Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Zona Nyaman


__ADS_3

"Kamu tinggal dimana?' tanyaku ke Indra yang sedang duduk di meja makan, menemaniku menyiapkan makanan dan minuman di dapur bersih yang tidak jauh dari ruang makan, "Apartemen" jawabnya santai sambil memainkan ponsel, "Wah, kabur gaya anak konglomerat mang beda" ucapku pelan takjub. "Apa sih" ucapnya manja yang membuatku kaget karena sambil memelukku dari belakang, "Sorry" balasku dengan gaya bahasa drakor. "Non" lanjutnya saat membalikkan badanku menghadap nya, "Kita harus segera putuskan langkah selanjutnya" jelasnya serius yang membuatku salah tingkah, bingung mengartikan kata katanya. "Mau gimana kita kedepannya, pendekatan apa yang harus kita lakukan" ucapnya dengan hati hati, "Kamu paham maksudku kan?" tanyanya menegaskan jika dia benar benar serius. "Hmm, aku ikut kamu aja Mbul" jawabku pelan dengan nada bingung. Bingung dengan situasi ini, kenapa harus berada disituasi ini, situasi yang membuat aku tidak nyaman. Mendengar nada suaraku yang jelas ragu dan ekspresi wajah bingung, "Kamu diam saja ditempatmu, biarkan aku yang menghampirimu" ucap Indra tegas dengan tersenyum yang ku balas dengan memeluknya, "Maafkan aku Mbul, tidak banyak yang bisa kulakukan" bisikku lirih meminta Indra mengerti dan memaklumi posisiku. Cukup lama kami saling berpelukkan dengan perasaan yang sama sama bingung, aku bisa merasakan kebingungan Indra tapi tak berdaya untuk meredakannya. Akhirnya kami kembali ke ruang tamu, saling bercerita apa saja yang kami lakukan selama tidak bertemu. "Aku daftar kuliah Mbul" ucapku saat Indra menanyakan rencana masa depan ku, "Dimana?" balasnya antusias, "Universitas swasta dekat sini" lanjutku pelan sambil menundukkan kepala. "Gak apa apa, minimal kamu bisa meneruskan sampai S1" jelasnya mencoba menenangkan ku agar tidak berkecil hati.

