Bukan Salah Kita #Putri Story 2

Bukan Salah Kita #Putri Story 2
Mulai Mengukir Jejak Dengan Harapan Mereka


__ADS_3

"Makasih ya" pamit ku di parkiran setelah mobil Andre yang mengantarku berhenti, "Aku antar sampai lobby" balas Andre yang langsung membuka pintu mobil dan keluar. "Serius kamu gak apa apa sendirian?" tanyanya saat berjalan menuju lobby, "Sudah biasa" jawabku santai. "Put" panggil Andre yang mendadak menghentikan langkah dengan memegang lenganku dari samping, "Kenapa?" balasku tersenyum, "Aku gak janji bisa melupakanmu, tapi aku juga gak janji untuk menunggumu membuka mata dan hati untukku" ucapnya serius, "Aku tau dan aku doakan yang terbaik untukmu" ucapku balik menghargai pemikiran realistis nya. Itu hal yang membuatku tertarik dan nyaman dengan Andre, sikap terus terangnya. "Kamu wanita hebat yang pernah kukenal" lanjutnya sambil mendaratkan bibirnya di keningku. Sesaat damai yang kurasakan, "Put" teriak seseorang dari arah parkiran, "Indra" ucapku kaget. "Hi" sapaku salah tingkah, sekilas aku melirik ke Andre yang sudah siap siap pasang badan dengan gaya cool nya. "Siapa dia?" tanya Indra ketus sambil menarik tanganku mendekat dengannya dan menjauhi Andre, "Andre" jawabnya langsung dengan mengulurkan tangan ke arah Indra, "Status kita sama, jadi lebih baik kita saling menghindar" lanjut Andre yang buat Indra geram, "Cukup" teriakku menahan situasi semakin panas. "Makasih sudah mengantarku" ucapku ke Andre kode agar dia harus segera meninggalkan ku, "Sampai jam berapa? Aku gak tau kamu mau kesini" ucapku ke Indra. Sejenak mereka terdiam bingung melihat sikapku, "Entah seberapa besar perasaanmu ke Putri, tapi akan aku hargai selama Putri nyaman. Jadi jangan buat Putri tidak nyaman, karena aku akan selalu ada untuk membuatnya nyaman" ucap Andre dengan menatap mata Indra, "Ini buka peringatan, tapi ancaman" lanjutnya alih alih pamit dan berjalan menuju mobil di parkiran.


Indra yang kaget dengan reaksi Andre, terdiam sambil mengepal tangannya menahan kesal. "Udah makan?" tanyaku pelan dan di balas Indra dengan nekad mencium bibirku. Reflek tubuhku meronta, melakukan penolakkan tapi tidak digubris Indra. Akhirnya air mata mengalir, merasakan basahnya pipiku membuat Indra melepaskan ciumannya dan langsung memelukku. "Aku bisa gila Non" bisiknya dengan suara bergetar yang membuat amarahku berubah menjadi iba, sadar apa yang dilakukan Indra barusan adalah kesalahanku juga "Maafkan aku Mbul" ucapku dengan membalas pelukannya. Cukup lama kami berpelukkan, "Kamu mau keliling kota semalaman Mbul?" tanyaku sambil merapikan rambutnya, "Ayo kita keliling kota sampai pagi" lanjutku sambil tersenyum yang dibalas Indra dengan memelukku lagi sambil menghela nafas panjang, lega karena mengetahui aku akan memulai mengukir jejak dengannya.

__ADS_1


"Kamu belum makan kan?" tanyaku saat mobil mulai berjalan, "Kamu mau makan apa?" tanyanya balik, "Apa aja" jawabku sambil memandang wajahnya dari samping. Apa yang kurasakan selama hampir 3 tahun kehilangan Pongky, juga dirasakan Indra terhadapku. Bedanya Indra masih punya harapan yang dapat diwujudkan untuk mengukir jejak denganku, sedangkan aku sudah tidak punya harapan mengukir jejak dengan Pongky. "Begitu berat beban perasaan mu Mbul" batinku menyadari, kesedihan ku tidak seberapa dibanding kesedihan Indra. Memiliki beban harapan jauh lebih berat daripada mengikhlaskan kehilangan harapan untuk selamanya, "Maafkan aku ya Mbul" ucapku pelan sambil memegang lengan yang sedang menyetir dan menyandarkan kepala dipundaknya.


