Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Ini Caraku Membuat Mata dan Hatimu Melihatku


__ADS_3

Sudah hampir tiga bulan aku menjalin hubungan dengan Indra, "Akhirnya" goda Yanti setiap hari Sabtu, "Apa sih" balasku sambil mencubit pinggangnya dan membuat kami saling tertawa. Sekarang aku lebih sering tersenyum dan tertawa, meski kadang tiap malam masih menangis, "Pelan pelan" ucap Yanti yang terbangun karena mendengar tangisanku. "Halo" sapaku ditelepon, "Put" balas Papa, "Sabtu ini Papa mau ikut reuni Off Road" ucap Papa yang mendadak membuat jantung berdebar dan kaki lemas, "Putri ikut" reflekku menawarkan diri. "Serius?" tanya Papa kaget mendengar reaksi cepat ku, "Iya, Jum'at sore Papa jemput Putri ya" pintaku sebelum memutuskan sambungan telepon. Sabtu ini Indra pergi keluar kota nemenin Maminya berobat, "Aku bisa menghabiskan waktu dengan Papa weekend ini" batinku ingin memulai menjadi anak Papa yang dulu lagi. "Aku senang akhirnya kamu mau habiskan waktu weekend dengan Papamu" ucap Yanti yang mengantarku ke Aula menemui Papa yang sudah sampai untuk menjemput. "Kamu gak ikut sekalian Yan?" tanya Papa mengajak Yanti, "Makasih Om, besok mama jemput kok" jawab Yanti sopan. "Hati hati ya" pinta Yanti saat aku akan naik ke mobil Papa.

__ADS_1


"Kamu tunggu di van aja" pinta Papa khawatir jika aku melihatnya langsung di Lap, "Gak apa apa Pa, Putri sudah kuat kok" balasku sambil memeluk Papa dan dibalas dengan mencium keningku, "Papa siap siap dulu ya" lanjutnya sambil melepaskan pelukan dan berjalan menuju start, mengamati punggung Papa yang berjalan membelakangi ku menuju mobilnya, "Gagah nya Papaku" ucapku bangga. Selama hampir 2 jam jantung berdebar cemas, "Akhirnya selesai juga" batinku lega saat peluit tanda lap terakhir selesai, bergegas aku lari menuju Papa dan memeluknya. "Ini yang terakhir" ucap Papa mendadak, "Papa pensiun" lanjutnya yang membuatku tersenyum lega. "Ayo kita pulang" ajak Papa, "Putri bawa mobil Papa" pintaku melihat wajah lelah Papa. Kami pergi dengan dua mobil, Papa bawa mobil Off Road nya dan aku bawa mobil sendiri. Sebenarnya aku sudah bisa bawa mobil, sejak mulai hidup berdua dengan Papa yang sering berpindah pindah dari kota kecil satu ke kota kecil lainnya dan selalu memiliki rumah terpencil alias jauh dari peradaban. Tepatnya sejak kelas 1 Sekolah Menengah Pertama, bukan karena aku anak seorang pembalap yang mengharuskan bisa bawa mobil, tapi karena ada kejadian yang memaksa harus bisa bawa mobil. Dimana saat itu semua pegawai sedang libur termasuk Pak Edi, jadi dirumah hanya ada aku dan Papa. Tengah malam mendadak Papa anfal, lokasi rumah yang jauh dari keramaian dan tetangga membuat keadaan Papa hampir tidak dapat diselamatkan. Itu yang membuatku bertekad mulai belajar mengendarai mobil, semua jenis mobil termasuk mobil Off Road nya Papa.

__ADS_1


"Serius kamu?" tanya Papa cemas karena tau aku jarang bawa mobil sejak masuk asrama, apalagi bawa mobil Off Road Papa, "Bapaknya pembalap, masa anaknya gak bisa" jawabku sombong sambil naik ke mobil Off Road Papa. Kami berjalan beriringan, Papa dibelakang ku. "Ada apa ini?" tanyaku saat mau masuk kejalan utama kota, "Macet banget" keluhku sambil menahan pegalnya kaki karena kopling mobil Papa lumayan dalam dan kakunya tanganku menahan setir yang berat tanpa paustering. Tanpa pikir panjang kubanting setir dipertigaan jalan yang menuju dalam kota, belok kiri lewat pinggir kota. Papa yang ada dibelakang membunyikan klakson, kode memintaku tidak melewati jalan itu, tapi tidak ku hiraukan. "Pemandangannya indah" ucapku kagum, "Wah, udaranya pasti segar" batinku sambil membuka kaca mobil lebar lebar. Sampai pada suatu track panjang menanjak, "Keren jalannya" lanjutku mengagumi track didepan, sampai tidak memperhatikan jika ujung tanjakan ini adalah tikungan tajam. Setelah melewati jembatan track menanjak dimulai, karena terlalu menikmati momen ini membuatku tidak memperkirakan kecuraman tanjakan saat mulai menikung. Pas di tengah tanjakan itu, aku baru sadar jika persneling masih di gigi dua. Dengan penuh percaya diri, ku oper ke gigi satu dan tancap gas, lalu "Brag" suara mobil mulai berguling pertama ke kanan, seketika reflek membuatku menutup wajah dengan kedua tangan, "Brug" suara gulingan kedua yang membuatku seketika mengucap "Ini akhir hidupku", "Brag" suara ketiga membuatku yakin tidak ada yang dapat menolong menghentikannya, "Brug" suara mobil berguling keempat kalinya, membuatku teriak "Aku ikhlas mati hari ini" dan akhirnya mobil berhenti menggulung, tepat dibawah jembatan dengan posisi ban diatas.

__ADS_1


"Dimana aku?' tanyaku setelah membuka mata, "Kenapa aku ada disini" ucapku panik membaca nama rumah sakit. Kenapa aku dirawat dirumah sakit yang berjarak 6 jam dari tempat kejadian, "Aku sudah mati" ucapku lirih sambil menangis tersedu, yang mungkin terdengar sampai keluar kamar. "Put" panggil seseorang saat membuka pintu kamar, "Andre" panggilku kaget yang membuatnya berlari menghampiri serta langsung memelukku, "Syukurlah kamu sadar" ucapnya lega. "Ada yang kamu rasakan?" tanyanya khawatir, "Aku disini" lanjutnya sambil menggenggam erat tanganku. Sekilas aku teringat suara orang yang mendekat untuk menolongku, "Itu kamu" ucapku dengan menatap wajah Andre serius, "Iya itu aku" balasnya, "Kok bisa?" tanyaku bingung kenapa Andre ada ditempat kecelakaan itu. "Nanti aku ceritakan" jawabnya dengan tersenyum isyarat agar aku tidak memikirkan hal itu dulu. "Tidak, aku harus tau" bantahku serius, "Selama ini aku hanya bisa menemanimu dari jauh" jawabnya, "Indra laki laki dan aku juga" jelasnya mencoba membuatku mengerti alasan kenapa selama ini dia menghilang tanpa berita. Bahkan saat pergi bersama Yanti dan Yudi, mereka tidak pernah membahas apapun soal Andre seolah olah tidak pernah terjadi apapun diantara kami. "Ini caraku untuk membuka mata dan hatimu agar melihatku" ucapnya yang sama sekali belum bisa aku mengerti. "Meski dengan cara ini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu" tegasnya.

__ADS_1


__ADS_2