
Sepulang dari rumah sakit,Tuan Hadyan tidak berhenti memikirkan kejadian yang terjadi hari ini,semua terasa begitu cepat,tiba tiba satu buah panggilan membuat dia mengetahui kenyataan yang sebenarnya.Elnara Ziya,chef pastry Iris hotel yang dia kenal beberapa saat lalu sebenarnya sudah mengganggu ketenangannya.Alis tebal serta bentuk wajah yang terukir sempurna mengingatkannya pada seorang wanita cantik dari masa lalu kala dia masih kuliah dan tinggal di Prancis.Dan ternyata kemiripan itu bukan sebuah kebetulan,sejak awal nalurinya mengatakan kalau Elna ada hubungan dengan Efrina.Karena itu,dia sama sekali tidak menuntut keluarga Gaozhan untuk melakukan tes DNA,karena dia yakin kalau Elna memang adalah putrinya.
"Kamu dari mana sayang?Kenapa baru pulang jam segini?"Tanya nyonya Indira,ini pertama kali sejak mereka menikah,Hadyan pulang larut tanpa memberitahu Indira kemana dia pergi.
"Di jalan aku bertemu dengan teman lama,dan kami memutuskan untuk makan malam bersama,maaf karena aku tidak menghubungimu."Ujar tuan Hadyan berbohong.
"Ooo,aku pikir ada sesuatu yang terjadi."
"Freya mana?"
"Dia belum pulang."
"Aku perhatikan akhir akhir ini,anak itu selalu pulang larut malam,katakan padanya untuk merubah perilakunya itu."Ujar tuan Hadyan kemudian berlalu dari hadapan Indira.
Tuan Hadyan memilih masuk ke ruang kerjanya dari pada ke kamar dan mendengarkan celotehan Indira,hari ini sudah cukup batin nya yang terasa lelah karena kenyataan yang di temukan,dia tidak sanggup kalau harus menghadapi wanita keras kepala yang sudah menemani hari harinya selama ini.
Tuan Hadyan duduk di kursi kerjanya,bayang bayang wajah Efrina kini menari nari di pelupuk matanya,rasa rindu tiba tiba datang pada sosok pendiam yang selalu bisa membuat hatinya tenang.
"Bagaimana kabarmu Efri?Aku merindukanmu."Gumam Tuan Hadyan."Mungkin lebih baik aku menemui mu,tapi sebelum itu,aku harus memohon maaf pada anak kita."Lanjutnya,dia tertunduk lalu memegang kepalanya yang hampir pecah karena terlalu banyak berpikir.
Rumah sakit.
Keadaan Elna berangsur angsur membaik,meskipun raut wajah cantiknya tidak pernah menampakkan senyum sama sekali, kehilangan calon bayi yang bahkan dia belum tau jenis kelamin nya membuat Elna lebih banyak diam,dan Arka tentu saja paham dengan apa yang di rasakan Elna.
Anne Efrina dan Ozkhan sudah tau,bahkan mereka berdua berencana untuk datang melihat orang terkasih mereka,namun Arka melarang,itu semua demi keselamatan anak dan mertuanya.
Rey yang tidak pernah peduli dengan keadaan anggota keluarga nya pun,datang ke rumah sakit demi memastikan kondisi Elna dalam keadaan baik baik saja.
"Dari mana saja kau?"Ujar Arka saat melihat adiknya itu memasuki kamar perawatan Elna.İni pertama kalinya mereka bertemu sejak pernikahan beberapa bulan lalu.
"Maaf kak,aku sibuk."Rey menjawab seperlunya,kemudian melangkah mendekati Elna tanpa memperdulikan sang kakak yang menatap tajam padanya.
"Bagaimana keadaannya?"
__ADS_1
"Jangan mengganggu nya!"Arka waspada ketika Rey terlihat ingin menyentuh tangan Elna.
Rey mendelik,Arka yang duduk memperhatikan gerak gerik Rey kini sudah berdiri dan mendekat.
"Dia baru saja tertidur,Elna sangat terpuruk setelah tau kalau anak kami telah pergi untuk selamanya."
Deg!
"Apa separah itu?" Gumam Rey dalam hati."Maafkan aku,aku tidak mampu melihatmu hidup bahagia dengan kakakku." Batinnya,karena tidak mungkin bagi Rey untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang kakak.
