
"Sayang, nanti malam mungkin aku agak malam pulang, kalau kamu merasa ...."
"Aku baca buku novel," senyum Fira, dia tidak akan membebani Ervan.
Ervan merasa lega, dia khawatir semenjak kerja, tidak ada waktu buat menemani dirinya tidur. Apalagi pekerjaannya sekarang akan jauh lebih banyak lagi. Soalnya putri majikannya sebentar lagi melanjutkan pendidikan kuliah, pastinya kegiatannya semakin menumpuk. Belum lagi, dia juga harus antar pemiliknya ke sana ke sini. Meskipun dijadikan sopir pribadi atau khusus, pastinya Ervan lakukan juga demi buah hati dan istrinya.
Ervan mendekati Fira sedang melipat baju, sebelum dia berangkat, dia mencium kening istrinya terlebih dahulu. Fira terdiam setelah apa dilakukan oleh suaminya. Entah apa yang membuat perasaan Fira aneh. Ada yang mengganjal dibenaknya, ketika ciuman itu begitu lembut dan cukup lama. Ervan memeluk istrinya, entahlah, dia juga merasa tidak bisa menjauh, meskipun dia bakalan jauh lebih lagi.
"Aku usahakan cepat pulang," ucap Ervan seakan berat banget buat lepas pelukan istrinya.
Fira juga membalas dan senyum, dia tahu, suaminya lakukan juga karena demi buah hati. "Tidak apa-apa, bukannya kamu kerja juga demi anak kita nanti."
"Aku usahakan kalau pekerjaan tidak banyak, aku telepon," katanya sekali lagi mencium pipi Fira.
"Iya."
Setelah Ervan berangkat kerja, Fira bisanya menatap punggung suami dari jauh. Perasaan yang dirasakan olehnya tidak seperti dia rasakan ketika masih bersama Ervan masa pacaran.
Apartemen Alex disuguhi seorang perempuan sangat menyebalkan. Di dalam tempat dia tinggal bagaikan kapal pesawat yang hancur sekali.
Chika sedang membuat sesuatu di dapur, Alex hanya bisa berseteru dengan kepala, Alberto berdiri dengan setia menemaninya. Sedangkan di luar sana, suara pembantu yang dipekerjakan oleh Alex membantu membersihkan adonan tepung bertebaran ada di mana-mana.
Alex tidak bisa lagi mengatasi itu semua, yang perlu dia lakukan duduk diam. Membiarkan perempuan manja itu melakukan sesukanya. Jika perlu dia juga ingin membakar habis tempat ini. Sayang, dia tidak bisa melakukannya. Tempat dia tinggal jauh lebih berharga daripada mengeluarkan sepersen uang sebagai ganti rugi.
Suara dari dapur terdengar sangat jelas. Ada suara pecahan. Pastinya benda kesayangan milik Alex. "Ini yang ibu sihir itu menjodohkan aku dengannya? Bisa-bisa simpanan tabungan aku ludes dibuatnya," ucap Alex sambil menahan geramnya. Sehingga menggigit giginya sendiri.
"Sabar, Tuan. Mungkin dari sini, Tuan bisa belajar menghadapi semacam nona Chika," sambung Alberto seakan mendukung perempuan yang suka dijuluki oleh Alex.
Dengan cepat pula, mata Alex menuntut Alberto dengan tatapan tidak suka. Alberto mengerti arti tatapan mata dari putra majikannya.
__ADS_1
"Apa kau tidak sayang lagi dengan nyawamu yang sudah menipis?"
Alberto pun menunduk dengan bersuara bahwa dia melakukan kesalahan, "Tidak Tuan. Maksud saya ...."
Tak berapa lama Chika muncul dengan membawa sesuatu pada piring ada di atas baki¹ tersebut. Meskipun diwajahnya tercetak beberapa tepung menempel, namun baginya dia sudah berhasil membuat kue kesukaan Alex.
"Beb Alex! Lihat aku sudah berhasil membuatkan kue bolu kesukaan kamu," ucapnya. Kemudian berjalan di mana Alex berada.
Alberto memberi jalan untuk Chika. Dari kejauhan saja, bisa Alex cium bahwa aroma yang dibuat oleh perempuan satu ini akan membunuhnya. Bahkan warna yang dia lihat juga tidak akan menerima rasa pada lidahnya.
