Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Pilihan Terakhir Dari Hidupku


__ADS_3

Akhirnya tiba waktunya kami pindahan, Papa dan Mama akan berangkat hari ini, lalu aku akan menyusul dua hari kemudian ditemani pak Edi. "Bapak akan ikut ke Jakarta?' tanyaku ke pak Edi setelah melepas Papa Mama berangkat ke Jakarta, "Iya, mau ngapain Bapak disini. Bapak lebih nyaman dengan ikut ke Jakarta" jawabnya tanpa beban, seolah itu adalah pilihan terbaik hidupnya. "Ayo keluar" ajak Taehin di telepon, memintaku keluar rumah. "Hi" sapanya saat aku membuka pintu pagar, "Ayo masuk" lanjutnya mempersilahkan ku naik mobilnya. "Mau kemana kita?" tanyaku saat mobil mulai berjalan meninggalkan komplek perumahan, "Besok kamu udah berangkat ke Jakarta, jadi mari kita keliling kota" jawabnya sambil tersenyum. Tiba disuatu tempat, seperti gudang tapi "Mobil Indra" ucapku pelan, "Ya, Indra nunggu kamu didalam" balas Taehin saat mendengar ucapanku. "Indra?" tanyaku bingung, "Dia memohon padaku untuk menjemput dan mengantarmu kesini" balas Taehin lemas, "Aku jemput dua jam lagi ya" ucap Taehin sambil menyuruhku masuk ke gudang itu. Aku yang masih bingung dan penasaran, mulai berjalan pelan menuju pintu gudang dan membukanya, "Hi Non" sapa Indra yang berdiri didepan meja dua bangku, dihias lengkap dengan hidangan dan lilin diatasnya. "Kenapa? Kamu gak nyangka kan?" tanyanya dengan membanggakan diri atas reaksiku yang terharu melihat pemandangan ini, "Iya, karena gak sesuai dengan tempatnya" jawabku ketus sambil tersenyum. "Ayo duduk" pintanya, "Kamu suka makanan ini kan?" tanyanya sambil menaruh makanan dipiringku, "Hmm" jawabku mengiyakan.

__ADS_1


"Ingat kata kataku ya Non" ucapnya disela sela pembicaraan mengenang bagaimana akhirnya kami bersama setelah semua kejadian yang menimpaku, ditambah waktu yang menurut kami cukup lama untuk dapat mempertahankan perasaan masing masing, "Iya" balasku cepat. "Mungkin kita sudah sama sama tau akhir dari hubungan ini, tapi tidak ada salahnya kita mencoba" lanjutnya, "Apa nanti tidak akan lebih sakit rasanya Mbul?" tanyaku pelan, membayangkan akhir yang menyesakkan dada namun dapat menghentikan air mata mengalir, "Ya, pasti lebih menyakitkan rasanya. Namun nanti tidak akan membuat kita menyesal, karena kita akan berdamai dengan keadaan dan waktu" jelasnya. "Sampai kapan Mbul?" tanyaku penasaran sampai kapan kami akan seperti ini, "Sampai waktunya" jawabnya dengan nada putus asa karena seperti menunggu bom waktu yang meledak. "Jangan pikirkan soal itu, pikirkan saja bagaimana kita habisi waktu kita untuk tetap bersama sampai saatnya tiba" jelasnya lirih. "Mbul" ucapku antara terharu dan cemas memikirkan rencana anehnya nanti.

__ADS_1


"Ayo" ajaknya dengan mengulurkan tangan untuk ku gengam, "Aku punya kejutan lagi buat kamu" ucapnya antusias sambil menggandengku keluar gudang, "Wah" ucapku kaget melihat tempat duduk yang ada ditengah taman gudang, dihiasi lampu kerlap kerlip di pinggirannya, "Kita duduk disitu, mau?" tanya Indra memintaku menemaninya duduk di bangku itu, "Ayo" jawabku sambil menariknya. "Non" sapa Indra yang membuatku menoleh ke arahnya saat sedang melihat bintang di langit, "Apa ini?" tanyaku kaget melihat tangannya memegang benda kecil yang perlahan di sematkan ke jari kelingking tangan kanan. "Aku akan ikat kelingking kamu, sebagai tanda jika kelak kita berpisah, ingatlah aku ditiap pilihan terakhir hidupmu" ucapnya tenang, "Mungkin kelak aku tidak akan pernah menjadi prioritas mu, dan mungkin kamu juga tidak akan menjadi tujuan utamaku. Tapi aku harap kamu ingat, jika aku akan selalu siap menjadi pilihan terakhir dari hidupmu begitu juga sebaliknya" jelasnya dengan nada lirih dan terbata bata. "Maafkan aku Non" pintanya tulus, "Aku membuat kamu harus mengalami situasi ini" lanjutnya menyesal telah berjuang mendapatkan hati dan pengakuanku yang akhirnya harus dicampakkan. "Ini bukan salah kita Mbul dan aku tidak menyesal karena harus mengalaminya" balasku dengan bijak mencoba meringankan rasa bersalah Indra dan menetralkan kembali suasana terakhir kami dikota ini.

