BLUE IRIS

BLUE IRIS
Bab 38 : Batalnya pertunangan


__ADS_3

Restoran Iris hotel


Hening sesaat,Indira mulai gelisah,begitupun dengan tuan Daniswara,tapi dia masih bisa terlihat tenang.Freya sudah meninggalkan ruangan sejam yang lalu karena ada pertemuan yang mengharuskannya untuk hadir.


"Boleh saya tau alasannya?"Indira tidak terima hingga meminta penjelasan dari Anne Alara."Sekali lagi saya mohon maaf tuan dan nyonya Daniswara,tapi apa yang saya dan suami saya katakan tadi itulah kenyataannya."Kembali Anne Alara meminta maaf setelah beberapa saat lalu membatalkan pertunangan Arka dan Freya.


"Tidak bisa begitu nyonya Gaozhan,anakku sangat mencintai anak anda,dia pasti akan sangat sedih jika tau kalau tuan dan nyonya membatalkan pertunangan mereka.Bisakah nyonya mempertimbangkannya kembali?"Indira memohon pada Anne Alara."Maafkan saya nyonya dan tuan Daniswara,semua ini adalah kesalahan saya.Saya menjodohkan Arka dan Freya tanpa sepengetahuan anak saya,karena itu dengan menyesal saya harus mengikuti keinginan anak saya yang tidak ingin menikah dengan Freya,mengenai alasan Arka menolak,biarkan Freya sendiri yang bertanya langsung padanya.Dan karena kami sekeluarga telah mengikat anak nyonya dan tuan selama beberapa bulan,kami akan memberikan sekedar ucapan terima kasih untuk nya,karena sudah mau bertunangan dengan Arka."Anne Alara sungguh merasa tidak enak,karena bagaimanapun Daniswara adalah relasi bisnis suaminya.


Melihat keteguhan hati Alara yang tetap pada pendiriannya membuat Indira mulai tersulut emosi.Timbul sudah keserakahan Indira akan harta mendengar kata ucapan terima kasih,yang mana orang orang pasti bisa memahami maksud dari kata tersebut,dan jelas Indira tidak akan melewatkan kesempatan yang keluarga Gaozhan berikan,menurutnya dari pada tidak mendapat apa apa,lebih baik menerima tawaran Alara."Baiklah,apa yang nyonya akan berikan pada anak saya?"Indira mulai memperlihatkan taringnya."Nyonya bisa memilih,kami bisa memberikan mobil mewah,apartemen atau apapun permintaan nyonya,akan kami usahakan selagi masih mampu kami wujudkan."Anne memberikan beberapa pilihan pada Indira,namun di luar dugaan,Indira menggeleng dan itu merupakan tanda kalau dari pilihan yang Anne Alara berikan tidak satupun yang di inginkan Indira."Jadi apa yang nyonya inginkan?" Kesabaran Anne Alara menipis.Sudah cukup dia menghadapi İndira."Kami minta dua puluh persen saham Iris Company dan itu atas nama Freya."


"Indira...!!"Tuan Daniswara menegur istrinya dengan suara yang keras,menandakan dia pun terkejut dengan permintaan Indira,permintaan yang tidak masuk akal menurutnya,bagaimana mungkin dengan tidak tahu malunya dia meminta sesuatu yang jelas bukan haknya,saat ini mereka hanya bertunangan,bukan sudah menikah dan ingin berpisah di mana ada harta gono gini yang akan di perebutkan.Namun teguran keras yang di layangkan Tuan Daniswara untuk istrinya hanya di anggap angin lalu oleh Indira,dia tetap kelihatan percaya diri dengan permintaannya dan jangan lupakan sikap angkuhnya.


Mendengar permintaan Indira,Anne Alara seketika geram,tangannya mengepal kuat,raut wajahnya sudah mulai berubah,untung Baba dengan cepat memegang tangan Anne hingga perlahan amarahnya mereda,dengan menghela nafas pelan,Anne kembali berbicara meskipun suaranya bergetar."Saya pikir,kali ini anda cukup keterlaluan nyonya."Anne Alara nampak kecewa dengan sikap Indira."Dua puluh persen saham Gaozhan?Sungguh saya tidak menyangka."Anne tersenyum sinis.


"Maafkan istri saya tuan dan nyonya Gaozhan,saya mengerti dengan kondisi tuan dan nyonya,mengenai pertunangan anak anak kita kalau tuan Gaozhan membatalkannya kami akan terima,mungkin Tuhan memang tidak menakdirkan untuk Arka dan Freya bersatu,dan hal itu tidak bisa kami paksakan.Dan untuk ucapan terima kasih yang nyonya katakan tadi,saya rasa itu tidak perlu.Kita belum terikat hubungan apapun,hanya sebatas pertunangan saja.Untuk Freya saya akan berbicara langsung padanya."Tuan Daniswara lebih bisa di ajak berkomunikasi dari pada istrinya yang menilai segala sesuatu dengan uang.


