
...****************...
3 hari kemudian, perlombaan dimulai.
Banyak para pelukis dari berbagai sekolah yang datang, beberapa kritikus seni yang jadi tamu undangan, dan juga guru seni dari berbagai dunia.
"Selamat pagi semuanya, yang terhormat para kritikus seni, para guru seni, dan seluruh peserta yang datang hari ini. Hari ini untuk mendukung para seniman hebat di Jepang, kami mengadakan sebuah perlombaan yang dapat diikuti oleh seluruh jenjang maupun usia. "
.
.
Noa duduk di kursi yang telah disediakan.
"Nakagawa Noa, bukan? "
"Uh? " Noa mengarahkan pandangannya ke samping kiri.
"Selamat pagi. "
"Anda.. "
"Saya presiden Trixie Entertainment, Wakatobi Hikaru. "
"Salam kenal, saya Nakagawa Noa. "
"Ya, aku tau. Kau memilih pilihan yang tepat dengan bersekolah di SMA Hattori. "
"Iya.. "
"Saya sangat menantikan lukisan anda. Sebelumnya saya punya kenalan yang melihat pameran seni di SMA Hattori. Lukisan anda begitu indah dan penuh makna. "
"Tidak.. masih banyak seniman yang lebih hebat dari saya. "
"Ternyata putri keluarga Nakagawa sangat rendah hati ya. Kau pasti tau kalau ibumu dulu bekerja dibawah Entertainment kami. "
"Iya, saya tau. "
"Apa anda tertarik untuk bergabung? "
"Uh! "
"Trixie Entertainment membutuhkan seniman sehebat dirimu. "
"Saya pikir Trixie Entertainment hanya mempekerjakan model saja. "
"Mana ada.. kami juga mempekerjakan designer untuk mengurus pakaian, serta pelukis handal untuk membuat karya seninya di gedung kami. "
"Begitu ya.. "
"Jika kau berkenan, mungkin kita bisa bekerjasama. " *senyum
Senyuman dari Wakatobi Hikaru yang membuat Noa merasa curiga--akan tetapi Noa juga punya ide.
"Saya berkenan, terimakasih. " *senyum
Noa berjabat tangan dengan Hikaru.
.
.
"Perlombaan dimulai! "
Dengan waktu 90 menit, para seniman diminta untuk melukis sesederhana mungkin. Noa mengerti tentang lukisan, tapi ia tak pahan dengan arti sederhana.
"(Sesederhana.. apa maksudnya..?) " tangan Noa mulai gemetar dan ragu untuk memulai.
"Gadis itu belum memulai apapun. "
"Dia sangat ragu dalam bertindak. Mana bisa dia jadi seniman terkenal. "
__ADS_1
Para kritikus seni mulia mengomentari Noa. Dari ratusan orang hanya Noa yang belum memulai lukisannya.
Noa tak paham, tentang kesederhanaan.
Tema lukisan yang tak pernah Noa dengar sebelumnya.
"(Aku sudah melukis banyak hal. Mulai dari tema sang penguasa, sang seniman, sampai kebahagiaan.) "
Noa melihat sejenak, merenung, mengingat segala hal tentang kehidupannya. Karena Noa tak pernah kekurangan banyak hal, Noa berasal dari keluarga kaya, akan tetapi hidup di rumah yang tradisional.
"Bukankah dia putri dari Nakagawa Daisuke? "
"Oh, iya juga. "
Saat itulah Noa mengingatnya..!
"𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘸𝘢𝘩.. 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘳𝘢𝘥𝘪𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭. 𝘈𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘥𝘦𝘳𝘩𝘢𝘯𝘢? "
Noa mulai mengangkat kuasnya, menyapu cat secara asal-asalan ke arah kanvas.
"Oh, dia mulai melukis. "
"Apa yang dia buat? "
"Tangannya cepat juga. Aku rasa dia tak berkedip. "
.
.
*tik *tik *tik *tik
/detik waktu/
Ia melakukannya!
Lukisan yang dibuat oleh Noa.
Ia merasa lukisannya hampir sempurna. Sebuah rumah tradisional Jepang, dengan pemandangan khas pedesaan di belakangnya.
"(tidak. Ini terlalu pasaran.) " batin Noa.
"Uh! "
"Apa.. yang gadis itu lakukan.. "
"Dia.. "
Semua orang mengarah ke arah Noa. Noa menghapus lukisannya.
"Waktunya sisa 30 menit, dia yang benar saja?!! "
"(bukan. Bukan ini yang kuinginkan. Ini jelas-jelas menunjukkannya kelemahan ku.) "
Noa menunduk, berusaha menenangkan pikirannya. Ia menarik napas dalam.
