Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Hidupku Adalah Semua Tentang Aku


__ADS_3

"Kamu suka kamarmu?" tanya Mama saat mengantarku ke kamar yang sudah dipersiapkannya, "Girly" jawabku tersenyum, "Kamu tetap baby girl Mama, meski sudah sebesar ini" balasnya sambil membelai rambut dan memandangku. Ini pertama kali aku dan Mama akan tinggal satu atap setelah hampir 7 tahun kami benar benar berpisah, karena aku mulai ikut Papa pindah ke luar Jakarta. "Papa gimana Ma?" tanyaku mendadak, karena sejak aku sampai tidak melihat Papa, "Papa sedang pemulihan di rumah sakit" jawabnya pelan dengan nada cemas, "Rumah sakit?" tanyaku balik kaget, kenapa Mama tidak memberitahu. "Mau kemana kamu?" tanya Mama spontan menghentikan langkahku mengambil kunci mobil, "Kenapa Mama tidak kasih tau Putri?" tanyaku serius, "Mama tidak mau membuatmu khawatir, Papa baik baik saja. Hanya harus istirahat beberapa hari dirumah sakit" lanjut Mama meyakinkan alasannya. Sejenak aku terdiam, mencoba memahami dan mengerti alasan Mama, tapi "Apapun alasan Mama, apalagi menggunakan nama Putri, tolong jangan lakukan" pintaku untuk tidak merahasiakan seburuk apapun keadaan, dengan alasan tidak mau membuat khawatir orang lain terutama aku. "Putri gak mau dijadikan alasan untuk situasi apapun" lanjutku tegas yang langsung dimengerti Mama, sifat Mama yang selalu menggunakan nama ku atas apapun akhirnya membuat pilihan jatuh ke tangan Papa untuk membesarkan dan mendidik ku sendirian. Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung ke garasi dan keluar rumah bawa mobil yang ada diurutan belakang.

__ADS_1


Mama termasuk seorang wanita karir yang sukses, namun dapat dikatakan gagal menjadi seorang ibu bagi anak remaja perempuan satu satunya. Sepanjang jalan, entah mau kemana, yang aku ingat hanya momen saat aku harus ikut Papa pindah keluar Jakarta, yang tidak dapat dibilang terpaksa, tapi keadaan yang memaksa aku memilih ikut Papa. Mama mendadak memilih dinas 3 tahun ke luar negeri. "Alasan klise" ucapku pelan dengan nada kesal mengingat momen Mama pergi waktu itu, "Mama tidak mau membuat Putri sedih karena bingung memilih antara Mama atau Papa" batinku mengingat dengan jelas kata kata itu sampai detik ini. "Huft" suara helaan nafasku saat menghentikan mobil diparkiran Sport club perumahan, "Hidupnya baik baik saja, termasuk kelas menengah ke atas, fasilitas mewah" ucapku membaca keadaan Mama selama ini dengan melihat lingkungan perumahan dan fasilitas mewah disekelilingnya yang merupakan jaminan kenyamanan. Buntu sesaat pikiranku, ada perasaan takut untuk berpikir mengenai apapun, takut untuk diartikan dan dipahami. "Aku lelah" ucapku lirih sambil memejamkan mata. "Tok tok tok" samar terdengar suara ketukan, perlahan mataku terbuka dan "Hah" teriakku kaget melihat seseorang di luar jendela mobil sedang menatap dan tersenyum, "Maaf, ada apa ya?' tanyaku gugup karena masih kaget dari bangun tidur tadi. "Kamu baik baik saja?" tanya nya balik yang membuat bingung, "Maaf" balasku mencoba meminta penjelasan atas pertanyaannya, "Dari aku masuk antar adikku, sampai keluar lagi, mobil mu masih menyala. Dan mata mu terpejam" jelasnya yang menurutku tidak menjelaskan apapun, "Apa?" tanyaku bingung, "Kamu mau minum kopi denganku?" balasnya sambil menunjuk kedai kopi yang ada di dalam Sport club, reflek membuatku tersenyum sinis. "Mungkin bisa aku jelaskan disana" ucapnya pelan dengan nada malu. "Oh My God, siapa lagi ini" batinku tertawa melihat laki laki dengan postur tubuh atletis, wajah tampan dan bergaya anak kota metropolitan, tapi bicara dengan nada malu. Penasaran apa alasannya mengetuk kaca mobilku, "Ayo" jawabku ketus sambil membuka pintu mobil dan menutup jendela lalu mematikan mesin mobil.

