BLOODY RING

BLOODY RING
14


__ADS_3

"5.6 Triliun...!"


Pandanganku tertuju pada suara seorang pria yang berada di lantai tiga VVIP dengan menggunakan sebuah topeng berbentuk anjing yang menutupi seluruh wajahnya, semua para peserta lelang yang ada dalam ruangan dan tiap-tiap lantai beragam. Mereka semua bercampur ras dan tidak hanya pria namun ada juga wanita, mereka semua menggunakan topeng yang beragam untuk menutupi identitas mereka.


saat aku sampai dalam gedung pelelangan, aku diseret bagai binatang dan dimasukkan dalam kotak jeruji besi. Pandanganku menjelajah ke semua benda-benda yang akan dilelang, berbagai macam dan bentuk. Namun hanya aku satu-satunya benda hidup yang dilelang, jantungku mulai berpacu kencang saat kotak yang aku tempati dibawah menuju panggung lelang.


Teriakan para peserta lelang semakin terdengar meriah saat sang pemandu pelelangan mengatakan aku adalah barang lelang eksklusif malam ini, awal penawaran dimulai dengan pembukaan 50 miliyar.


Tawaran demi tawaran terus terdengar di ruangan hingga tawaran terakhir dengan nilai yang sangat tinggi, lima koma enam triliun dan semua peserta dibuat terdiam dengan tawaran itu.


"Baiklah, 5.6 triliun... satu..." Teriak sang pemandu pelelangan hingga hitungan ke tiga dan akhirnya diputuskan bahwa pria misterius itulah yang berhasil mendapatkanku.


Pelelangan ditutup dengan aku yang menjadi lelangan terakhir bagi mereka, tubuhku semakin lemah saat mereka menyuntikkan sebuah injeksi pada tubuhku.


aku dikeluarkan dari dalam kotak dan diserahkan kepada seorang pelan dari pria yang membeliku, tubuhku digendongnya dan berjalan menuju mobil limosin mewah yang berkaca hitam pekat.


Aku dimasukkan dalam mobil itu dan terbaring lemah di atas kursi panjang yang ada di dalam mobil, pandanganku sedikit buram akibat injeksi yang diberikan padaku hingga aku tidak begitu jelas melihat wajah pria yang membeliku saat ia membuka topengnya.


"Tuan.. Vilan...?" Ucapku lemah dan pelan dengan pandangan yang coba ku fokuskan di wajah pria itu, namun tetap saja wajahnya tidak jelas.


"Apakah aku terlihat seperti itu?" Tanya sang pria misterius yang ada di hadapanku, senyumannya sedikit terlihat jelas mengambang di wajahnya dan sangat mirip seperti seringaian milik tuan Tuan Vilan.


"Istirahatlah, perjalanan kita akan sangat lama hingga kita sampai di rumah" Ucapnya.


Aku memejamkan mataku perlahan dan mulai tertidur, mobil yang kini membawaku mulai berjalan ke tujuan yang tidak aku ketahui ke mana rumah yang dimaksudkan pria misterius itu.


Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, tapi aku terbangun di atas sebuah ranjang dengan bertiraikan kain sutra berwarna gold disetiap sudut tiang ranjangnya.


kini pakaianku telah terganti menjadi pakaian yang lebih pantas terlihat, sebuah one piece selutut yang berwarna pink membalut tubuhku dengan indah.


aku bangkit dari tidurku dan memperhatikan setiap sudut ruangan, sebuah ruangan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Kamar tidur yang cukup luas dengan sebuah ranjang besar ditengah ruangan dan bersepraikan bulu-bulu halus begitu juga bantal-bantalnya, perabotan-perabotan kamar yang terlihat mewah dengan warna gold dan hitam menghiasi ruangan.


Beberapa pot yang besar dengan tanaman yang rimbun mengisi pot itu terletak di beberapa bagian ruangan menambah suasana yang menyegarkan dan menyenangkan mata.


Di sisi sebelah kanan ranjang terdapat sebuah pemanas ruangan yang menggunakan listrik, tidak seperti rumah Tuan Vilan. Ruangan ini terlihat lebih modern, namun tetap elegan.


Kreeeeek...


Suara pintu terbuka mengalihkan pandanganku, seorang pria dengan tubuh tinggi putih, berambut pirang ash grey dengan potongan gaya shaggy mullet, baju kemeja biru dongker dan celana kain panjang hitam melekat ditubuhnya yang atletis membuat parasnya menjadi terlihat lebih menawan.

__ADS_1


Pria itu berjalan mendekat ke arahku dengan sebuah nampan yang tertutup, aroma dari dalam tutup yang ada di atas nampan itu tercium seperti sebuah bubur ayam.


"Bagai mana perasaanmu sekarang?" Tanya pria itu, namun aku tidak menjawab.


"Aku membawakanmu sebuah bubur ayam, makanlah selagi masih hangat" Ucapnya lagi sambil meletakkan bubur itu di atas kasur tepat di hadapanku.


