Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Bukan Hanya Aku Yang Bersedih


__ADS_3

"Mau kemana kita?" tanyaku saat berjalan keluar GOR menuju parkiran, "Kamu belum makan kan?" tanya Indra balik, "Kita makan dulu ya" lanjut Indra sambil membukakan pintu mobil untukku dan ku balas dengan senyum tanda setuju. Saat mobil mengantri keluar parkiran, sekilas aku melihat Andre, keluar GOR dengan raut muka bingung, "Kenapa dia?" batinku bertanya, "Apa dia mencari ku?" tanyaku lagi dalam hati yang mendadak membuat perasaanku gak enak, merasa bersalah. "Hah" suara nafas panjang ku yang terdengar Indra, "Kenapa Non?" tanyanya, "Kamu baik baik aja kan?" tanyanya lagi dengan cemas, Indra selalu cemas dengan kondisiku sejak kepergian Pongky. Sikapnya selalu berhati hati memperlakukan ku, seperti vas bunga yang retak. Kadang itu yang membuatku tidak nyaman di dekatnya, apalagi jika mengingat kejadian malam itu. Wajah putus asanya, suara teriakkan nya yang kesal melihatku menyiksa diri dengan menahan kesedihan sendirian, yang akhirnya membuat Indra memutuskan untuk meneruskan sekolah di luar negeri.

__ADS_1


"Kamu suka makanan ini" ucapnya sambil menunjuk menu makanan dirumah makan, "Ingat aja" godaku yang membuat dia tersenyum. "Kamu mau pesan apalagi?" tanyanya antusias karena melihatku makan dengan lahap, entah kenapa aku merasa sangat lapar hingga lupa jaga image. "Gak, cukup" jawabku sambil tertawa kecil karena malu. "Ayo" ajak Indra untuk segera pergi meninggalkan rumah makan, "Ada tempat yang mau kamu tuju?" tanyanya saat didalam mobil, "Enggak" jawabku pelan dengan sedikit menguap menahan kantuk, habis makan banyak tiba tiba aku menjadi ngantuk. "Oke, kita jalan jalan aja. Keliling kota" balas Indra dan langsung menjalankan mobilnya. "Hmm" suaraku meregangkan badan dan mulai membuka mata, "Sore" sapa Indra yang memandangiku, "Oh" teriak kecilku menahan malu sambil menutup muka dengan kedua tangan, "Aku ketiduran ya?" tanyaku masih dengan tangan di wajah, perlahan Indra menarik tangan yang menutup wajahku "Aku suka lihat kamu tidur" jawabnya dengan lembut sambil merapikan rambutku. "Aku kangen banget ma kamu, sampai berasa hampa hidupku" ucapnya, mendengar kata kata itu hatiku bergetar, bingung harus bersikap.

