Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Sekuat Apapun Usaha Tidak Akan Mengubah Hasilnya


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu?" tanya Indra saat kami melihat sebuah rumah, "Pasti mahal harganya" jawabku lemas, rumah yang ditawari Indra berada di pemukiman elit kota ini, meski kecil rumahnya. "Ini yang paling dekat dengan rumahku" ucap Indra mengutarakan tujuannya meminta ku tinggal dirumah ini, "Kondisi Papa belum berubah, dan kamu juga belum sepenuhnya pulih" lanjutnya, "Jika ada apa apa aku bisa cepat bergerak" jelasnya. "Tapi Mbul?" tanyaku yang belum selesai dipatahkan Indra "Biaya?" jawabnya tegas, "Aku akan bantu semaksimal ku Non" lanjutnya, "Kamu harus fokus dengan ujian akhir mu" pintanya, "Jadi biarkan aku yang mengurus semuanya" lanjutnya meminta agar aku setuju. "Aku mencintaimu" ucapnya dengan serius, "Aku bukan Putri yang dulu, yang bisa membuatmu bangga" balasku pelan, "Serendah itu kamu menilai ku?" tanyanya, "Aku menyukaimu sejak pertama bertemu, sebelum kamu kenal dengan Pongky" ucapnya, "Aku mulai mencintaimu sejak kamu bersikeras menolak ku menjadi pengganti Pongky" lanjutnya, "Yang membuktikan jika akhirnya kamu membuka mata dan hatimu untuk melihat ku, itu pertanda aku bukan pelarian mu agar melupakan Pongky, tapi karena kamu sudah benar benar melihatku dengan mata dan hatimu" jelasnya yang sedikit membuatku bingung. "Jadi tidak ada hubungannya perasaanku dengan keadaan mu sekarang" tegasnya meyakinkan jika pemikiran ku salah.

__ADS_1


"Aku akan berkunjung ke rumahmu tiap weekend" ucap Yanti saat menemaniku keluar aula asrama setelah selesai mengurus surat pindah sekolah, "Rumahku kecil Yan" balasku sambil bercanda, "Peduli apa aku dengan ukuran rumahmu" ucapnya ketus dengan nada kesal, "Maaf" balasku sambil memeluknya untuk pamit. "Besok kita pindahan ya" ucap Indra diperjalanan menuju rumah dari asrama, Indra benar benar menemani dan membantu melancarkan rencana ku sesuai janjinya. "Iya, dua hari lagi aku akan bawa Papa pulang" balasku datar. "Ini rumah kita sekarang Pa" ucapku sambil memegang tangan Papa setelah dipindahkan dari ranjang ambulance yang membawanya pulang ke tempat tidur dalam kamar rumah barunya. "Permisi" panggil seseorang dari luar pintu ruang tamu, "Ari" ucapku saat membuka pintu, "Putri" balas Ari, kakak ke dua Indra yang juga atlet senior basket tim ku. "Masuk" pintaku mempersilahkan ke dalam ruang tamu, "Gak usah, aku gak lama" balasnya ketus, "Aku tau kondisimu sedang tidak beruntung, tapi tolong jangan menyusahkan adik ku" ucap Ari yang buat ku kaget, "Tanpa kondisimu sekarang, hubunganmu dengan Indra tidak boleh terjadi" lanjut Ari tanpa basa basi, mendadak kakiku lemas. "Kalian berdua tidak akan bisa bersama, paham kan?" jelas Ari menegaskan perbedaan dasar aku dan Indra. "Ari" panggil Indra dari luar pagar, "Masuk Non" pinta Indra agar aku masuk dan meninggalkannya berdua dengan Ari, kakiku yang lemas tak berdaya untuk beranjak. "Masuk" pinta Indra dengan tegas, "Udah gila ya" ucap Ari ke Indra, "Mau bikin Mami mati" lanjutnya dengan nada kesal dan kakiku semakin lemas mendengar kata kata Ari yang perlahan membuatku terduduk di depan pintu. "Non" teriak Indra melihatku, "Aku mohon Ar" pinta Indra memelas ke kakaknya untuk meninggalkan kami sambil membantuku berdiri lagi. Tanpa pamit, Ari pergi meninggalkan rumahku.

