Bokusa No Musuko

Bokusa No Musuko
BAB 3 : Jalan dari tiga bersaudara


__ADS_3

...****************...


(*di SMA tempat Haruki bersekolah.)


.


.


[Ruang Guru]


"Ini peringatan yang kesekian kalinya. Kau sudah tidak mengumpulkan tugas selama berbulan-bulan, tidak pernah hadir di kelas, dan selalu tidur saat jam pelajaran. Apa kau niat sekolah?! "


"Pak guru. "


"Hah.. aku tau kau itu putra dari Nakagawa Daisuke, tapi bukan berarti kau bisa bebas di kelas. Teman-teman juga sangat menyukaimu, tapi jika nilai mu tidak memenuhi kriteria minimal maka kau tidak bisa lulus. "


"Ck. "


.


.


(*disisi lain, di SMP tempat Noa bersekolah)


"Hei kutu buku, pinjam baju olahraga mu. "


"Uh? "


"Cepatlah. Jam olahraga sudah mau dimulai, aku tidak mau telat. "


"T-tapi.. "


"Jangan sok bicara! " *bentak


"Hm. "


"Mereka mulai lagi.. "


"Mereka memang kurang ajar. "


"Sudahlah biarkan saja, aku tidak mau jadi target mereka. "


Shido Kaede, gadis cantik yang suka memamerkan kecantikannya di akun sosial medianya. Ia adalah seorang influencer terkenal. Meski di sosial media ia terkenal sebagai gadis yang ramah dan berteman akrab, nyatanya di sekolah ia hanyalah anak nakal yang suka mengganggu teman-temannya.


Noa adalah sasaran tetap Kaede, karena kepandaian Noa yang membuat Kaede merasa iri dan tertandingi. Kaede beranggapan kalau kecantikannya harus lebih dipuji di bandingkan kepandaian dari Noa sendiri. Kaede memang gadis yang egois dan licik.


"HEI! " Kaede berteriak sembari memukul meja.


"Jangan sok hanya karena kau putri petarung terkenal. Heh! Lagipula apa bagusnya jadi anak dari seorang pemukul bantal? "


"Hahahahaha! Memalukan, padahal cuma memukul bantal tapi bisa dikenal. Kalau begitu lain kali aku akan memukul meja supaya dikenal. "


"Hahahahaha! "


.


.


.


(*setelahnya.. di sore hari)


[Ruang Guru]


"Noa, bagaimana bisa kau bolos 3× di mata pelajaran bapak? "


"Hm."


"Hah.. jika begini bapak terpaksa memberikanmu nilai C tau~ "


"Sa-saya.. minta.. maaf.. " *menunduk


Guru itu memegang tangan Noa yang membuat Noa merasa takut.


"Apa kau ingin mengambil nilai susulan? Kita bisa mengambilnya hari ini. "


"Uh-huh! "


"Habisnya bukannya rugi jika kau pintar tapi nilai olahraga mu C? Bisa malu jika diketahui oleh publik, kau ini anak dari seorang ahli bela diri loh~ "


Noa menundukkan kepalanya. Ia merasa kalau perkataan orang-orang benar tentang dirinya. Ia tak pandai olahraga, fisiknya lemah, mudah sakit.


"Ayo, kita ambil nilainya sekarang. " guru itu berdiri dan merangkul Noa.


Noa reflek mundur.


"Saya minta maaf, saya permisi. " *berlari


"Tunggu! Nak Noa! Jika kau pergi nilaimu akan rusak! "


Noa yang ketakutan berlari ke arah pintu gerbang.


"Ng? Uh?! "


Kaizen yang minat Noa berlarian segera memanggilnya.


"Noa! "


"Uh-huh! " Noa melihat kearah suara yang ia dengar dan berlari ke arah Kaizen.


"Uh? "

__ADS_1


Noa yang ketakutan langsung memeluk Kaizen.


"Uh! "


*hiks..


"Uh-huh! Noa? ada apa? kenapa kau menangis? "


Noa mengusap air matanya dan menggelengkan kepalanya. Kaizen menyadari ada yang aneh dengan perilaku Noa.