__ADS_1


Tiba di kedai kopi, "Putri" ucapku mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan, "Giri" balasnya, "Pantang aku ngopi dengan orang yang tidak tau namanya" lanjutku pelan sambil berjalan mencari meja. "Mau minum apa?" tanyanya dengan sopan atau sungkan setelah dengar kata kataku barusan, "Ice Latte No Sugar No Flavor" jawabku tegas dengan gaya bicara ala ala fasih berbahasa Inggris, "Oke" balasnya sambil tersenyum mendengar gaya bicaraku. "Senyumnya manis juga" batinku reflek komentar melihat senyumnya, "Argh, apa lagi ini" lanjutku malu dalam hati sambil mengamati dari tempat duduk, "Gayanya seperti anak dari keluarga berada, olahragawan, Basket" ucapku pelan membaca Giri dari penampilannya, "Basket" batinku teriak, "Kenapa harus Basket" lanjutku kesal dalam hati. "Silahkan" ucapnya saat memberikan minuman pesanan ku, "Nama mu lucu" balasku mencoba menutupi perasaan kesal ku tentang Basket, "Kamu orang ke seribu kalinya yang komentar seperti itu" lanjutnya dengan tersenyum. "Kamu tinggal di perumahan ini juga? Kok aku ga pernah lihat ya?' tanyanya ingin tau, "Aku baru pindah hari ini" jawabku singkat sambil mulai minum Ice Latte No Sugar No Flavor, "Hmm" suaraku menilai minuman yang sesuai dengan pesanan, "Enak kan" ucapnya membenarkan ekspresi ku jika minuman di kedai ini benar benar sesuai dengan selera. "Aku punya kenangan buruk soal mobil yang berhenti lama dengan mesin masih menyala, terlebih saat melihat ada orang didalamnya memejamkan mata. Jadi maaf jika aku mengganggu mu" lanjutnya memulai menjelaskan alasan mengetuk kaca mobilku. "Kenangan buruk?" tanyaku penasaran, seburuk apa kenangan itu hingga membuat dia perduli dan cemas dengan orang lain yang tidak dikenalnya, Giri langsung terdiam dengan ekspresi cemas seperti trouma, "Tidak perlu diceritakan" lanjutku spontan seolah tidak mau tau, padahal karena aku tau itu kenangan yang tidak mudah dilupakan apalagi diingat. "Lain waktu aku ceritakan" balasnya dengan tersenyum yang membuatku merasa bersalah karena sempat membuatnya mengingat.

__ADS_1


"Halo" sapaku saat mengangkat telepon di ponsel, "Hi" balasnya yang langsung bisa ku tebak "Giri" ucapku yakin, "Kok tau" lanjutnya dengan nada malu, "Tau lah, cuma kamu orang yang memiliki suara sopan saat meneleponku" jelasku dengan menggodanya. "Masa sih?" tanyanya penasaran yang membuatku senang karena berarti Giri tersanjung dengar kata kata barusan. "Ada apa?' tanyaku mencoba menghentikan sikap jail ku, "Lagi apa?' tanyanya balik yang kali ini benar benar membuat sifat jail ku tidak dapat dihentikan, "Lagi mikirin laki laki lucu yang baru pernah aku lihat seumur hidupku" jawabku dengan nada manja sambil menahan ketawa dalam hati, tiba tiba "trut trut" suara telepon masuk, "Gembul" batinku membaca nama penelepon dilayar, "Gir, ada telepon masuk. Aku hubungi kamu nanti ya, bye" ucapku sebelum memutuskan telepon Giri. "Hi" sapaku ke Indra di telepon, "Lagi apa Non?" tanyanya pelan, "Lagi beresin kamar, kamu lagi apa?' jawabku dengan bertanya balik, "Aku dirumah Taehin" jawab Indra, "Ngapain?" tanyaku cemas, apa yang sedang mereka berdua rencanakan. "Main aja" jawabnya santai, "Kamu daftar kuliah dimana?" tanyanya lagi mengalihkan kecemasanku, "Entahlah" jawabku pelan karena mendadak baru teringat soal kuliah.

__ADS_1


Cukup lama Indra menelepon, membicarakan ini dan itu yang sebenarnya sejak pembicaraan kuliah tadi pikiranku mendadak tidak fokus. "Apa aku harus kuliah?' tanyaku pelan, "Put Put" teriak Mama dari lantai satu, spontan aku bergegas menghampiri dan ternyata dari kamar Papa, "Ma" balasku saat masuk kamar, kaget bahagia hingga membuat air mata mendadak mengalir, melihat Papa duduk di tempat tidur, melihatku dan tersenyum sambil mengulurkan tangan memintaku menghampirinya. Reflek aku berlari memeluknya, "Papa" isak bahagiaku, akhirnya aku bisa memeluk Papa lagi. Suasanya di kamar itu menghilangkan pikiranku tentang ingatan soal sifat Mama, laki laki pemalu dan pembicaraan kuliah dengan Indra. "Hidupku adalah semua tentang aku" batinku mengingatkan, saat ini hidupku adalah Papa, karena kebahagiaanku adalah Papa.

__ADS_1


__ADS_2