
Selama tiga hari aku telah berada dalam lindungan Ryu sebagai tunangannya, namun luka-luka yang aku derita akibat gigitan para Vampire bawahan Claudia semakin memperburuk keadaanku sebab luka-luka itu tidak kunjung sembuh dan tubuhku menjadi semakin lemah karena demam tinggi.
Setiap malamnya aku terus memimpikan Tuan Vilan, terkadang ia hadir dalam mimpiku dengan raut wajah yang sangat khawatir dan selalu menanyakan di manakah saat ini aku berada. Terkadang pun Tuan Vilan hadir dalam mimpiku dengan menyuruhku untuk bersabar menanti dirinya, namun kehadiran tuan Vilan dalam mimpiku semakin membuatku menjadi resah karena mimpi itu seakan memberitahukan pada diriku bahwa aku benar-benar memiliki perasaan spesial pada Tuan Vilan.
"Hyorin..."
Suara Ryu membangunkan aku dari tidurku, ku buka mataku perlahan dan memperhatikan Ryu sedang duduk di samping ranjang tempatku terbaring lemah.
Kehadiran Ryu saat ini tidak seorang diri, ia membawa seorang wanita cantik bersamanya.
Aku menatap Ryu meminta penjelasan siapa wanita itu, dengan sikap tenang Ryu membelai rambutku dan tersenyum ramah.
"Beliau adalah Chitose, Nenekmu..." Ucap Ryu.
"Mengapa kau membawanya kemari?" Tanyaku.
"Beliau ingin melihatmu"
Aku memalingkan wajahku ke arah lain, tidak ingin melihatnya.
"Keluarlah Ryu, aku ingin berbicara empat mata dengannya" Ucap Chitose.
Tanpa perlawanan dan tanpa kata-kata, Ryu pergi meninggalkan kami. Chitose terus menatapku dengan pandangan yang seperti merendahkan diriku, ia berjalan menuju diriku dan duduk di sebuah kursi yang telah disediakan tepat di samping ranjangku.
Selama lebih dari dua puluh lima menit kami tidak berbicara dan wanita yang Ryu katakan sebagai nenekku itu terus saja menatapku, entah dia ingin aku yang memulai pembicaraan ataukan dia sedang merasa bingung harus memulai percakapan dari mana.
Aku terus saja mengabaikan tatapan nenekku itu, yah walau parasnya tidak terlihat seperti seorang nenek-nenek dan aku tidak ingin mengakuinya namun semua itu tidak dapat merubah garis takdir yang telah tertulis di garis tangan dan darahku.
"Apa yang anda inginkan dariku" Ucapku memulai sebuah percakapan.
Chitose menatap lenganku yang terpampang jelas dengan semua bekas-bekas luka gigitan Vampire, pandangannya terlihat seperti jijik akan hal itu.
"Bagai mana perasaanmu saat ini?" Ucap Chitose.
"Maksudmu, kau menanyakan luka-lukaku ini?" Tanyaku.
"Yah luka-luka ini masih terasa sangat perih, tapi tenang saja aku belum menjadi seorang Vampire karena luka-luka ini" Lanjutku menjelaskan.
__ADS_1
"Aku tahu itu, aroma tubuhmu itu belum tercium layaknya seorang Vampire..." jawab Chitose.
"Lalu apa tujuanmu kemari? setahuku sejak dulu kau tidak pernah memperdulikan keluargaku ataupun diriku, mengapa sekarang menemuiku?" Tanyaku sedikit kesal dan sakit hati.
"Aku tahu kau sangat benci dengan kehadiranku di sini, namun ingatlah hal ini... Bahwa, di dalam darahmu itu masih mengalir darah anakku. Keturunanku..." Tegas Chitose padaku.
Aku tahu akan hal itu, kau tidak perlu mengatakannya padaku. Ucapku dalam merasa sangat kesal, aku terus saja terdiam tanpa kata. Tak ingin berdebat, tak ingin pula membantah wanita itu.
"Kedatanganku kali ini hanya ingin memastikan kondisimu dengan mata kepalaku sendiri, namun apa yang ku lihat tidak seperti yang dikatakan Ryu padaku. Kau sedang tidak baik-baik saja" Ucap Chitose.
"Jika seperti itu, memangnya kenapa?" Tanyaku judes.
"Kau akan ikut pulang denganku, aku akan mengobatimu dirumah" Tegas Chitose.
"Jika aku menolak?!"
"Kau akan tetap ikut denganku, suka ataupun tidak suka. Aku ke sini bukan untuk mendengar perlawananmu, bersiaplah. Kita akan berangkat lima belas menit lagi" Ucap Chitose dan ia berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkanku.
