Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Kita Nikmati Saja Sampai Saat Itu Tiba


__ADS_3

"Kenapa jadi begini" ucap Mama lirih saat melihat Papa tak berdaya sambil menangis, aku yang melihat reaksi Mama mendadak bingung "Kenapa mereka berpisah?" tanyaku penasaran. "Jadi hanya tinggal rumah ini yang tersisa?" tanya Mama serius, "Pabrik Papa disita Bank" jawabku pelan. "Oke, Mama paham" balas Mama sambil membelai rambutku, "Kamu gak usah mikir apa apa, ada Mama sekarang" lanjut Mama, "Persiapkan saja ujian akhir mu" jelas Mama meminta agar aku konsentrasi sekolah, "Jika sampai akhir kamu ujian Papa belum sadar juga, terpaksa kita pindah ke Jakarta" ucap Mama lagi yang spontan membuatku kaget. "Kamu kuliah di Jakarta" lanjut Mama, mendadak aku teringat Indra, "Mungkin ini jalan yang terbaik" batinku menenangkan diri. "Kenalin Ma, ini Indra" ucapku ke Mama saat Indra ke rumah, "Ini yang namanya Indra?" balas Mama, "Makasih ya sudah bantu Putri disaat sulit" lanjut Mama berbicara dengan Indra diruang tamu. Indra yang merasa tersanjung dengan perlakuan baik Mama mulai salah tingkah, "Mama mu baik" ucap Indra saat Mama masuk kamar Papa, "Ya" jawabku singkat. "Ada masalah Non?" tanya Indra yang mendadak cemas dengan respon singkat ku, "Gak ada apa apa" jawabku dengan tersenyum untuk menghilangkan kecemasan Indra.


"Jadi kita gak akan kuliah bareng dong?" keluh Yanti di telepon saat ku ceritakan rencana Mama, "Mau gimana lagi, Mama kan kerja di Jakarta" balasku lemas, "Indra tau?" tanya Yanti cemas, "Belum" jawabku pelan, "Wah, gimana itu jadinya" balas Yanti lemas, "Entahlah, mungkin udah jalannya seperti ini" jelasku pasrah. "Halo" sapaku ke Andre ditelepon, "Mamamu sudah pulang ya?" tanyanya dengan nada senang, "Iya" jawabku senang, "Tau dari Yanti ya?" tanyaku balik, "Iya, mata dan telingaku" jawab Andre malu, "Serius kamu mau pindah ke Jakarta?" tanyanya lagi dengan nada serius, "Iya" jawabku lemas, "Aku juga akan kuliah di Jakarta" balas Andre semangat, "Apa?' tanyaku kaget, "Tadinya aku ragu, tapi pas dengar kamu akan pindah ke Jakarta, mungkin ini jawaban untukku menentukan pilihan" jelasnya antusias. "Andre menganggap kepindahan ku nanti jawaban atas pilihan masa depannya, sedangkan aku dan Indra?" tanyaku sendiri dalam hati dengan lirih.

__ADS_1


"Kamu dimana?" tanya Mama serius saat aku sedang keluar makan dengan Indra, "Ada apa Ma?" tanyaku balik, cemas terbesit Papa. "Pa" panggilku ke Papa yang sudah membuka mata, "Papa" ucapku senang sambil memeluknya. Indra dan Mama yang melihat ku berpelukkan dengan Papa, meninggalkan kami berdua di kamar. "Tante sudah dengar semua dari pak Edi" ucap Mama ke Indra yang samar terdengar dari pintu kamar Papa dan menghentikan langkahku untuk keluar kamar, "Jangan salahkan Putri tante, Indra yang minta Putri untuk bertahan" balas Indra serius, "Masalah kalian bukan masalah biasa, di usia kalian sekarang tante sangat menyanyang kannya" lanjut Mama, "Hmm" sapaku mengalihkan pembicaraan mereka saat keluar kamar Papa. "Put" balas Mama kaget, "Non" ucap Indra kaget juga, "Papa tidur" jelasku sambil tersenyum. "Mau jalan satu putaran?" tanya Indra mengajakku jalan mengitari perumahan sambil cari udara, kebiasaan ku dan Indra jika sedang suntuk.


"Akhirnya kamu bisa kumpul satu rumah lagi ma Mama Papa" ucap Indra dengan senyum lebar sambil berjalan pelan dengan memegang tanganku, "iya juga ya" balasku dengan tertawa kecil. "Awal yang baik" lanjut Indra dengan nada yakin dan menghentikan langkahku, "Mbul" panggilku dengan nada serius, disadari Indra jika ada hal penting yang akan kusampaikan. "Kita bicarakan lain hari bisa?" pintanya, "Malam ini kita bicarakan hal yang ringan ringan aja, boleh?" pintanya lagi dengan nada memohon. "Ya, kita bicarakan lain hari" balasku sambil memindahkan pegangan di tangan menjadi ke lengan, lalu menatapnya dengan tersenyum dan memulai perjalanan lagi.

__ADS_1


"Ada waktu?" pintaku ke Indra ditelepon, "Kamu dimana?" tanyanya balik, "Dirumah" jawabku cepat, "Aku jemput sekarang" balasnya sambil memutuskan sambungan telepon. "Mau kemana kita?" tanyanya saat aku masuk ke dalam mobil, "Keliling kota" jawabku sambil senyum kecil, "Oke" balasnya sambil tertawa. Sepanjang jalan tanganku terus di genggamnya, sesekali mataku melirik ke wajahnya, "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" batinku lirih membayangkan kalimat yang akan kuutarakan saat ini. "Nilaimu sudah ditransfer Mbul?" tanyaku saat duduk di warung roti bakar pinggir jalan, "Sudah" jawabnya sambil menulis pesanan makanan dan minuman kami. "Kenapa?" tanyanya setelah kembali ke bangku kami dari mengantar kertas pesanan ke kasir, "Kamu mau pindah ke Jakarta kan?" tanyanya lagi yang membuatku kaget, "Dari mana kamu tau?" tanyaku curiga, "Apa Mama sudah ceritakan rencananya ke Indra?" tanyaku dalam hati. "Dari mana itu gak penting, yang penting aku akan terus dukung kamu dimanapun kamu berada" jawabnya yang benar benar tidak bisa kupercaya, "Kita pernah terpisah beda benua Non, apa artinya terpisah beda propinsi" ucapnya sombong mengisyaratkan jika jarak bukan hal yang dapat memisahkan kami. Mendengar kata kata nya yang sangat percaya diri, "Cemas ku tak beralasan" ucapku dalam hati lega. "Jadi kita nikmati saja waktu kita sampai saat itu tiba" pintanya dengan memainkan tanganku di wajahnya, kubalas dengan senyum lebar.


"Mas, dipanggil Papi sekarang" sapa seseorang dari arah belakang tempat kami duduk, mendengar suara itu reflek membuat kami menoleh kebelakang. "Nanti saya pulang" jawab Indra datar, "Sekarang Mas" balas orang itu sambil memegang bahu Indra. Aku yang kaget karena sapanya jadi tambah bingung dengan sikap orang itu yang memaksa Indra ikut dengannya. "Saya habiskan dulu makanannya" lanjut Indra dengan nada sedikit kesal, "Sekarang Mas" jelas orang itu yang langsung memanggil teman temannya. "Kamu diam diam disini, Taehin akan jemput kamu" ucap Indra sambil berdiri dan melepaskan pegangan tangannya ke tanganku, lalu berjalan keluar tenda. "Ada apa ini?" tanyaku cemas.

__ADS_1


__ADS_2