
"Minggu depan acaranya" ucap Yanti saat istirahat jam kedua, "Aku gak ikut ah" balasku sambil berjalan menuju kantin. "Yah" keluh Yanti, "Gak seru dong" lanjutnya merajuk. "Aku gak suka acara seperti itu" ucapku dengan mimik memelas, "Kamu masih mikirin Pongky ya?" tanya Yanti hati hati agar aku tidak sedih, "Gak juga" jawabku santai, mencoba menutupi alasan sebenarnya menolak ikut acara Prom Night. "Ini tahun terakhir kita kan?" tanya Yanti memohon, "Hmm, aku pikirkan dulu ya" jawabku sambil berlalu meninggalkan Yanti menuju perpustakaan. "Tempat pelarianku" batinku saat memasuki perpustakaan sekolah, disiniĀ aku biasa menghabiskan waktu jika ingin menyendiri atau menghidar dari lingkungan sekitar. Putri yang sekarang berbeda dengan Putri saat masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, dimana saat itu aku selalu menjadi pusat perhatian orang sekitar, tidak hanya disekolah tapi dimana saja. Bahkan se isi kota tau siapa Putri, entah karena gaya dan prestasiku, atau karena kisah ku sebagai anak tunggal seorang pengusaha kaya dan pembalap offroad nasional. Semenjak lulus dari Sekolah Menengah Pertama, aku memilih meneruskan Sekolah Menengah Atas dengan masuk asrama wanita dan menarik diri dari kehidupan sosial. Sifat, sikap dan kebiasaan ku berubah 180', bukan tanpa alasan perubahan drastis ini, melainkan cara agar aku bertahan dan mencoba memulai hidup lagi dari nol setelah kepergian Pongky. Banyak yang menyanyangkan perubahan ini, terutama Papa. Tapi seiring waktu mereka bisa menerimanya sebagai pilihan terbaik dan pembelajaran diri menjadi lebih dewasa.
__ADS_1
"Ada yang kamu butuhkan lagi?" tanya Papa ditelepon, "Enggak" jawabku singkat. "Acara Prom Night mu gimana?" tanyanya lagi, "Mungkin Putri gak ikut" jelasku yang membuat Papa terdiam sesaat, "Bisakah kamu teruskan hidupmu seperti dulu?" pinta Papa dengan nada lirih, "Papa kangen dengan anak Papa yang ceria dan selalu ingin tau", "Bukannya ini tahun terakhirmu untuk ikut Prom Night" jelas Papa. "Tidak ada salahnya kamu menikmati masa masa ini" lanjutnya, "Putri pikirkan dulu ya" balasku pelan. "Besok Papa telepon lagi ya, Putri mau siap siap tidur" pamitku sebelum mematikan telepon Papa. "Apa ini?" tanyaku sendiri saat membaca selebaran acara Prom Night, "Gabungan?" lanjutku kaget mengetahui acara Prom Night tahun ini gabung dengan sekolah asrama pria. "Pantas Yanti semangat" batinku sambil tersenyum. "Ayolah" rengekkan Yanti, "Papamu sudah belikan gaun sebagus ini, sayang jika tidak dipakai" alasan Yanti memaksa aku ikut acara Prom Night sore ini. "Jika acara itu membosankan, kamu bisa pulang ke Asrama" jelas Yanti, "Minimal di daftar hadir ada namamu" lanjut Yanti. "Ya biar Papa senang jika tau namaku ada di daftar hadir" batinku mencoba memenuhi kerinduan Papa terhadap anak nya yang dulu.
__ADS_1
"Kamu mau minum apa?" tanya Yanti saat kami sampai di Aula Pertemuan Ternama dikota ini, tempat acara Prom Night diadakan. "Apa aja, bebas" jawabku sambil mencari tempat untuk duduk. Acara berjalan meriah karena diadakan gabungan dengan sekolah asrama pria, sejauh mata memandang mereka saling berkenalan satu sama lain, termasuk Yanti yang dari tadi tidak bisa diam berjalan kesana kemari hanya sekedar mengambil minum atau camilan demi bisa menunjukkan diri dan gaun yang dipakainya. "Kamu gak capek bolak balik" tanyaku menggodanya, "Mana ada capek saat ini, kamu tau kumpulan anak di dekat meja camilan itu?" jawabnya sambil menunjuk sekumpulan laki laki yang salah satunya melambaikan tangan ke arah kami, "Laki laki itu" ucap Yanti centil, "Dia tanya namaku" lanjutnya sambil tersipu. "Oh My God" ucapku malu melihat kelakuan teman baikku malam ini. "Saat yang ditunggu tunggu, mari kita mulai acara ini dengan penampilan dari grup band lima pria terpopuler tahun ini" teriak MC saat lima orang laki laki membawa pearalatan musik naik ke atas panggung. Spontan kegaduhan memuncak, "Kepalaku pusing banget" batinku sambil berjalan mencari meja minuman, "Aww" teriakku saat gaunku tersangkut pinggiran tiang soundsystem dan membuat robek besar di bagian lengan. "Astagah" kesalku sambil menutupi lengan dengan tangan. "Ayo" ajak seseorang dari belakang ku sambil menutupi badan dan lenganku dengan jas, aku yang bingung saat itu hanya bisa mengikutinya berjalan ke luar Aula yang sangat berisik. Sekilas aku melirik kearahnya yang alih alih menutupiku dengan jas sambil merangkul, rambut dikuncir kecil dibelakang dengan gaya maskulin, "Wajahnya dari samping terlihat tampan" batinku.
__ADS_1
"Kamu tinggal di asrama?" tanyanya saat berjalan masuk ke dalam Aula lagi, "Iya" jawabku singkat. "Ayo kita dansa?" ajaknya yang langsung membawaku ketengah hall membaur dengan siswa siswi yang sedang berdansa. "Aku gak bisa" teriakku berusaha menahan langkah, mendadak Andre mendekat "Jika tidak dicoba, tidak akan bisa" balasnya serius sambil menarik punggungku mendekat dan menuntun gerakkan mengikuti musik. Selama berdansa kami hanya diam, Andre lebih tinggi dariku jadi posisi wajahku tepat dibawah wajahnya. Sesekali aku melihat keatas kearah nya, matanya menatapku tanpa bergeming. Mendadak situasi jadi canggung, kuregangkan pegangan tanganku di pundaknya untuk menjaga jarak namun di dekatkan lagi dengan menarik tangannya yang ada di punggungku. "Kamu harus mulai mencoba melakukan hal baru jika ingin melupakan hal yang lama" bisiknya saat mendekatkan wajah ketelingaku, aku yang merasa pikiranku sedang dibaca "Tau apa kamu tentang hal lama yang ingin kulupakan" tanyaku ketus sambil menatap wajahnya dan menghentikan gerakkan dansa kami. "Marahlah, kalo perlu maki aku" ucapnya serius membalas tatapan mataku, "Luapkan semuanya padaku" lanjutnya sambil menarikku lagi mendekat dan "Mulai saat ini, aku akan ganggu hidupmu", "Jadi bersiaplah" jelasnya yang bertepatan dengan pergantian lagu membuatku segera melepaskan diri dan berjalan menuju pintu keluar Aula.
__ADS_1