BLOODY RING

BLOODY RING
11


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu semenjak aku terkena racun itu dan selama tiga hari itu pula aku berada dalam kamar Tuan Vilan tanpa diizinkan melangkah keluar pintu, aku bagaikan tahanan rumah.


Kini infus tidak lagi menempel di tanganku, tetapi suntikan di kedua pahaku tidak pernah terlewati pagi juga malam dan yang melakukannya adalah Tuan Vilan sendiri sehingga aku tidak dapat menghindarinya atau pun melawan.


Sedikit demi sedikit kakiku kini mulai dapat berjalan dan menahan tubuhku sedikit lebih lama dari sebelumnya, injeksi itu benar-benar bekerja dengan sangat baik.


Aku duduk di salah satu kursi yang ada di balkon kamar Tuan Vilan dan menikmati sedikit udara segar, angin bertiup lumayan kencang di sore hari ini.


"Nampaknya akan turun hujan" Ucapku sambil menatap langit yang mulai menggelap.


Haaa~aaah... sebenarnya tujuanku di alam ini untuk apa? jika seperti ini terus maka tidak akan ada gaji untukku, dan pasti diluar sana telah menyebar rumor yang tidak baik tentangku.


"Seperti rumor tentang Hyorin adalah simpanan Tuan Vilan..?"


"Hu'um!! ya.. ya seperti itu..." Ucapku menganggukkan kepalaku.


Aku tersentak dan menatap ke arah belakang, merasa kaget sebab ternyata Tuan Vilan telah berada di dalam ruangan dan menjawab kata hatiku.


"Apakah rumor itu benar telah ada Tuan..?" Tanyaku penasaran.


"Apa yang kau harapkan?" Tanya Tuan Vilan sambil tersenyum dan duduk santai di atas ranjang besar miliknya.


"Apakah Tuan Vilan dapat membaca isi hati seseorang? Mengapa Tuan Vilan seakan tau apa yang aku pikirkan tadi?" Tanyaku lagi.


Senyuman semakin melebar di bibir Tuan Vilan, ia tidak menjawab satu pun pertanyaanku dan hal itu semakin membuatku resah.


"Aku pernah mendengar bahwa semua Vampire miliki kekuatan khusu mereka masing-masing, apakah kekuatan khusus Tuan Vilan itu adalah membaca pikiran?" Tanyaku lagi dengan penuh rasa penasaran, sebab jika benar hal itu maka tamatlah sudah riwayatku karena selama ini aku selalu menyanjung ketampanan Tuan Vilan disetiap aku menatapnya.


"Well..." Ucap Tuan Vilan menggantung dan menyunggingkan senyuman jahilnya lalu mengangkat sebelah alisnya.


Aku sontak berdiri dan berjalan sedikit demi sedikit menuju dalam ruangan, walaupun aku telah mempercepat jalanku namu langkah kakiku belum dapat terangkat sempurna.


"A..apa maksud Tuan... Apakah itu artinya iya..??" Ucapku saat sampai tepat di hadapan Tuan Vilan.


Kutatap Tuan Vilan yang sedang duduk di atas ranjang, berharap yang aku duga itu tidaklah benar. Sepatah katapun tidak keluar dari bibir Tuan Vilan, yang ada hanyalah senyuman liciknya.


Tuan Vilan merebahkan tubuhnya dan menjadikan kedua lengannya sebagai bantal, ia menatapku dengan mata yang menyalah.

__ADS_1


fantasi liarku akan hal terjun bebas di atas dada Tuan Vilan yang kekar sempat terlintas, dan mata Tuan Vilan semakin menyalah menyaksikan diriku tepat berdiri di hadapan kedua pahanya yang terbuka.


Pandanganku menjelajahi seluruh tubuh Tuan Vilan hingga ke bawah dan terhenti tepat di satu titik yang sedikit menonjolkan kejantanan Tuan Vilan yang begitu kekar, aku menelan ludah ku seakan tenggorokanku membutuhkan cairan lebih untuk membasahinya.


Seperti apa rasanya jika aku benar-benar menjadi simpanan Tuan Vilan? Ucapku dalam hati, aku menggelengkan kepalaku dengan cepat saat bayangan nakal mulai menari-nari dalam otakku.


"Apakah kau ingin menjadi simpananku?" Tanya Tuan Vilan dan senyuman licik juga jahilnya kembali terlihat, sungguh pria yang sangat menyebalkan...


"Aha ha haa.. mana mungkin..." Ucapku sambil tertawa terbata-bata, ku alihkan pandanganku lalu berjalan menuju bangku untuk istirahatkan kakiku.


Haaa~aaah... rasanya sungguh tak nyaman jika seperti ini, apakah aku tidak akan sembuh? lalu bagai mana dengan gajiku jika aku akan seperti ini selamanya?


"Tuan... apakah aku tidak akan menerima gajiku?" Tanyaku dengan pandangan berharap.


"Gaji..?"


Aku mengangguk saat Tuan Vilan bertanya, menunggu jawaban dari Tuan Vilan dan berharap lebih.


"Tentu saja.., sesuai kontrak kerja" Ucap Tuan Vilan.


"Eh..?"


Aku ingin menanyakan soal wanita yang meracuniku namun setiap aku menatap Tuan Vilan pertanyaan itu selalu kutelan kembali, rasa penasaran di dalam diriku masih berkecamuk tentang alasan apa wanita itu meracuniku. Apakah cemburu? atau jangan-jangan dia adalah pelayan yang posisinya aku ambil?