"Apa yang kau lakukan selama ini?Baba,Anne bahkan aku sudah lupa kalau ternyata masih ada anggota keluarga Gaozhan yang masih hidup.Kau seperti menghilang di telan bumi."Sarkas Arka.
"Aku sibuk kak."
"Pekerjaan apa yang kau lakukan hingga untuk menghubungi Baba dan Anne pun kau tidak bisa?"
"Aku rasa juga Baba dan Anne tidak akan mencari ku,toh mereka sudah punya kakak,apalagi sekarang mereka juga memiliki dia."Telunjuk Rey mengarah pada tempat tidur di mana Elna sedang berbaring lemah di sana.
"Apa maksudmu?"
"Jangan terlalu keras padanya kak."Elna angkat bicara setelah Rey pergi.
"Bagaimana keadaanmu sayang?Apa masih ada yang sakit?"Arka menghampiri Elna dan mengelus rambut panjang sang istri.
Elna menggeleng.
"Aku hanya rindu pelukan kakak."Elna tersenyum lalu merentangkan tangan nya,meminta di peluk oleh sang suami.Dengan senang hati,Arka memeluk istri yang sangat dia cintai,bukan hanya pelukan,tapi kecupan kecupan hangat menghiasi pelukan nyaman itu.
"Ozkhan apa kabar kak?aku dengar dia menangis histeris saat kakak menelponnya semalam."
"Dia sangat sedih,tapi Anne bisa menenangkannya meskipun sampai sekarang dia menolak untuk sekolah."
Elna menghela napas."Tolong kakak telpon,aku ingin bicara dengannya."
__ADS_1
Panggilan tersambung.
"Halo."
"Halo Anne,Ozkhan mana?"
Terdengar helaan napas Anne dari balik telpon."Anakmu merajuk,dia mogok makan,entahlah Anne sulit sekali membujuknya."
"Berikan ponsel nya,aku ingin bicara."
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit,Ozkhan akhirnya mau berbicara dengan sang bunda.Namun baru melihat wajah Elna di layar,anak tampan itu sudah meneteskan air mata.Elna sebisa mungkin tersenyum padahal hatinya sangat terluka melihat sang anak yang menangis sesenggukan.
Untuk beberapa saat tidak ada percakapan,Arka yang turut melakukan panggilan video akhirnya memulai mencairkan suasana.
"Anak ayah kok nangis?"
"Ozkhan tidak menangis ayah,hanya saja Ozkhan tidak tau kenapa ada air yang keluar dari mata Ozkhan,padahal Ozkhan tidak ingin menangis."Perlahan dia menghapus air mata yang tidak berhenti membasahi kedua pipi gembul nya.
"Oiya,bagaimana kabar bunda?"Ozkhan mengalihkan pembicaraan.
"Bunda baik baik saja sayang.Besok juga bunda sudah boleh pulang."Elna berusaha tersenyum.
"Syukurlah,ayah jaga bunda untuk ku ya,jangan biarkan bunda bersedih,kalau sampai ayah membuat bunda menangis,berarti ayah akan berurusan dengan Ozkhan,ayah mengerti kan?"Dengan mimik wajah yang sangat serius di sertai tatapan tajam dari manik mata hazelnya dia mengancam sang ayah.
"Siap tuan muda."Arka terkekeh.
"Bunda,dengarkan Ozkhan,jangan terlalu menangisi adik kecilku,dia sudah bahagia di sana,pasti dia tidak akan senang jika melihat bunda bersedih dan menangisi kepergiannya."Tangan Ozkhan kini di tempelkan di layar berusaha memegang wajah sang bunda yang entah kapan sudah menjatuhkan kembali airmatanya.Arka pun memeluk sang istri dengan erat,mencoba menenangkan jiwa rapuh yang mungkin memerlukan waktu lama untuk pulih.
"Jika bunda ingin,Ozkhan akan meminta liburan lebih dulu dan mengunjungi bunda dan ayah."Lanjut nya.
"Tidak usah sayang,bunda dan ayah yang akan mengunjungi Ozkhan."Kali ini Arka yang menjawab.
"Benarkah ayah?"
__ADS_1
"Tentu saja,tunggu sampai bunda sehat betul,dan kami akan terbang ke Istanbul."
...****************...