"Ada juga warung kopi 24 jam disini" ucapnya sambil membersihkan bangku untuk kami duduk, "Malam Minggu kan Mbul" balasku santai yang membuat Indra tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Kita pulang kerumah aja ya" pintanya setelah hampir 3 jam kami duduk diwarung kopi itu, "Kamu bisa sakit jika seperti ini" jelasnya cemas, "Atau kita ke basecamp" lanjutnya menyarankan, "Ada coach disana" godanya, "Malam Minggu lagi" balasku yang tau persis kegiatan base camp jika malam Minggu ada coach standby.


"Wah, lihat siapa yang datang" teriak salah satu anggota tim yang ada di basecamp, "Putri" sapa Coach sambil mengucek mata tak percaya, "Apa kabar?" tanya Coach dengan tersenyum, "Aku baik baik saja" jawabku dengan nada melucu agar Coach tidak terbawa perasaan sedih melihatku. "Kenapa bisa bareng Gembul jam segini?" tanya Coach, yang belum ku jawab mendadak "Put" teriak Taehin dari pintu masuk, "Hi" balasku, "Wah, Indra nyolong start" balas Taehin menggoda Indra. "Dari mana kalian berdua pagi buta sampai sini?" tanya Taehin curiga, "Aww" teriak Taehin kesakitan saat Coach memukul pundaknya kode untuk tidak bertanya soal itu, aku yang melihat semua mata penasaran mencoba menjelaskan "Abis malam mingguan, kemaleman, mau pulang ke Asrama udah digembok pagarnya. Pulang kerumah, sepi, Papa lagi keluar kota. Mau ke hotel, takut dosa" jawabku yang buat semua orang di basecamp mengucap "Ini baru Putri" sambil tepuk tangan dan tertawa. Sekilas aku melihat Coach mengusap pipinya, lalu beranjak ke taman yang ada di depan ruang pertemuan tempat kami berkumpul. Indra menyadarinya, lalu berdiri hendak menyusul, namun ku tahan, "Biar aku aja" ucapku pelan sambil berjalan keluar.

__ADS_1


"Udara disini tidak berubah" ucapku menyapa Coach yang sedang melamun, "Ya, udara disini yang paling bagus" balasnya sambil memalingkan badan menghadap ku. "Akhirnya kalian kembali" ucapnya lega, "Maaf baru sekarang Coach" balasku menyesal, "Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali" petuahnya yang buat ku tersenyum dan memeluknya. "Kamu berhasil melewatinya" bisik Coach. "Hmm" suara sapa seseorang yang melihat ku berpelukan dengan Coach, "Apa Mbul?" teriak Coach kesal karena membuat pelukkan kami selesai, "Cemburu kamu?" tanya Coach dengan nada menggoda, "Cemburu? Udah ga jaman Coach" balas Gembul sombong sambil berjalan mendekatiku, "Mata dan hatinya hanya ada aku sekarang" lanjutnya bangga sambil langsung merangkul ku. Spontan Coach serta teman teman yang mendengar kaget dan langsung berteriak kegirangan. Ramai dan hangat sekali suasana malam ini, oh bukan malam tapi pagi dini hari.


"Kamarmu masih seperti dulu" ucap Indra saat mengantarku ke kamar yang biasa ku tempati di bascamp, "Coach tidak membiarkan siapapun mengisinya" jelas Indra yang buat aku terharu. "Sampai Coach pun merasakan kehilangan" tanyaku dalam hati, "Tapi dia masih punya harapan seperti Indra" lanjutku dalam hati. "Aku harus mulai mengukir jejak untuk mereka yang masih mengharapkan kehadiranku " tekadku.

__ADS_1


__ADS_2