
Bubur dan obat telah aku habiskan, kini Tuan Vilan berdiri dari duduknya dan menuju perlengkapan injeksi yang ada di atas meja besi itu.
Jantungku semakin berdetak kencang saat Tuan Vilan mulai mengisi penuh suntik itu dengan sebuah cairan yang ada di botol kecil, ia mulai mengetuk-ngetuk suntuk itu dan mengeluarkan sedikit udara dari dalam suntikan.
"Tu..tunggu.. Tuan... an.. anda tidak bermaksud.. menyuntikkukan?" Tanyaku gugup melihat Tuan Vilan yang berjalan menujuku.
"Tentu saja aku akan melakukannya" Jawab Tuan Vilan.
"An..anda akan membunuhku?" Tanyaku semakin gugup.
"Hahaha... injeksi ini bukan berisikan sebuah racun yang dapat menghentikan jantungmu, kakimu itu harus diberikan suntikan di masing-masing pahamu agar dapat berjalan. Racun itu melumpuhkan kakimu, maka untuk seminggu ke depan kau harus diberikan suntikan di ke dua pahamu pagi dan malam" Jelas Tuan Vilan.
"Apa? selama itu.. yang benar saja?" Ucapku kaget.
Tanpa aba-aba, Tuan Vilan mengangkat rok piyama milikku hingga mengekspos kedua pahaku yang putih.
"Tu.. tuuuuungguuuu..." Teriakku sambil menutup kembali pahaku, rasa malu menggerogoti seluruh tubuhku.
Tuan Vilan menatapku dengan wajah yang tidak senang, tatapannya begitu dalam hingga rasa malu yang ku rasakan kini menjadi rasa takut. Tuan Vilan kembali menarik rokku ke atas dan menunjukkan pahaku, memberikan sebuah alkohol sebelum jarum suntik itu menembus kulitku dan saat obatnya memasuki daging yang ada di pahaku rasa perihnya membuatku menggenggam lengan kekar milik Tuan Vilan.
"Sebaiknya kau rileks saat ku suntik, jika kau tidak ingin darah keluar di pahamu yang sebelahnya lagi seperti yang ini" Ucap Tuan Vilan sebelum ia kembali membersihkan sedikit darah yang keluar dari bekas suntikan itu.
"Sa..kit... hiks.." Ucapku sambil mengusap air mataku.
__ADS_1
"Jika kau tegang, maka akan semakin terasa sakit. Rilekslah, aku akan melakukannya di paha sebelahnya lagi" Jelas Tuan Vilan dan ia mengulangi mengisi sebuah injeksi di suntik yang baru lalu kembali menyuntik pahaku yang satunya lagi.
Setelah selesai kedua pahaku diberikan injeksi, Tuan Vilan kembali mengisi sebuah injeksi di sebuah suntuk yang lebih besar dari sebelumnya.
"La..lagi?" Ucapku merasa takut, kini air mataku mengalir sangat deras melihat suntikan yang besar dengan jarumnya yang lebih besar dan diisi cairan obat yang sangat banyak.
Tuan Vilan melebarkan senyumannya yang jahil saat melihatku menangis tak berdaya, dia benar-benar ingin membunuhku dengan suntikan-suntikan itu.
"Mengapa kau menangis seperti anak kecil begitu?" Tanya Tuan Vilan yang melihatku semakin resah.
"Kau benar-benar ingin membunuhku..." Ucapku sambil menyeka-nyeka kedua mataku yang telah penuh dengan air mata.
Tuan Vilan hanya tertawa menunjukkan kedua taringnya sambil menatapku, ia tahu bahwa aku telah rasakkan sakit dikedua pahaku. Sekarang di bagian mana lagi ia akan menyuntikku?
Aku menoleh ke arah infus itu memastikan suntikan itu benar-benar bukan untuk ditancapkan pada salah satu tubuhku, kegiatan Tuan Vilan telah ia hentikan dan ia kembali ke arah ranjang yang di sisi lain tempatku.
"Aku akan beristirahat sejenak, jika kau belum ngantuk maka kau boleh melakukan kegiatan apapun di dalam kamar ini selain keluar dari sini" Ucap Tuan Vilan.
