Bokusa No Musuko

Bokusa No Musuko
BAB 7 : Bunga yang layu


__ADS_3

...****************...


Haruki tiba di rumah lamanya. Kaizen pergi keluar dan menyapa Haruki. Haruki yang tampak cuek dan hanya membalas singkat sapaan Kaizen, membuat Kaizen merasa ada yang aneh dari Haruki.


Haruki memiliki banyak perubahan, mulai dari postur tubuhnya yang sudah terlihat jelas. Haruki semakin mirip dengan ayah.


"Selamat datang kembali. " ucap Noa dengan nada lembut sembari memalingkan wajahnya.


Haruki hanya cuek dan mengabaikan Noa.


"(tapi sifatnya tak berubah)(-""-;) 凸" batin Kaizen.


Noa yang kesal diabaikan mulai menggembungkan pipinya. Hanya Haruki yang sering membuat Noa kesal. Sejak kecil saat Noa mulai TK, Haruki tidak pernah memuji ataupun mengejek gambarannya. Haruki hanya diam, cuek, seolah-olah ia tak peduli dengan Noa. Hal itulah yang membuat Noa kesal. Terlebih lagi Haruki pernah meninggalkannya sendiri, lalu saat pulangpun Haruki masih tak berubah.


Haruki duduk di ruang TV dan menghidupkan TV. Tak lama Satoshi datang dengan membawakan es teh, Satoshi membawakan tas Haruki ke atas.


"Haruki, apa saja yang kau lakukan selama ini? "


"Olahraga."


"Kau punya kenalan di Yokohama? "


"Ya. Aku punya. "


Haruki tampak sangat tak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tapi ada satu hal yang membuat Haruki jengkel.


Haruki bangun dari duduknya dan berjalan mengarah ke rak yang ada di sebelahnya.


"Siapa yang menaruh rak ini? "


"Aku." saut Noa.


"Ck. Kau benar-benar bodoh. "


"Uh! "


"Bagaimana bisa kau memindahkan barang-barang ayah?! Dimana kau taruh barang-barang ayah?! "


Haruki tampak kesal dan mulai memarahi Noa.


Noa memindahkan barang-barang ayah ke ruangan satunya--yang berada di seberang ruang TV. Haruki yang kesal akhirnya pergi, tapi bukan hanya Haruki yang kesal..


"Aku menyesal pergi dari rumah ini, orang yang hanya tergila-gila pada nilai dari sebuah cat sepertimu! Mana tau nilai dari barang berharga! "


"Hm."


"Haruki! "


"Kalau begitu kenapa bukan kakak saja yang mengurusnya? Kenapa kakak malah pergi? " nada bicara Noa yang terdengar seperti ingin menangis.


"Memangnya kau mengerti apa?! Aku pergi untuk membebaskan ayah! "


"Kenapa semua orang sangat tergila-gila dengan ayah?! "


"Uh! "


"Noa.. "


"Apa hebatnya ayah?! Karena ayah aku jadi dapat banyak masalah di sekolah. Karena ayah aku dijauhi oleh teman-temanku, bahkan guruku-! " *terdiam


Perasaan Noa yang sulit untuk ia ungkapkan, terpaksa ia keluarkan. Tanpa Noa sadari, ia membongkar aibnya sendiri.


"Apa yang gurumu lakukan? " tanya Kaizen.


"Bukan apa-apa.. "


"Noa-."


"Intinya aku benci ayah! "

__ADS_1


"NOA! "


"KAKAK TAU APA?!! "


"Orang yang hanya menyayangi ibu sepertimu tak akan mengerti. Ibu hanya wanita bodoh yang tak punya pendirian setelah bangkrut dari karirnya. Dia menikahi ayah hanya demi kekayaan! "


"Ibu menikahi ayah karena paksaan! Ini pernikahan politik! Demi keberlangsungan karir ayah, ibu rela menikahi pria yang tak ia cintai! Bagaimana bisa kakak menyebut ibu wanita bodoh?!! "


"Uh! "


"Noa.. darimana.. kau tau itu? "


Noa mengungkapkan hal yang tak diketahui oleh saudara-saudaranya. Kaizen tak pernah menyangka kalau Noa mengetahui semua itu. Kaizen mulai mencurigakan Noa yang memiliki lebih banyak informasi tentang keluarganya. Mengingat cara bicara Noa tempo lalu.


