat masih banyak anak tangga menuju beberapa lantai ke atas, do'aku semoga sang Tuan rumah bukan dilantai empat.


"Seharusnya rumah yang segede ini dipasangi eskalator atau lift, setidaknya di jaman modern ini semua orang kaya telah memakainya. Apakah Vampire adalah orang yang menolak hal modern?" Ucapku, tetapi kembali mengingat ketika Gideon berjalan dengan sangat cepatnya maka hal itu mungkin tidak dibutuhkan.

__ADS_1


"Haaaa~aaah.." Keluhku.


Saat aku keluar dari kamar mandi, aku menuju lemari dua pintu antik yang ada di dalam kamarku. Lemari itu berisi banyak pakaian dan terlihat masih baru, semua pakaian itu sesuai dengan ukuran tubuhku. Aku membuka pintu lemari yang sebelahnya, terdapat beberapa aksesoris pelengkap seperti sepatu-sepatu yang berjejer di tiga rak kayu bagian bawah, di atasnya terdapat laci kecil yang berisikan aksesoris perhiasan seperti cincin, kalung, jam dan lain-lain. dan di atasnya terdapat laci kaca yang berisikan pakaian dalam, bahkan ukurannya pun tepat denganku.


"Yang benar saja, apakah Gideon mengukur milikku?" Ucapku sambil menatap kedua dadaku yang menonjol dan tertutupi handuk.


"Hahaha.. mana mungkinkan..." Ucapku lagi merasa lucu dengan pikiranku sendiri.


Segera setelah aku berpakaian terdengar sebuah ketukan dari luar pintu kamarku, aku membukanya dan melihat Gideon telah berdiri dengan tegak layaknya seorang pelayan.


"Sudah waktunya Nona menemui Tuan" Ucap Gideon.


Aku mengikutinya dan menuruni kembali lima puluh anak tangga menuju lantai satu. jika seperti ini terus, lama-lama betisku akan sama persis seperti pemain bola, berisi dan berotot. Keluhku dalam hati, mengutuk tangga-tangga itu.


Kami masih berjalan hingga sampai di sebuah lorong sebelum menuju taman kecil yang ku lewati tadi, Gideon menjelaskan bahwa lorong itu menuju ruang makan yang berada kurang lebih seratus meter dari pintu lorong dan di ujung lorong terdapat dua cabang arah. Arah sebelah kiri merupakan lorong menuju kamar-kamar para pekerja, dan di lorong sebelah kanan adalah lorong yang menuju sebuah aula besar yang biasanya digunakan untuk acara atau pesta-pesta besar.


Kami menuju aula yang dimaksud Gideon, di ujung lorong ada sebuah pintu berwarna cokelat tua yang sangat besar dengan pahatan ukiran yang indah dan di atas pintu tersebut terdapat tiga kaca patri warna-warni berbentuk bulat besar berjejer.


Gideon membuka pintu itu dan terlihat sebuah aula yang sangat luas dan besar dengan langit-langit yang tinggi, kami masuk kedalam aula itu.


Sama halnya dengan ruangan-ruangan lainnya namun aula ini lebih terlihat megah dengan beberapa lukisan indah di langit-langit dan ukiran-ukiran halus di bagian sudut-sudutnya juga terdapat tiga buah lampu kristal besar yang berjejer ke depan. Tirai-tirai warna baby cream menghiasi tiang-tiang yang menjulang tinggi di beberapa bagian sudut ruangan, tidak jauh di depan tempatku berdiri terdapat sebuah panggung dan diatasnya ada sebuah singgasana emas yang diduduki oleh seorang pria.


"Tuan, saya telah membawanya.." Ucap Gideon sambil membungkuk pada seorang pria yang duduk di atas singgasana dengan gayanya yang menopang dagu dan melipat kakinya dengan mata yang tertutup.


Pria dengan pakaian kaos jangkis v-neck hitam polos yang membuat tubuh berotot dan kekarnya semakin terlihat sexy dan celana levis hitam menutupi kakinya yang panjang dengan aksesoris rantai di bagian samping pinggang juga sepatu boot hitam, berambut hitam panjang yang terikat rapi dan diselipkannya kebagian depan sebelah kanan tubuhnya.


Gaya pria itu terlihat lebih santai dibandingkan dengan gaya Gideon saat ini yang mengenakan pakaian layaknya seorang pelayan bangsawan dengan tuxedo dan dua kaos tangan putinnya itu, Apakah pria itu adalah seorang raja di sini? Jika ia maka sangat berbeda dengan yang aku bayangkan sebelumnya.


"Hyorin" Ucap pria itu sambil membuka matanya perlahan-lahan.

__ADS_1


__ADS_2