
Satu minggu kemudian.
Kondisi kesehatan dan mental Elna berangsur angsur mulai membaik,mereka bersiap untuk menemui Ozkhan.Semua sudah di persiapkan,tinggal menunggu Arka yang pagi ini harus ke hotel karena ada rapat penting.
Di Hotel.
Pertemuan baru saja selesai,Arka bersiap untuk pulang karena dua jam lagi dia akan berangkat ke Istanbul.Namu niat pulang dia urungkan karena seorang tamu datang ke hotelnya.
"Tuan Daniswara."Arka menyambut sang tamu dengan tangan terbuka.
"Maaf mengganggu waktu sibuk anda tuan Arka."
"Tidak sama sekali tuan.Silahkan duduk."
Arka tersenyum,dia tau tujuan tuan Daniswara datang menemuinya,meskipun sang tamu tampak ragu untuk mengutarakan.
"Elna baik baik saja,dua jam lagi kami akan berangkat ke İstanbul."
"Syukurlah,aku sangat khawatir nak Arka,bolehkah aku mengubah panggilanku?"
"Tentu saja,dengan senang hati ayah."
Tuan Daniswara terlihat bahagia,namun kebahagiaan itu hanya sesaat,pikirannya kembali pada Elna.
"Boleh aku menemui istrimu?"Tanya nya ragu.
Arka terdiam sesaat."Aku pikir untuk sekarang bukan saat yang tepat,bagaimana kalau ayah menyusul kami ke Istanbul,sekalian ayah bisa bertemu dengan Anne Efrina dan menyelesaikan masalah kalian."Usul Arka.
"Kamu benar,baiklah,ayah akan menyusul mu dan Elna."
Tuan Daniswara pamit,tidak ingin terlalu lama menahan Arka yang sudah beberapa kali mendapat panggilan telpon dari Elna.
İstanbul Turki.
"Selamat datang di kota kelahiran mu sayang."Arka mengecup kening sang istri begitu mereka menginjakkan kaki di Istanbul Turki.
"Aku tidak punya kenangan sama sekali di sini kak,tapi terima kasih untuk ucapannya."Elna tersenyum manis,manis sekali hingga Arka tak kuasa untuk tidak mencium bibir merah wanitanya.
"Ish,kak malu,itu banyak orang."Elna protes setelah Arka melepas pagutan nya.
"Kenapa harus malu.Kamu itu,aku jadi heran dan sangat ingin bertanya padamu."
"Apa?"
Arka melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Apa kamu mencintaiku?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
Elna berjalan beberapa langkah,hampir saja ia tertawa kalau tidak segera meninggalkan Arka yang masih memasang wajah bingung karena Elna pergi begitu saja dari hadapannya.
"Hei,,tunggu,,untung saja dia cantik dan menggemaskan,kalau tidak,awas saja dia."
Perdebatan berakhir saat melihat bocah,ah bukan bocah lagi,dia sudah terlihat jauh lebih tampan dari terakhir kali mereka berpisah.
"Bundaa,ayahh."Ozkhan berlari dan memeluk kedua orang tuanya."
"Melelahkan bukan?"Pertanyaan itu di tujukan untuk sang bunda.
Elna mengangguk.
Elna pun tidak tahan hingga mencubit pipi gembul Ozkhan.hingga Ozkhan protes dengan kelakuan sang bunda.
"Bunda,jangan mencubit pipiku,aku ini sudah bukan anak kecil lagi bunda."Ozkhan bersungut sungut.Tuan Ehran yang ikut menjemput mereka di bandara pun tak kuasa menahan tawanya.
"Ayo kita pulang,Anne sudah menunggu dan memasak untukmu."Tuan Ehran memegang tangan Ozkhan dan berjalan meninggalkan bandara.
Dua hari kemudian
Istanbul,Turki
"Apa Anne sibuk hari ini?"Tanya Arka yang sedang duduk bersantai dengan mertuanya.
Semenjak menggantikan tuan Ehran,penampilan Anne pun sekarang jauh berbeda.Dia yang dulu selalu terlihat sederhana kini berubah drastis.
"Tidak,kenapa?"
"Aku ingin mengajak Anne dan Elna ke mansion.Ini sudah hari ke dua kami di sini,dan aku belum mengunjungi mansion Gaozhan."
__ADS_1
"Baiklah,setengah jam lagi kita berangkat."
Kendaraan mewah milik keluarga Mehr kini melaju di tengah jalan raya,perjalanan ke utara itu tidak terlalu banyak memakan waktu.Mansion Gaozhan berada tidak jauh dari mansion keluarga Mehr.
Pintu gerbang besar terbuka.Rumah mewah dan asri dengan halaman yang sangat lah luas menyambut kedatangan mereka.
"Sejak kapan baba mu membangun mansion semewah ini?Seingat ku dulu tidak sebesar ini."Anne memuji kediaman keluarga gaozhan yang memang sangat besar.
