
Mata berwarna hijau zamrud dengan dilingkari cincin berwarna kuning gold menyalah, mata yang sangat indah. Mata itu terus memandangiku dan membuatku gelisah, membuat darah yang mengalir dalam tubuhku terasa menjadi panas.
"Gideon"
"Saya Tuan?"
"Mulai hari ini pindahkan semua pelayan yang melayaniku ke bagian yang lain dan berikan tugas itu pada Hyorin"
"Segera Tuan" Jawab Gideon Lalau menuntunku agar pergi meninggalkan pria itu.
Pandanganku masih terus tertuju pada, bukan karena terpesona. Melainkan karena kesal, tanpa ba-bi-bu-be-bo atau basa-basi denganku atau bahkan menanyakan apa pun padaku dia langsung memerintahkan Gideon.
Hanya Hyorin? hanya kata Hyorin?? tak ada kata lain lagi?? hanya itu??? yang benar saja????. Ucapku kesal sambil terus menatapnya, Gideon terus memanggilku agar aku fokus padanya namu aku tidak memperdulikan Gideon.
"Tunggu" Panggil sang pria, dia berjalan turun dari singgasananya yang megah dengan gerakan yang sangat elegan.
Kini dia sampai di hadapanku, sangat dekat hingga tubuhnya yang kekar menekan tubuhku. Menopang daguku ke atas dan ia pun menatapku dengan lekat, Apa?! apa kau pikir aku takut dengan tatapanmu itu? aku pun bisa menatapmu, nih... Ucapku dalam hati sambil melototkan mataku dengan penuh tantangan.
Pfft...
Pria itu menahan tawanya dan memalingkan wajahnya dariku beberapa menit dan kembali menatapku dengan raut wajah yang serius.
"Ku rasa kau benar-benar tidak mengerti posisimu saat ini" Ucapnya
"Maaf Tuan? Apakah saya ada membuat kesalahan?" Ucapku menantang
"Gideon, apakah kau takut padaku?"
Aku membalikkan kepalaku menatap Gideon
"Tentu saja Tuan" Ucap Gideon sambil menundukkan kepalanya.
Pria itu kembali menarik daguku dengan dua jarinya dan memaksaku menatapnya.
"Tatapanmu itu mengatakan bahwa kau sangat tidak takut padaku, wahai manusia" Ucap pria itu lagi dan kini ucapannya itu menyadarkanku bahwa yang ada di hadapanku ini bukanlah seorang manusia, tetapi monster penghisap darah.
Glup...
Aku menelan ludahku dengan susah payah, berharap dapat kembali menarik semua kelakuan ku yang tadi sebelum aku mengklaim tanda kematianku.
__ADS_1
"Maafkan aku Tuan" Jawabku dengan sedikit rasa takut
Perlahan Matanya berubah menjadi warna hijau terang dan menyalah lalu lama kelamaan warna itu berubah lagi menjadi warna merah terang, lidahnya kini mulai menggoda bibir atasnya bagai menikmati sesuatu yang lezat.
"Gideon, siapkan pakaian untuknya dan segera jelaskan apa saja yang harus dia kerjakan sebagai pelayan pribadiku. Tanpa terkecuali..." Ucap pria itu lalu menghempaskan daguku dengan kasar dan membalikkan tubuhnya lalu berjalan kembali menuju singgasananya.
"Mari Nona..." Ucap Gideon
Aku mengikuti Gideon tanpa berbalik melihat pria itu, rasa takut kini terasa di sekujur tubuhku.
"Sebaiknya anda mengendalikan perasaan anda itu Nona, saya takut jika tidak maka anda akan mengundang sebuah masalah" Jelas Gideon yang menatapku sedang gemetaran.
"Maafkan aku..." Jawabku sambil terus mengambil nafas dan mengatur perasaan takutku.
Kami sampai di sebuah ruang makan yang ada di ruang tengah, Gideon mempersilahkan aku duduk sambil menyuruhku menunggu sebuah hidangan datang. Sementara Gideon pamit untuk mengambil berkas-berkas yang harus aku pelajari dan taati, sekitar tiga menit Gideon datang dengan beberapa lembar kertas ditangannya.
"Ini adalah kertas perjanjian kerja, dan ini adalah aturan-aturan yang harus anda jalani sebagai pelayan pribadi Tuan Vilan" Jelas Gideon sambil memberikan aku dua buah berkas.
"Apa ini harus di tandatangani?" Tanyaku
"Ya, layaknya perjanjian kerja di alam kalian. Anda dapat mempelajari isinya terlebih dahulu, lalu menandatanganinya" Jelas Gideon.