"Anda..."


"Aku adalah tunanganmu" Ucap pria itu saat memotong ucapanku.


"Tunangan?" Ulangku.


"Ya, pria yang akan menjadi suamimu kelak" Jelasnya.


"Apakah dengan membeliku disebuah pelelangan dapat menjadikan aku seorang tunangan?" Tanyaku dengan sedikit penekanan.


Tawa menggelegar dalam ruangan, pria itu mengelus pipiku dan menatapku tajam.


"Tentu saja tidak seperti itu" Ucapnya.


"Lalu..?"


Hatiku semakin bingung dan bimbang, apa sebenarnya maksud ucapannya? sejak kapan aku miliki seorang tunangan? apakah sebelum ayah dan ibuku meninggal mereka tidak menjelaskannya padaku? tapi hal itu tidaklah mungkin.


"Bagai mana mungkin hal itu dapat terjadi?" Tanyaku lagi.


Pria itu tersenyum dan membuka tutup nampan yang berisikan bubur ayam, menyendokkannya lalu menawarkan suapan itu padaku.


"Makanlah, aku akan menjelaskannya setelah kau menghabiskan makananmu. Selama dua hari ini kau tidak sadarkan diri dan belum memakan apapun" Ucap pria itu.


Kruuuuk...


Suara perutku mulai berbunyi saat aroma bubur ayam tercium sangat menggoda hidungku, awalnya aku tidak merasakan lapar itu namun saat pria itu mengatakan aku tidak menyadarkan diri selama dua hari maka seketika perutku bernyanyi merdu.


Aku mengambil sendok yang telah ia isi dengan bubur dan mencoba menyuapiku, dengan senyumannya yang menawan pria itu menunjukkan barisan giginya yang rapih dan putih. Aku memakan bubur itu dengan tenang dan lahap, tanpa keraguan akan diracuni lagi.


Dia telah membeliku dengan harga yang cukup mahal, tidak mungkin dia akan membunuhku dengan racun. Paling tidak jika dia ingin memakanku maka dia harus merawatku dan menggemukkan aku terlebih dahulu, tubuhku ini telah penuh dengan luka-luka bekas gigitan Vampire dan menjadi lebih kurus karenanya. Keluhku dalam hati, tanpa rasa malu aku menghabiskan bubur itu tanpa sedikitpun tersisa.


"Air?" Tawar pria itu sambil menyodorkan segelas air minum padaku, aku meraih gelas itu dan meminumnya hingga habis.

__ADS_1


"Siapa kamu?" Tanyaku tanpa basa-basi.


"Namaku?" Tanya pria itu menjelaskan.


"Iya, dan juga ras mu... aku yakin ini bukan alam manusia" Ucapku.


"Hahaha... iya, ini bukan alam manusia. Ini adalah alam Siluman. Namaku adalah Ryu, aku adalah siluman rubah putih" Jelas pria yang bernama Ryu.


Berarti selama aku tidak sadarkan diri, Ryu telah membawaku keluar dari alam Vampire menuju alam Siluman ini.


"Wow, siluman rubah? ekor sembilan?" Tanyaku lagi.


"Ekor sepuluh..." Jawab Ryu.


"Waaah... berarti kau sangat kuat? seperti di film-film siluman rubah ekor sembilan itu sangat kuat" Ucapku merasa kagum.


"Hahaha... jangan terlalu terpaku pada sebuah drama film sayang, terkadang hal itu tidak benar" Jelas Ryu.


"Eh?! Berarti kau tidak kuat?" Tanyaku penasaran.


"Aku kuat, sangat kuat. Tapi tidak seperti di film yang kau maksud itu" Jelas Ryu lagi.


"Hmm... apakah kau seorang pemimpin?" Tanyaku menginterogasi.


"Bukan, aku hanyalah seorang cucu dari salah satu pemimpin di alam ini" Jelasnya.


"Oooh... aku sangka kamu adalah seorang pemimpin" Gumamku.


Ryu tersenyum lalu mulai menyingkirkan nampan dan juga mangkuk yang telah kosong dari atas ranjang, ia berjalan menuju sebuah kursi dan menariknya mendekat disebelah ranjangku.


"Apa ada hal yang ingin kamu tanyakan lagi, Hyorin?" Ucap Ryu.


Aku berbalik dan sontak menatap wajah tampan Ryu dengan sangat heran, dari mana dia mengetahui namaku?


"Bagai mana kau bisa tahu namaku?" Pertanyaan dalam hatiku terlontar dengan sendirinya.


"Bukankah sudah aku katakan, bahwa aku adalah tunanganmu sejak kau dilahirkan?" Jelas Ryu.


"Aaa~aah... iya, itu..!!? bagai mana mungkin hal itu bisa terjadi? ayah bahkan ibuku tidak memberitahukan padaku akan hal itu sebelumnya" Ucapku.

__ADS_1


__ADS_2