"Apa kau berniat membunuhku?" Alex bertanya pada Chika.
Chika malah tidak merasa dia buat bolu segenap hatinya. Entah kenapa Alex malah mengatakan akan membunuhnya. "Maksud kamu?" Malahan Chika balik bertanya.
"Kau itu memang punya otak bodoh atau memang pura-pura tidak tahu apa-apa? Apa ini yang disebut Bolu?"
Kali ini Alex menunjukkan sikap kesal. Bahkan memberitahu kepada Chika soal bentuk bolu yang warna yang cantik, halus, lembut, dan terlihat menggiurkan. Tapi, yang Chika buat tidak sama dengan Alex lihat. Yang sudah diberikan oleh ibu sihir kepada wanita yang ngidam itu.
"Apa kau sudah mencobanya? Apakah itu sudah pas dengan bahan-bahan yang kau masukan itu?" potong Alex bertanya. Seakan dia jauh lebih tahu makanan kue.
"Sud ...."
"Benarkah? Alberto!"
Alberto pun menghadap, Alex berikan kue buatan Chika kepadanya. Alberto seakan ingin mengeluarkan sesuatu dari hidungnya namun ditahan. Chika ikut ke arah Alberto meminta untuk tidak memakannya.
"Beb! Aku buat kue ini khusus untuk kamu. Kenapa kamu malah ...."
"Aku juga harus tahu, kalau Alberto makan kue itu tidak terjadi apa-apa. Baru aku akan memakannya. Apa kau sudah siap jika tiba-tiba aku mengalami insiden tidak terduga. Apa kau bisa mempertanggungjawabkan permasalahan ini?" timpal Alex segala jurus apa pun dia tidak akan mudah dibodoh-bodohi oleh perempuan seperti Chika.
__ADS_1
"Aku mana mungkin meracuni calon tunangan aku, apalagi ...."
"Masih calon, kalau benar-benar calon kau ini mati di depanmu, apa yang akan kau jelaskan kepada seluruh publik perihal ini?"
Semakin runyam pembahasan ini, sehingga membuat Chika tidak tahan. Dia pun keluar dengan wajah sangat marah dan ingin menangis. Alberto yang melihat Chika, merasa sangat bersalah sekali. Akan tetapi piring di tangannya begitu gemetar.
"Tuhan, sampaikan cinta sayang saya kepada istriku, jika saya tidak bisa menyelamatkan nyawa sendiri," batin Alberto, berdoa jika masa hidupnya akan berakhir dengan cara menelan kue bolu yang tidak tahu apakah rasanya enak atau tidak.
"Tuan, jika saya meninggal di sini. Apakah saya boleh minta makamkan saya di sebelah almarhum tuan Ray ...."
"Apa kau berniat diriku masuk penjara karena bolu sialan ini!"
Alex pun merebut kembali bolu itu, kemudian membuangnya. Setelah itu dia keluar dari ruangan. Apa yang dia hirup sangat menyengat di hidungnya. Beberapa asap masih liar di sekitar ruangan. Dua pembantu sedang membersihkan dan membuka jendela agar asap itu keluar secara perlahan-lahan.
Alat pemanggang sangat kotor sekali, bahkan tempat masak juga bertebaran beberapa cetakan adonan ada di mana-mana.
Masih ada lagi, hidangan bolu yang tidak jadi terletak di atas piring tanpa disentuh. Tapi, Alberto ingin mencoba tanpa sepengetahuan Alex yang masih menyelidiki semua barang apa yang hancur saat dia terdengar suara pecahan.
"Pot bunga ada di sini, di mana?" Alex bertanya pada salah satu pembantu yang sedang ngepel.
"Pot?"
"Pot warna cokelat," ucap Alex.
Pembantu itu sekilas mengingat, "Oh, ada di ruangan santai. Saya takut nona Chika menjatuhkannya. Soalnya saya tahu itu pot kesayangan Tuan," kata pembantu itu.
Alex lega kalau pot itu aman. Tapi dia melupakan satu lagi, "Lalu, mangkuk keramik warna biru apakah kau menyimpannya?"
Pembantu itu pun dengan jawab sangat ragu. "Itu ...."
__ADS_1
Selang berapa detik kemudian terdengar suara tersedak sesuatu, Alberto jatuh di lantai setelah apa dia rasakan kue bolu ada di atas Bartender tersebut.