
Di pagi yang buta begini, Fira bangun bagaikan burung hantu yang tidak bisa diam. Sudah berapa kali dirinya terbangun dan tidak kunjung lagi untuk memejamkan matanya dengan tenang. Fira merasa rasa gelisah semakin memuncak hebat. Sejak Ervan bekerja hingga larut malam.
Sampai sekarang dirinya belum bisa dihubungi. Padahal Fira tidak bermaksud untuk mengganggu pekerjaan Ervan. Namun sebagai istri pasti merasa cemas. Walaupun Ervan kerja demi calon buah hatinya. Namun rasa itu tidak bisa dibohongi. Dia coba lagi menghubungi Ervan.
Nada panggilan pun tersambung, dengan cepat Fira bersuara. Namun suara yang dia dengar bukan Ervan melainkan suara orang lain.
"Halo?"
Fira menjauhkan ponselnya, sekali lagi dia memastikan bahwa nomor dia telepon itu benar-benar milik suaminya.
"Hal-Halo."
Fira berusaha untuk menetralkan suaranya.
Lalu di seberang barulah Fira mendengar jelas, ada suara lagi, Fira tidak boleh prasangka buruk. Fira harus berpikir positif jikalau suaminya kerja pasti sangat malam dan itu bisa diyakinkan orang yang mengangkat telepon Ervan adalah temannya.
"Oh, ini ada yang telepon kamu, aku gak tau, tapi dari nama kontak sih, istrimu," jawabnya.
Ervan sontak merebut ponsel dari Chika. Dia pun segera menghubungi kembali. Ervan tidak ingin jika Fira berpikir bahwa dirinya berselingkuh.
"Halo, Sayang. Maaf baterai aku mati total. Kelupaan isi. Ini juga aku sempat numpang pinjam charger dari temannya majikan aku, maafkan aku, Sayang. Jangan prasangka kalau ...."
[ "Gak kok, Sayang. Aku hanya memastikan saja. Aku paham, Sayang pasti sibuk. Apalagi pekerjaan Sayang gak sempat untuk dihubungi." ]
Ervan lega, tapi ada rasa bersalah juga terhadap Fira. Berbuat berbohong seperti sebenarnya bukan keahliannya. Hanya ini yang bisa dia lakukan. Apalagi dirinya juga tidak ingin membuat Fira semakin salah paham akan pekerjaan dia jalani. Jikalau bukan karena pengaruh minuman dia minum, bahkan melayani putri majikan.
"Sudah sarapan? Sebentar aku pulang. Jangan lupa makan dan vitamin juga, ya. Jangan tunggu aku. Aku tadi baru saja sarapan. Dibeli sama teman sama-sama kerja," ucap Ervan sembari senyum pada Chika, hendak untuk beranjak ke kamar mandi.
Kedua kalinya Ervan berbohong, Ervan belum siap untuk menceritakan dan memberitahu kepada Fira. Ervan tidak ingin hubungan pernikahan retak, apalagi Fira sedang masa kehamilan.
[ "Iya, ini juga aku sedang di dapur, lagi bikin teh," ]
Fira masih telepon, seraya berjalan ke depan sekaligus mencari udara segar. Tidak berapa lama, dia tidak sengaja melihat pohon pokok mangga di seberang. Dipikir-pikir, Fira ingin makan buah itu.
"Sayang, nanti habis pulang dari kerjaan, aku boleh nitip beli sesuatu, gak?"
[ "Apa itu?" ]
"Beli mangga muda, aku pengin makan. Sekalian beli cabai rawit, ya. Pilih cabai nya yang kecil-kecil, kalau ada merahnya, ya, Sayang. Nanti di sini aku bikin ulek sambalnya,"
__ADS_1
["Baiklah, Sayang," ]
"Ya uda, aku tutup dulu, jangan lupa, ya!"
["Iya!"]
Ketika telepon usai, Fira duduk di bangku panjang bambu tersebut. Sambil menikmati segelas teh buatan sendiri. Sesekali dia lihat tehnya, dan rasanya hambar.
"Kok, gak ada rasa?" gumamnya.
"Ya ampun, kelupaan taruh gula, pantas saja rasanya aneh gini," gumamnya lagi.
Dia pun hendak masuk ke rumah, untuk kembali ke dapur. Tidak sengaja Renata keluar dari kamar. Dengan wajah sanggar. Fira menuangkan dua sendok gula ke dalam tehnya.
"Ya ampun Fira. Kamu lagi hamil, kadar gulanya agak-agak dong. Nanti diabetes loh, masih muda sudah konsumsi bermanis-manis, bagaimana nanti pas kamu melahirkan?" omel Renata. Di pagi hari Fira sudah mendapat sarapan omelan mertuanya.