"Ng? Kakak? "


"Uh. Haruki.. "


"Uh? Noa? "


Noa memalingkan wajahnya, begitu pula dengan Haruki. Sejak awal memang tak ada kecocokan diantara Haruki dan Noa.


"Haish.. ayo kita pulang. "


.


.


.


Sesampainya di rumah, Noa yang sedang mengerjakan tugas di kamar sementara Haruki sedang berlatih tinju untuk pertandingannya besok di Yokohama. Kaizen menyelesaikan naskahnya dengan beberapa gambar dari Noa.


"Hm.. jika sangat tokoh utama dibuat menyedihkan seperti ini jadi terkesan membosankan. "


"Tuan, ada yang ingin saya bicarakan. "


"Ng? Ayaka? "


Mika Ayaka, salah satu pelayan di kediaman Nakagawa. Ia yang mengurus kebersihan dan tamu-tamu di kediaman Nakagawa.


Kaizen dan Ayaka berbicara di lorong belakang rumah. Ayaka terlihat agak kebingungan. Ia berpikir tentang bagaimana harus menjelaskannya pada Kaizen.


"Ayaka? "


"Be-begini tuan.. jadi tadi sore ada surat yang datang. Di surat itu ada cap gubernur. "


"Uh! "


"Saya tidak berani membaca suratnya. Tapi yang pasti surat itu sangat penting. Maka dari itu saya membawakannya kepada tuan. " *memberikan surat


"Saya minta maaf karena baru memberitahukan hal ini. Saya sangat terkejut karena baru kali ini saya mengurus surat yang berisi cap gubernur. Saya benar-benar minta maaf, tuan. " *bungkuk


"Ya, tidak papa. Terimakasih. "


"Baik. Saya permisi tuan. "


"Uh! " *syok


Ada beberapa kata yang Kaizen tak paham di surat itu. Kata-kata yang merujuk pada hukum. Kaizen menduga terjadi kesalahpahaman di surat itu.


"(ini tidak mungkin.. bagaimana bisa ayah terlibat hal sebesar ini? Apa Haruki dan Noa sudah mengetahuinya?) " *khawatir


Di surat itu dengan jelas tertulis tentang kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh Nakagawa Daisuke, sehingga ia divonis penjara.


"Ck. "


*set.


"Uh! "


Noa menarik lengan baju Kaizen.


"Noa? "


Noa memiringkan sedikit kepalanya.


"Oh, aku baik-baik saja. Aku hanya lelah setelah membuat naskah tadi. "


*angguk


"Ada apa Noa? "


"Hm."


Tangan Noa yang menggenggam erat lengan baju Kaizen, berusaha untuk memberanikan diri untuk bicara.


"Bo-. "


"Uh? "


"A-apa.. aku.. " *ragu


"Ada apa? katakan saja. "


"Be-besok.. bo-. bo.. leh.. aku.. ti-tidak.. se-. se-seko.. lah..? " *menunduk


"Kenapa mendadak sekali? Apa ada masalah? "


"Uh! "


Kaizen teringat dengan Noa yang berlari keluar gerbang sekolah dan langsung memeluknya.


Noa yang ragu akan mendapatkan jawaban yang ia harapkan--hanya bisa menunduk dan terus berdoa. Karena.. Noa memang sering mendapatkan perlakuan buruk di lingkungan sekolahnya.


"Baiklah, akan ku hubungi wali kelas mu besok. "

__ADS_1


"Uh! Bo-bo.. leh..? "


"Ehm. Boleh. " Kaizen menganggukkan kepalanya.


Seketika Noa yang merasa lega memeluk Kaizen.


"Sebagai gantinya, bantu aku membuat naskah ya."


"Ehm. " *angguk


....


Sekitar pukul 11 malam, Kaizen yang terjaga di malam hari membaca kembali surat yang ia dapatkan.