__ADS_1


"Aku pulang ya, besok acaramu kemana?" pamit Indra saat didepan pagar rumah, "Mau antar form pendaftaran" jawabku santai, "Aku antar ya" pintanya antusias, "Aku jemput kamu pagi, kita sarapan diluar" lanjutnya dengan semangat. "Ya" jawabku singkat dengan tertawa kecil sambil mendorongnya untuk segera masuk ke dalam mobil. "Telepon aku ya" ucapnya saat sudah di dalam mobil yang aku balas dengan anggukan kepala. "Hati hati Mbul" teriak kecilku saat mobilnya mulai berjalan meninggalkanku yang berdiri didepan rumah. Akhirnya mobil Indra hilang dari pandangan, akupun segera masuk kedalam rumah. "Put" panggil seseorang saat pintu pagar kututup, kutegakkan pandanganku lurus kedepan dan "Giri" batinku lemas, "Hei" sapaku dengan nada tenang berpura pura tidak terjadi apa apa sore tadi di lapangan basket. "Mau kemana?" tanyaku basa basi, karena canggung dengan tatapan mata Giri. "Bisa kita bicara" ucapnya tanpa intonasi dengan sorotan mata tajam yang jujur membuatku takut, "Ada apa?" balasku terbata bata, "Mau jalan keliling komplek?" ajaknya mencari tempat untuk bicara, "Bentar, aku kunci rumah dulu" balasku menyadari Mama Papa akan segera pulang dan tidak akan nyaman jika mereka sampai ditengah tengah pembicaraan kami. "Dingin juga udara malam disini ya" ucapku memulai pembicaraan untuk memecahkan keheningan perjalanan kami, "Siapa dia?" tanya Giri dengan nada tegas tanpa ragu, untungnya kami jalan berdampingan jadi aku tidak dapat melihat sorotan matanya yang menakutkan. "Hah" ucapku kaget, "Indra" lanjutku menyebut nama orang yang dimaksud Giri, "Oh, Indra namanya" balas Giri dengan nada sinis yang membuat ku kaget, Giri yang kukenal sopan dapat bernada sinis dan membuat situasi tidak nyaman. Kuhentikan langkahku, yang membuat Giri sadar jika aku tidak suka dengan nada bicaranya, "Kenapa?' tanyanya sambil membalikkan badan melihatku berdiri dibelakangnya, "Tidak suka dengan pertanyaan ku?" tanyanya serius dengan mulai berjalan menghampiriku, "Entah Indra itu ada hubungan apa denganmu, tapi aku tidak akan mundur satu langkahpun. Aku akan terus seperti ini, berjalan menghampiri mu" jelasnya tegas namun dengan nada mulai sedikit santai. Kemudian saat kami sudah saling berhadapan, Giri memegang tanganku "Aku suka kamu" ucapnya tenang dengan tatapan serius yang membuatku merinding, "Apalagi ini" keluhku dalam hati, "Aku tidak akan memaksa kamu membalas nya sekarang, namun aku tidak akan membiarkan kamu mengabaikannya juga" jelasnya yang kali ini benar benar membuatku takut. Tiba tiba ditariknya tanganku mendekat, lalu dipeluknya erat. "Jangan abaikan aku, aku tidak akan mundur" bisiknya yang membuatku sesak nafas. "Put" panggil Giri sambil melepaskan pelukkannya karena menyadari nafasku mulai tersengal sengal, "Kamu kenapa?" ucapnya panik, "Put" panggilnya berusaha menyadarkan ku yang sejak menghentikan langkah hanya terdiam mendengar Giri bicara. "Hah" suara nafas beratku lepas dan mulai membuat kaki lemas hingga hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan. "Ayo, naik punggungku" pinta Giri yang mendadak jongkok didepanku, "Ayo" pintanya memaksa, karena kakiku benar benar lemas, tidak ada pilihan selain menuruti permintaannya. "Kita mampir kerumah ku dulu ya" ucapnya dengan nada tersengal karena berjalan sambil menggendongku, "Lebih dekat kerumahku dari sini" lanjutnya, "Tapi" ucapku pelan dengan nafas yang masih sesak, "Jangan bantah" jelasnya tegas.

__ADS_1


"Mamamu baik ya" ucapku tidak lama setelah mobil mulai berjalan keluar cluster rumah Giri, "Ya, itulah Mama. Apapun yang terjadi dia akan seperti itu, seolah semua hal itu menyenangkan" balas Giri yang membuatku bingung karena kata katanya tersirat mengandung arti tertentu. "Dan aku tidak akan menuruni sifat nya" lanjut Giri yang tambah membuatku yakin akan kalimat sebelumnya yang memiliki maksud, "Karena itu, aku akan berjuang maju memenangkan hatimu" jelasnya sambil memegang tanganku. "Tanganmu dingin banget Put" komentar Giri setelah memegang tanganku tanpa ijin, lalu mulai memasukkan tanganku didalam kantong jaketnya, "Lumayan hangatkan" ucapnya sambil melirik kearahku, duduk disampingnya yang sedang nyetir dengan tangan satu. Tidak bisa kupungkiri, aku merasakan kehangatan bersama Giri. Bukan karena tanganku dimasukkan ke kantong jaketnya, tapi karena kehangatan Mamanya menyambutku, yang tidak kudapatkan dari keluarga Indra. "Zona nyaman" batinku menyadari situasi nyaman yang ditawarkan Giri menjadi kelebihannya untuk tidak diabaikan.

__ADS_1


__ADS_2