
...****************...
Hizuru terus membantu sang nenek yang hidup sebatang kara. Membantu sang nenek bekerja, melindungi sang nenek, merawat sang nenek. Mereka memiliki hubungan dekat layaknya nenek dan cucunya sendiri.
Setiap orang yang akrab dengan Hizuru akan menyadari kehangatan dan kebaikan hati Hizuru. Bagaimana cara Hizuru melindungi orang-orang yang ia sayangi, bagaimana cara Hizuru merawat mereka, meski Hizuru sendiri tak pernah mempermasalahkan hal itu.
𝓜𝓮𝓶𝓫𝓪𝓷𝓽𝓾 𝓼𝓮𝓼𝓮𝓸𝓻𝓪𝓷𝓰 𝓪𝓭𝓪𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓮𝔀𝓪𝓳𝓲𝓫𝓪𝓷.
"Hizuru, kau bisa pulang lebih dulu, biar nenek yang mencuci piringnya. "
"Tidak, aku bisa melakukannya. Nenek tidak perlu khawatir. "
"Tapi kau harus sekolah besok, ayo bair nenek saja yang kerjakan. "
"Aku libur besok nek, tenang saja.. "
"Huh.. baiklah. "
Toko di buka jam 8 pagi dan tutup jam 9 malam. Toko ramen yang dikelola oleh sang nenek selalu ramai pengunjung. Selain rasanya yang enak, kini dengan adanya Hizuru membuat toko menjadi lebih ramai lagi dengan anak-anak muda yang mampir.
Beberapa diantaranya pernah menyatakan perasaan mereka pada Hizuru. Tapi Hizuru menolak dengan alasan ingin merawat neneknya. Dalam hati Hizuru, ia mengingat seorang pria yang ia sukai, dan akan selalu ia sukai.
Untuk menjaga perasaannya, ia mengalihkan hal itu ke pekerjaan barunya.
Setiap paginya, Hizuru akan membantu nenek menyiapkan toko. Lalu setelahnya Hizuru akan berangkat ke sekolah. Pulang sekolah Hizuru akan kembali membantu nenek.
Meski hanya berputar-putar, tapi rodanya tak akan pernah berhenti. Roda yang terus berputar membuat hati Hizuru semakin tenang. Untuk pertama kalinya Hizuru merasakan kehangatan yang sesungguhnya.
𝓙𝓪𝓭𝓲 𝓫𝓮𝓰𝓲𝓷𝓲 𝓻𝓪𝓼𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓴𝓮𝓫𝓪𝓱𝓪𝓰𝓲𝓪𝓪𝓷?
Selama sebulan, Hizuru membantu sang nenek mengelola toko. Dan kini uang hasil mereka bekerja dapat membiayai sekolah Hizuru dan menyewa sebuah apartemen baru untuk mereka tempati.
.
.
Tapi sayangnya, apartemen baru hanya menyisakan kenangan selama seminggu. Sang nenek terkena penyakit jantung yang membuatnya harus tinggal di rumah sakit. Hizuru terus menjenguk nenek, dan karena tak di perizinkan untuk menginap, akhirnya Hizuru terpaksa pulang dan tidur di apartemen.
sekarang Hizuru mengerjakan semuanya sendirian. Karena harus sekolah, toko ramen yang biasanya buka dadi pagi hingga malam, kini hanya buku dari sore hingga malam.
Hizuru berusaha mengatur waktu untuk merawat sang nenek yang berada di rumah sakit, dan juga mengelola toko ramen milik nenek, membayat tagihan rumah sakit dan apartemen, juga uang sekolahnya.
__ADS_1
.
.
Sampai sang nenek-pun akhirnya meninggal dunia karena penyakit jantung.
.
.
.
(*sebelumnya, di rumah sakit)
"Nenek, maaf aku terlambat. "
"Oh.. Hizuru.. kau datang, ya. "
"Iya. Aku bawakan buah untuk nenek. Nenek suka apel bukan? Akan ku kupas kan kulitnya. "
"Entahlah.. rasanya aku terlalu tua untuk makan apel yang keras. "
"Tenang saja, akan kepotong kecil-kecil agar nenek bisa makan. "
"Iya." *senyum
Hizuru mengupas kulit apel dan membelahnya menjadi dua bagian. Sang nenek menyadari luka yang ada di jari Hizuru.
"Uh? Hizuru, jarimu.. "
"Hm? Oh, ini? Tenang saja, aku baik-baik saja kok. " *senyum
Nenek itu berusaha bangun dari ranjang tempat ia berbaring.
"Uh! Nek-. "
"Kau harus bisa menjaga tubuhmu yang indah ini.. " Nenek itu meraih tangan Hizuru dan mengusap luka yang ada di jari Hizuru.
"Tapi ini hanya luka kecil, lagipula aku sudah membalut nya dengan perban. Jadi tidak masalah.. "
"Hizuru sayang.. " *mengelus pipi
__ADS_1
"Uh? "
"Sebelum buah menjadi busuk, harus cepat-cepat di panen untuk dikonsumsi. Karena itulah, sebelum tubuhmu yang indah mulai hilang, kau harus bisa merawatnya dengan baik. Ada kalanya kulitmu akan keriput, rambutmu akan memutih, suaramu akan lebih rendah sampai-sampai orang-orang tak mendengarkan mu lagi. "
"Nenek.. "
"Manfaatkan masa muda mu untuk kebahagiaan. Tak ada salahnya sesekali mentato atau melakukan hal yang ingin kau lakukan. Karena hidupmu hanya sekali, jadi manfaatkanlah. "
"Baik. "
Hizuru tersenyum dan memegang tangan sang nenek yang tampak sangat kurus.
Itu adalah senyuman terakhir dari sang nenek untuk Hizuru, sebagai ucapan terimakasih.
Senyuman yang tulus, ikhlas, dan hangat, mereka berdua mengeluarkannya sebagai kenangan. Orang baik akan pergi lebih awal, kenapa..?
.
.
𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘮𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘧𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.
𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨, "𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪", 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢.
𝘒𝘪𝘯𝘪.. 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘪 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘮 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘳. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨. 𝘋𝘦𝘫𝘢𝘷𝘶, 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘬𝘶𝘳𝘴𝘪 𝘵𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘶𝘯-𝘥𝘢𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘩𝘢𝘭𝘵𝘦 𝘣𝘶𝘴 𝘪𝘯𝘪, 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘵𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪.
.
.
.
.
.
"Hizuru. "
"Uh! "
Di kedai ramen yang terkenal laris, tepatnya di Chiba. Mereka dipertemukan kembali, dalam reuni singkat yang sempat menghilang setelah 2 tahun.
__ADS_1
𝓑𝓪𝓫 𝓭𝓾𝓪𝓹𝓾𝓵𝓾𝓱 𝓭𝓾𝓪, 𝓐𝓷𝓪𝓴 𝓒𝓘𝓐 𝓭𝓪𝓷 𝓚𝓮𝓻𝓪𝓫𝓪𝓽 𝓖𝓾𝓫𝓮𝓻𝓷𝓾𝓻 [2].
𝓢𝓮𝓵𝓮𝓼𝓪𝓲~