
"Tunggu aku di Jakarta" ucapku mengulang tulisan kalimat Indra di sepotong kertas yang diberi Taehin tadi, "Apa yang dia rencanakan?" batinku bertanya sendiri penasaran. "Surat suratnya sudah selesai, jadi kapan kami bisa pindahan Pak?" tanya Mama ditelepon dengan seseorang, "Oke, tolong dipersiapkan semuanya" lanjut Mama sebelum menutup teleponnya. "Kapan kita pindah?" tanyaku sesaat setelah Mama selesai menelepon, "Mungkin dua Minggu lagi. Kenapa?" jawab Mama lanjut bertanya alasanku ingin tau, "Kita tinggal dimana?" lanjutku bertanya, "Di rumah Mama lah" jawab Mama sambil tersenyum mendengar pertanyaan bodohku, "Papa sudah tidak punya rumah di Jakarta" batinku mengerti alasan Mama menjawab sambil tersenyum. "Akhirnya apa yang Papa perjuangkan, hasil kerja kerasnya habis seketika" ucapku lirih dalam hati saat menemani Papa di kamar. "Pa, maafin Putri ya" ucapku pelan saat Papa membuka mata menatap ku, "Semua karena Putri" lanjutku terbata bata dan tiba tiba tanganku dipegang Papa, spontan membuatku yang menunduk membalas tatapan Papa. Air mata Papa mulai mengalir, "Papa" pecah tangisku seketika. Cukup lama kami saling menangis sampai akhrinya Papa tertidur, "Kamu dan Papa bukan beban Mama, tapi bagian dari hidup Mama" ucap Mama dari ruang tv saat aku keluar kamar, "Ma" balasku kaget mendadak mendengar kata katanya, "Mungkin ini saatnya Mama dan Papa terpaksa menyerah" lanjutnya yang dapat kuartikan menyerah karena keadaan. "Mama dan Papa sudah cukup berusaha bertahan melawan waktu demi keluarga besar, sekarang saatnya kami menyerah" jelasnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kamu dimana?" tanyaku ke Indra ditelepon, "Aku didepan rumah kamu" jawabnya santai, "Apa" teriakku kaget, "Aku keluar sekarang" balasku sambil bergegas keluar kamar, "Jangan Non" pinta Indra cepat menghentikan langkahku keluar kamar, "Diam saja ditempat mu dan dengarkan kata kata ku" lanjutnya pelan, "Kamu udah makan? Gimana hasil ujian mu? Jangan sakit ya Non. Jangan tidur malam malam. Jangan lupa aku selalu lihat kamu" ucapnya lirih menanyakan keadaan dan memintaku bertahan yang membuatku tak sanggup menahan air mata. "Apa kita menyerah saja Mbul?" pintaku terbata bata, "Ini terlalu menyiksa untuk kurasakan dan terlalu berat untuk kupikirkan" lanjutku pelan. "Jangan Non" balasnya spontan dengan nada tegas, "Ini baru awal Non, jangan menyerah sebelum kita berjuang. Gak adil Non" lanjutnya memohon, "Aku akan ada di sampingmu, meski kamu tidak bisa melihatku" jelasnya. "Aku mau lihat kamu Mbul" balasku pelan, "Ya, aku juga. Sabar dulu ya, akan aku cari caranya" ucapnya memberiku harapan, "Kamu baik baik ya, nanti aku hubungi lagi" lanjutnya sebelum mematikan telepon. Kaget dengan telepon terputus mendadak, reflek aku buka tirai jendela dan melihat Indra dari samping, berjalan menjauhi jendela kamarku. "Apa aku bisa?" tanyaku pelan sambil menangis di bawah bantal.
__ADS_1
"Awal bulan ya kita pindahan" ucap Mama saat makan malam, "Iya" balasku datar. "Kamu sudah ketemu Indra?" tanya Mama yang membuat selera makan ku hilang, "Belum" jawabku pelan. "Apa yang bisa Mama lakukan untuk meringankan sedikit beban perasaanmu?" lanjut Mama bertanya, "Jangan dipendam dan dirasakan sendiri, bukan salahmu jika semua ini terjadi" jelas Mama meyakinkan agar aku tidak terlalu terpuruk. "Ma, apa yang harus Putri lakukan sekarang?" tanyaku sambil menundukkan kepala, "Nikmati semua rasa yang kamu rasakan, meski sangat sakit sampai menyesakkan dada dan membuat mu ingin berhenti menangis karena akhirnya tidak akan mengubah keadaan" jawab Mama yang menyadarkan ku, saat ini aku hanya bisa menikmati semua rasa senang maupun sakit, mengikuti waktu, menata hati untuk akhir yang terburuk. "Tidak bisakah kita mengubah keadaan Ma?" tanyaku berharap dapat mengubah akhirnya, "Entah, karena sampai saat ini Mama juga masih berusaha mengubah keadaan akhir hidup Mama" jawaban realistis Mama. "Semua orang hidup pasti mengahadapi keadaan seperti yang kamu hadapi sekarang, tapi beda objek dan predikat nya" jelas Mama, "Tinggal subjek yang harus pandai pandai mencari kata penghubungnya", "Apakah bentuk lampau, kini atau masa depan. Dan apakah kata kerja atau kata sifat" ucap Mama menjelaskan dengan perumpamaan agar dapat ku pahami.
__ADS_1
Cukup lama kami berpelukan, "Ayo" ajaknya berjalan lagi sambil menggandeng tanganku. "Kamu gak perlu takut dan bingung saat pindahan nanti. Aku pasti akan menemukanmu" ucapnya yakin, "Saat ini, yang aku butuhkan kekuatan mu untuk mendukungku berjuang" lanjutnya, "Maksudnya?" tanyaku bingung, "Kamu cukup diam ditempat mu, biarkan aku yang berjuang dan menghampirimu" jelasnya. "Tapi?" tanyaku cemas, "Aku gak akan biarkan kamu mengalami situasi dan tekanan yang tidak menyenangkan, jadi tetap diam ditempat mu sampai aku datang menjemput" jawabnya serius. "Apa yang Indra pikirkan dan rencanakan, kenapa aku tidak diikut sertakan?" tanyaku dalam hati, ini juga hidupku, perjuanganku. "Aku ingin kamu fokus menjaga tempat ku disamping mu" ucapnya yang tambah membuatku bingung, "Jika kamu ikut berjuang, maka kita berdua akan lelah dan akhirnya terpaksa menyerah karena tidak ada yang memberikan dukungan" lanjutnya, "Maka itu, kamu harus bertahan menjaga posisiku tetap disamping mu" jelas Indra yang membuatku memahami rencananya. "Bertahan menjaga posisi" ucapku menyadari kata penghubung yang dipilih Indra gabungan antara kata kerja dan kata sifat, "Inikah maksut Mama?' tanyaku sendiri sambil memandang Indra dari samping saat kami berjalan berdampingan.
__ADS_1