
"Sebentar aku ambilkan payung dibagasi" ucap Indra setelah menghentikan mobil di parkiran asrama, hujan belum berhenti juga meski sudah agak reda. "Gak usah, aku lari aja. Udah deket kok" balasku menolak tawaran Indra, "Nanti kamu sakit kena hujan" cemasnya yang membuatku tidak nyaman. Aku ingin Indra bersikap apa adanya, suka bilang suka, marah bilang marah dan jangan selalu mengkhawatirkanku akan terluka, "Bisakah kamu merubah sikap baik mu padaku?" tanyaku mendadak yang buat Indra kaget, "Aku gak nyaman dengan perlakuanmu seperti ini, seperti membuat jarak untukku menghampirimu" lanjutku yang membuat Indra tambah kaget. "Non" ucapnya, "Aku ingin keluar dari dilema ini, tapi dengan sikap over protekmu, aku ragu" jelasku. Tidak berapa lama kemudian tanpa pamit, aku langsung keluar dari mobil berlari menuju pintu masuk asrama. "Tin" suara klakson mobil Indra kode pamit membuatku menoleh, namun pandanganku tidak tertuju ke mobil Indra, melainkan ke arah bangku taman di sekitar parkiran. "Andre" ucapku pelan, Andre berdiri melihat ke arahku dan masih menggunakan seragam basketnya yang basah karena hujan.
__ADS_1
"Kamu benar benar gila" teriakku saat mendekat menghampirinya, tanpa banyak tanya langsung kutarik Andre berteduh dipinggiran gedung asrama. Aku ambil sapu tangan dari tas untuk mengeringkan wajahnya, lalu mendadak Andre memelukku. "Aku menyukaimu" bisiknya, sesaat aku termenung. "Ayo" ajakku keluar gerbang asrama menghentikan taxi, "Mau kemana kita?" tanya Andre bingung, "Kita cari kopi panas" jawabku tersenyum. Andre tidak berhenti memandang tanganku yang masih menggenggam tangannya, "Maaf" ucapku menyadari arah tatapannya, "Jangan dilepas" pintanya saat aku mulai melepaskan pegangan tangan, "Baru kali ini ada orang yang memegang tanganku duluan" lanjutnya, lalu mencium tanganku dan meletakkan di dadanya. "Kamu mau apa?" tanyaku saat sampai di warung tenda roti bakar, "Apa yang kamu pesan, akan aku makan" jawabnya sambil tersenyum tipis. "Kamu dari mana? Dan apa hubunganmu dengan Indra?" tanyanya curiga yang membuatku tertawa kecil "Jangan sampai orang orang disini kira kita pasangan yang sedang ribut karena cemburu" ucapku menggoda mengulang kata katanya waktu itu. "Aku memang cemburu, tapi aku gak bisa ribut ma kamu karena itu" balasnya serius dan membuatku salah tingkah. Melihat ku canggung, Andre langsung pindah tempat duduk yang tadinya berhadapan, sekarang jadi berdampingan.
__ADS_1
"Banyak hal yang kamu tidak ketahui tentang aku, dan hal itu sudah kututup rapat. Bukan untuk dilupakan, tapi kujadikan bagian perjalan hidupku" ucapku mulai menjelaskan, "Lalu apa hubungannya dengan Indra?" tanyanya fokus, "Indra bagian kenangan itu?" lanjutnya dengan nada yang jujur tidak aku suka. "Bukan, Indra bukan bagian kenangan itu, melainkan orang yang berusaha masuk menawarkan diri menjadi bagian dari kenangan masa laluku" jawabku tegas dengan nada agak sedikit kesal. Andre terlihat bingung mendengar jawaban ku, "Aku hargai perasaanmu padaku, akupun merasakan hal yang sama mungkin tidak sebesar perasaanmu. Tapi kamu laki laki pertama selama hampir tiga tahun ini yang bisa membuat aku tersenyum lagi" jelasku mencoba memberi pengertian ke Andre, "Saat ini aku hanya bisa menawarkan pertemanan yang tulus tanpa syarat", "Karena kondisiku sekarang bukan Putri yang sebenarnya, aku gak mau kamu kecewa setelah melihat Putri yang sebenarnya" akhir penjelasanku.