__ADS_1


Tiba saat aku meninggalkan kota ini, berat rasanya terlebih setelah apa yang pernah ku alami. Banyak kejadian yang tanpa disadari membentuk karakter dan pola berpikirku dalam menghadapi kendala masa masa remaja, karakter seorang anak tunggal pengusaha sukses dan ternama perlahan memudar berubah menjadi karakter anak tunggal yang harus berjuang sendiri untuk masa depan dengan kemampuan apa adanya agar nanti dapat menjadi seseorang yang dapat dibanggakan. Pola pikir "Ada Papa, ada Mama" ikut berubah menjadi "Aku harus bisa demi Papa Mama". Tidak buruk perubahan yang aku alami sekarang, bahkan aku bersyukur dapat mengalami proses itu yang mungkin sedikit lebih cepat dari seharusnya, "Hidupku adalah semua tentang aku, entah baik atau buruk. Jadi aku harus benar banar berpikir sebelum menentukan arah jalan mana yang akan ditempuh" batinku menyemangati diri sendiri. Masa lalu yang menyedihkan tidak selamanya terasa menyedihkan, masa lalu yang indah tidak selamanya menyenangkan. "Ya, aku tidak bisa menyalahkan waktu dan keadaan atas apa yang akan aku alami kedepannya. Tapi aku harus bisa membuat keadaan sekarang akan baik baik saja kedepannya" lanjutku meyakinkan diri untuk tidak berkecil hati menjalani kehidupan sesulit apapun nantinya.

__ADS_1


"Selamat tinggal Pongky, jika ada umur aku akan mengunjungi mu lagi" ucapku pelan saat berpamitan ke makam Pongky sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta, "Mba, kita berangkat sekarang" pinta pak Edi yang menemaniku, "Ayo Pak, kita lanjutkan perjalanan" balasku semangat. Kami pun melanjutkan perjalanan, melewati tengah kota menuju perbatasan. Tiba tiba, "Ada apa Pak" tanyaku kaget ke supir saat mendadak mobil berhenti, "Nak Indra mba" jawab pak Edi yang duduk disamping supir. Spontan aku buka pintu mobil dan keluar, "Mbul" sapaku melihat Indra keluar dari mobilnya yang menghadang kami, yang tanpa membalas sapa langsung memelukku. "Non" ucapnya lirih, "Janji kamu akan diam ditempat mu sampai aku datang?" pinta nya cemas, "Iya Mbul" jawabku cepat untuk meredakan kecemasannya yang terlihat jelas. "Kenapa Mbul?" tanyaku yang mulai ikut cemas, "Aku akan berjuang, kamu cukup jaga tempatku di sisimu sampai akhir" jawabnya yang tambah membuatku cemas. "Mbul" sapaku yang bingung melihat sikapnya, "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu" balasnya lirih, "Aku berusaha tegar mengahadapi hari ini, tapi tidak bisa. Aku bisa gila" lanjutnya dengan nada yang jujur baru kali ini aku dengar, nada kecemasan, ketakutan dan kebingungan. "Mbul" ucapku tenang sambil memperlihatkan cincin di jari kelingking, "Pilihan terakhir dari hidupku" lanjutku mengulang kata katanya semalam. "Apa pun yang terjadi, kelak aku dan kamu akan menjadi pilihan terakhir dari hidup kita masing masing" jelasku meyakinkan Indra jika memang kenyataan pahit yang sudah diperkirakan terjadi tidak perlu di takuti lagi.

__ADS_1


__ADS_2