Kulampiaskan rasa kesalku dengan melemparkan sebuah bantal ke bawah lantai, perasaanku sangat terluka dan tertekan.
"Mengapa nenek itu sangat menyebalkan!" Ucapku marah.
"Mengapa kau kemari?! Apakah kau ingin mengusirku dari rumahmu ini?" Tanyaku marah pada Ryu.
"Bukan seperti itu Hyorin, aku telah melakukan apa yang ku bisa untuk tetap mempertahankanmu. Tapi... Chitose..."
"Dasar nenek egois!" Ucapku sangat kesal.
"Aku telah berbicara pada Chitose untuk biarkan dirimu lebih tenang dulu sehari, beliau mengizinkanmu untuk tinggal di sini hari ini dan esok pengawalnya akan datang membawamu" Jelas Ryu padaku.
"Aku seperti barang yang diopor sana-sini..." Ucapku kesal.
"Aku tidak menganggapmu seperti itu" jawab Ryu tegas.
"Tapi nyatanya memang begitukan?"
"Chitose adalah nenekmu dan dia adalah keluargamu, wajar jika dia inginkanmu ikut dengannya. Lagi pula kau akan aman dalam perlindungannya..."
__ADS_1
"Jadi kau merasa aku tidak aman di sini?" Tanyaku.
"Bukan begitu Hyorin..."
"Lalu bagai mana?"
"Dia akan menyembukanmu" Ucap Ryu.
"Lukaku ini akan sembuh sendiri" Jawabku.
"Luka-luka itu akan sangat sulit sembuh sendiri Hyorin, itu bukanlah luka biasa. Kau tidak bisa mengharapkan luka-luka itu sembuh sendiri, bahkan aku sekalipun akan sangat kesulitan untuk menyembuhkanmu Hyorin. Mengertilah Hyorin, ini semua adalah yang terbaik untukmu" Jelas Ryu.
Aku memalingkan wajahku dari pandangan Ryu, merasa sangat kesal dengan keputusan yang mereka buat tanpa memperdulikan perasaanku. Aku layaknya sebuah barang yang tidak berarti, tanpa kata-kata atau pendapat aku harus mengikuti kemauan mereka.
Kupejamkan mataku dan merindukan Tuan Vilan, berharap ia akan datang menjemput diriku. Walaupun aku tahu bahwa hal itu tidaklah mungkin, air mataku perlahan menetes membasahi selimut saat aku menundukkan kepalaku.
"Hyorin..."
"Aku tahu, aku paham... aku akan mengikuti mau kalian, aku akan pergi esok..." Ucapku memotong perkataan Ryu yang belum sempat ia selesaikan.
Ryu terdiam menatapku, aku terus menunduk dan mencoba menahan tangisku. Aku merasa sangat tertekan dan tidak berdaya, tangisan yang ku tahan dengan susah payah mulai membuat Ryu merasa tidak nyaman dan akhirnya ia pergi tanpa berkata-kata.
Kini aku sendiri dalam ruangan dan suaraku tangisku mulai tak tertahankan, isak-isak tangis kecilku mulai bergema dalam ruang kamar yang luas. Aku terus memanggil-manggil Tuan Vilan, merindukan dirinya dan mengakui bahwa aku sangat mengharapkan dirinya ada di dekatku.
Setelah setengah jam aku terus menangis dan meratapi nasipku, aku mulai merasa lelah dan kembali mengambil posisi tidur.
Tok... Tok.. Tok...
"Nona, aku mengantarkan makanan untuk anda" Ucap seorang wanita dari balik pintu kamar, ia adalah seorang pelayan yang selalu datang membawakan aku makanan di saat jam-jam tertentu.
Seorang pelayan membuka pintu dan memasuki ruang kamar, berjalan menujuku sambil mendorong meja troli yang telah berisikan piring-piring makanan.
"Aku tidak lapar, aku lelah. Ingin istirahat, kau bawalah kembali makanan itu" Ucapku tanpa menoleh ke arah pelayan itu.
"Tapi Nona, Tuan Ryu akan marah jika Nona tidak memakan makanan ini dan meminum obat" Jelas pelayan itu.
Lima menit berlalu dengan kebisuan, aku mulai membalikkan tubuhku dan menatap pelayan itu yang masih berdiri tegap di samping meja trolinya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memakannya nanti. Kau pergilah" Ucapku.
Setelah berfikir agak lama, pelayan itu akhirnya mengundurkan diri dan berlalu meninggalkanku. Aku kembali memejamkan mataku tanpa memperdulikan tumpukan makanan lezat yang ada di atas meja troli, aku bukannya merasa ngambek atau semacamnya namun saat ini yang aku butuhkan adalah tidur setelah merasa lelah karena kegiatan mengisku yang cukup menguras tenaga.