BLOODY RING

BLOODY RING
19


__ADS_3

saat pagi menjelang dan matahari mulai nampak kan senyumannya yang cerah, tanpa ku ketahui ternyata aku terbangun dalam dekapan Tuan Vilan. Debaran jantungku perlahan-lahan mulai berdebar semakin kencang, membuatku semakin salah tingkah.


Mengapa aku tidur dengan Tuan Vilan?. Tanyaku dalam hati.


Perlahan aku mengingat kembali semua kejadian yang telah terjadi saat di dalam mobil, saat perjalanan pulang Tuan Vilan telah menjilati semua bagian tubuhku tanpa terlewatkan satu bagian pun.


Tanpa rasa malu dan tanpa rasa khawatir dengan semua aksinya di dalam mobil dengan disaksikan oleh Gideon, walaupun aku tahu pasti yang ingin ia obati adalah luka-luka di tubuhku namun entah mengapa sesuatu yang lain yang ada dalam diriku pun mengatakan bahwa bukan hanya itu niat Tuan Vilan melainkan menginginkan hal lebih dariku.


"Apakah kau tidak dapat tenang walau hanya sedikit? rasanya sangat bising di setiap pagi saat bersamamu" Tegur Tuan Vilan.


"Anda sudah bangun?" Ucapku.


Aku berusaha bangkit dari tidurku dan mencoba melepaskan diri dari dekapan Tuan Vilan, namun alih-alih aku terlepas darinya. Tuan Vilan malah semakin menarik diriku masuk kedalam dekapannya dan membuat wajahku bersandarkan dadanya yang terekspos di depan mataku, dada yang bidang dan sangat kekar.


"Diamlah dan biarkan aku tidur" Ucap Tuan Vilan lagi.


"Aku tidak mengatakan apapun..." Jawabku.


"Benarkah?" Ucap Tuan Vilan sambil meraih daguku dan membuat kepalaku mendongak ke atas agar pandangan kami saling bertemu


"Aku tidak akan bisa tidur dengan tenang jika kau terus saja teriak-teriak dalam pikiranmu seperti orang kesurupan" Ucap Tuan Vilan lagi.


"Eh? a..apakah itu artinya Tuan Vilan dapat mendengar semua kata hatiku?" Tanyaku khawatir.


"Tentu saja... maka dari itu tenanglah sedikit, bukannya aku tidak senang kau memujaku dan memikirkan tentang diriku. Tapi aku baru saja tertidur beberapa menit lalu..." Jelas Tuan Vilan sambil kembali memelukku dalam dekapannya.


"Ma..maaf..." Ucapku merasa bersalah.


"Tapi mengapa Tuan baru tertidur sekarang? Apa yang anda lakukan?" Tanyaku.


"Membereskan sedikit masalah..." Jawab Tuan Vilan.


"Masalah?" Ucapku semakin khawatir.


"Ya, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan segera. Maka dari itu, biarkan aku beristirahat sejenak!!" Tegas Tuan Vilan.


"Tapi Tuan, aku harus bekerja sekarang?" Ucapku pelan.

__ADS_1


"Biarkan dulu seperti ini sampai aku tertidur" Tegas Tuan Vilan dan semakin mempererat dekapannya.


Apa yang harus ku lakukan sekarang? lalu sekarang hubunganku dan Tuan Vilan seperti apa? kekasih? tidak... tidak... tidak mungkin. Tapi...


Aku terus berfikir tanpa henti dalam pelukan Tuan Vilan, namun semua pertanyaan yang aku pikirkan serasa sangat konyol.


"Aaaaargh!!! Pergilah, pergi sana! kau benar-benar sangat berisik!" Kesal Tuan Vilan sambil mendorongku menjauh dari tubuhnya.


"Ish, apaan sih" Ucapku kesal dan turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Semua luka di tubuhku benar-benar hilang..." Ucapku takjup.


Aku mengelus seluruh Tubuhku dengan sabun dan merasakan kemulusan dari kulit tubuhku, benar-benar seperti kulit bayi yang sangat mulus.


"Mengapa bisa seperti ini?" Ucapku lagi.


Apakah semua Vampire dapat melakukan hal ini? benar-benar mengagumkan, tapi sangat menyakitkan. Ucapku sambil terus mengingat rasa sakit dari tiap tarikan di kulitku saat darah Tuan Vilan bekerja di bekas lukaku, rasa sakitnya melebihi sakit saat banyak Vampire menusukkan taring-taring mereka.


