
"Pikirnya siapa dia, membaca pikiran orang semaunya" ucapku dalam hati pagi ini, "Sarapan yuk?" ajak Yanti dengan muka bantalnya. "Ntar siang ikut aku ya? Kita makan diluar" pinta Yanti. "Oh ya, Minggu hari ini" batinku menyadari jika tiap hari Sabtu dan Minggu kami boleh keluar Asrama sampai jam 5 sore. "Makan dimana kita?" tanyaku ke Yanti didalam taksi, "Bentar" jawab Yanti sambil menelepon seseorang dengan ponselnya. Sabtu Minggu kami bebas memakai ponsel, "Waktunya sosialita" ucapku pelan, menyindir Yanti yang tersenyum mendengarnya. "Hanya kamu manusia anti gadget" balasnya menyindirku. Ponselku tidak pernah dinyalakan, selalu di loker sampai lupa kapan terakhir di charger.
"Pesan apa?" tanyaku saat sampai tempat makan yang dituju, "Bentar" jawab Yanti sambil melihat kanan kiri, "Itu dia" ucap Yanti sambil melambaikan tangan ke arah pintu masuk menyapa seseorang, spontan mataku ikut mengarah ke sana dan "Siapa mereka?" tanyaku ke Yanti, kaget melihat beberapa anak laki laki berjalan menuju meja kami yang salah satunya "Andre" ucapku dalam hati. Tanpa basa basi, Andre langsung menarik kursi di sampingku. "Hi" sapanya dengan senyum dan tatapan yang mengatakan "Kita ketemu lagi", ku acuhkan dengan mengalihkan pandangan ke arah teman nya yang lain. Sadar aku acuhkan, langsung dipegang kedua pipiku dengan kedua tangannya dan mengarahkan wajahku ke wajahnya. Reflek teman temannya serta Yanti yang tadinya sedang berbincang bincang menjadi diam mengamati kami, "Yeay" teriak Yanti kesal melihat sikap Andre yang tidak sopan kepadaku. Spontan aku kaget dan berusaha memalingkan wajah ke arah Yanti tapi ditahan Andre dengan dua tangannya yang masih menempel di pipiku, "Kami sudah saling kenal, mungkin sebentar lagi kami saling jatuh cinta" ucap Andre yang membuat teman temannya bersorak menggoda, "Aww" teriak Andre ketika keningnya ku sentil dengan kencang, berusaha menyadarkan dan membuat dia melepaskan tangan di pipiku. "Aku pulang duluan ya" pamit ku ke Yanti dan teman teman nya, lalu beranjak meninggalkan meja.
__ADS_1
"Aku antar" ucap Andre yang menyusul ke luar sampai parkiran, "Aku hanya tau namamu dan itu baru tadi malam, jadi tolong jaga sikapmu" balasku serius sambil menatap matanya. "Aku antar kamu pulang" lanjutnya sambil menggandeng tanganku menuju parkiran motor. "Ayo" pinta Andre tegas agar aku naik ke motornya, "Jangan sampai orang orang melihat kita sebagai pasangan yang sedang ribut karena cemburu" jelasnya sedikit mengancam agar tidak membuat malu ditempat umum. Dengan berat hati dan perasaan kesal, aku naik ke motor Andre. Diperjalanan, "Kamu belum makan kan?" tanyanya samar kudengar, "Kita makan dulu" lanjutnya. "Ayo turun" pinta Andre sambil mengulurkan tangan membantuku turun dari motor nya yang besar, "Gak usah, aku bisa sendiri" ucapku sombong dan "Argh" keluhku kaget saat hampir jatuh tapi ditahan Andre dengan pelukannya. Sesaat kami terdiam dengan posisi ini, saat aku tersadar dan ingin melepaskan, spontan Andre mengeratkan pelukan dan berbisik pelan "Ijinkan aku hari ini menghabiskan waktu denganmu" pintanya memohon.
Entah apa yang merasuki ku, dengan mudah menyerah menghadapi keras kepala dan sikapnya Andre yang tidak seperti kebanyakkan anak laki laki saat mendekati perempuan. "Makan yang banyak" ucapnya sambil mengambilkan beberapa makanan ke piringku, "Nanti orang lihat anggap aku pacar yang pelit" lanjutnya melucu tapi tidak lucu buatku. "Aku gak tau apapun tentang kamu, begitu sebaliknya. Tapi aku mau mencoba mengenal kamu" ucapnya serius tapi santai sambil meminum jus, "Mau kah kamu mencoba mengenalku juga?" tanyanya dengan serius kali ini, aku yang dari awal ketemu Andre sudah kaget dengan sikap terus terangnya, menjadi tambah kaget dengar kata yang sudah lama tidak ku dengar. "Mengenalku" batinku mengingat kata pertama Pongky saat bertemu. "Kenapa? Kok diam?" tanya Andre pelan melihat ekspresi mukaku yang mendadak sedih. "Pelan pelan aja" lanjutnya sambil memegang tanganku yang ada diatas meja, "Jangan dijawab" pintanya, "Cukup tunjukkan dengan sikap saja" jelasnya.
__ADS_1
"Badanmu panas Put" ucap Yanti saat memeriksa kamar apakah aku sudah pulang atau belum, "Andre itu bintang angkatan sekolahnya, selain pintar dia juga tampan" ucap Yanti setelah kami terdiam cukup lama. "Dia yang memaksa ikut acara makan siang tadi saat temannya memberitahu kalau aku mengajak mu" lanjutnya, "Sepertinya dia menyukaimu?" tanya Yanti serius, "Kalian sudah saling kenal?" tanyanya lagi penasaran, memastikan pengumuman Andre tadi. "Entahlah, aku lelah" jawabku sambil menarik selimut sampai menutupi kepala. "Put" sapa Yanti membangunkan ku, "Andre telepon" ucap Yanti, "Sudah sepuluh kali, sebaiknya kamu terima" lanjut Yanti, "Jika tidak dia mau bawa ambulance kesini" jelas Yanti dengan nada bahwa Andre orang yang serius, tanpa pikir panjang langsung aku paksakan diri bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju telepon diruang informasi siswi. Andre memang orang yang serius, itu sudah aku buktikan sendiri. "Jangan sampai dia buat asramaku heboh karena kelakuan gilanya" ucapku pelan saat sampai didepan meja telepon.
"Halo" sapaku, "Kamu sakit? Aku panggilkan dokter atau ambulance ya?" tanyanya bertubi tubi, "Kamu gila" jawabku ketus dengan nada lemas, "Ya, aku gila dan tambah gila sejak bertemu denganmu" lanjutnya, "Jadi jangan buat kegilaan ku meledak karena mengkhawatirkan mu" ancamannya. "Besok siang aku tunggu didepan pagar, samping kantin asramamu?" pintanya, "Aku harus lihat keadaanmu langsung" cemasnya yang seketika membuatku luluh dan meneteskan air mata, "Ya" jawabku dengan nada parau, "Kamu nangis?" tanyanya cepat menyadari suaraku seperti orang yang sedang menangis, "Enggak, aku istirahat dulu ya" pamit ku menutupi kebenaran dugaannya.
__ADS_1
Lampu sentral sudah di padamkan, tapi mataku tidak mau terpejam juga. Kubuka jendela kamar yang menghadap ke pekarangan asrama, lampu jalan diluar menjadi penerang kamar. "Aku tidak mau menggantikan Pongky dengan siapapun" batinku menyadari hal yang selama ini menjadi alasan utama masuk asrama, "Ini diluar dugaan ku" lanjutku menyerah, "Aku harus gimana Pong?" lirihku pelan sambil menangis tersedu tanpa suara.