
"Huft" keluhku pagi ini saat membuka mata, "Kenapa kepala ku sakit sekali" batinku merintih sambil memegang kening dengan tangan kanan. Sekuat tenaga aku mencoba beranjak dari tempat tidur, namun tidak berhasil, badan ku sakit semua. "Mungkin aku terlalu memaksakan diri berenang kemarin" ucapku dalam hati mencari sebab kenapa pagi ini badanku sakit semua. Kembali kupejamkan mata, dan tersadar saat jam dinding di meja makan berdentang keras sebanyak 12 kali, "Jam 12" teriak ku panik, yang tanpa kusadari membuat badan kaku berubah menjadi lentur. "Sepi banget, pada kemana ?" tanyaku dalam hati saat menuju ruang makan di lantai satu, ku ubah haluan, mampir ke kamar Papa dulu, "Pa" panggil ku terkejut, ketika melihat tempat tidurnya kosong. "Pada kemana?" tanyaku pelan sendiri, "Ponsel ku mana?" tanyaku sendiri lagi saat menyadari dari berenang kemarin aku tidak memegang ponsel, bergegas aku kembali ke lantai dua menuju kamar. "Oh tidak" panik ku pecah saat melihat notifikasi panggilan dan chat dari Indra, "Dia pasti khawatir" ucapku pelan sambil mencoba menghubungi nya, "trut trut trut" suara telepon memanggil, "Kenapa lama ngangkatnya" ucapku dengan nada sedikit takut antara Indra khawatir atau marah. "Tidak diangkat" batinku mulai panik, "Aku coba 30 mnt lagi" ucapku pelan sambil membuka satu per satu chat yang masuk dari kemarin sore. "Dia marah besar" jelasku pelan, "Papa" lanjutku mendadak ingat alasan pertama aku mencari ponsel. "Dimana Ma" sapaku sesaat setelah telepon Mama tersambung, "Rumah sakit, kontrol Papa. Kenapa?" jelas Mama dan menanyakan alasanku menelepon, "Gak apa apa, hanya kaget rumah sepi" jawabku lega. "Mungkin Mama pulang agak telat, Papa minta diantar ketemuan dengan teman nya" lanjut Mama, "Oke" balasku sebelum memutuskan sambungan telepon Mama. "Sendirian aku dirumah" ucapku pelan sambil berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan.
__ADS_1
Sudah hampir 2 jam, Indra tidak membalas dan tidak mengangkat teleponku, "trut trut" suara chat masuk, "Sibuk" tanya Giri, chat yang masuk ternyata dari Giri. "Enggak, kenapa?" balasku sambil menghabiskan roti dan susu alih alih sarapan jam 2 siang. "Ada pertandingan Basket antar Cluster, mau liat?" lanjut Giri mengajak ku melihat pertandingan Basket, "Basket lagi" batinku lemas. "Dimana?" tanyaku tidak bersemangat, "Sport club" jawab Giri antusias berharap aku ikut, "Nanti aku kesana" lanjutku menegaskan tidak usah dijemput, "Pertandingan nya mulai jam 4 sore ya" jelas Giri sebelum mengakhiri chat nya. "Ada apa ya" ucapku penasaran dengan sikap Indra hari ini, "Semoga hanya karena marah" lanjutku mulai khawatir dan berharap jika sikapnya hari ini karena protes akan sikap ku kemarin. "ting tong ting" bunyi jam dinding yang memecahlan lamunanku, "Jam 4 sore" batinku ragu antara lihat pertandingan Giri atau tidak. "trut trut" suara chat masuk, "Sudah di mana" tanya Giri di chatnya, Mendadak perasaanku gak enak jika harus menolak ajakan Giri, namun gak nyaman juga jika harus melihat pertandingan dengan rasa penasaran dan khawatir seperti ini. "Sudah mau jalan" balasku, "Tapi aku gak bisa lama ya" lanjutku, "Aku lagi kurang sehat" jelasku. "Kamu sakit" balas Giri dan belum sempat kubalas chatnya, suara telepon masuk dari Giri, "Halo" sapaku, "Kamu sakit" balasnya dengan panik, "Wah, apa yang telah kulakukan dengan laki laki ini" batinku menyesal, "Jangan dipaksa, nanti selesai tanding aku jenguk ya" lanjutnya, "Hah, tidak tidak" ucapku panik dalam hati, "Gak apa apa, aku udah siap ko. Tunggu ya" balasku cepat dengan langsung mematikan sambungan telepon nya. "Hei" sapa Giri saat mengahampiri ku, "Hei, sudah.." balasku yang terpotong karena kaget dengan sikap Giri yang tiba tiba memegang keningku, "Kamu demam" ucap Giri dengan raut muka khawatir, "Aku jalan kaki" balasku menjelaskan sebabnya keningku panas. "Oh" lanjut Giri tersipu, yang membuat seketika tawa ku lepas melihat ekspresi malunya dan dibalas Giri dengan mengacak acak rambutku sambil ikut tertawa. Tanpa disadar, semua mata tertuju melihat kami yang sedang tertawa. "Pasangan serasi" sapa sepasang Oma Opa yang melintasi kami, sontak membuat kami terdiam dan saling menatap. Cukup lama kami saling memandang, "Ayo, aku sudah dipanggil" ajak Giri sambil menggandeng tangan ku memasuki lapangan.
__ADS_1
"Kamu naik apa kesini" tanyaku ke Indra saat berjalan menuju lobby, "Aku bawa mobil" jawabnya, "Pas, aku jalan kaki tadi kesini" lanjutku. Sampai di parkiran, "Itu mobilku" ucap Indra menunjuk mobil sport terbaru berwarna hitam, "Wah, kamu kabur atau jalan jalan" godaku bingung, jika sesuai rencananya yaitu kabur, kenapa harus bawa barang mewah. Jika jalan jalan, apakah sudah melunak Papi dan kakak kakak nya. "Ayo" pintanya saat membukakan ku pintu mobil. "Perduli apa" ucapku pelan sambil masuk kedalam mobil. "Parkir disini aja Mbul" ucapku sambil menunjuk rumah didepannya, "Ayo turun" ajak ku, "Ayo" balasnya sambil tersenyum lega melihat tempat aku tinggal selama ini. Itulah Indra, saksi hidup jatuh bangunnya aku dan Papa. "Mau minum apa?" tanyaku sesaat setelah masuk keruang tamu, "Mama Papa" tanyanya balik, "Oh Mama Papa, lagi keluar mungkin malam baru pulang. Kenapa?" jelasku sambil balik bertanya, "Aku gak haus" balasnya sambil berdiri dan mulai berjalan mendekatiku, "Boleh aku cium kamu?" tanyanya yang membuat jantungku berdegap kencang, "Ishh, pertanyaan macam apa itu" batinku gemetar, dan tanpa menunggu jawaban Indra langsung mencium kening dengan kedua tangannya memegang pinggangku. "Aku bisa gila jika kamu seperti kemarin, mengabaikan telepon dan chatku" ucapnya pelan saat keningnya beradu dengan keningku, "Apapun alasanmu, jangan lakukan itu lagi" lanjutnya yang membuat aku terpaku dan tanpa ragu Indra langsung mencium bibirku. Sesaat batinku merasa damai, namun tiba tiba aku teringat Giri. Perasaan Indra kuat, ucapanya untuk mengabaikan alasanku dan meminta untuk tidak melakukannya lagi mengandung banyak arti. "Maafkan aku Mbul" batinku tulus.
__ADS_1