Tidak ingin berlama-lama di dalam lamunanku aku segera menyelesaikan mandiku dan keluar dari kamar mandi untuk mencari pakaian di lemari, semua pakaian milikku masih tersimpan rapi di sebelah lemari Tuan Vilan di dalam kamar ini. Terkecuali seragam pelayan yang selalu aku gunakan, semua seragam milikku telah lenyap.


"Pasti seperti itu..." Ucapku sendiri meyakinkan diriku.


"Ya sudahlah, pakai saja yang ada. Nanti barulah aku tanyakan saat dia telah bangun" Ucapku sambil mengambil beberapa stelan baju dari dalam lemari.


setelah merasa rapi aku keluar kamar dan menuju dapur untuk memenuhi kebutuhan perutku, setelah ku ingat-ingat lagi aku belum makan apapun kemarin.


"Permisi, apakah aku bisa mendapatkan sedikit makanan untuk ku makan?" Tanya pada beberapa pelayan yang ada di dalam dapur.


Semua pelayan yang melihatku sangat terkejut karena kedatanganku yang tiba-tiba meminta makanan di pagi hari, wajar saja mereka terkejut karena biasanya pagi seperti ini mereka baru ingin mempersiapkan bahan untuk memasak.


"Hmmm... Apakah tidak ada sedikit roti? atau apapun yang tersisa dari makan malam kemarin?" Tanyaku sedikit ragu.


"Masih ada sedikit sup dan beberapa potong roti jika anda tidak keberatan dengan itu" Ucap seorang pelayan wanita.


"Baiklah, aku rasa aku tidak keberatan dengan itu..." Kataku sambil tersenyum lega.


"Tunggu sebentar, akan saya siapkan" Ucap sang pelayan wanita sambil berjalan mempersiapkan semua.

__ADS_1


"Terima kasih..." Jawabku bersyukur dan duduk di kursi sambil menunggu makanan yang wanita itu siapkan.


Setelah beberapa menit makanan telah disediakan di atas meja makan, aku terus menyantap hidangan itu dengan sangat lahap hingga aku sedikit tersedak.


Rasanya aku seperti orang yang tidak pernah makan selama sebulan, menghabiskan makanan itu dengan rakus. Semua pelayan memperhatikan diriku, namun aku tidak memperdulikan pandangan mereka.


"Maaf nona, apakah anda membutuhkan sesuatu lagi?" Tanya pelayan itu lagi.


"Tidak, terima kasih" Jawabku malu-malu lalu pergi keluar dapur.


Aku tidak ingin terlihat lebih memalukan lagi dan sepertinya selama aku tidak ada di sini, sebagian besar pelayan telah diganti. Terutama bagian dapur tadi, tidak ada satu pun pelayan yang aku kenal yang ada di dapur.


"Gideon..." Ucapku berharap Gideon mendengar panggilanku.


"Ada yang anda butuhkan, Nona Hyorin?" Ucap Gideon tepat di arah samping ku setelah aku memanggilnya.


"Aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan..." Ucapku.


Gideon hanya diam menunggu pertanyaan dariku, namun aku tidak langsung bertanya tetapi memilah-milah pertanyaan mana yang harus aku ajukan terlebih dahulu.


"Seragam kerjaku... bisakah aku mendapatkannya kembali?" Ucapku.


"Maaf Nona, soal itu kini anda tidak lagi dapat memakainya"


"Apa maksudmu aku telah dipecat?" Tanyaku kaget.


"Tidak Nona, tapi perjanjian baru akan segera anda tandatangani saat Tuan Vilan telah bangun" Jelas Gideon.


"Perjanjian baru?" Ucapku ulang merasa penasaran.


Gideon tidak berkata apapun lagi setelahnya, dia hanya terdiam menungguku.


"Apakah masih ada yang ingin anda tanyakan Nona?" Tanya Gideon lagi.


"Ya, soal tunangan Tuan Vilan..." Ucapku ragu-ragu.


Gideon tidak langsung menjawab pertanyaanku, ia tampak ragu untuk menjelaskan tentan semua itu. Entah hal apa yang membuatnya ragu, namun hatiku sangat yakin bahwa ada sesuatu yang Gideon dan Tuan Vilan sembunyikan dariku. Sesuatu yang tidak harus aku ketahui hingga Gideon terlihat sangat ragu menjawab pertanyaanku yang satu itu, Apakah aku harus menanyakan itu langsung pada Tuan Vilan?

__ADS_1


__ADS_2