Satoshi dan Ayaka yang melihat pertengkaran mereka sangat menyayangkan hal itu terjadi.


Semua orang di rumah tau kalau Haruki dan Noa punya hubungan yang buruk. Tapi mereka menganggap hal itu sebagai hal yang wajar.


"Memangnya kakak pernah menyayangi ibu?! " Noa meneteskan air mata.


"Uh! Apa yang kau-! "


"Sejak dulu kakak selalu memarahi ibu, kakak tidak pernah makan makanan ibu, kenapa kakak bersikap bodoh-. "


"NOA! "


"Hm. " menutup mata


"Kenapa kau begitu cerewet? "


"Uh..! "


Noa yang biasanya hanya diam, kali ini berbicara terang-terangan dan membentak ke arah Haruki, ini bukan Noa yang Haruki kenal.


"Lagian tidak ada peduli dengan orang keras kepala. " Haruki pergi ke kamarnya, dan mengacuhkan Noa.


"Hm. "


"Ter.. serah.. " gumam Noa


"Uh! Kamu mau kemana? Noa! "


"Nona! "


Noa pergi keluar tanpa membicarakannya dengan Kaizen.


Haruki dan Noa memiliki hubungan buruk. Hubungan mereka semakin diperburuk dengan Noa yang menyembunyikan segala informasi yang ia dapatkan.


Kaizen sadar kalau Noa memiliki banyak informasi yang ia sembunyikan. Karena bagaimanapun bakat Noa sangat mendukung dalam bidang ini. Disisi lain Haruki yang kesal hanya bisa diam di kamar sembari meredakan amarah. Kaizen yang tak tau kemana Noa akan pergi hanya bisa pasrah sembari menunggu Noa. pulang. Kaizen juga mengerti kalau Noa butuh waktu sendirian diluar.


.


.


.


.


.


Sementara itu, disisi lain..


Noa hanya bisa duduk di kursi taman, merenungkan segala pembicaraan yang ia lakukan dengan Haruki. Pembicaraan itu bukan lagi disebut pembicaraan, itu adalah perdebatan.


"(aku memang bodoh. Seharusnya aku tidak memindahkan barang-barang ayah.) "


"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘺𝘢𝘩. "


Noa berusaha menahan tangisnya di tengah keramaian--di taman. Tak lama, beberapa pria datang dan menghampiri Noa.

__ADS_1


Pria itu berpakaian layaknya yakuza, ia menanyai tentang sebuah alamat kepada Noa dan meminta Noa untuk mengantarkannya mereka. Tapi Noa yang menolak dengan sopan, dan berkata kalau ia sedang menunggu seseorang--mendapatkan respon negatif dari para yakuza.


Noa tak menyadari hal itu. Karena kepolosan Noa yang menganggap kalau dunia masih seperti pada umumnya.


.


.


.


.


Rumah hantu..


.


.


.


Hantu yang berwujud seperti mahkluk aneh. Roh-roh yang terus mengelilingi Noa karena rasa benci dan iri.


(*setelahnya..)


.


.


(*04.45 pm)


[Kediaman keluarga Nakagawa]


Kaizen mulai khawatir karena Noa tak kunjung pulang. Kemudian Kaizen melihat Haruki yang secara kebetulan turun dari kamarnya.


"Haruki."


"Apa? "


"Noa belum pulang dari tadi. Apa kau tak merasa ada yang aneh? "


"Ha? palingan dia ada di taman atau di cafe. Biarkan saja. "


"Kalau begitu pergi cari dia. "


"Ha?! peduli amat dengannya. Kenapa aku harus mencarinya?! "


*plak!


Tamparan melesat ke pipi Haruki. Kaizen tampak sangat kesal.


"Pergi, cari dia. "


"Tch."


.


.


.


Pencarian itu berujung sia-sia..


Tak akan ada yang menyangka kalau bunga yang baru mekar akan layu dalam sekejap. Warna yang baru terlihat mulai pudar dan tak terlihat lagi.


"Ck. Anak itu kemana?! " Haruki mengepalkan tangannya.


𝓑𝓪𝓫 𝓽𝓾𝓳𝓾𝓱, 𝓑𝓾𝓷𝓰𝓪 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓵𝓪𝔂𝓾.


𝓢𝓮𝓵𝓮𝓼𝓪𝓲~

__ADS_1


__ADS_2