
"Nenekmu... ibu dari ayahmu, beliaulah yang telah menjodohkanmu denganku" Ucap Ryu.
Nenek? ibu dari ayahku? tapi kata ibu dan ayah bahwa keluarga ayah tidak merestui mereka dan juga tidak mengakui aku sebagai cucu mereka, mengapa dia seenaknya mengatakan bahwa aku adalah tunangan Ryu?! Ketusku dalam hati, merasa kesal sebab selama ini keluarga dari pihak ayahku tidak pernah ada untukku dan sekarang aku harus menghadapi seorang pria yang mengaku dia adalah tunanganku sejak aku dilahirkan.
Namun ada hal yang membuatku bingung, mengapa Nenek itu menjodohkan aku dengan seorang siluman? Apakah dia tidak waras? menikahkan cucunya dengan seorang siluman? atau Nenek itu membutuhkan uang hingga menjualku yang tidak dia akui?
Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dalam batinku, aku menatap Ryu dengan raut wajah yang sedikit shock dan penuh pertanyaan.
"Mengapa nenek itu menjualku padamu yang bukan bagian dari rasku?" Tanyaku penasaran.
"Bukan bagian dari rasmu? Ras manusia maksudmu?" Tanya Ryu.
"Iya, apakah kau memberikan uang yang banyak juga pada nenek itu sama seperti kau membeliku dalam sebuah pelelangan semalam?" Interogasiku pada Ryu.
"Hahahaha... kau benar-benar manis Hyorin.." Ucap Ryu sambil mengacak-acak kepalaku hingga membuat rambutku menjadi sedikit berantakan.
Aku menepiskan tangan Ryu untuk menghentikan aksinya itu, rasa kesalku semakin nampak di wajahku.
"Ayahmu bukanlah manusia Hyorin, dia adalah siluman sama sepertiku" Ucap Ryu dan semakin membuatku shock.
"Apa maksud ucapanmu itu?!" Tanyaku merasa tidak terima dengan perkataan Ryu barusan.
"Ayahmu adalah siluman rubah merah, dia meninggalkan dunia siluman dan menikahi ibumu yang seorang manusia. Kamu adalah setengah siluman rubah dan setengah manusia.." Jelas Ryu.
Aku adalah setengah siluman rubah merah? bagai mana mungkin? ayah tidak pernah katakan itu padaku, bahkan aku tidak miliki ekor. Ucapku dalam hati.
"Tidak mungkin..." Bantahku.
Aku menatap Ryu dengan lekat mencari jawaban yang sebenarnya, namun raut wajah Ryu mengatakan bahwa itu adalah nyatanya.
__ADS_1
"Hahaha... Bagai mana mungkin aku setengah siluman rubah? berhenti bercanda denganku..." Ucapku lagi merasa sangat tidak yakin.
"Aku akan membawamu ke Nenekmu saat kau telah pulih, aku hanya sedikit terlambat membawamu bersamaku hingga kau mengalami hal-hal yang mengerikan itu" Ucap Ryu sambil menatap tubuhku yang penuh dengan luka-luka bekas gigitan vampire beberapa hari lalu.
Aku menarik selimut tinggi-tinggi dan menutupi bekas itu, rasa perihnya masih sedikit terasa di tubuhku.
"Bagai mana jika aku tidak ingin bertemu dengan nenek itu?" Tanyaku pada Ryu dengan penuh keyakinan.
"Aku tetap akan membawamu padanya, dengan begitu kau dapat menerima semua hak..."
"Aku tidak memerlukan semua itu!!" Bentakku memotong perkataan Ryu.
"Aku tidak menginginkan hak itu, aku.." Kata-kataku terhenti saat kembali mengingat kenangan kedua orang tuaku.
Air mataku mengalir membasahi pipiku, kesedihan menyelimutiku.
"Dia tidak pernah menemuiku walau hanya sekali bahkan saat kedua orang tuaku telah meninggal, dia tidak datang menemuiku atau menyelamatkanku. Bahkan hanya untuk sekedar menanyai kabarku saja tidak pernah dia lakukan, lalu sekarang kau ingin aku menerima semua perkataanmu itu?!! TIDAK!!" Ucapku membantah menerima kenyataan bahwa Ryu akan membawaku kepada Nenekku.
Sekalipun aku merindukan sebuah keluarga, namun di dalam hati ini aku sangat membenci keluarga dari ayahku itu. Terlebih lagi saat ini, kehadirannya yang begitu tiba-tiba membuat hatiku semakin sakit.
"Aku rasa kau harus menenangkan dirimu terlebih dahulu, aku akan meninggalkanmu untuk berfikir dengan tenang" Ucap Ryu lalu bangkit dan berbalik lalu meninggalkanku.