"Ini mansion pribadi ku Anne,sudah lama Baba menyerahkan kepemilikannya padaku,dan sejak saat itu,aku lah yang membangunnya hingga seperti sekarang."
"Kamu memang hebat."Puji Anne Efrina.
Arka hanya tersenyum, begitupun dengan sang istri,bukan tidak ingin memuji,namun dia sudah tau seperti apa seorang Arka Kemal Gaozhan,İris Company bukan perusahaan kecil,jadi tidak heran jika sang suami mampu membangun mansion semewah ini.
Pintu terbuka.
Senyum di wajah Anne menghilang seketika,kala pintu lebar itu terbuka dan tampak di matanya seorang pria paruh baya yang masih sangat tampan.
Deg! Mata mereka bertemu.
Elna juga terkejut,setaunya,pria yang berdiri menatap intens Anne Efrina itu adalah ayah Freya.Kenapa bisa dia berada di mansion suaminya?Apa sebenarnya yang terjadi?
Selangkah demi selangkah,Anne Efrina menghampiri tuan Hadyan,setiap ayunan langkah kakinya di iringi dengan tetesan cairan bening yang di awal hanya menggenang,namun kini tumpah membasahi kedua pipinya.
"Efri,,aku merindukanmu."Tutur tuan Hadyan begitu Anne Efrina berdiri tepat di depannya.
Plakk!!
Plakk!!
"Aku sudah menunggu ini selama lebih dari dua puluh tahun Hadyan,aku pikir suatu saat nanti jika bertemu denganmu,sebuah tamparan bisa membuat hatiku lega,tapi ternyata tidak.Bahkan dua tamparan sekaligus tidak membuatku puas.Mungkin membunuhmu bisa membuat penderitaan yang selama ini ku rasakan menghilang."Deraian air mata tidak menyurutkan Anne untuk melampiaskan kemarahannya pada Tuan Hadyan.
Elna menyaksikan kemarahan Anne Efrina,dan kemarahan seorang ibu yang di pendam puluhan tahun itu,turut dia rasakan.Kedua tangan nya mengepal.Meskipun pertama dia cukup bingung dengan situasi yang ada,karena Arka tidak menjelaskan siapa sebenarnya pria itu,namun melihat murka sang ibu,akhirnya dia tau kalau pria itu adalah pria yang telah membuatnya lahir ke dunia,dan pria yang sama yang menyebabkan penderitaan Anne Efrina.
"Lakukan apapun semau mu Efri,aku akan terima,aku memberanikan diriku berdiri di hadapan mu,karena aku sudah siap dengan konsekuensinya."Mata tuan Hadyan berkaca kaca.
"Ya,kau tidak meminta pun akan aku lakukan Hadyan!!"
Membabi buta Anne memukul Tuan Hadyan.Arka yang paham jika saat ini kedua mertuanya butuh privasi kemudian menarik tangan Elna,membawanya naik ke lantai dua di mana kamar utama berada.
Tuan Hadyan tidak bergerak,bahkan dia tidak menahan tangan Efri yang terus memukul tubuhnya.Sakit memang,tapi sakit hati sang istri yang dia tinggalkan begitu saja dua puluh tahun silam tidak ada apa apanya di banding pukulan nya saat ini.
Anne sudah terlihat lelah,pukulannya mulai melemah,di sinilah kesempatan bagi tuan Hadyan,dia memeluk sang istri dengan sangat erat.Anne meronta tapi apalah daya tenaganya sudah habis.Jadi dia membiarkan saja Tuan Hadyan memeluknya.
"Aku tidak meminta kamu memaafkan ku,tapi aku akan tetap memohon ampunan padamu.Efri,,maafkan aku karena telah meninggalkanmu,aku memang pria yang tidak bertanggung jawab.Saat itu,aku masih sangat muda,aku tidak bisa menahan diri dengan pesona yang kau berikan padaku.Padahal aku sadar,kalau saat itu aku sudah memiliki keluarga.Tapi aku kehilangan akal sehat ku.Aku sempat berpikir untuk memiliki kalian berdua,namun saat kembali ke Indonesia,ada masalah yang terjadi di perusahaan hingga mengharuskan aku untuk menyelesaikan semua,aku kira bisa merampungkan dalam waktu dekat,tapi ternyata itu membutuhkan waktu yang lama.Beberapa tahun berlalu,aku datang ke Prancis,mencari keberadaan mu,namun aku tidak menemukan sedikitpun petunjuk.Hingga aku putus asa."
"Dan kau berhenti mencariku bukan?Kau memang pengecut Hadyan.Apa kau tau bagaimana aku menjalani kehidupan ku berdua dengan anakku?"
"Dia anakku juga Efri."
Anne Efrina mendorong tubuh tuan Hadyan,"Tidak,dia hanya anakku,kau tidak berhak sama sekali."
Efrina berlalu meninggalkan tuan Hadyan yang menatap kepergiannya dengan tatapan sendu.
"Apa yang harus aku lakukan untuk kalian?"
"Tinggalkan kami."
...****************...
__ADS_1