"𝘕𝘰𝘢.. "
"Uh-huh! "
"𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯. "
"Ibu.. " *gumam
Noa teringat dengan semua kenangan bersama ibunya. Hal-hal tentang masa depan dan masa lalu. Hal-hal tentang keinginan manusia untuk berubah. Karena itulah Noa ingin mengubah lukisannya menjadi lebih sederhana lagi.
.
.
.
__ADS_1
.
.
"Waktu habis! "
*prok! *prok! *prok!
/suara tepuk tangan dari semua tamu/
Noa ragu, lukisannya akan memenangkan perlombaan ini.
Sembari menunggu hasil, Noa duduk di dekat gurunya, Bu Miko--guru seni di sekolah Noa.
"Itu keren. "
"Tidak.. saya terlalu ragu-ragu untuk mengerjakannya. Sebenarnya.. kesederhanaan itu apa? "
"Noa." Bu Miko memegang pundak Noa.
Bu Miko berusaha meyakinkan Noa untuk tak berkecil hati. Tapi Noa tetap tak bisa mengatur cara berpikirnya.
.
.
.
Karena ada masalah saat penilaian, untuk itu para kritikus seni dan guru-guru yang sudah hadir diberikan kesempatan untuk melihat hasil karya para peserta.
Para kritikus seni dan guru-guru seni mulai melihat hasil karya seluruh peserta. Sementara itu para peserta memperkenalkan karya mereka kepada orang-orang.
"Judul dari lukisan saya, perjuangan dalam kesederhanaan. "
"Uh? "
Noa membuat lukisan rumah sederhana dengan anak-anak yang menunjuk ke arah perkotaan. Memang terlihat biasa saja.
"Lukisan ini mengambil latar pedesaan dan perkotaan. Dimana di sebuah desa yang damai, anak-anak bermain bersama. Mereka bercerita, bermain, dan bercanda. Sampai salah seorang dari mereka menunjuk ke arah perkotaan dan memberitahu kepada teman-temannya tentang mimpinya. Jika dilihat di sebelah kanan, ada tiga anak yang meremehkan mimpi anak tersebut. Meski hanya berbentuk siluet, disini saya ingin mempertegas bahwa anak tersebut sedang--tak menghiraukan ejekan anak-anak lainnya. "
Sebenarnya alasan Noa menggambarkan anak-anak dalam bentuk siluet, karena itulah pandangan Noa tentang orang-orang yang menghinanya.
"Anak itu.. tetap menunjukkan mimpinya kepada orang-orang yang mau mendengarnya. Sekian lukisan yang saya buat, dengan judul perjuangan dalam kesederhanaan. "
Beberapa kritikus mulai berbisik mengenai lukisan Noa. Seorang guru seni dari belgia ingin merengkrut Noa menjadi murid di sekolahnya.
"(aku tidak mengerti bahasanya!!) " (Ω Д Ω)
Noa yang tampak bingung ingin menjawab apa, akhirnya dibantu oleh Bu Miko yang menerjemahkan pembicaraan mereka. Noa sangat terbantu dengan hal itu.
.
.
.
Lalu, pengumuman juara pun diumumkan..!
"Baik, setelah pengenalan lukisan yang dilakukan oleh para peserta kepada kritikus dan guru seni disini, dan juga keputusan juri dalam menilai. Kami menemukan 3 orang pemenang dan 2 lukisan favorit. Yaitu 1 lukisan favorit juri, dan 1 lagi lukisan favorit para tamu. "
Noa gugup. Ia merasa kalau kata-katanya kurang bisa diterima di telinga para kritikus. Apalagi beberapa guru dari luar negeri yang mungkin saja tak paham dengan apa yang ia katakan. Hal itu membuat Noa semakin tidak percaya diri dengan karyanya. Tapi Bu Miko sekali lagi berusaha menenangkan Noa dengan duduk disampingnya dan memegang tangan Noa.
"Percayalah. Tidak ada kesuksesan tanpa kegagalan. Orang yang tak pernah gagal tak akan pernah sukses. "
"Baik. " Noa menganggukkan kepalanya. "
"Baik! Kita umumkan juara-juaranya! "
𝓑𝓪𝓫 𝓼𝓮𝓶𝓫𝓲𝓵𝓪𝓷, 𝓝𝓸𝓪 [2].
𝓢𝓮𝓵𝓮𝓼𝓪𝓲~
__ADS_1