Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Bukan Salah Kita


__ADS_3

"Put" panggil Giri memecahkan lamunanku, "Ya" balasku cepat karena kaget. "Berhenti" pinta Giri sambil memegang tanganku, "Kenapa?" tanyaku bingung, "Berhentilah jika kamu lelah, jika kamu sedih, jika kamu kecewa. Berhentilah" ucapnya yang membuat ku tambah bingung, "Aku tidak tau apa masalahmu saat ini, tapi bisakah kamu biarkan aku melihatmu apa adanya? Melihatmu berhenti menutupi semua perasaan mu dengan senyuman" lanjutnya, "Sebelum bertemu dengan mu, aku pernah menjadi kamu saat ini. Dan itu tidak menyenangkan jika aku bandingkan dengan aku yang sekarang" jelasnya, "Aku yang sekarang tidak akan menyembunyikan semua perasaan dengan senyuman, tapi akan aku ungkapkan sesuai rasanya. Itu lebih manusiawi" tegasnya sambil menatap mataku yang mulai berkaca kaca. "Hah" suara nafas beratku yang dari siang menahan semua pikiran dan perasaan yang tidak menyenangkan, "Aku hanya bisa melepas nya dengan suara tadi" ucapku menegaskan jika aku paham maksud kata katanya. "Bisa kita mulai berjalan lagi?" pintaku dengan nada menggoda dan dibalas Giri dengan merangkulku, "Ayo kita selesaikan perjalanan ini" balasnya riang.

__ADS_1


Sudah enam hampir enam bulan aku tidak mendapat kabar dari Indra, "Satu semester" ucapku pelan membandingkannya dengan masa kuliahku. Aku sekarang sudah jadi mahasiswi Universitas swasta ternama di Jakarta jurusan Ekonomi. "Bukan bidangku" batinku kesal jika mengingat betapa berjuangnya aku saat SMA untuk masuk kelas IPA demi mendaftar kuliah jurusan kedokteran. Hubunganku dengan Giri masih dalam tahap berteman baik, "Yang aku butuhkan saat ini teman, bukan pacar" motto ku seminggu setelah perpisahaan dengan Indra, jadi sebaik mungkin aku mengatur jarak dengan laki laki termasuk Andre yang sudah mulai sering menghubungi sejak tau nomor ponselku. Ujian akhir semester dimulai hari ini, "Put" teriak Mama dari lantai satu yang membuatku bergegas menghampirinya, "Papa" ucap Mama saat aku membuka pintu kamarnya, "Papa" balasku bingung melihat Mama menangis memeluk Papa, "Tidak" batinku lemas mengartikan sikap Mama, "Putri nyalakan mobil sekarang" lanjutku sambil bergegas mengambil kunci mobil dan menghidupkannya. "Bangun Don, bangun" teriak Mama dari dalam UGD yang bisa kudengar dengan jelas saat memasuki ruangan setelah selesai memarkir mobil. Tidak lama, suster keluar dan menghampiriku "Kami turut berduka cita" ucapnya yang spontan membuat kedua kaki lemas tak bertenaga untuk menopang badan dan membuatku jatuh bersimpuh, mataku mulai gelap, tiba tiba terdengar suara orang berteriak, "Ibunya pingsan" reflek aku teringat Mama dan benar, yang pingsan adalah Mama. Ku usahakan bangkit untuk bertahan, "Bukan saatnya aku jatuh" batinku meyakinkan diri sendiri, "Jika aku lemah, bagaimana dengan Mama" tekad ku dalam hati.

