
"Inget ya Put, jangan abaikan aku" pesan Giri sebelum aku turun dari mobilnya, "Argh, kenapa jadi begini" keluhku dalam hati sambil berjalan masuk ke dalam rumah. "Malam" sapa ku ke Mama Papa yang sedang duduk di meja makan, "Dari mana?" tanya Mama dengan nada introgasinya, "Jalan jalan keliling komplek" jawabku sambil mencium pipi Papa. "Gimana hasil kontrolnya?" tanyaku lembut ke Papa dan dijawab Papa dengan anggukkan kepala sambil mencoba tersenyum. "Semua akan baik baik saja" bisikku ditelinga Papa sebelum beranjak ke lantai dua menuju kamar. Dalam kamar, "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyaku sendiri dengan ragu. Ragu dengan apa yang sebenarnya ku inginkan untuk masa depan ku, bukan ragu akan perasaan ku ke Indra karena kehadiran Giri. "Ahh, jalani saja lah" ucapku putus asa sambil menutup wajah dengan bantal. "Jalan dulu Ma" pamitku setelah mendapat pesan dari Indra jika dia sudah sampai di depan rumah, "Diantar siapa?" tanya Mama cepat sambil melihat mobil yang parkir didepan rumah, "Indra" jawabku sambil mencium tangan Mama tanda pamit. "Hei" sapaku saat membuka pintu mobil Indra, "Gak apa apa aku gak pamit ma Mama?" tanyanya dengan nada cemas, "Gak apa apa, nanti aja pas pulang baru ketemu Mama" jawabku datar, "Aku udah telat" lanjutku meyakinkan Indra untuk ketemu Mama saat antar aku lagi. "Besar juga kampus nya" ucap Indra saat parkir di depan gedung calon kampus ku, "Iya ya" balasku menyadari ternyata Universitas yang aku pilih ini bukan Universitas swasta biasa, tapi termasuk Universitas swasta terbesar di Jakarta. "Wah antrinya panjang juga ya" batinku saat melihat antrian calon mahasiswa di loket pengembalian formulir pendaftaran, "Mau aku belikan minum?" tanya Indra yang ikut menemaniku mengantri, "Boleh" jawabku lembut. "Put" sapa seseorang dari samping kiriku, "Andre" balasku kaget karena yang memanggilku ternyata Andre, "Kamu kuliah disini?" tanyaku dengan nada senang tak percaya bisa bertemu dengan Andre disini, "Enggak, aku antar kawan" jawabnya sambil tersenyum dengan tatapan tak percaya juga. "Kamu sendiri?" lanjut Andre bertanya yang seketika membuatku terdiam, "Hei" sapa Indra dari arah belakang kami, "Hei" balas Andre dengan senyum yang dipaksakan. "Kuliah disini juga?" tanya Indra datar, "Tidak" jawab Andre, "Tapi akan" lanjut Andre sambil melirikku dengan senyum penuh rencana. "Telepon mu masih sama kan?" tanya Andre sambil mengambil ponsel dari tanganku, "Ini nomorku yang baru, yang lama udah hilang" ucapnya sambil memberikan kembali ponselku, "Itu kenapa aku tidak bisa hubungi kamu" jelasnya, "Aku akan hubungi kamu lagi" lanjutnya sambil melambaikan tangan tanda pamit.
__ADS_1
Sudah cukup lama mobil berjalan meninggalkan parkiran kampus, namun tidak satu kata pun terucap dari mulut Indra ataupun dari mulutku. Suasana mendadak canggung, "Huft, sangat sangat gak nyaman" batinku mengeluh, "Kita mau makan apa?" tanyaku dengan nada tenang mencoba mencairkan suasana, "Aku gak lapar, aku antar kamu pulang aja ya" jawab Indra menolak ajakkan ku dengan nada datar yang membuat perasaanku sedikiti tersinggung, "Kenapa jadi marah, emang aku sengaja ketemu dengan Andre" keluhku kesal dalam hati. Cara mengemudi Indra mulai terlihat jika dia sedang kesal, "Berhenti Mbul" ucapku tegas dengan nada sedikit tinggi, "Hentikan mobil ini" lanjutku sambil menunjuk kearah bahu kiri jalan. "Kenapa?" tanyanya tanpa melihat kearah ku sesaat setelah mobil berhenti, "Makasih tumpangannya, aku turun disini" jelasku sambil membuka pintu mobil dan keluar menuju halte yang tidak jauh dari tempat Indra menghentikan mobilnya. Cukup lama aku berdiri di halte, dan Indra hanya melihat dari dalam mobil tanpa berusaha menghampiriku. "Dia pikir siapa dirinya, bisa marah seenaknya" batinku mengumpat kesal, "Aku naik apa pulang kerumah?" lanjutku bingung, karena tidak tau harus naik kendaraan umum apa untuk sampai kerumah. "trut trut trut" ponsel ku berbunyi, "Maaf Non" ucap Indra setelah aku angkat teleponnya, "Ayo aku antar pulang" lanjutnya, "Enggak makasih" balasku sambil mematikan sambungan teleponnya. Tidak lama setelah telepon itu, Indra keluar dari mobil menghampiriku, "Ayo Non" ucapnya membuat semua orang yang berada di halte melirik ke arah ku, "Wah, kejadian juga" ucapku dalam hati menebak pikiran semua orang itu melihat aku dan Indra. Akhirnya aku ikuti pintanya Indra, daripada malu depan semua orang di halte. "Mana