Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Waktu Tidak Bisa Dilawan, Tapi Bisa Dimanfaatkan Mengubah Keadaan


__ADS_3

"Put" teriak Taehin dengan nada cemas saat melihatku duduk di bangku trotoar arah kerumah, "Kenapa kamu gak nunggu aku" ucapnya khawatir, "Aku gak mau menyusahkan kamu" jawabku datar, dengan nafas tersengal sengal Taehin duduk disampingku. "Kamu baik baik aja" tanya nya setelah berhasil mengatur nafas, "Ya, aku baik baik aja" jawabku masih datar dengan tatapan mata kosong. "Ini baru awalnya, entah tekanan apa lagi yang akan Indra terima setelah ini" ucap Taehin yakin seolah sudah pernah mengalami situasi ini, "Aku pernah di posisi Indra dan aku memilih menyerah sebelum berusaha." lanjut Taehin, "Karena awalan nya terlalu menyakitkan" jelasnya yang mendadak mengingatkanku akan kepindahan mendadak Taehin ke luar negeri 3 tahun lalu, kurang lebih 2 tahun dia hidup di luar negeri. "Apa itu awalan dari kisahnya?" batinku penasaran. "Saat ini kamu niat akan bilang kuat, tapi waktu lebih kuat dari sekedar niat" tegasnya mencoba menyadarkanku, "Saat kamu terpaksa menyerah, aku akan ada disampingmu. Tapi jika kamu menyerah aku akan berjalan menghampirimu" ucapnya saat berdiri dari bangku, isyarat memintaku mulai berjalan menuju rumah.

__ADS_1


"Sudah pulang" sapa Mama dari ruang tv saat aku masuk ke ruang tamu, "Iya" balasku pelan sambil berjalan menuju kamar. "Put, boleh Mama masuk" pinta Mama dari depan pintu kamarku, "Ya" jawabku yang dari masuk kamar langsung duduk di depan jendela. "Kamu baik baik saja?" tanya Mama penasaran, mungkin karena expresi dan nada bicaraku yang kentara sedang menyembunyikan sesuatu, "Ya" jawabku dengan tersenyum kecil. "Kamu tidak bisa samakan semua orang memiliki pemikiran sama seperti Mama, apalagi pemikiranmu", "Itu kenapa Mama tidak memaksa kamu untuk menyerah, dalam hal apapun. Karena Mama ingin kamu mengerti sendiri, jika semua yang kita harapkan tidak sepenuhnya berhasil sesuai pemikiran" ucap Mama mengawali pembicaraan yang menyentuh hati dan logikaku. "Sakit, kecewa dan tidak jarang merasa sebagai pecundang", "Tapi bukan berarti rasa itu mutlak karena kesalahan kita, melainkan situasi dan kondisi awal yang kita paksakan sesuai pemikiran" lanjut Mama yang dapat aku simpulkan jika aku memaksakan keadaan untuk menyerah dan bukan memaksakan perasaan ku. "Kata kata Mama barusan hampir sama dengan kata kata Taehin tadi" batinku menyadari apa yang aku rasakan dan alami sekarang pernah dirasakan dan dialami Mama juga Taehin.

__ADS_1


Sudah hampir satu bulan aku tidak mendengar kabar dari Indra, dia seperti hilang ditelan bumi. "inikah perasaan kehilangan dan merindukan seseorang yang masih ada harapan untuk bertemu lagi" batinku lirih membandingkan perasaan yang sama saat kehilangan Pongky, "Lebih berat" ucapku terbata bata. "Mau kemana?" tanya Mama dari dapur saat melihatku rapi berpakaian olah raga, "Mau lari bentar, keliling komplek" jawabku sambil berlalu meninggalkan Mama. Hanya berlari yang bisa kulakukan saat merasakan rasa ini, "Serius? Ditangkap karena berkelahi" ucap samar seseorang yang sedang berkumpul saat aku melintas, "Anaknya yang punya gudang itu" jawab seseorang menjelaskan. Seketika ku hentikan langkahku, "Apa itu Indra?" tanyaku cemas dalam hati. Jarak 50 meter dari rumah, aku melihat ada mobil sedan mewah parkir didepannya. "Itu Putri" ucap Mama pada seorang laki laki yang berusia kira kira 5 tahun lebih muda darinya, "Siapa ya?" tanyaku sopan, "Saya Omnya Indra dari Jakarta, bisa kita bicara sebentar?" jawabnya yang langsung meminta waktuku. "Indra ditahan" ucapnya yang spontan membuatku membenarkan apa yang ku pikirkan saat mendengar percakapan sekumpulan orang tadi. "Kenapa?" tanya Mama kaget yang mendengar dari dapur menyiapkan minuman saat sampai ruang tamu, "Pastinya karena apa, saya juga belum tau", "Karena Indra menolak dibebaskan apalagi dikunjungi" jawab Om nya, "Untuk itu saya secara pribadi mau minta tolong Putri untuk mengunjungi dan membujuknya" lanjut Om nya. "Put" sapa Mama memecahkan lamunanku yang terdiam sejak Om nya bicara soal penahanan Indra, "Ini bukan urusanmu, apalagi masalahmu. Jadi kamu berhak untuk tidak ikut campur, tapi bukan berarti kamu tidak bisa meringankan beban pikiran dan perasaan Indra. Sama seperti saat Indra meringankan beban pikiran dan perasaanmu setelah kecelakaan" lanjut Mama dengan bijak.

__ADS_1


"Serius?" tanya Taehin takjub mendengarku cerita soal Indra, "Wah, akal anak ini banyak juga" lanjut Taehin sambil tertawa, "Aku akan ada disampingmu, seperti kata kataku jika kamu bertahan" jelas Taehin serius. Hari ini terakhir ujian, "Apa aku kunjungi dia ya?" tanyaku pelan saat berjalan keluar gerbang sekolah, "Put" panggil Taehin dengan ekspresi cemas, "Indra sudah keluar" ucapnya dengan tersengal sengal karena berlari menghampiriku. "Indra titip ini buatmu" lanjut Taehin sambil memberikan sepotong kertas, "Aku tunggu di Jakarta, tetap bersamaku sampai akhir ya Non" tulisannya yang membuatku meneteskan air mata dan kehilangan keseimbangan, "Put" ucap Taehin saat menahanku jatuh, "Kamu harus kuat, Indra sudah nekad" jelas Taehin memintaku bertahan. "Minum dulu" pinta Taehin saat memberikan ku minum di rumahnya, "Sudah aku siapkan keperluan Indra di Jakarta, tapi aku gak tau kapan dia akan berangkat" ucapnya yang membuatku bingung. "Kamu kapan pindah ke Jakarta?" tanya Taehin serius, "Secepatnya, Mama sedang urus kepindahan Papa dulu" jawabku datar. "Kekuatan waktu memang tidak bisa dilawan, tapi bisa dimanfaatkan untuk mengubah keadaan dengan niat" ucap Taehin mematahkan anggapannya sendiri, "Andai aku punya pemikiran dan niat senekad Indra saat itu" lanjutnya menyesal dengan apa yang pernah terjadi. "Apa akhirnya kisah kami akan berbeda denganmu?" tanyaku cemas ke Taehin dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2