
"Ini form nya, kamu isi ya" pinta Mama saat menyerahkan formulir pendaftaran mahasiswa baru, di salah satu Universitas swasta ternama Jakarta, "Tapi Putri mau coba negeri dulu Ma" balasku, mencoba mencari cara keluar dari rumah Mama. Bukannya aku ga senang bisa kumpul satu rumah lagi dengan Papa Mama, tapi banyak sekali adaptasi yang harus aku jalani untuk bisa membuat situasi nyaman. Dan jujur, saat ini aku sedang tidak ingin beradaptasi. "Putri bingung Pa, cara hidup kita berbeda dengan Mama. Jika Putri harus mengikuti cara hidup Mama, sudah bukan saatnya dan akan memakan waktu lama" ucapku pelan saat menyisir rambut Papa, "Papa tau seperti apa perjuangan kita bertahan kan? Gimana kita merubah karakter dan cara berpikir untuk bertahan" lanjutku mengingat momen terberat awal ditinggal Mama, kami terpaksa meninggalkan Jakarta tanpa membawa apa pun. Kondisi usaha Papa saat itu baru jatuh, ditambah Mama yang mendadak memutuskan pergi dinas ke luar negeri, tanpa Mama ketahui kami dikucilkan oleh keluarga besar. Demi menjaga mental ku, Papa memutuskan membawaku pergi dari Jakarta. Tidak mudah bagi Papa, merawat, mendidik dan membangun usahanya dari nol di tempat baru apalagi di daerah. Jika ingat saat saat itu, aku berharap tidak pernah dilahirkan, karena hanya membuat beban Papa. Akhirnya Papa mendidik ku dengan keras dan sempat membuat ku menjadi bonekanya, itu semua secara tidak sadar sudah membentuk karakter serta pola pikir yang berbeda dengan anak perempuan seumurku dan terbawa sampai sekarang.
__ADS_1
"Ini kartu member sport club, kalau kamu mau kesana" ucap Mama sambil memberikan kartu anggota, "Sport club" balasku pelan, "Iya, gedung yang ada ditengah tengah setelah gerbang utama" jelas Mama terperinci. "Putri keluar bentar, mau berenang" pamit ku ke Mama tanda terimakasih atas kartunya. "Sepi" ucapku pelan saat masuk ke dalam Sport club menuju kolam renang yang berada ditengah antara ruang fitnes dan lapangan tenis yang bersebelahan dengan lapangan basket. "Argh" suaraku menyelesaikan renang 3 putaran, "Sore" sapa seseorang dari atas kolam renang tempat ku berhenti, "Hei" balasku ke Giri yang berdiri di pinggir kolam membawakan ku handuk yang ada di kursi tempat duduk. "Olah raga juga?" tanyaku santai sambil mengeringkan rambut, "Enggak" jawabnya sopan, "Aku lihat mobilmu diparkiran, maka itu mampir" jelasnya. "Oh, sudah hapal ya?" tanyaku menggoda membuat Giri tersenyum malu, "Lucu banget mukanya" batinku dalam hati. "Aku tunggu kamu bilas" ucapnya saat aku beranjak ke shower room, "Aku mau ajak kamu makan malam" lanjutnya dengan tersipu yang aku balas dengan tersenyum.
__ADS_1
"Mau makan dimana?" tanyaku saat menyapa Giri yang sedang duduk di lobby Sport club, "Mobil mu tinggal disini aja ya" balasnya tanpa menjawab pertanyaanku dan meminta untuk naik mobil nya. "Kita mau kemana?" tanyaku lagi setelah mobil nya berjalan meninggalkan parkiran sport club, "Kawan ku baru buka cafe, kita kesana" jawabnya, "Tapi aku pakai pakaian seperti ini" lanjutku kaget dengar rencananya yang tidak sesuai dengan celana pendek, kaos dan jaket Hoodie yang aku kenakan saat ini. "Hmm, gaya kamu keren" jelasnya sambil melirik sepatu yang aku pakai, tanda busanaku semi formal dan layak untuk ke cafe temannya. "Gir" panggil seseorang saat kami keluar mobil di parkiran cafe, "Hei, apa kabar" balasnya ramah dan sopan, "Ternyata dia tidak pemalu, tapi memang gayanya seperti itu" batinku menyadari jika pembawaan Giri memang seperti itu ke semua orang, "Humbble" lanjutku dalam hati sambil memandang Giri bercengkrama dengan teman temannya. "Kenalkan, ini Putri. Pacarku" ucapnya mengenalkan dan memberitahukan statusku, "Pacarnya" ucapku kaget dalam hati sambil melirik tajam ke wajahnya dengan tersenyum untuk menjaga image. "Wah, ternyata Giri sekalinya nongkrong langsung bawa pacar" celetuk temannya yang membuat teman teman lainnya saling menggoda sambil tertawa. "Maaf" ucap Giri pelan saat kami sudah duduk di meja yang telah disiapkan, "Manfaatkan aku malam ini" balasku sambil memalingkan wajah menatapnya dan dibalas dengan menatapku, "Aku tidak keberatan" lanjutku sambil tersenyum yang membuat Giri salah tingkah dan canggung karena tidak mengira respon yang aku berikan. Suasana saat ini begitu menyenangkan, teman teman Giri rata rata berasal dari keluarga kalangan atas yang sedang mencoba usaha sendiri. Pembicaraan mereka sungguh membuat ku mengerti dunia baru, "Lingkungan baru" batinku menyadari dimana aku sekarang.
__ADS_1
"Dari mana?" tanya Mama dengan nada cemas, "Berenang terus makan" jawabku santai, "Ini Jakarta, kamu gak bisa seenaknya keluar rumah dan pulang sampai malam tanpa kabar" ucap Mama dengan nada sedikit tinggi, menandakan tingkat kekhawatirannya. "Bukan khawatir, tapi mengingatkan aturan dirumahnya" batinku menilai sikap Mama yang sudah terlambat untuk ditunjukkan sebagai seorang ibu, "Harusnya sikap ini diterapkan saat masa pertumbuhan" lanjutku dalam hati dengan sedikit kecewa dan tanpa membalas kata kata Mama langsung berjalan naik ke lantai dua, masuk ke kamar. "Sampai kapan perasaanku seperti ini ke Mama?" tanyaku sendiri, "Aku benci situasi ini" lanjutku lirih, "Aku ingin hidupku yang dulu, berdua saja dengan Papa" jelasku sambil mulai meneteskan air mata.
__ADS_1