
...****************...
Keesokan harinya, pria yang kemarin datang akhirnya resmi bergabung di grup. Dia adalah tetangga Pak Kaizen saat beliau tinggal di Kanagawa. Namanya, Sumi Osamu--dengan kode name Fox (Rubah).
"Nah, tolong yang akrab dengannya ya~ "
"Baik! "
Kaizen fokus pada komputernya, untuk mencari informasi lebih dalam. Osamu duduk disebelah kanan Kaizen dan menyapa Kaizen.
"Pe-permisi.. " ucapnya dengan nada ragu.
"Hm? " Kaizen menoleh ke arahnya.
"Apa kau sudah lama disini? "
"Tidak juga.. aku baru bergabung 2 tahun lalu. "
"Apa kau kenal dengan Pak Kenji? "
"Ya. Dia seorang produser film bukan? "
"I-iya. Aku Osamu, 25 tahun. "
"Kaizen, 22 tahun. Syukurlah usia kita tak jauh berbeda. " *senyum
"Iya. Senang berkenalan denganmu. "
"Aku juga. Semoga kita bisa berteman akrab ya. "
"Iya. "
Osamu tampak lega dan mulai mengotak-atik komputernya. Kaizen tak menaruh rasa curiga pada Osamu, karena ia pernah berada di posisi Osamu. Kaizen hanya kenal dengan Pak Kenji di grup, karena itulah pada awalnya tidak ada yang bicara dengannya. Tapi Kaizen adalah pribadi yang menyenangkan, ia bisa mencari teman dimana saja. Semua anggota grup juga tau kalau Kaizen adalah anak Daisuke, jadi tujuan Kaizen terlihat jelas tentang mengapa ia bergabung dengan grup.
.
.
.
.
.
Hujan pun reda setelah mengguyur wilayah Kansai dan Kanto selama hampir 3 minggu. Kaizen mencoba untuk menghubungi Haruki.
Tapi Haruki yang sedang sibuk dengan pertandingannya tak sadar kalau Kaizen sedang menghubunginya.
"Dasar anak itu. " *gumam Kaizen.
Akhirnya Kaizen mencoba untuk menghubungi Noa.
(*Tokyo, tepatnya di SMA Hattori)
*drrt *drrrt
/ponsel bergetar/
"Ng? "
"𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 "
"Uh! Halo? "
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Noa langsung mengangkat telepon dari Kaizen. Noa yang sedang melukis bersama teman-temannya di ruang seni--akhirnya keluar dari ruangan untuk menyempatkan diri mengangkat telepon dari Kaizen.
"Oh, Noa. Bagaimana kabarmu? "
"A-aku baik.. bagaimana dengan kakak? " *nada lembut
"Syukurlah. Aku juga baik. "
"Syukurlah.. "
"Bagaimana sekolahmu? "
Kaizen berbicara lewat ponselnya sembari berjalan menuju stasiun kereta.
"B-baik. Tidak ada hal buruk yang terjadi.. "
"Begitu ya. Apa kau cukup makan? "
"Ehm." *angguk
"Hari ini aku akan pulang, apa kau ada di rumah malam ini? "
"Tentu saja. "
"Oke. Kita bicara lagu di rumah ya, daa.. "
"Iya. "
Noa gugup, ia tak menyangka kalau Kaizen akan segera pulang.
"Noa..! Gambaran mu belum selesai loh~ "
"Oh, iya. "
"Noa lukisan mu keren seperti biasanya~ "
"Hah! Apa bagusnya lukisan itu? Hanya mementingkan warna dibandingkan makna. Kau sebut itu lukisan?! "
"Hei.. kau ini. "
Noa rutin mengikuti ekstrakurikuler melukis dan beberapa klub seni di Tokyo. Sebagian dari para pelukis yang Noa temui memiliki pribadi yang tertutup seperti Noa. Sehingga hal itulah yang membuat Noa merasa nyaman dan memiliki koneksi pertemanan yang cukup luas.
Sore hari pun tiba, Noa bergegas pulang ke rumah untuk bersiap-siap dengan kedatangan Kaizen. Di depan gerbang, Satoshi menjemput Noa. Noa yang sampai di depan gerbang menceritakan kepada Satoshi kalau Kaizen akan segera pulang.
