
Gideon datang bersama seorang dokter, aku rasa dokter itu pun bukanlah seorang manusia sebab matanya sempat menyalah saat menatapku.
"Dokter ini adalah dokter terbaik di alam ini, walaupun dia adalah ras kami namun dia tetaplah seorang dokter profesional. Dia akan merawatmu..." Ucap Gideon.
Sang dokter mulai memeriksaku dan berikan aku injeksi juga sebuah infus dilenganku, rasa kantuk semakin merayu mataku agar terpejam. Entah itu adalah efek dari injeksi ataukah efek dari racun yang telah menyebar di dalam darahku, entah yang mana dari salah satu itu namun kali ini aku benar-benar tidak dapat menahan mataku.
"Istirahatlah, Tuan Vilan telah memberikan pertolongan pertama padamu untuk menghambat perkembangan racun itu. Darah Tuan Vilan di dalam tubuhmu benar-benar berfungsi dengan sangat baik, istirahatlah Nona semoga esok akan semakin membaik" Jelas sang dokter dan mataku telah tertutup dengan sempurna.
Aku terbangun kembali di saat langit telah menjadi gelap, kini kamar Tuan Vilan telah diterangi oleh cahaya lilin yang ada di tiap sudut-sudut ruangan. Seperti biasa, Tuan Vilan tidak menyukai kamarnya diterangi oleh cahaya lampu. Lalu apa gunanya lampu kristal besar yang tergantung di langit-langit itu? sebagai hiasan doang?
Aku melihat ke samping kanan dan kiri ranjang, tidak ada siapapun. Bahkan sang empunya pun tidak menunjukkan dirinya, entah Tuan Vilan pergi ke mana sejak saat itu.
Aku bangkit dari tidurku dan turunkan kakiku dari atas ranjang, aku mencoba untuk berdiri agar dapat meraih teko di atas meja yang berisikan air. Saat aku mulai berdiri sedikit demi sedikit, kakiku tidak sanggup menahan beban tubuhku dan aku pun mulai terjatuh. Namun sebelum aku terjatuh di lantai, sebuah lengan kekar menahanku.
"Gideon?" Ucapku saat aku menatap sosok pelayan yang menahan tubuhku.
"Apakah Nona membutuhkan sesuatu?" Tanya Gideon sambil mendudukkan aku kembali di atas ranjang.
Apa ini? biasanya di dalam film atau novel-novel, saat pemeran wanita yang sakit terjatuh maka yang menyelamatkannya pasti sang pemeran pria. Ini mengapa malah sang pelayan yang menyelamatkan? Keluhku dalam hati merasa kecewa bukan Tuan Vilan yang menghampiriku, melainkan Gideon.
Aku rasa sejak tadi Gideon telah memperhatikanku dari kejauhan, namun dia tidak menampakkan dirinya. Tunggu.., jika seperti itu, apakah dia hantu? makhluk halus? yang benar saja... tapi dia bersembunyi di mana sejak tadi? Aku melihat kesana-kemari mencari jawaban atas pertanyaan dalam hatiku.
"Nona..?" Panggil Gideon.
"Ah... iya.. maaf tenggorokanku rasanya sangat kering, dapatkah kau membantuku mengambilkan air di atas meja itu?" Jawabku.
Gideon pun mengambilkan aku segelas air untuk aku menyegarkan tenggorokanku yang sudah mulai perih, aku meminum air yang diberikan Gideon seteguk demi seteguk hingga air dalam gelas itu habis.
"Apakah anda masih membutuhkan air lagi?" Tanya Gideon.
"Tidak, ini sudah cukup" Ucapku dan aku memberikan gelas yang telah kosong yang ada di tanganku saat Gideon memintanya.
"Tuan Vilan..?" Tanyaku pada Gideon.
__ADS_1
"Tuan sedang melakukan interogasi"
"Interogasi...?" Ulangku merasa bingung.
"Iya, sejak tadi pagi Tuan Vilan sendiri yang melakukan interogasi pada pelayan yang telah meracuni anda" Jelas Gideon.
"Yang telah meracuniku..." Aku teringat seorang pelayan wanita yang membawakan makanan untukku pagi tadi.
"Apakah wanita itu meracuniku..?" Tanyaku lagi.
"Tidak, wanita itu hanyalah seorang kaki tangan" Jelas Gideon.
"Maksudmu, ada dalang dibaliknya?"
