Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Jika Harus Menyerah Maka Menyerah Tanpa Menyesal


__ADS_3

"Aku gak tau apa yang kalian ributkan, tapi tolong jangan didepan sekolahku" pintaku tegas, "Non" balas Indra cemas karena merasa aku hindari dari pagi tadi, "Aku baik baik saja, jadi tolong berhenti mengkhawatirkanku" pintaku serius, "Put" sapa Taehin, "Jangan buat malu aku dong" balasku sambil tersenyum. "Ayo kita pulang" ajak Andre yang mendadak menarik lenganku dari arah belakang, "Andre" ucapku pelan, "Kita pulang sekarang" balasnya datar tanpa basa basi ke Indra dan Taehin, langsung menggandengku menuju mobilnya. Sepanjang perjalanan, mataku tidak berhenti melihat Andre yang sedang menyetir. Tiba tiba mobilnya berhenti di pinggir jalan setelah cukup jauh dari sekolahku, "Mulai sekarang, aku akan berusaha merebut perhatian mata dan hatimu dari Indra" ucapnya tegas tanpa melihatku sama sekali dan melanjutkan perjalanan menuju rumah. "Masuk" ajakku setelah sampai depan rumah, "Ya" jawabnya dan langsung turun dari mobil. "Mau minum apa?" tanyaku setelah mempersilahkan Andre duduk diruang tamu, "Apa aja" jawabnya sambil tersenyum. "Bentar ya" balasku dan segera menuju ruang tengah, tempat dapur bersih yang gabung dengan ruang tv dan ruang makan. Sekilas aku melihat Andre mengamati foto foto yang ada di bufet ruang tamu, "Hmm" sapaku menyadarkan Andre yang serius memandangi fotoku waktu perlombaan Putra Putri Kabupaten. "Kamu cantik" ucapnya pelan sambil duduk kembali, "Makasih" balasku sopan dengan nada menggoda, "Papa mu?" tanya Andre mendadak, "Dikamar" jawabku bingung, kenapa Andre mendadak tanya kabar Papa.

__ADS_1


"Kenapa sejak aku sadar, kamu tidak pernah menemuiku lagi?" tanyaku memulai pembicaraan, "Aku ini laki laki, Indra juga laki laki" jawabnya sama seperti jawabannya saat itu, "Kenapa kamu ada ditempat kejadian dan menolongku?" tanyaku penasaran, jika alasannya dia dan Indra laki laki lalu kenapa Andre menjadi orang pertama yang menolongku. Sesaat Andre terdiam sambil memandangku yang serius menunggu jawaban dan penjelasannya, "Karena aku gak mau kehilanganmu" jawabnya dengan ekspresi muka sungguh sungguh, "Ini beda situasi, jika saat kamu bersama Indra aku hanya akan mengagumi dan melihat dari jauh tanpa kamu ketahui. Tapi saat kejadian itu, yang aku rasakan hanya tidak mau kehilanganmu" jelasnya yang jujur membuat aku kagum, "Lalu sekarang?" tanyaku meminta penjelasan sikapnya tadi didepan Indra dan Taehin, "Tadi yang aku pikrikan bahwa Indra sudah membuat hidupmu tidak nyaman lagi" jawabnya sambil menganggukan kepala, "Aku pernah bilang, bukan, tepatnya mengancam Indra jika membuatmu tidak nyaman maka aku akan maju untuk membuatmu nyaman" lanjutnya mengingat kejadian bertemu Indra di depan lobby Asrama saat mengantarku. Sekarang jadi aku yang bingung mengambil sikap, "Makasih" ucapku mencoba mengakhiri pembicaraan canggung ini, "Kamu baik baik aja?" tanyanya sesaat, "Put" lanjutnya cemas. "Aku tidak baik baik saja" jawabku, baru pertama kali aku mengakui jika dalam keadaan hancur, bingung dan rapuh kepada orang lain, yaitu kepada Andre. Perasaan yang aku rasakan dengan Andre berbeda dengan perasaan yang aku asakan dengan Indra, dan hampir sama dengan perasaan ku ke Pongky. Mungkin itu yang membuat aku bisa bersikap apa adanya dengan Andre dan dapat menceritakan semua yang dirasakan tanpa malu.

__ADS_1


"Bukan salah kita jika mendadak kehidupan keluarga kita berubah, entah menjadi lebih baik atau semakin buruk" ucapnya dengan tatapan seperti ikut merasakan apa yang kurasakan, "Kecelakaan itu bukan awal semua kejadian yang sedang kamu alami, hanya salah satu cara keadaan sekarang menjadi seperti ini" lanjutnya, "Jadi jangan salahkan dirimu sepenuhnya, apalagi masa depan dan mimpi mu" pintanya. "Kita masih dibawah umur untuk memikul tanggung jawab ini, tapi bukan berarti kita gak bisa mengusahakan keadaan ini menjadi lebih baik" jelasnya. Mendengar kata kata Andre tadi siang membuatku memberanikan diri menghubungi Mama, "Halo" sapa Mama ditelepon, "Ma" balasku, "Putri, anak Mama satu satunya. Tumben telepon Mama" ucapnya dengan nada senang, "Kamu baik baik saja kan ?" tanya Mama, "Papa" jawabku pelan, "Papamu?" tanya balik Mama dengan nada cemas, "Kenapa dengan Papamu?" tanya Mama antusias, "Papa sudah hampir tiga bulan tidak sadarkan diri, Ma" jawabku dengan nada mulai bergetar, "Papa dua bulan lalu kena serangan jantung dan operasi, sampai sekarang belum sadar Ma" lanjutku yang sudah mulai meneteskan air mata, "Ya Allah, terus kamu gimana? Kenapa baru kabarin Mama sekarang?" tanya Mama bingung, "Semua gara gara Putri, Ma" ucapku terbata bata, "Putri kecelakaan, koma tiga hari. Itu yang buat Papa serangan jantung" jelasku yang membuat Mama panik, "Koma?' teriak Mama sambil menangis, "Ya Allah" lanjut Mama mencoba tenang. "Mama usahakan pulang secepatnya" janji Mama yang pasti sudah mengetahui kesulitanku saat ini.

__ADS_1


Klise bagi sebagian orang jika masih ada hubungan yang membedakan ras, tapi itulah yang terjadi antara keluargaku dan keluarga Indra. Ditambah perbedaan agama, kecil hatiku untuk mengatakan jika semua akan baik baik saja. Tapi melihat semua yang telah kami lalui sampai akhirnya kami memutuskan untuk memulai mengukir jejak bersama, sangat tidak adil situasi ini. Membayangkan perpisahan dengan cara seperti ini sangat menyesakkan dada, "Jika pada akhirnya kita harus menyerah, maka kita harus menyerah tanpa menyesal" ucapku setelah cukup lama kami terdiam memikirkan hubungan kami besok, lusa dan seterusnya. "Ya" balas Indra yakin, "Itu lebih adil untuk kita terima" lanjutnya sambil memelukku yang kubalas dengan memeluknya erat tanda berdamai dan akan berusaha melewati mengahadapi masalah ini bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2