"Sekarang jam berapa?" Tanyaku
"Jam tujuh malam, aku terlalu lelah untuk berkegiatan dimalam ini. Aku harus istirahat sejenak, beraktivitas saat cahaya matahari masih ada sangat menguras tenagaku" Jelas Tuan Vilan sebelum ia benar-benar tertidur lelap.
Dalam film-film, biasanya jika vampire terkena matahari maka mereka akan menjadi abu dan makanan mereka hanyalah darah. Namun setelah aku menyaksikan sendiri, hal itu tidaklah benar.
__ADS_1
Semua Vampire di sini dapat terkena matahari, bahkan ada yang senang berolahraga pagi. Matahari tidak membunuh mereka atau menjadikan mereka abu, tetapi hanya menguras tenaga mereka sama halnya manusia jika cuaca matahari begitu panas terkadang kita merasa sangat lelah. Dan Vampire di sini semua memakan makanan yang manusia makan, meminum wine dan utamanya memanglah darah.
Aku menatap Tuan Vilan yang tertidur lelap, satu lagi fakta bahwa Vampire dapat tertidur juga. Haaaaaa~aaah... rasanya aku telah dibohongi oleh film-film dan novel, keluhku dalam hati.
Aku pun mengambil posisi tidur yang nyaman, walau sebenarnya tidak nyaman tidur di atas satu ranjang dengan Tuan Vilan. Aku adalah seorang pelayan, Tuan Vilan adalah Tuanku. Sungguh ini adalah suatu pemandangan yang tidak layak, apakah aku harus turun dari ranjang ini dan mencari selimut di lemari lalu tidur di bawah?
Aku bangkit dari tidurku dan berjalan menuju lemari pakaian, mencari beberapa selimut tebal untukku dan melebarkannya di lantai lalu aku mencoba untuk tidur.
Dalam lelap, aku kembali dibawa ke mimpi yang sama tentang seorang siluman serigala yang menyekapku dan menyiksaku. Rasa sakit di sekujur tubuhku, perasaan takut terus menggerogotiku. Tidak ada celah untukku kabur dari pria serigala itu, aku terus berteriak meminta tolong dan memanggil-manggil Tuan Vilan namun pria serigala itu menamparku berulang kali hingga aku pingsan.
Antara sadar dan mimpi, aku melihat sosok Tuan Vilan yang mengangkat tubuhku bak seorang pengantin wanita dalam gendongannya. Ia meletakkan aku di sebuah ranjang empuk dan mengecup bibirku juga keningku, dengan penuh kelembutan Tuan Vilan meyakinkan aku bahwa semua akan baik-baik saja dan menutup kedua mataku dengan telapak tangannya yang besar agar aku tertidur lelap.
Waktu berjalan begitu cepat, saat aku terbangun kembali. Aku mendapati diriku kini telah di atas sebuah ranjang besar dan derada dalam pelukan Tuan Vilan, kini cahaya matahari pagi dan kicauan burung menjadi alarm untukku bangun.
"Apa yang terjadi? mengapa aku bisa tidur bersama Tuan Vilan dan berada dalam pelukannya? apakah semalam bukan mimpi?" Ucapku pelan pada diriku sendiri merasa bingung.
Aku melihat wajah Tuan Vilan yang sangat jelas, sebagian rambut panjangnya menutupi wajahnya. Tuan Vilan benar-benar sangat Tampan dan tubuhnya yang kekar sedang memelukku, aku memperhatikan dada Tuan Vilan yang sangat dekat.
Telanjang..?! Mengapa Tuan Vilan tidak menggunakan piyamanya? Ucapku panik dalam hati saat aku mengarahkan pandanganku menelusuri dadanya hingga bawah, aku berada di dalam satu selimut dengan Tuan Vilan yang tidak mengenakan satupun pakaian tidur atau dalaman.
Aku mencoba melepaskan pelukan Tuan Vilan dari tubuhku, namun pelukan itu semakin ia eratkan.
"Uugh... akuuu.. buukaan bantal guuliingmuuu.." Ucapku sambil berusaha mendorong dada Tuan Vilan, namun semua itu sia-sia. Pelukan Tuan Vilan terlalu kuat, aku pun menyerah dan pasrah dengan wajahku yang tepat menempel dengan erat di dada Tuan Vilan yang bidang.
__ADS_1