
Malam semakin larut, Tuan Vilan kini telah siap dengan baju zoot suit hitam panjang selutut untuk baju bagian luarnya dan kemeja warna merah gelap di bagian dalamnya dengan di padukan celana Chino hitam panjang yang menutup sempurna kaki panjangnya hingga mata kaki dan sepatu monkstrap berwarna cokelat tua.
Sempurna...! Ucapku dalam hati merasa puas dengan penampilan Tuan Vilan yang berdiri santai di hadapanku, tinggal sentuhan terakhir di bagian rambutnya agar terlihat rapi dan semakin sempurna.
Aku menyuruh Tuan Vilan duduk disebuah kursi yang ada di dalam kamarnya ini lalu merapikan rambutnya, daaaaan... yups selesai! Ucapku bersemangat dalam hati.
"Hmfft..." Desah Tuan Vilan dengan nada yang sedikit menekan.
Aku menunduk dan memperhatikan wajah Tuan Vilan yang tepat berada di depan dadaku, rasa malu kini mulai merambat naik ke atas kepalaku hingga membuat wajahku menjadi terasa panas dan memerah.
"Apakah kegiatanmu itu sudah selesai..?" Tanya Tuan Vilan sambil melongok keatas dan menatapku.
Sungguh ketampanan yang menyiksa batin... Ucapku kagum dalam hati sambil menahan nafas, jantungku berdebar semakin kencang saat Tuan Vilan mulai berdiri dan aku mengambil selangkah panjang ke belakang agar menjauh darinya.
"Sudah Tuan..." Jawabku.
"Aku akan pergi menghadiri sebuah pertemuan, tunggulah aku di sini hingga aku kembali..." Ucap Tuan Vilan.
Aku tidak menjawabnya dan hanya menatapnya dengan perasaan yang bercampur aduk, Tuan Vilan menatapku dari atas kepala hingga pandangannya terhenti di kakiku.
"Mengingat kaki-kaki mungil dan pendek milikmu itu sepertinya akan copot dari tempatnya jika bolak-balik menuruni tangga-tangga yang ada di rumahku ini, maka sebaiknya kau menungguku di sini hingga aku kembali" Lanjut Tuan Vilan dengan nada jahilnya.
Enak saja katai kakiku mungil dan pendek, aku cukup tinggi tau! hmmmph..! Protesku merasa sangat kesal dalam hati.
"Jawabanmu?!"
Teguran Tuan Vilan membuatku tersadar dari lamunanku yang merasa kesal dengan ucapannya yang begitu menyinggung perasaanku, aku kembali memfokuskan diriku pada Tuan Vilan.
"Baik Tuan" Jawabku dengan tegas.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Tuan Vilan pergi meninggalkanku sendiri di dalam ruang kamarnya yang luas.
Ku tatap sebuah ranjang yang berukuran super king bed, ranjang itu seakan terus memanggilku agar menyentuhnya dan memanjakan diriku di atasnya dengan nyaman.
Perlahan-lahan namun pasti, kakiku melangkah bergerak maju dan ku lompat kan tubuhku tepat di atas ranjang itu. Empuk dan sangat nyaman juga lembut, tidak pernah aku merasakan ranjang yang senyaman ini. Bahkan di kamar milikku saat ini yang terbilang sudah sangat bagus pun, tidak memiliki ranjang senyaman ini.
Semua yang ada di ruangan ini kualitas terbaik, sungguh beruntung aku telah mendapatkan kesempatan menikmati kenyamanan ini dengan bebas.
"Aaah~ benar-benar nyaman dan..." Ku cium selimut yang ada di bawah tubuhku, aroma Tuan Vilan sangat mendominasi di atas ranjangnya ini.
Jantungku kembali berdetak kencang saat bayangan Tuan Vilan yang hanya mengenakan handuk sepinggang sedang berdiri di hadapanku dengan sisa-sisa air yang mengalir dari atas kepalanya dan menetes perlahan-lahan jatuh ke tubuhnya yang maskulin hingga berakhir di balutan handuknya, pemandangan yang begitu vulgar dan penuh tekanan batin di malam ini.
Aku memejamkan mataku dan menghempaskan pemikiran vulgarku itu, memperingatkan diriku bahwa pria itu adalah Tuanku saat ini dan yang paling penting dia bukanlah seorang manusia.
Tidak begitu lama untukku terlarut dalam dunia mimpi, sebuah mimpi yang menggambarkan hutan yang luas dan penuh dengan pepohonan yang menjulang tinggi.
Di dalam gambaran itu aku melihat diriku yang bermandikan darah di bagian bahu kiriku dan sedikit luka di bagian jidatku, nafasku yang sangat lemah dan tubuh yang terkulai tak berdaya di bawah kaki seorang pria. Di bagian sisi lain, jauh di hadapanku terdapat dua kelompok orang menatap ke arahku.
Dan kelompok yang lainnya aku melihat sosok Tuan Vilan berada di posisi barisan paling depan dengan mata merahnya yang menyalah, raut wajahnya begitu garang dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kemarahan yang tertuju ke arahku. Lebih tepatnya, menatap pria yang sedang berdiri di belakangku.
