
"Yang tadi kamu jangan salah paham dulu, ya. Aku sama dokter David, hanya bercanda saja," ucap Alex mencoba bicara baik-baik kepada Fira.
Dia takut nanti Fira berpikir tidak-tidak soal percakapan sepuluh menit yang lalu. Bagaimana reaksi seorang wanita hamil kalau mendengar omong kosong seperti ini? Bisa-bisa buat Alex semakin stres. Apalagi dia sangat susah menghibur seorang wanita.
Fira tidak menunjukkan apa pun, walaupun Alex berusaha mengatakan sejujurnya. Pastinya Fira juga tidak akan prasangka buruk juga terhadap Alex.
"David itu memang begitu, kadang omongan dia tidak bisa dikondisikan, apalagi pernah dia katakan, kalau aku pernah meniduri seorang wanita hanya sekali tem ...."
"Maksud aku ...."
Alex menjeda kata-katanya, mencari kalimat yang tepat. Mengapa dia harus membicarakan soal tidak ada hubungan dengan soal ini.
"Kamu mau ke mana? Biar aku yang antar kamu pulang, sudah malam, tidak bagus untuk wanita seperti kamu pulang ...."
"Gak apa-apa, aku bisa pulang sendiri kok, Terima kasih untuk hiburan hari ini," lanjut Fira bersuara.
"Tuh, tuh, kan!" Alex sudah tidak bisa berpikir lagi.
"Tidak bisa! Kalau kamu tidak mau aku antar, biar aku minta sopir ...."
"..., bukannya sopir kamu sedang sakit?" sambung Fira berbicara. Meskipun niatan Alex ingin diantar.
"Iya, memang sih. Tapi, sopir aku bukan satu saja, ada ...."
Baru saja akan dipanggil, sudah nongol sopir cadangan, Nisan. Nisan yang pernah temani Alex di rumah sakit waktu Fira tiba-tiba jatuh pingsan.
"Tuan!"
Alex pun dengan muka bahagia menunjukkan ke Fira. "Nah, aku baru mau sebut, dia sudah muncul."
"San, bisakah kamu antar dia?" pinta Alex.
Tapi Nisan malah bengong. "Tapi, Tuan. Saya diminta sama ibu Marika untuk ...."
"Sudah antar dia, soal ibu lampir itu nanti saja, lebih penting keselamatan dan keamanan!"
__ADS_1
Alex dengan ngotot mendorong dan berikan kunci mobil dengan segera minta Nisan mengantar Fira. Nisan pasti menuruti.
"Mari, Bu," ujar Nisan.
Fira pun mengikuti Nisan ke parkir. Tak lama Fira dan Nisan tidak terlihat lagi. Hape Alex berdering. Nama yang sudah tidak perlu disebut lagi. Dari ibunya sendiri--Marika.
Alex mengangkat, terdengar suara ngegas dari seberang. "Ke mana saja dirimu! Bagaimana keadaan Alberto? Apa kata dokter?"
Kekhawatiran Marika terhadap Alberto sangat langka sekali. Bagaimanapun Marika sangat mempercayai pekerjaan lelaki tua itu. Bahkan Alex sendiri tidak tahu bagaimana kedekatan Alberto dengan ibunya.
"Dia baik-baik saja, tidak perlu dikhawatirkan. Racunnya belum tersebut seluruh tubuhnya," ucap Alex.
"Syukurlah, jadi kejadian itu bisa terjadi?"
Alex mendengkus. "Kenapa Anda tidak bertanya saja pada calon jodoh yang Anda pilih itu?"
Di rumah, Marika sedang duduk di temani oleh seseorang, siapa lagi Bryan. Saat ini Bryan sedang berdiri, menunggu perintah selanjutnya.
"Maksudmu Chika? Putrinya Hatari?" tebak Marika.
Marika semakin tidak mengerti maksud pengakuan putranya. "Jadi kau menuduhku?"
"Memang siapa lagi yang boleh minta dia datang ke sini, kalau bukan Anda?"
"Saya tidak pernah meminta siapa pun untuk datang ke tempat istirahatmu," ucap Marika jujur.
Alex yang duduk di Koridor bangsal tiga, dengan suara pelan. Belum itu saja, Alex makin tidak mengerti kejujuran dan jawaban dari ibunya sendiri.