__ADS_1
"Serius kamu gak mau ikut aku pulang?" tanya Yanti menawarkan akhir pekan ini untuk ikut dia pulang kerumahnya, "Gak, aku disini aja" jawabku dengan tersenyum meredakan kecemasan Yanti meninggalkanku sendiri di asrama, "Happy weekend" ucapku saat mengantar Yanti ke aula menemui orang tua yang menjemputnya. "Hah, sepi sekali weekend ini" ucapku pelan sambil berjalan menyusuri taman di sekitar asrama. "Put" panggil Yudi dari depan pagar, "Hei" balasku sambil berjalan menghampiri, "Gak pulang?" tanya Yudi dari luar gerbang yang ku balas dengan menggelengkan kepala. "Mau kemana?" tanyaku lanjut memulai perbincangan, "Mau liat Andre balapan di ring road" jawabnya santai yang spontan membuat jantungku berdetak kencang, "Apa? Balapan?" balasku kaget yang tanpa pikir panjang meminta Yudi untuk mengajakku juga. "Dimana dia?" tanyaku ke Yudi, "Itu" jawab Yudi sambil menunjuk mobil sedan drag race warna hijau lumut, tanpa berkata lagi aku langsung berlari menuju mobil itu di parkir. Kulihat tidak ada Andre di dalamnya, "Kemana dia?" tanyaku sendiri dengan cemas, "Put" panggil Andre dari arah belakangku, ku balikkan badanku dan langsung mendekatinya. "Kamu jahat" teriakku sambil memukul dadanya, reflek Andre kaget dengan reaksiku langsung memeluk erat. "Tenang Put, tenang" bisik nya meminta aku berhenti menangis karena semua orang memperhatikan kami. "Hei" panggilnya tegas sambil memegang bahu mencoba menyadarkan ku, "Ini aku, bukan Pongky" ucapnya yang membuatku kaget dan mendadak badanku gemetar, "Put" teriak Andre melihatku perlahan menutup mata tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Giman dok?" samar kudengar suara Andre, "Secara fisik baik baik saja, tapi psikisnya yang bermasalah" jawab dokter yang sedang bicara dengan Andre, "Apa dia ada trouma berat?" tanya dokter yang tidak bisa dijawab Andre. "Hmm" suara nafasku saat membuka mata, "Hei" sapa Andre, "Aku dimana?" tanyaku, "Dirumah ku" jawab Andre cepat. "Minum dulu" pintanya sambil memberikan ku segelas air yang sudah disiapkan di meja pinggir tempat tidur. "Ini rumahmu?" tanyaku saat melihat lihat rumah Andre yang besar tapi sepi. "Ya" jawabnya sambil memotong buah di meja ruang tv. "Kamu tinggal sendirian disini?" lanjutku bertanya, "Ya" jawabnya pelan, "Orang tua dan saudaramu" lanjutku ingin tau. "Makan dulu buahnya" pintanya agar aku berhenti menyelidiki, "Maaf" balasku menyadari keingintahuanku. "Aku anak tunggal, sama sepertimu. Orang tuaku sibuk, sama sepertimu. Itu kenapa aku memilih sekolah asrama, mungkin sama denganmu" jelasnya detail. "Maafin aku ya" ucapnya pelan sambil memegang tanganku, "Aku baru tau tentang kisah mu" lanjutnya dengan menundukkan kepala, "Apa hubunganmu?" tanyaku sambil menegakkan kepalanya untuk menatap kedepan. "Aku terlalu memaksamu" jawabnya pelan. "Itu kenapa aku hanya bisa menawarkan pertemanan tulus untuk saat ini" balasku serius. "Ya, tidak mudah melewatinya. Meski wajahmu tersenyum, tapi hati mu menangis" ucapnya sambil menatap wajahku dengan iba.
__ADS_1