Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Andai Aku Tidak Egois dengan Duniaku


__ADS_3

"Papa" ucapku setelah cukup lama aku dan Andre terdiam, "Papaku dimana?" tanyaku penasaran kenapa tidak ada Papa saat membuka mata, "Papamu, hmm" jawab Andre ragu, "Papaku mana?" tanyaku mulai cemas, "Sabar ya" ucap Andre ragu, "Papamu sedang operasi" jawab Andre yang buatku kaget dan bingung, aku yang kecelakaan tapi kenapa Papa yang operasi. "Put, mau kemana kamu" teriak Andre mencegahku bangun dari tempat tidur, "Aku mau cari Papaku" balasku dengan berteriak juga. "Non" panggil Indra saat masuk kamar dan melihat Andre sedang menahan ku dengan memeluk, bergegas Indra menghampiri "Lepaskan tanganmu" pinta kerasnya ke Andre dan langsung memelukku, "Tenang Non, Papa baik baik aja" ucap Indra menenangkan ku yang sudah mulai menangis karena bingung dan cemas memikirkan keberadaan Papa dan kata kata Andre barusan.

__ADS_1


"Kamu baru sadar setelah tiga hari koma Non, jadi tolong tenanglah" pinta Indra setelah melepaskan pelukannya yang membuatku sadar jika di ruangan ini hanya aku berdua dengan Indra, "Andre?" tanyaku dalam hati, dia sudah tidak ada di kamar ini. "Koma?" tanyaku kaget, "Tiga hari?" lanjutku bingung karena ternyata aku sudah ada dirumah sakit ini selama tiga hari. "Papa, Mbul?" tanyaku lanjut penasaran, "Papa shock lihat kamu berguling dalam mobil tepat didepan matanya, beliau terkena serangan jantung saat itu" jelas Indra yang sangat hati hati, "Serangan jantung" teriakku panik, "Tenang Non" ucap Indra menahan ku bergerak, "Kamu baru lewat masa kritis, jadi tolong demi Papamu, tenanglah" pinta Indra sambil memeluk dan membuat pecah tangis ku, yang takut memikirkan keadaan Papa. Cukup lama aku menangis hingga membuat tidak sadarkan diri, "Non" sapa Indra saat aku membuka mata dengan lemas, "Besok Papa sudah bisa dipindahkan dari ICU ke ruang rawat, sudah aku pesankan kamar yang bisa berdua dengan mu. Jadi bersabarlah" jelasnya meminta agar aku hanya memikirkan kondisi pemulihan saja, lemah nya kondisiku sekarang membuat mata mulai terpejam lemas. Saat membuka lagi, aku melihat Indra tidur duduk di samping ranjang sambil memegang tanganku. Wajahnya tampak lelah, ku belai rambutnya yang membuat Indra terbangun, "Non" sapanya pelan, "Aku takut setengah mati" ucapnya lirih sambil mencium tangan yang digenggam nya dan mulai meneteskan air mata mengenai tanganku. "Hidupku seakan berhenti" lanjutnya, "Jangan pernah kamu tinggalkan aku Non" pintanya memelas sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


Hari ini Papa dipindahkan ke kamar rawat inap yang sudah di pesan Indra, berdua denganku. Jantungku berdegup kencang menunggu Papa masuk ke kamar ini, "Papa" ucapku pelan saat perawat masuk mendorong tempat tidur yang penuh dengan selang dan alat bantu. Aku melihat dari samping wajah pucat Papa dengan mata terpejam, air mata tidak bisa ku bendung meski tanpa suara tangisan. Hatiku kecil melihat Papa, laki laki yang terakhir ku lihat gagah dari belakang sekarang terbaring tak berdaya dan tidak sadarkan diri. Ingin ku genggam tangannya, tapi kondisiku pun sama tak berdayanya. Aku mengalami retak tulang belakang dari leher hingga tulang ekor dan harus bed rest selama satu bulan untuk pemulihan pasca operasi penyambungan tulang. "Semua kesalahanku" ucapku lirih menyesal kenapa aku melewati jalan itu, "Put" sapa Yanti pelan dari pintu kamar, "Yan" balasku dan mulai menangis. "Sabar ya, sabar" bisik nya saat memelukku erat, "Kamu harus kuat" lanjutnya menyemangati yang ku balas dengan mengeratkan pelukan.

__ADS_1


"Tolong Pak" ucapku ke Pak Edi meminta bantuan untuk menjual rumah yang ditempati sekarang, karena hanya tinggal ini satu satunya yang bisa ku jual, semua mobil Papa kecuali mobil Off Road nya sudah ku jual untuk menutupi hutang perusahaan. "Lalu mba Putri mau tinggal dimana?" tanya Pak Edi yang belum ku jawab karena mendadak Indra datang dari arah belakang menyapaku, "Baru sampai?" tanyaku membalas sapanya dengan tersenyum, mencoba menutupi kesusahan yang sedang aku alami. "Sini" tariknya mengajakku ke saung di depan meninggalkan pak Edi di lapangan basket, "Ada apa?" tanyaku bingung, "Kamu percaya aku kan?" tanyanya balik dengan serius, "Biarkan aku membantu mu?" lanjutnya menawarkan diri, "Tidak banyak yang bisa ku bantu, tapi bisa aku maksimalkan menjadi tempat tukar pikiranmu mencari jalan keluar" jelasnya serius. "Papa akan aku keluarkan dari rumah sakit, biar bisa aku rawat sendiri dan mengurangi biaya" ucapku ke Indra setelah menerima tawarannya untuk menjadi tempatku bertukar pikiran, "Rumah ini akan aku jual, aku akan mencari rumah yang kecil untuk aku tinggali berdua dengan Papa" lanjutku menceritakan rencana ku, "Aku akan meneruskan sekolah di kota ini, tanggung jika aku berhenti sekarang" jelasku sambil menatap Indra, entah apa yang dilihat Indra dari wajahku saat mengungkapkan semua rencana itu, seketika dia langsung memelukku erat. "Aku ada di sampingmu, apapun yang akan terjadi" bisik nya yang memecahkan tangisanku. Berat sekali situasi saat ini, terasa tambah berat karena aku tidak tau apa apa. "Andai aku mau tau sedikit saja soal perusahaan Papa" keluhku menyesal, "Andai aku mau tau sedikit saja soal kehidupan" lanjutku kecewa sendiri karena telah bersikap egois selama ini, mengasingkan diri dari kehidupan orang orang terdekat terutama Papa. Asik terpuruk dengan kehidupan yang menyedihkan setelah ditinggal Pongky, "Apa yang harus Putri lakukan Pa?" tanyaku pelan ke Papa yang masih memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2