
...****************...
(*2 tahun yang lalu..)
Setelah mendapatkan kabar kalau ayahnya ditahan karena melakukan kejahatan, Kaizen pergi ke Osaka untuk menemui seseorang yang bisa membantunya.
[Kediaman keluarga Nakagawa]
"Apa? kakak juga akan pergi? "
"Ya. Aku pergi. "
Sesaat setelahnya, Haruki juga pergi meninggalkan Noa sendirian di rumah. Yang Noa lihat saat itu--adalah rumah hantu yang besar, kosong, tapi hanya Noa satu-satunya yang menghuni tempat itu.
Noa yang sebentar lagi akan tamat SMP, belum memutuskan ingin masuk ke SMA mana. Sampai akhirnya ia menemukan kertas pendaftaran SMA Hattori di kamar Kaizen.
Tanpa pikir panjang Noa langsung mengisi kertas pendaftaran itu.
"Satoshi.. "
"Uh? Nona? "
"Apa Satoshi mau jadi waliku? "
"Uh. Tentu saja, saya bersedia. "
Satoshi berlutut di hadapan Noa. Berusaha meyakinkan Noa kalau ia tak sendiri. Satoshi sangat kasihan dengan Noa yang ditinggal oleh seluruh keluarganya.
Tanpa kerja sadari, pembicaraan mereka didengar oleh Ayaka yang bersembunyi di lorong.
"(saat nona lahir, anggota keluarga yang terlihat senang hanya tuan Kaizen dan nyonya saja. Tuhan.. kenapa Nona harus mendapatkan penderitaan ini?) " batin Ayaka.
Sejak kecil Noa memang sangat dekat dengan ibunya, selalu. Dia tak pernah berbicara, jadi hanya ibunya yang mengerti dengannya. Disisi lain Kaizen sangat ingin berbicara dengan Noa, karena itulah Noa tak merasa masalah dengan Kaizen. Saat ulang tahun Daisuke, Noa tak hadir karena merasa malu dengan dirinya. Saat itulah Kaizen ikut menemani Noa di rumah dengan alasan..
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘢𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘳𝘢𝘮𝘢𝘪. " kurang lebih begitu yang dikatakan Kaizen pada Noa.
__ADS_1
Noa bukan anak yang bisu ataupun bodoh. Dia hanya tak berani bicara. Beberapa kerabat sangat membenci Noa di setiap acara yang digelar di rumah mereka. Karena itulah Noa selalu bersandar dengan Kaizen, karena Noa tau kalau ia mendekati ibunya--maka sisi buruk ibunya akan terlihat. Sementara Kaizen sangat dipandang baik di keluarganya, karena itulah Noa lebih baik mendekat dengan Kaizen.
Segala tingkah Noa yang terlihat biasa saja--namun mampu mengubah situasi--sangat perlu untuk diapresiasi. Bisa dibilang Noa adalah yang paling cerdik diantara saudaranya.
.......
Noa akhirnya diterima masuk di SMA Hattori, tentunya ia diterima dengan mudahnya.
Hari pertamanya buruk karena ia harus berhadapan dengan banyak kakak kelas yang merupakan kenalan dari teman SMP nya dulu. Beberapa temannya berkenalan baik dengan para yakuza, yang membuat Noa sering mendapatkan intimidasi keras.
"Kenapa? ayah mu kan petinju? kenapa kau tak hubungi ayahmu~? "
"Hahahahaha! "
Mahkluk berwarna hitam dengan mata berwarna merah sedang mentertawakan Noa yang terjatuh di lorong kelas.
"Pergi sana kau, dasar o~rang gi~la! "
Apa Noa bisa disebut memiliki gangguan jiwa?
Tapi itu hanya imajinasinya saja.
Apapun itu, Noa bukan orang gila!
"Hahahahahaha!! "
Noa sangat membenci ayahnya. Segala bentuk kebahagiaan yang ia dapatkan kandas begitu saja karena ayahnya. Noa tidak menyukai ayahnya. Apalagi setelah kematian ibunya.
Jika semisalnya Noa tak memiliki Kaizen yang ia lakukan adalah pergi dari rumah itu. Itu tertulis di buku milik Noa. Karena orang seperti Noa hanya butuh satu orang untuk tetap bersamanya. Jika ia tak mendapatkannya maka kehidupannya sudah tak berarti lagi. Noa hanya menginginkan seorang pendengar, dan seorang pelindung yang bisa melindunginya.
Singkat cerita, Noa diminta untuk mengikuti perlombaan untuk mewakili sekolahnya. Noa yang bersedia memutuskan untuk melatih lukisannya dan memikirkan ide yang akan ia lukis nanti.
Sekarang yang selalu berada disisi Noa adalah Satoshi yang menjadi walinya, serta Ayaka yang akan menemani Noa saat Noa sulit untuk tidur. Terkadang Noa berpikir untuk melukiskan masalahnya dalam sebuah lukisan. Tapi Noa bukan orang yang berani menaruh jiwanya pada rumah orang lain. Karena dia tak berani untuk mempercayai orang-orang.
[SMA Hattori]
__ADS_1
"Kau sudah memutuskan mau melukis apa? " tanya seorang guru wanita yang merupakan guru melukis Noa.
Noa mengangguk perlahan.
"Hanya saja.. saya bingung. "
"Hm? "
"Ada banyak kakak kelas yang ahli melukis disini, kenapa bu guru malah memilih saya? "
"Kalau begitu biar kutanya, apa kau mengerti arti dari sebuah lukisan? "
"Lukisan adalah media untuk menggambarkan emosi.. "
"Itu sih menurutmu. Tapi itu juga benar. Seni adalah sesuatu yang spesial, sesuatu yang kau ungkapkan lewat Seni sangat bernilai mahal bila dijual. Bahkan ada yang nilainya tak terhingga. "
"Lalu apa hubungannya dengan saya? "
"Saat pameran seni diadakan, lukisan mu mendapatkan banyak kritik dari para kritikus. Mereka menyukai lukisan mu. Katanya lukisan mu tak ternilai. Sebuah mahakarya membuat seorang wanita dengan penutup mulut. "
"Itu hanya lukisan biasa. "
"Itu kan di mata mu. Setiap manusia memiliki penilaian yang berbeda terhadap seni. "
"Hm. "
"Semangat ya, aku yakin kau bisa masuk ke universitas favoritmu jika terus melatih bakat mu. "
"Terimakasih banyak, bu guru. "
Padahal Noa melukis untuk melepas tekanan. Tapi siapa sangka Noa akan dapat banyak apresiasi dari bakatnya.
𝓑𝓪𝓫 𝓭𝓮𝓵𝓪𝓹𝓪𝓷, 𝓝𝓸𝓪 [1].
𝓢𝓮𝓵𝓮𝓼𝓪𝓲~
__ADS_1