__ADS_1


"Hujan" ucapku menetralkan situasi canggung didalam mobil, "Ya" balas Indra sambil tersenyum melihat keatas kaca depan mobil. "Aku juga kangen ma kamu Mbul" ucapku dalam hati. "Kamu mau minum kopi dulu sebelum aku antar ke asrama?" tanyanya dengan tatapan memohon, "Ya, good ideas" jawabku tersenyum. "Wah, baru ini aku kesini" ucapku kagum dengan suasana dan pemandangan tempat kopi ini, "Aku lihat di Instagram, lagi ngehits sekarang" balasnya sambil menggandeng tanganku menuju meja kami. "Sabtu kamu pulang?' tanyanya beberapa saat setelah pesanan kami sampai. "Papa jarang dirumah, aku pulang juga percuma" jawabku dengan senyum kecil sambil memandang keluar kaca, hujan semakin deras, udara semakin dingin. Tanpa disadari tanganku mulai memegang lengan untuk menghangatkan diri, tiba tiba Indra berdiri membuka jaketnya dan memakaikan di badanku lalu duduk di samping sambil merangkul. "Jika boleh, aku ingin selamanya merangkul mu" ucapnya pelan yang membuatku merasa tidak nyaman. "Aku gak apa apa" ucapku sambil mencoba melepaskan jaket dan rangkulannya, namun ditahan Indra dengan memelukku. "Cukup Non, jangan hindari aku lagi", "Aku gak sanggup harus hidup berpisah dengan kamu" bisik nya sambil mengeratkan peluk kan. Aku yang paham dengan apa yang dirasakan Indra merasa sangat bersalah, Indra tau kondisiku waktu bersama Pongky sampai saat ditinggal Pongky untuk selamanya, "Apa kamu sanggup Mbul? Setiap melihatku kamu akan melihat bayangan Pongky" ucapku mengungkapkan apa yang menjadi ganjalan di hati setiap melihat Indra mulai mengungkapkan perasaannya. "Jangankan melihat bayangan Pongky, melihat dia memelukmu diparkiran Kabupaten saat acara pemilihan itupun, aku sanggup" balasnya yang membuatku kaget, seingatku Indra sudah pulang saat aku menolak untuk diantar pulang malam itu. "Mbul" panggilku kaget sambil meeregangkan peluk kan menatap wajahnya, "Aku gak pulang, hanya pindah parkiran" balasnya. "Aku sanggup Non, Aku sanggup Put" lanjutnya sungguh sungguh, "Yang aku gak sanggup saat kamu menutup mata dan hatimu untuk melihatku", "Itu kenapa aku memilih pergi, tapi malah membuat aku lebih gak sanggup menjalani hari tanpa kamu" jelasnya dengan mata berkaca. Mendengar dan melihat Indra seperti itu, hatiku hancur. Ternyata bukan hanya aku yang bersedih atas kepergian Pongky, tapi orang orang sekitarku ikut bersedih bahkan sampai terpuruk melihatku, termasuk Papa yang sekarang lebih suka diluar rumah berbulan bulan dan Indra yang memilih mengasingkan diri menjauh dariku.

__ADS_1


"Mau mampir beli camilan?" tanyanya diperjalanan menuju asrama, "Gak ah, masih hujan" jawabku. "Non, kamu mau kapan kapan aku ajak ketemu ma Mami" tanyanya mendadak yang buat aku kaget, "Maksudmu apa?" tanyaku balik dengan nada cemas, "Aku sering cerita tentang kamu ke Mami, dan Mami ingin kenal ma kamu" jawabnya santai. Hubungan keluargaku dan keluarga Indra tidak begitu baik, tapi bukan berarti bermusuhan. Hanya Papa kurang suka dengan Papinya Indra yang menjadi pemilik mayoritas pergudangan hasil kebun di kota ku, jadi terkadang suka bentrok dengan petani soal harga beli. Sedangkan Papaku adalah salah satu petaninya, "Kita bicarakan nanti ya" ucapku mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Sesekali aku melihat Indra dari samping kemudi, "Wajahnya kharismatik, beda dengan Pongky. Cara mendekati dan memperlakukanku pun berbeda" batinku membandingkan, "Argh" keluhku pelan yang didengar Indra. "Kenapa?" tanyanya saat menghentikan mobil dipinggir jalan, "Kamu teringat Pongky?" tanyanya yang membuatku kaget, "Apa maksudmu?" tanyaku ketus karena tidak menyangka Indra akan membahas Pongky. "Kamu bertanya, apa aku sanggup melihatmu jika ada bayangan Pongky" ucapnya serius, "Untuk itu, aku bertanya" lanjutnya, "Karena aku tau, kamu sedang berusaha melepaskan bayangan Pongky dari mataku" jelasnya dengan percaya diri. Untuk pertama kali aku mendengar kata kata tegasnya Indra, "Apa ini" batinku tak percaya melihat Indra saat ini. "Maaf Non, aku kebawa perasaan. Maaf" ucapnya memelas yang membuat kaget ku tadi sia sia. "Indra masih seperti ini" keluhku dalam hati. Mobil berjalan lagi menuju asrama, suasana menjadi hening didalam mobil. Tatapanku kosong melihat jalanan yang masih diguyur hujan, "Bagaimana aku bisa menghapus bayangan Pongky?" tanyaku dalam hati. Sikap Indra yang seperti ini malah membuatku semakin dilema setiap menatapnya dan hatiku semakin tertutup saat menghabiskan waktu bersama. Dan akhirnya, dia akan terluka serta terpuruk lagi karena ku. "Lalu aku?" tanyaku merenung sepanjang perjalanan. "Bisakah kamu membawaku keluar dari situasi ini?" tanyaku memohon dari hati yang paling dalam.

__ADS_1


__ADS_2