kunci mobilnya?" tanyaku saat depan kap mobil Indra, "Kenapa?" jawab Indra bertanya balik karena bingung, "Aku yang nyetir" jawabku dengan tatapan serius, Indra yang sudah paham dengan sifat ku tanpa ragu memberikan kunci mobilnya. "Aku cemburu" ucapnya tidak lama setelah mobil mulai berjalan, "Jujur, posisiku belum aman di hatimu. Aku punya kunci mati yang bisa membuatmu meninggalkanku" lanjutnya yang membuatku teringat akan Zona aman, "Aku takut, takut kehilanganmu" jelasnya lirih yang membuatku sesaat memalingkan kepala melihat Indra menundukkan kepala. "Astagah, apa yang kulakukan" batinku tidak tega melihat Indra seperti itu. Kuhentikan mobil di pinggir jalan, "Mbul" panggilku sambil memiringkan badan menghadap Indra yang kaget melihatku menghentikan mobil, "Hubungan kita dari awal bukan hubungan yang berada dalam zona aman, tapi kita berusaha membuatnya menjadi zona aman, meski kita sama sama tau itu sangat tidak mungkin" ucapku mengawali pembicaraan yang sudah lama ingin ku ungkapkan, "Sampai kapan, kita tidak tau" lanjutku dengan nada putus asa. "Saat kamu tanyakan soal rencana masa depanku, jujur aku bingung. Karena masa depanku bukan hanya sekedar meneruskan sekolah sampai menjadi sarjana, tapi bagaimana akhir dari hubungan ini kedepannya", "Aku bukan bertambah muda setiap tahunnya, tuntutan hidup tidak semudah dan segampang dulu" jelasku tanpa di sela Indra, "Aku tidak mau kamu menyia nyiakan masa depan mu untuk menghampiriku, karena aku juga tidak mau menyia nyiakan waktuku untuk hal yang bisa kupastikan tidak akan berakhir sesuai keingginan ku" lirihku dengan perasaan lega, berharap Indra merasakan hal yang sama. "Aku paham Non" balas Indra sambil memegang tanganku, "Kecemburuan mu bukan hal yang penting saat ini, karena tanpa rasa cemburu hubungan kita tanpa arah yang pasti" tegasku dengan nada lembut, "Kunci mati bukan hanya di kamu, tapi ada juga di aku", "Kita seperti bom yang bisa meledak sewaktu waktu" ucapku mencoba menenangkan Indra jika hubungan kami bukan kesalahan yang hanya akan menyedihkan atau menjadi beban satu pihak saja. "Jika memang kita berjodoh dan keajaiban milik kita, aku yakin Andre atau siapapun tidak akan menjadi hal penting buat kita" kata kata terakhirku yang menyiratkan akhir hubungan ku dengan Indra.
__ADS_1
"Lega dan aneh rasanya" ucapku dalam hati sambil berjalan kaki menuju rumah. Aku melarang Indra untuk mengantarku pulang sampai rumah, untuk mencegah pertanyaan Mama. Apalagi setelah pembicaraan kami tadi yang akhirnya membuat kami berdua menyerah. "tinn" suara klakson dari arah belakang, ku balikkan badan dan "Baru pulang" sapa Mamanya Giri, "Iya Tante" jawabku sopan, "Tante baru pulang belanja, mau makan malam dengan Tante?" ajaknya yang membuat ku bingung untuk menolak. "Giri sedang ke kantor Papanya, dia mulai masuk kantor, magang" ucap Mamanya Giri menjelaskan kenapa tidak ada Giri dirumah. Usia Giri 3 tahun lebih tua dari usia ku, jadi sudah sepantasnya dia masuk dunia kerja. "Nah, jadi deh" lanjut Mamanya Giri saat menghidangkan makanan untuk kami santap berdua, "Kamu anak tunggal ya?" tanya nya, "Iya Tante" jawabku sambil tersenyum. "Nanti dapat adik dari Giri aja, adik Giri ada dua tapi meninggal satu 4 tahun lalu, sekarang tinggal satu tinggal dengan Papanya" lanjut Mamanya, yang membuat ku bingung di kalimat terakhirnya. "Ma" panggil Giri saat masuk ke dalam rumah dari pintu dapur bersih yang nembus ke garasi, "Put" ucapnya kaget melihatku duduk dimeja makan rumahnya. "Mama yang minta Putri makan disini" jelas Mamanya karena melihat Giri yang bingung kenapa aku bisa sampai dirumahnya. "Baguslah, kalian berdua harus mulai saling membiasakan diri" celotehnya yang tanpa malu sambil menarik bangku duduk disebelahku. "Aku antar kamu pulang" ucap Giri setelah aku pamit dengan Mamanya, "Aku mau jalan kaki aja, udara malam disini sangat nyaman" balasku mencegah Giri mengambil kunci mobilnya. "Oke, aku temani kamu jalan kaki" lanjutnya dengan tersenyum. "Ada apa?' tanyanya sesaat setelah kami keluar cluster menuju jalan utama, "Gak ada apa apa" balasku dengan senyum terpaksa mencoba menutupi perasaan sakit, kecewa dan sedih karena kejadian tadi siang dengan Indra. Tidak bisa kupungkiri, aku patah hati. Perpisahan ku dengan Indra bukan karena orang ketiga, apalagi karena berubahnya perasaan kami satu sama lain, tapi karena keadaan. "Kunci mati" batinku menyadari sebab perpisahan kami.
__ADS_1