__ADS_1


"Kamu baik baik aja Non" ucap Indra cemas setelah membawaku masuk kedalam rumah dan menduduki sofa diruang tamu. Aku yang masih kaget dengan kejadian tadi hanya terdiam dengan tatapan kosong, "Mau bikin Mami mati" teringat kata kata Ari mengancam Indra. "Pulang lah Mbul" pintaku pelan, "Non" balas Indra, "Aku ingin istirahat" lanjutku dengan sopan. "Hei" sapanya sambil berlutut di hadapanku, "Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan" tebaknya melihat sikapku yang mendadak dingin, "Aku gak perduli Non" tegasnya, "Bertahun tahun aku mengalah dengan keadaan untuk berada di sisimu, sekarang aku gak akan menyerah setelah berhasil menggenggam tanganmu dengan bebas hanya karena ini" jelasnya yakin. "Aku lelah" balasku mengalihkan pembicaraan dan memintanya segera keluar dari rumahku.

__ADS_1


"Tin" suara klakson dari luar rumah, "Mba, sudah dijemput" panggil pak Edi yang baru datang, gantian untuk menemani dan membersihkan Papa saat aku sekolah. Pak Edi sekarang pulang pergi kerumah ku dari rumahnya yang berjarak 30 menit perjalanan dengan motor, "Bilang saja Putri sudah jalan Pak" balasku sambil berbisik minta tolong untuk menyuruh Indra pergi. "Ada apa mba?" tanya pak Edi cemas melihatku menolak dijemput Indra, "Ribut ya?" lanjutnya penasaran, "Enggak pak, hanya ingin jalan kaki ke sekolah" jawabku dengan senyum lebar, menutupi alasan sebenarnya dari Pak Edi. "Hitung hitung olahraga" ucapku pelan saat berjalan menuju sekolah, "Put" sapa Taehin yang menjalankan mobilnya mendadak pelan saat melihatku jalan kaki sendiri di trotoar, "Hi" balasku, seketika raut wajah Taehin berubah cemas. "Naik Put" pinta Taehin, "Makasih, udah dekat kok" tolak ku halus, "Ayo cepat, keburu Indra lewat" paksa Taehin dengan sedikit mengancam. Aku yang memang sedang menghindari Indra, jadi ajakan Taehin mungkin jalan yang terbaik pagi ini.

__ADS_1


"Dari keluar rumah, aku berpapasan terus dengan Indra" lanjutnya, "Aku sudah tau, apa yang sedang kamu dan Indra alami" jelas Taehin dengan percaya diri, "Sok tau" ucapku reflek, saat mobil nya berhenti tepat didepan sekolah baruku. "Pulang jam berapa?" teriak Taehin dari dalam mobil bertanya ketika aku mulai berjalan menuju gerbang sekolah, kupalingkan wajahku menjawab dengan senyuman. Situasi sekolah baruku sudah tidak menarik untuk ku perhatikan, "Aku hanya beberapa bulan disini sampai kelulusan" batinku berusaha menerima apapun keadaannya, "Akhirnya selesai juga sekolah hari ini" ucapku pelan sambil membereskan buku dan bergegas jalan keluar kelas. "Ada yang ribut depan sekolah" ucap beberapa teman satu sekolah saat di parkiran motor yang menuju gerbang, "Indra itu?" lanjut mereka saling bertanya tak percaya. Reflek langkahku terhenti, "Indra? Dengan siapa?" batinku penasaran dan langsung berlari menuju gerbang. "Cukup" teriakku meminta Indra dan Taehin berhenti membuat malu dirinya sendiri, mendengar teriakku mereka menoleh ke arahku dengan wajah menahan kesal.

__ADS_1


__ADS_2