"Uh. Tapi kenapa tuan tidak menghubungiku? " *gumam Satoshi
"Hm? Satoshi? "
"Uh! Maaf nona. Kita pulang sekarang. "
"Iya. " *senyum
Noa tak sabar menunggu kedatangan Kaizen. Noa tak pernah berpikir kalau saudaranya akan kembali lagi. Noa tau persis bagaimana kedua saudaranya.
Pemikiran Noa mengenai dunia masih belum berubah. Hanya saja Noa lebih berani untuk bicara dengan setiap hantu yang ia temui. Baik itu hantu nakal atau baik. Satoshi dan Ayaka adalah dua orang yang Noa temui sebagai mahkluk baik di rumah hantu miliknya.
Beberapa orang menganggap kalau Noa mengidap gangguan jiwa, beberapa-nya lagi menganggap kalau Noa adalah anak yang suka membuat imajinasinya sendiri. Noa menyadari semuanya, dimata Noa mereka adalah hantu berwarna merah dengan mata menyala terang.
....
[Kediaman Keluarga Nakagawa]
(*08.20 pm)
__ADS_1
"Aku kembali. "
"Uh! "
Suara Kaizen yang terdengar halus kembali didengar oleh Noa.
"Selamat datang kembali.. kakak. "
"Ya, terimakasih Noa. "
"Hm. " Noa memeluk Kaizen
"Maaf ya, Noa pasti merasa kesepian sendirian. "
𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘖𝘴𝘢𝘬𝘢. 𝘒𝘶𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘏𝘢𝘳𝘶𝘬𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩.
Pelukan hangat dari Kaizen adalah hal yang membuat Noa merasa lebih baik. Noa memerlukan pelukan sebagai pereda emosinya.
Kaizen mengelus kepala Noa dengan lembut. Satoshi membawa tas dan makanan yang Kaizen bawa ke dalam rumah.
"Noa, aku kedinginan. Ayo masuk ke dalam. "
"Uh. Maaf.. "
"Haha. Tidak papa kok. "
.
.
(*setelahnya, di dalam rumah)
Kaizen melihat-lihat piala dan penghargaan yang Noa dapat selama 2 tahun terakhir. Mulai dari Olimpiade sains, lomba melukis, lomba seni se Jepang.
"Aku melihatmu di berita, itu pencapaian yang luar biasa. Aku kagum padamu. "
"Terimakasih kakak. "
"Aku benar-benar minta maaf Noa, karena meninggalkanmu sendirian. "
"Kakak tidak perlu minta maaf. Aku baik-baik saja selama kakak pergi. Lagipula.. aku tau.. kakak.. pergi karena ingin membebaskan ayah.. " *ragu
Kaizen tersenyum dan mengelus kepala Noa.
"Makasih. "
Kaizen tersenyum bahagia melihat Noa yang sudah beranjak dewasa. Hanya saja Kaizen merasa khawatir dengan Noa yang masuk ke SMA Hattori.
SMA Hattori adalah langganan Trixie Entertainment dalam mencari gadis-gadis berbakat. Paras yang rupawan, bentuk tubuh yang ideal, pandai, semuanya ada di SMA Hattori. Terlebih lagi saat ini Noa sudah masuk ke media. Kaizen khawatir jika presiden Wakatobi nantinya akan merengkrut Noa menjadi bagian dari Trixie Entertainment.
Kaizen tak menginginkan hal itu!
Kaizen tidak mau adiknya bernasib seperti ibunya yang pernah menderita karena gajinya yang terus di korupsi oleh atasan, manager yang tak mementingkan kesehatan para model, serta presiden yang gila harta.
Entertainment yang menyimpan banyak sisi gelap.
"Kakak akan tinggal disini? "
"Ya. Aku tidak mungkin meninggalkan Noa lagi. "
Noa tersenyum..
"Iya. " *angguk
__ADS_1
𝓑𝓪𝓫 𝓵𝓲𝓶𝓪, 𝓟𝓻𝓲𝓪 𝓫𝓮𝓻𝓴𝓪𝓬𝓪𝓶𝓪𝓽𝓪.
𝓢𝓮𝓵𝓮𝓼𝓪𝓲~