__ADS_1


Sudah 7 hari sejak pemakaman Papa, Mama masih tidak berdaya di tempat tidur. Aku yang sejak kepergian Papa sama sekali tidak bisa meneteskan air mata, mulai menjadi sosok yang tertutup. Bahkan ponsel ku pun tidak pernah kusentuh, "Baterai nya habis" ucapku pelan sambil memasangkan kabel charger ke ponsel dan menghidupkannya. "trut trut" suara chat masuk bertubi tubi, "Kamu dimana? Aku di kampusmu sekarang" chat Andre pagi ini, "Kamu dimana" chat terakhir Giri siang ini, yang tidak ku balas sejak kepergian Papa, "Membalas chat mereka tidak akan membuat Papa hidup lagi" ucapku egois dalam hati. "Putri ke kampus bentar ya Ma" pamitku pagi ini ke Mama yang masih didalam selimut sejak 3 hari yang lalu dan tidak dijawabnya. "tiin" suara klakson mobil yang mendadak berhenti didepan pagar rumah dan menghentikan mobilku keluar garasi, "Giri" ucapku pelan saat melihat dari spion yang ternyata mobil Giri. Dengan perasaan kesal, aku turun dari mobil. "Mau apa orang ini" batinku marah dengan sebab kecil yang dibuat Giri, "Apa apan ini" teriak ku kesal dan tanpa menjawab, Giri langsung menarikku masuk ke mobilnya. "Mau apa kamu?" tanyaku sambil meronta menolak masuk ke mobilnya, "Diam, jangan abaikan aku apapun alasannya" balasnya dengan nada yang lebih kesal dan marahnya seperti aku. Mobil mulai berjalan, aku masih diam terpaku karena kaget dengan bentakkan Giri tadi. Tidak lama mobil berhenti di depan rumah Giri, "Mau apa aku kesini?" tanyaku bingung, "Kamu mau kita saling teriak dipinggir jalan atau di dalam rumah" jawabnya, "Tapi" lanjutku memikirkan Mamanya Giri, "Mama lagi di Bandung sekarang" balasnya sambil membuka pintu mobil. Dibawanya aku ketaman belakang rumah, "Minum ini" pintannya saat  memberikan kaleng minuman dingin. Cukup lama kami saling terdiam, bingung memulai pembicaraan setelah tadi saling berteriak tanpa sebab. "Aku sudah tidak bisa bersabar lagi dengan kamu" ucap Giri memulai pembicaraan dengan nada tegas sambil mendekatkan bangkunya tepat dihadapanku, "Aku mau kamu jadi pacarku, jika kamu ijinkan aku ingin segera menikahimu" lanjutnya serius yang membuatku tersedak. "Put" cemas Giri melihatku batuk, "Aku mau pulang" lanjutku sambil berdiri bergegas pergi namun ditahan Giri dengan memelukku dari belakang. "Cukup Put, cukup kamu siksa dirimu sendiri" bisiknya meminta dengan sungguh sungguh, "Ijinkan aku menahan sebagian beban mu", "Ijinkan aku menjadi bagian dari suka duka mu, meski kamu belum menyukaiku apalagi mencintaiku seperti aku menyukai dan mencintaimu" lanjutnya tanpa ragu. Mendengar kata kata Giri, hatiku biasa saja, tidak ada perasaan bergetar atau tanda ketertarikan. Ku balikkan badan, menghadap Giri dengan sambil melepaskan kedua tangannya yang memelukku. "Maaf, saat ini aku hanya ingin sendiri", "Entah sampai kapan" ucapku tegas dengan nada pelan. "Kamu orang baik Gir, sempurna di mataku untuk menjadi pasangan. Tapi, aku ingin belajar mengungkapkan apa yang aku rasa tanpa senyuman" jelasku dengan mengutip kata kata Giri waktu itu. "Put" balasnya dengan nada iba, "Apa sikap ku tampak seperti orang yang menyedihkan dengan gengsi tinggi di matanya" batinku mengartikan reaksinya dengar penjelasan barusan. "Aku tidak akan mengulang kata kata ku dua kali" ucap Giri masih dengan nada sedikit kesal, "Ternyata bukan nada iba, tapi nada kesal" ucapku dalam hati menganalisa sekali lagi nada bicaranya, "Aku tidak akan mundur satu langkah, apapun alasanmu" jelasnya dengan tatapan tajam dan raut wajah serius, "Jadi, jangan abaikan aku" tegasnya namun dengan nada lembut. "Wah, aku tidak bisa menebak isi hati dan pikirannya" bingungku dalam hati dibuatnya. "Kamu tidak tau seperti apa perjalanan hidupku dan apa saja yang telah ku lalui hingga hari ini" balasku, kali ini aku akan menggunakan kata kata ku sendiri, bukan kutipan. "Itu tidak mudah" jelasku menegaskan jika saat ini kondisi fisik dan mentalku sudah sangat lelah untuk ditambah dengan masalah percintaan. "Bukan salahmu, bukan salahku dan bukan salah kita" balas Giri yang buat ku merinding, "Semua yang terjadi sudah di gariskan, dan yang belum terjadi harus diusahakan agar tidak ada penyesalan karena emosi sesaat" jelasnya yang menyiratkan bahwa dia tidak akan menyerah dengan pernyataan ku tadi. "Bukan salah kita" batinku mengulang kata kata nya, "Bisakah kita berusaha bersama? Hidupku juga tidak mudah, dan aku ingin mengusahakan melaluinya bersamamu" pintanya tulus, "Kita selesaikan perjalanan ini bersama" lanjutnya dengan harapan hatiku melunak. "Bisakah?" tanyaku ragu, "Bisa jika kamu mengijinkannya" jawab Giri yakin. "Aku tidak akan memaksamu menjawab sekarang, tapi.." jelasnya yang aku potong dengan "tidak akan kubiarkan kamu menggabaikanku" ucapku cepat yang akhirnya membuat kami berdua tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2