"Ada pena?" Tanyaku
Gideon menyodorkan sebuah pena padaku di atas meja.
"Apakah anda tidak ingin mempelajarinya terlebih dulu? jika anda telah menandatanganinya maka anda tidak akan bisa membatalkannya lagi terkecuali Tuan Vilan yang membatalkannya"
"Sudah, aku sudah membacanya" Jawabku dan mengambil pena itu lalu menandatanganinya.
Aku menyerahkan berkas perjanjian itu pada Gideon dan makanan pun di antarkan ke atas meja untuk aku nikmati, saat penutup makanan itu semua dibuka. Aku sangat bersyukur sebab mereka menghidangkan makanan yang dapat ku makan, awalnya aku berfikir mereka akan menyuruhku memakan sesuatu yang belum dimasak dan berlumuran darah.
Selesai menikmati makananku, Gideon memberikan aku tiga pasang seragam pelayan dengan satu sepatu. Aku menerimanya dan kembali ke dalam ruanganku untuk beristirahat, mempersiapkan diri untuk pekerjaanku esok hari.
Ku ambil berkas yang tadi tidak sempat kulihat dan ku baca tentang hal apa saja yang harus ku kerjakan, aku duduk di kursi depan meja rias yang ada disebelah kasur ku dan mulai membaca.
"Untuk pagi esok..." aku membuka-buka berkas itu mencari apa yang harus ku kerjakan jika pagi, namun tidak ada yang menuliskan jadwal pagi. Kegiatan ku dimulai saat pukul tiga sore, waktu tuan Vilan bangun.
"Membuka jendela kamarnya, menyiapkan keperluan mandi, menyiapkan pakaian dan makanan..." Ucapku sambil membuka lembar berikutnya mencari hal apa lagi selanjutnya, namun tidak ada lagi kegiatan selanjutnya terkecuali saat jam makan malam di jam sembilan malam.
__ADS_1
"Hanya itu saja..??" Ucapku heran.
"Tidak ada kegiatan di pagi hari, ku rasa aku harus bertanya pada Gideon apa yang harus aku lakukan di saat pagi hari esok"
Aku pergi merebahkan tubuhku di atas ranjang yang sangat empuk dan mulai memejamkan mataku, menikmati halus dan lembutnya bantal-batal juga selimut yang memanjakanku.
"Aku rasa akan sangat sulit bangun pagi jika harus tidur di atas ranjang yang senyaman ini" Ucapku sambil mulai mencari posisi nyaman, namun terdengar suara ketukan pintu di saat aku hendak memulai waktu tidurku yang nyaman.
"Nona, saya Gideon. Apakah anda telah tidur?" Ucap Gideon dari balik pintu kamarku.
Aku membuka pintu kamarku dan melihat Gideon yang telah berdiri dengan wajah yang sangat serius di hadapanku.
"Ada apa?" Tanyaku
"Tuan memanggil anda"
"Heh? sekarang?" Aku melihat arlojiku, waktu menunjukkan telah pukul sebelas malam.
"Baiklah, di mana tuan Vilan?" Tanyaku lagi
"Tuan ada di kamarnya, dan jangan lupa pakai seragammu" Ucap Gideon.
"Baiklah, aku persiapkan diri dulu tunggu sebentar..."
Aku menutup pintu dan mulai mempersiapkan diri, memakai semua perlengkapan tempurku. Sebuah seragam maid dengan rok sepaha dengan hiasan renda di bagian bawah rok tersebut, seragam yang cukup sexy dan lengkap dengan hiasan bando dikepala. Setelah lima menit berganti pakaian, aku kembali menemui Gideon yang masih ada di depan pintu kamarku.
"Baiklah, aku sudah siap. Mari kita pergi" Ucapku.
Gideon menuntunku menuju tangga yang sangat panjang, ku lihat tangga-tangga itu.
"Gideon, berapa anak tangga yang harus dilewati untuk sampai lantai tiga?" Tanyaku
"Untuk sampai ke lantai tiga ada sekitar delapan puluh anak tangga dan lantai empat hanya memiliki lima puluh tujuh anak tangga" Jelas Gideon padaku.
Aku pun mulai berharap tuan Vilan tidak berada di lantai teratas bangunan ini, kami mulai menaiki satu persatu tangga itu hingga sampai di tangga ke delapan puluh dan kaki ku mulai terasa pegal.
"Gideon, di mana ruangan Tuan Vilan berada?" Tanyaku penuh harap.
"Lantai empat, ruangan paling pojok"
__ADS_1