Saat Ryu telah mulai mendekati pintu tangisanku mulai terhenti karena aku melihat satu per satu ekor-ekor Ryu yang berwarna putih dan tebal juga banyak bermunculan hingga genap berjumlah sepuluh ekor, telinganya pun mulai terbentuk menjulang tinggi ke atas kepalanya. Ekor-ekor itu terlihat sangat lembut dan menari-nari mengikuti langkah kakinya, Ryu sempat berhenti dan berbalik sedikit seakan ingin menatapku. Namun ia tidak lakukan, Ryu kembali berjalan hingga lenyap dibalik pintu yang tertutup rapat.
"Nenek..? kurasa tidak..." Ucapku.
Pikiranku kembali tertuju pada Tuan Vilan, selama dua hari ini pasti Tuan Vilan mencariku.
Jika dikatakan keluarga, maka Tuan Vilanlah yang pantas ku sebut sebagai keluarga sebab dialah yang selama ini ada untukku. Bukan Nenek yang bahkan wajahnya tidak aku ketahui itu, lalu mengapa sekarang aku harus menemuinya setelah semua ini? tidak ada alasan bagiku untuk menemui seseorang yang tidak pernah memperdulikanku, aku tidak ingin bertemu dengannya! Ketusku dalam hati sangat kesal.
__ADS_1
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? bahkan untuk kabur saat ini pun aku tidak tahu harus ke arah mana..." Gumamku.
Aku turun dari ranjang dan berjalan menuju balkon kamar, pemandangan di luar kamar sangat indah dan segar untuk menenangkan pikiran dan juga perasaanku yang sedang kacau.
matahari telah berada di arah jam dua, panasnya cuaca lumayan menyengat jika terlalu lama berdiri di luar ruangan. Aku mencari kursi untukku duduk sejenak dan merenungkan segala hal yang telah terjadi hingga hari ini, segalanya terjadi dengan sangat tiba-tiba dan membuatku sedikit shock.
Mulai dari seorang pelayan yang meracuniku, penculikanku hingga pelelangan diriku. Dan saat ini aku terduduk di rumah ini sebagai seorang tunangan, rasanya semua itu bagai mimpi buruk.
"Apakah Tuan Vilan tidak mencariku? mengapa sampai sekarang dia tidak menjemputku?!" Ketusku.
"Haaaaa~aaa...!! Baru juga beberapa hari aku ke alam lain, kini perubahan kisah hidupku telah banyak berubah drastis. Benar-benar tidak beruntung... entah kali ini aku harus menangis ataukah harus bersyukur karena menjadi seorang tunangan dari pria kaya yang membeliku dengan jumlah uang yang sangat banyak..." Ucapku sendiri.
Aku menundukkan kepalaku dan menatap tubuhku, Apakah semua lubang-lubang ini bisa menutup dan sembuh? apakah tidak akan meninggalkan bekas? jika saja Tuan Vilan ada di sini...
Aku segera menggeleng-gelengkan kepalaku, memperingati diriku untuk tidak terlihat lemah.
"Mengapa juga aku mengharapkan tunangan orang lain menyelamatkanku? yang ada Nona Claudia akan semakin marah padaku dan akan segera memerintahkan Vampire lain lagi untuk membunuhku, seharusnya aku tidak memikirkan Tuan Vilan saat ini melainkan memikirkan keselamatanku sendiri" Jelas ku kepada diriku sendiri yang terus saja mengharapkan kehadiran Tuan Vilan.
Aku bangkit dari dudukku dan kembali ke dalam ruangan, kini tubuhku kembali merasa sangat lelah. kaki-kakiku mulai terasa Seperi jelly-jelly yang lentur tanpa tulang, aku rasa tubuhku belum benar-benar pulih dan masih membutuhkan istirahat yang banyak.
Aku berjalan menuju ranjang dan kembali dalam posisi tidurku, merindukan pelukan Tuan Vilan di belakang punggungku saat aku tertidur.
Tunggu dulu...!! Mengapa aku terus saja memikirkan Tuan Vilan saat tidak bersamanya..? apakah ini artinya aku memiliki perasaan pada Tuan Vilan??
Tidak... tidak.. tidak... itu tidak mungkin kan? Bantahku dalam hati sambil menggelengkan kepalaku, merasa kurang yakin dan mustahil.
Aku terus berfikir hingga wajahku menjadi merona bagaikan kepiting rebus karena perasaan malu akan pemikiranku sendiri.
"Suka..? Cinta...??" Ucapku.
__ADS_1