"Gak terlalu manis kok, Ma," balas Fira santai. Diseduh hingga merata.
"Kalau orang tua tegur, didengar. Malah ngelawan," celetuk Renata.
Fira tidak terlalu memusingkan soal teguran dari mama mertuanya. Asal dia merasa santai meskipun dia memang sangat menyukai rasa manis berlebihan. Memang sih, tidak baik buat masa kehamilan. Apalagi masa hamil muda baru akan memasuki dua bulan.
...***...
"Belum, Tuan," jawabnya seraya menghormati Alex.
Alex langsung memandang pria tua di hadapannya.
"Memang semalaman kau kemana saja?"
Alberto diam, "Istirahat, Tuan," jawabnya lagi, sangat jujur sekali.
"Hari ini harus ada laporan tentang wanita itu. Tidak ada alasan apapun," perintah Alex kepada Alberto.
"Baik, Tuan," ujarnya.
Semalaman Alex tidak bisa tidur karena sebuah hinaan dari seorang wanita sudah dia anggap orang tua terhormat. Tetapi melihat situasi seperti itu, pastinya ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.
Bahkan Alex juga merasa ada aneh pada dirinya. Setiap kali, selalu saja ada masalah dengan wanita dia bertemu. Entah perdebatan tidak jelas itu. Bahkan kue yang dia sempat minta tolong kepada ibu sihir itu. Dengan alasan diberikan ke orang yang menginginkannya.
__ADS_1
"Tuan," Alberto memanggil Alex.
Sebelum Alex berpaling, sudah muncul sosok paling dia sebal saat ini. Apalagi paling malas berurusan dengan sosok manja berlebihan.
"Hai, Beb! Semalam kamu ke mana saja? Main menghilang segala," sapa Chika.
Lalu dia main duduk di sebelah Alex sambil menikmati secangkir teh belum disentuh oleh Alex tersebut.
"Tidak ke mana-mana, memang kenapa? Ada gerangan apa kau kemari? Kau tidak lihat aku sedang tidak ingin diganggu? Kalau soal shopping, jalan-jalan. Aku menolak, saat ini aku sedang malas untuk beraktivitas," ucap Alex dengan celoteh panjang lebar sekaligus memberitahu kepada Chika.
Chika bukannya tersinggung atas ucapan dari Alex malahan dia tersenyum. "Aku ke sini tidak minta kamu temani aku keluar, aku cuma mau main-main di apartemen mu."
Dalam sekejap Alex menoleh. "Buat apa? Memang kau pikir, apartemen aku tempat hiburan hura-hura?"
"Alberto!" Alex memanggilnya.
"Ya, Tuan!" respons Alberto.
"Bawa keluar cewek cupu ini, aku sedang tidak mau diganggu!" pinta Alex.
Chika bukannya panik malahan dia masih duduk santai. Tidak berapa lama muncul suara langkah kaki. "Mama yang minta Chika buat main-main ke sini," terdengar lah suara tidak asing lagi ditelinga Alex.
Marika muncul tepat berdiri di sebelah Alberto. Dengan wajah angkuh, menatap tajam ke arah Alex. Alex malah terpaku dalam suasana tidak mendukung.
"Yang berhak mengusir aku itu, Tante Marika, bukan Beb Alex," ucap Chika kembali bersuara.
...***...
Fira sedang membereskan pakaian kotoor dari Ervan. Ervan pas tiba ke rumah, rusuh banget bajunya. Karena hari ini Fira malas buat keluar jalan-jalan. Dia lebih baik melakukan kegiatan ringan. Seperti membereskan pakaian dari lemari, atau rapikan kamar.
"Sayang, ini aku sudah cuci buahnya, mau taruh di mana?" Ervan muncul dan membawa buah mangga muda, diminta oleh Fira tadi pagi.
"Taruh di meja, saja, nanti aku bikin ulek rujak. Sayang mau, kan?" jawabnya.
"Sip, mau dong. Ulekan kamu kan enak, tapi jangan terlalu pedas, ya, kasihan sama adiknya," senyum Ervan.
"Baiklah, istri harus dengar perkataan suami," Fira ikut tersenyum.
Tidak lama Fira merogoh kemeja Ervan, terdapat sesuatu di bajunya. Ada noda merah pudar tercetak di sana. Bahkan Fira sempat memperhatikan lebih teliti lagi, takut dia salah melihat. Setelah mendekatkan arah jendela untuk cahaya lebih terang. Barulah Fira terdiam.
__ADS_1