"Ayah,,apa yang ayah lakukan?Mereka sudah menghina keluarga kita,aku tidak terima."Kali ini giliran Indira yang menaikkan intonasinya,memarahi sang suami yang dengan sukarela menerima keputusan keluarga Gaozhan."Sebaiknya kita akhiri pertemuan kita ini tuan,kami menerima semua nya dengan lapang dada,jadi tidak usah merasa terbebani.Saya permisi."Pamit Tuan Daniswara kemudian menarik paksa Indira untuk ikut pulang bersamanya."Tunggu tuan Daniswara."Langkah kaki tuan Daniswara terhenti mendengar Baba Aslan memanggilnya."Saya akan mengirimkan alamat apartemen untuk Freya tuan,dan itu adalah keinginan Arka,Anda jangan menolaknya,saya tau anak saya pasti merasa sangat bersalah,untuk itu demi menebus kesalahannya,dia membelikan sebuah apartemen untuk Freya.surat surat kepemilikan nya akan saya kirim ke kantor anda besok pagi,dan jika ada waktu,ada hal yang akan saya bicarakan dengan anda dan ini sifatnya sangat pribadi."tuan Daniswara menganggukkan kepalanya sebelum meninggalkan ruangan mengingat Indira yang sudah seperti orang gila berteriak teriak hingga menjadi kan mereka pusat perhatian orang orang yang berada dalam restoran di siang hari itu.


"Untung saja kita membatalkan pertunangan mereka Baba,Anne tidak bisa bayangkan jika harus punya besan mata duitan seperti dia."Ujar Anne Alara."Sudahlah,ayo kita pulang."Baba Aslan berdiri dari duduknya dan mengajak Anne untuk meninggalkan restoran."Ba,bagaimana kalau kita mengajak cucu kita jalan jalan?Sekalian kita ajak dia menginap di rumah,aku tidak ingin bocah kecil itu mengganggu malam pertama Arka dan Elna."Anne mengeluarkan ide cemerlangnya dan di tanggapi Baba dengan senyuman.

__ADS_1




Dua jam penerbangan Singapura indonesia tidak membuat Arka terlihat kelelahan,wajahnya justru bahagia kala menginjakkan kakinya di bandara terbesar Indonesia.Dengan tidak sabarnya,Arka menyuruh Denis melajukan kendaraan menuju hotel,jam masih menunjukkan pukul empat sore,itu berarti istrinya masih berada di hotel.Baru beberapa jam yang lalu tidak melihat wajah cantik Elna,membuat dada nya bergemuruh karena di terpa rasa rindu yang sangat luar biasa.



"Hari ini kenapa aku rasa kalau kau menyetir seperti kura kura?lama sekali."Gerutu Arka yang duduk di kursi belakang.Denis menghela nafasnya kasar."Ini sudah cepat tuan,hanya saja jalanan sedang macet."Denis harus menggelengkan kepalanya melihat kegelisahan sang bos."*Dasar bucin*." Batin Denis.




"Tuan Denis,ada yang bisa kami bantu?Apa tuan Arka ingin makan sesuatu?"Tanya Yudi begitu melihat Denis yang menoleh ke kiri dan ke kanan seperti mencari seseorang."Chef Elna ada?"Denis menanyai Yudi yang berdiri dengan memasang senyum lebarnya."Ada chef,tunggu saya panggilkan."Yudi sudah ingin melangkah tapi Denis menahannya."Tidak usah biar saya saja."Denis berjalan melewati Yudi yang selalu terpana melihat ketampanan asisten bos besar nya itu."Asistennya saja setampan itu,apa kabar bos nya..aku jadi ingin sekali melihat langsung wajah Tuan Arka."Gumam Yudi.



Tok..tok..tok..

__ADS_1



"Nona muda,anda di minta tuan Arka untuk ke ruangannya sekarang juga."Ujar Denis sambil menundukkan kepala,dia tidak ingin tergoda dengan kecantikan istri sang bos,tak di pungkiri,dia juga pria normal yang pasti akan mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat indah itu."Baiklah,aku akan ke sana sebentar lagi."Denis keluar setelah berpamitan pada Elna.



Elna mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan Arka,tidak lupa dia membawa dessert untuk sang suami.Meskipun masih terlihat risih dan malu,namun perlahan dia mencoba untuk tetap tenang."Jam berapa kakak datang?"Tanya Elna lalu meletakkan dessert buatannya di atas meja,belum sempat berbalik,Arka sudah memeluknya dari belakang."Aku sangat merindukan mu sayang."Kemudian mulai menciumi leher putih milik Elna,awalnya ciuman nya biasa saja,namun lama kelamaan isapan isapan kecil mulai Arka berikan hingga tanpa sadar suara aneh keluar dari mulut Elna."kak..hentikan.."Ujarnya di sela sela \*\*\*\*\*\*\* nya.Tapi bukan Arka namanya kalau dia mengindahkan kata kata Elna.



Dari balik jendela ruangan Arka,di mana tirai nya tidak tertutup rapat,seorang pria berdiri menatap jijik pada pasangan yang sedang bermesraan di dalam sana.



"Aku yang harusnya berada di sana."



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...

__ADS_1


__ADS_2