TOK... TOK... TOK...


suara ketukan pintu menyadarkaku dari lamunanku, aku menatap ke arah pintu dan Gideon masuk dengan membawa berita tentang wanita yang ingin aku ketahui kabarnya itu.


"Seperti yang Tuan katakan, wanita itu adalah mata-mata dari orang itu. Aku telah memastikannya, mereka telah bergerak dengan beberapa kelompok" Ucap Gideon.


Aku terus mendengarkan pembicaraan Gideon dengan Tuan Vilan walaupun hal itu tidak aku mengerti selain pelayan wanita itu adalah seorang mata-mata atau bawahan dari seseorang yang berniat buruk, entah itu kepadaku atau kepada Tuan Vilan.


"Awasi saja mereka semua, tidak perlu melakukan tindakan yang sia-sia. Lalu, untuk wanita itu. Bunuh dia, kita tidak membutuhkan seorang pengkhianat dalam ras kita" Ucap Tuan Vilan masih dengan posisinya yang sedang berbaring santai.


"Akan saya laksanakan sesuai perintah Tuan..."


Gideon pamit dan beranjak pergi, Tuan Vilan bangkit dari tidurnya dan kembali dalam posisi duduk lalu menatapku.

__ADS_1


"Kemarilah..." Perintah Tuan Vilan.


Aku berdiri dan berjalan menuju Tuan Vilan.


"Bantu aku melepaskan sepatuku dan pakaianku, aku ingin menyegarkan tubuhku" Ucap Tuan Vilan saat aku telah berada di dekat ranjang.


Bagai mana pun juga aku adalah pelayan pribadinya, walaupun aku sedang terluka tetap saja Tuan Vilan harus tetap aku layani. Selama dua hari kemarin aku tidak melakukan tugasku sebab kondisiku masih belum memungkinkan dengan adanya infus yang masih melekat di tanganku dan kakiku yang masih belum bisa ku gerakkan dengan baik seperti sekarang, lagi pula yang tidak bisa gerak itu bukanlah tanganku. Jika hanya untuk melepaskan seluruh pakaian Tuan Vilan aku masih sanggup, aku berjalan menuju kamar mandi dan mengambilkan bath robes atau jubah mandi untuk Tuan Vilan.


Aku menaruh jubah mandi itu di atas ranjang sisi sebelah kanan Tuan Vilan lalu aku berjongkok dan mulai melepaskan sepatu Tuan Vilan kemudian lanjut melepaskan semua pakaiannya, aku mulai mengambil jubah mandi itu dan hendak memakaikannya di tubuh tuan Vilan namun ia telah berjalan maju menuju kamar mandi.


"Apakah saya perlu menyiapkan air di bathtub untuk Tuan?" Tanyaku


"Tidak perlu" Jawab Tuan Vilan lalu pergi menuju kamar mandi dengan kebiasaannya tanpa sehelai kain atau pun handuk.


Apakah kau tidak tahu kalau batin seorang gadis seperti aku ini masih suci? kau memaksaku menyaksikan tubuhmu itu, sungguh membangkitkan pikiran liarku. Celotehku dalam hati, merasa salah tingkah setiap melihat tubuh Tuan Vilan yang sangat kekar.


Hujan kini telah turun, angin menjadi kencang. Pintu kaca menuju balkon kamar ini berbunyi-bunyi dan bergoyang terkena terpaan angin, aku berjalan melawan angin menuju pintu untuk menutupnya sambil berharap angin tidak bertiup lebih kencang lagi hingga menerbangkan diriku yang masih sedikit lemah.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Tuan Vilan yang telah keluar dari kamar mandi menggunakan sepotong handuk kecil yang menutupi bagian kejantanannya.


"Ingin menutup pintu itu" Ucapku sambil terus mencoba berjalan maju masih melawan angin.


"Yang kau lakukan hanya berjalan ditempat, lupakan pintu itu dan kemarilah" Ucap tuan Vilan.


Aku memperhatikan posisiku berdiri, benar saja kakiku tidak melangkah maju lebih dekat lagi ke pintu.


"Baik laaaaaaa... kyaaaah..." Teriakku saat angin meniup tubuhku hingga aku kehilangan keseimbangan.


Lengan kekar Tuan Vilan menyangga tubuhku sebelum aku terjatuh di lantai, jantungku berdetak kencang karena merasa begitu kaget.


"Apakah kau sedang merayuku?" Ucap Tuan Vilan.


"Eh..?" Aku menatap wajah Tuan Vilan merasa bingung, tatapan Tuan Vilan mengarah menuju arah bawah. Tepatnya di arah lenganku berada, mataku pun mengarah ke arah tanganku yang ditatap oleh Tuan Vilan.


"Kyaaaaaaaaa..." Teriakku sambil melangkah mundur dan melepaskan genggaman tanganku yang tadi sempat memegang handuk tepat di bagian kejantanan Tuan Vilan, namun belum sempat aku memperbaiki posisiku berdiri lenganku telah ditarik Tuan Vilan dan membuatku bersandar di dadanya.


"Jika kau ingin merayuku, setidaknya bentuk dulu tubuhmu yang seperti papan rata ini" Bisik Tuan Vilan.

__ADS_1


Aku menatap Tuan Vilan dengan penuh rasa kesal, Mengapa pria ini sangat senang berkata kasar dan membuatku kesal?!


__ADS_2