"Benarkah? Bukan Anda yang meminta dia datang ke apartemenku?" Sekali lagi Alex bertanya dengan pasti.
"Memang kau tidak percaya ucapan ibu yang mengandungmu?"
"Lantas, jika bukan Anda. Siapa lagi yang nekat datang tanpa kode kunci darimu?"
Mulai perdebatan antara ibu dan anak. Tidak ada yang mengalah. Alex terus menuduh dan mencari kesalahan ibunya. Sedangkan Marika bersikeras tidak pernah melakukan tanpa diperintah dari mulutnya sendiri. Malah yang membuat Marika curiga atas pengakuan dari putranya, bahwa putrinya Hatari datang ke apartemen atas perintah darinya. Itu yang membuat Marika kebingungan.
__ADS_1
"Saya tidak pernah meminta siapa pun, kalau kamu tidak percaya, bisa tanya ke Nisan, atau Alberto."
Alex belum usai berbicara, panggilan telepon pun diakhiri oleh Marika. Dengan rasa kesal dimiliki Alex pun memuncak.
Dia beranjak dan berjalan ke kamar rawat di mana Alberto inap. Akan tetapi saat kakinya baru saja akan melangkah. Hapenya kembali berdering. Kali ini bukan Marika melainkan Nisan.
"Ada apa?"
"Tuan, wanita yang tuan minta saya antarkan ...."
Alex berputar dan mengeratkan hape kemudian bergegas berlari, membuat perawat jaga menegurnya.
...***...
Fira malah berdiri salah satu tempat, tempat itu bukan sebuah rumah. Melainkan sebuah Halte. Menunggu bus atau angkutan umum. Waktu Nisan akan mengantar dia pulang. Fira meminta diturunkan ke halte saja.
Nisan masih memantau wanita itu. Sudah jam sembilan malam, tidak akan ada angkutan umum yang lewat. Apalagi di sana sangat sepi. Nisan takut jika terjadi sesuatu. Daripada nanti dia kembali, terus ditanya sama Alex. Apa dia tidak merasa terancam bunuh diri. Maka dia pun menelepon dan memberitahu saja kepada Alex, agar bisa memastikan kalau tugasnya buat antar tidak tercapai tujuan.
Fira seperti orang linglung, tidak ada tujuan. Dia terus mengamati hapenya. Whatsapp dan Media Sosial lainnya. Bahkan akun Instagram sama Facebook dari Ervan juga dia buka. Tanpa sengaja dia melihat sebuah chat salah komunikasi aplikasi itu.
Walaupun Fira masih berpikir positif. Terdapat sebuah chat singkat, kalau Ervan sedang mengirim pesan dari seorang perempuan, yang pernah disebut oleh suaminya, putri majikan. Meskipun percakapan itu tidak dipahami oleh Fira.
"Kenapa duduk di sini?" Alex duduk sambil mengatur napasnya, karena habis berlari. Sebab, mobilnya dipakai sama Nisan.
Fira hanya sekilas melirik kemudian kembali ke hapenya. Alex pun curi pada layar hape tersebut. Meskipun hanya sekilas. Sebab, Fira mematikan ponselnya.
"Katamu, aku boleh tidur di apartemen-mu?" Fira membuka suara, meskipun dia memandang depan dengan tatapan kosong.
"Kenapa? Kamu mau menginap? Bagaimana dengan orang rumah mu? Apa mereka tidak akan ...."
"..., mereka tidak akan mencariku. Sama saja, Ervan malam ini tidak pulang. Dia akan pulang di hari esok nanti," imbuh Fira.
Alex pun mengeluh tanpa bertanya lagi. Tak butuh yang lama, mobil di mana Nisan parkir tidak jauh, datang, dan berhenti. Alex pun berdiri dan membuka pintu untuk Fira.
Fira belum bergerak. Alex maksud sikap wanita itu. "Tadi dia takut aku marah, jadi dia tunggu kamu di tempat yang jauh. Buat memastikan apakah kamu sudah mendapat angkutan umum apa tidak. Karena sudah terlalu lama menunggu, maka dia menghubungi aku, jadi sekarang aku di sini," terang Alex untuk menjelaskan tanpa ada kebohongan.
__ADS_1
Nisan langsung beri senyuman. Fira pun bangun dan masuk ke mobil. Nisan pun membawa dua orang ke tujuan.