"(tidak mungkin ayah melakukan hal ini. Dia pasti dijebak oleh seseorang. Kalau memang benar pun, kenapa memberitahukannya lewat surat? kenapa tidak datang langsung? Ada yang janggal, aku yakin ini salah.) "


Noa yang juga belum tidur, mendengar ada suara dari luar jendela. Noa mengintip dari arah jendela. Ia melihat seekor anjing yang tengah menggonggong ke arah mobil hitam di seberang rumahnya. Tapi Noa memilih untuk mengabaikannya dan tidur.


.


.


.


Keesokan harinya, Kaizen terbangun dari tidurnya. Kaizen yang bangun agak siang mengetahui kalau Haruki dan Noa masih berada di rumah, memutuskan untuk berpura-pura tidur. _-*


"KAKAK! "


( ̄へ  ̄ 凸


"HEI BUKA S**L*N! "


Haruki terus menggedor-gedor pintu dengan keras, yang membuat Kaizen tak dapat berkata-kata dan akhirnya keluar kamar. Di depan kamar Kaizen, Haruki dan Noa berdiri menginginkan penjelasan dari Kaizen.


"Huh.. "


....


"Apa maksud ini semua? Kakak merahasiakan hal ini dari kami? "


"(kenapa mereka bisa tau?! tidak, kenapa kabarnya cepat menyebar?!) (눈‸눈) "


.


.


*tak!


"Katakan kak! " *memukul meja


"Iya.. iya. Agak sulit menjelaskannya. Aku juga tidak tau pasti tentang masalah ini. Tapi.. darimana kalian tau? "


"Ada orang yang datang tadi, mereka polisi yang mengawasi kantor gubernur. Mereka sudah menjelaskan secara mendetail tentang ayah. "


"Huh.. "


"Karena itulah aku ingin penjelasan! Kenapa kakak hanya diam?! Apa bagi kakak kami hanya beban yang tak dapat di percaya?!! "


"Uh! "


"Haruki..! " *tegas


"Tch."


"Dengar, masalah ini memang sulit untuk dijelaskan. Aku bersungguh-sungguh, karena kita belum tau pasti apa penyebabnya. Terlebih lagi media tak meliput hal ini. Ini aneh. "


"Ck. Lalu kita harus bagaimana? membayar tebusan? "


"Kita belum tau apa ayah benar-benar bersalah atau tidak. Jika ayah tidak bersalah, maka membayar tebusan hanya akan merugikan kita. "


"PEDULI AMAT! YANG TERPENTING AYAH BISA BEBAS! "


"Ayah tidak menginginkan hal itu! "


"Ekh. "


"Maaf, aku tidak bisa menjelaskan lebih detailnya. Selanjutnya akan kuusaha-. "


"Tch. " *berdiri


"Aku sudah muak. Terserah kakak saja. "


Haruki pergi keluar rumah dengan perasaan kesal.


"Biarkan saja.. dia pasti akan ke tempat latihan. "


"Hm."


Noa hanya bisa diam.


Tempat pelatihan yang dibangun oleh Daisuke kini harus disita. Haruki yang dendam akhirnya memutuskan untuk mencari pembenaran mengenai ayahnya. Sementara itu, Kaizen juga melakukan hal yang sama. Hanya saja Kaizen harus pergi ke Osaka untuk mencari pembenaran.


Di saat Kaizen dan Haruki tak kunjung pulang, di rumah yang besar itu Noa terdiam sendirian. Ia merasa tidak ada yang bisa ia bantu di rumah itu.


Noa menemukan surat pendaftaran SMA khusus perempuan di meja yang ada di ruangan milik Kaizen.


Ketiga saudara yang masing-masingnya mewarisi sifat ayahnya, kini memiliki jalannya masing-masing untuk membebaskan ayahnya.


𝓑𝓪𝓫 𝓽𝓲𝓰𝓪, 𝓙𝓪𝓵𝓪𝓷 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓽𝓲𝓰𝓪 𝓫𝓮𝓻𝓼𝓪𝓾𝓭𝓪𝓻𝓪.


𝓢𝓮𝓵𝓮𝓼𝓪𝓲~

__ADS_1


__ADS_2