"Sepertinya begitu, maka itu Tuan Vilan terus melakukan interogasi itu sendiri. Anda tidak perlu khawatir akan hal itu, jika Tuan Vilan yang turun tangan maka semua akan segera selesai" Jelas Gideon lagi.
Aku menganggukkan kepalaku bentuk dari pemahamanku atas apa yang Gideon jelaskan, Namun hati dan pikiranku terus-terus bertanya siapa yang ingin membunuhku? dan mengapa aku?
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu..." Ucap sebuah suara jauh di balik pintu kamar yang telah terbuka, Tuan Vilan berjalan memasuki ruangan dengan gayanya yang santai.
Tuan Vilan memberikan kode kepada Gideon agar meninggalkan kami, dengan patuh Gideon pamit meninggalkan ruangan dan menutup pintu kamar.
Tuan Vilan duduk di sebuah kursi yang ada di hadapanku dan mulai membuka baju kaos hitam yang ia kenakan, dan melepas sepatu juga celananya. Ia berjalan dengan santai tanpa mengenakan sehelai kain pun, menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Aku mengipas-ngipasi wajahku seakan-akan aku kepanasan setelah melihat Tuan Vilan yang tanpa busana di hadapanku, walaupun aku telah melihatnya sebelumnya namun tetap saja pemandangan itu terasa asing bagiku.
lima menit Tuan Vilan membersihkan tubuhnya, kini ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan sebuah piyama tidur.
"Kenapa? apakah kau kecewa melihatku yang keluar dari kamar mandi dengan sebuah piyama?" Ucap Tuan Vilan sambil tersenyum sinis padaku.
"Iiih, mana mungkin" Ucapku risih.
Aku memalingkan wajahku saat melihat senyuman lebar di wajah Tuan Vilan yang sangat tampan dengan rambutnya yan tergerai indah, rambutnya panjang sedada namun itu tidak membuatnya terlihat veminim atau pun aneh.
__ADS_1
Tuan Vilan berjalan menuju ranjang sambil mengeringkan kepalanya menggunakan handuk kecil, ia duduk di seberang ranjang membelakangi punggungku.
"Wanita itu..."
"Itu adalah urusanku, sudah ku katakan agar kau tidak perlu memikirkan hal itu" Ucap Tuan Vilan.
"Baiklah" Jawabku pelan.
"A..aku rasa kondisiku telah membaik, aku akan kembali ke kamarku. Terima kasih Tuan Vilan telah menolongku" Ucapku sambil berusaha berdiri dengan segenap tenaga yang ku miliki.
"Jika kau berani melangkah selangkah saja, aku akan membunuhmu" Ancam Tuan Vilan.
Kakiku menjadi kaku mendengar perkataan Tuan Vilan yang begitu dingin, nada suaranya sangat mengerikan. Tubuhku kembali aku dudukkan di atas kasur itu, aku tidak ingin menemui menjemput ajalku sendiri untuk yang kesekian kalinya.
"Apakah kau sudah makan?" Tanya Tuan Vilan.
"Aku tidak merasa lapar" jawabku.
"Darahku tidak cukup untuk memberikan tenaga padamu, kamu tetap harus memakan sesuatu" Ucap Tuan Vilan.
Tuan Vilan berdiri dan duduk di kursi yang tadi ia duduki untuk melepas sepatu juga celananya, kursi yang telah ia letakkan di samping ranjang tempatku berbaring.
"Sebentar lagi Gideon akan membawakanmu makanan" Ucap Tuan Vilan.
Tak lama setelahnya Gideon benar-benar datang membawa sebuah meja besi yang memiliki empat roda di masing-masing sudutnya, di atas meja itu ada sebuah nampan berisikan semangkuk bubur dan obat untuk ku minum juga sebuah peralatan injeksi.
GLUK...
Mataku terus menatap sebuah suntikan yang ada di atas meja besi itu, apakah kali ini Gideon akan menyuntikku dengan suntikan itu?
"Makanlah, kau harus mengisi perutmu terlebih dahulu sebelum meminum obatmu itu" Ucap Tuan Vilan.
Aku menatap Gideon mencari jawaban untuk apa suntikan yang ada di atas meja itu, namun Gideon tidak menjelaskan apapun padaku melainkan ia pamit dan pergi meninggalkan aku dan Tuan Vilan.
__ADS_1
Apakah Tuan Vilan yang akan Menyuntikku? Apakah dia miliki lisensi seorang dokter atau semacamnya? Atau jangan-jangan dia ingin membunuhku dengan suntikan itu setelah aku makan? bukankah seekor binatang akan dikenyangkan dahulu sebelum disembelih?