Aku berusaha dengan sebagian tenagaku yang tersisa untuk menatap ke arah atas agar dapat melihat siapa sebenarnya pria yang di tatap oleh Tuan Vilan dengan begitu garang, pria dengan tubuh yang tinggi dan besar. Pria itu pun seorang siluman namun dugaanku mengatakan bahwa dia adalah siluman serigala, berbeda dengan sekelompok siluman lain yang ada jauh di depanku.
Mengapa aku ada di bawah kaki pria ini dengan tubuh yang sangat lemah? dan siapa mereka semua? Pikirku bertanya-tanya.
"Sudahlah, menyerah saja. Mengapa kalian begitu menginginkan wanita ini?" Ucap pria yang ada di belakangku sambil berjongkok dan menarik rambutku hingga kepalaku terangkat sejajar dengan wajahnya.
Aku berteriak merasakan sakit yang ada di kulit kepalaku akibat tarikan kasar dari pria itu, air mataku mengalir membasahi kedua pipiku.
"Wanita yang malang, seharusnya kau tidak datang ke alam ini. Dan seharusnya keluargamu itu tidak mengklaim dirimu sebagai penerus mereka sehingga kejadian seperti ini tidak perlu kau rasakan, jika kau ingin menyalahkan keadaanmu ini. Maka salah kan lah keluargamu yang ada di sana itu, mereka semua begitu antusias inginkan dirimu" Bisik pria itu tepat di telingaku.
__ADS_1
Pandanganku tertuju ke arah Tuan Vilan yang ada jauh di seberang, mungkin yang dimaksud keluargaku oleh pria itu adalah Tuan Vilan. Tapi mengapa dia katakan soal mengklaimku sebagai penerusnya? apakah aku telah dijadikan Vampire oleh Tuan Vilan?
AAAAAARGH...!!
Teriakanku menggema di dalam hutan itu saat dua buah taring menembus kulit di bahuku, siluman serigala itu mulai menghisap darahku dan mengoyak kulit juga daging di bahuku. Teriakanku semakin keras dan air mataku tidak tertahankan, aku terus berteriak kesakitan.
Saat pria itu mengoyak bahuku, Tuan Vilan dan yang lainnya tidak tinggal diam. mereka semua berlari menjuku dan dengan kecepatan kilat Tuan Vilan, ia meraih baju pria itu dan menusuk jantungnya dengan sangat kuat hingga menembus punggungnya lalu menghempaskannya ke arah pohon hingga membuat beberapa pohon besar rubuh.
"Tuan... Vilan..." Ucapku parau dengan suara tangisanku, aku mengulurkan tanganku dan seketika Tuan Vilan ada di hadapanku meraih uluran tanganku.
Aku membuka mataku perlahan dan terbangun dari mimpiku, pandanganku menuju arah samping kasur di mana tanganku terulur panjang seperti di dalam mimpi dan tanganku itu saat ini sedang digenggam oleh Tuan Vilan.
Aku menatap Tuan Vilan yang berada di samping kasur, tubuhnya penuh dengan darah. Matanya menatapku tajam, namun mata itu tidak berwarna merah atau penuh amarah seperti yang ada dalam mimpiku.
"Sepertinya kau menikmati mimpimu itu di atas ranjang ku dengan air matamu yang tercetak dengan sempurna di bantal milikku, apakah begitu nyamannya hingga kau memimpikanku?" Ucap Tuan Vilan.
Aku bangun dengan segera dan merapikan ranjang itu, ku tatap dengan penuh penyesalan bantal Tuan Vilan yang basah karena air mataku. Aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatap langsung mata Tuan Vilan.
"Mandikan aku, rasanya aku sangat lelah" Ucap Tuan Vilan sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang nyaman namun sempat membawaku berjalan-jalan ke dalam alam mimpi buruk.
"Baiklah Tuan" Jawabku dan segera mempersiapkan segalanya lalu kembali mengulangi kegiatan memandikan 'bayi gede' yang manja itu.
Selepasnya mandi, Tuan Vilan berjalan keluar bathtub nya tanpa menggunakan sehelai handukpun. Ia berjalan menuju gantungan baju yang ada di sisi lain ranjangnya, Tuan Vilan meraih sebuah piyama tidur yang telah tergantung di atas gantungan itu dan menaiki ranjang itu lalu menyelimuti tubuhnya. Aku berdiri di samping ranjangnya sambil menunggu perintah selanjutnya.
"Apakah kau ingin tidur bersamaku?"
"Heh..?" Ucapku merasa kaget dengan perkataan Tuan Vilan.
"Jika tidak, maka pergilah ke kamarmu sendiri untuk beristirahat. Aku tidak ingin tidur dengan papan rata, pergilah..." Ucap Tuan Vilan.
__ADS_1
Oh Tuhan.., apakah mulutnya itu tidak bisa mengerem sedikit perkataan kasarnya itu..? dan dari sisi mana dia melihat tubuhku seperti papan rata..?! Ngomelku dalam hati sambil beranjak pergi keluar dari kamar itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.