
"Apa Tuan sudah punya rasa sama ibu Fira?" Nisan masih saja bertanya. Terus menempel dan mencari informasi.
Alex tidak menanggapi, dia pura-pura tidak mendengar ocehan dari sopir satu ini. Di mulai rumah sakit sampai ke kantor. Nisan tetap kepo terus. Sampai Alex tidak bisa konsentrasi sama pekerjaan. Dia juga masih bingung, dan juga masih terheran-heran.
Dia hanya membawa Fira ke rumah sakit buat periksa kandungan tetapi kenapa saat dia paksa minta dokter wanita. Puji amanat yang mulia, ada seorang dokter bersedia akan memeriksa kandungan, walaupun masih manga. Masih bisa sempatnya dokter manga itu memberikan foto USG kepadanya. Sudah mulai terlihat bentuk sosok yang hidup. Apalagi detak jantung juga. Untuk diperkirakan jenis masih tabu.
"Tuan ...."
"Ck! Bisa diam tidak sih? Dari tadi ngoceh saja mulutmu, apa tidak cape?" sengit Alex memasang mata siluet tajam pada Nisan.
Nisan terkekeh, "Cape sih, habisnya Tuan dari tadi tidak sahut apa yang saya omongin."
"Aku dengar, makanya diam, daripada kau ngoceh tidak jelas begitu. Bisa bantu lihat foto gambar ini? Kira-kira berjenis kelamin apa ya?" ucap Alex sambil mengamati foto USG 4D itu.
Nisan pun ikut melihat dan mengamati bentuk gambar itu. Meskipun dia kurang pandai menganalisa. "Kira-kira Tuan mau jenis kelamin apa?" tanya Nisan.
"Perempuan," jawab Alex pelan.
Nisan langsung terkesima saat mendengar jawaban dari mulutnya. Alex melirik. "Ada apa? Kenapa kau lihat aku seperti itu?"
Sebaliknya Alex bertanya terheran-heran pada sopir satu ini. "Tuan yakin tidak mempunyai perasaan aneh pada diri Anda?"
"Memang kenapa dengan diriku? Bukannya tadi kau tanya ke aku, hanya sebuah tebakan saja, kan?" jawab Alex masih belum menyadari sesuatu.
"Memang hanya tebakan, tetapi saya tadi sebut, Tuan maunya berjenis kelamin apa? Tuan langsung jawab perempuan. Tentu itu bukan tebakan instan."
"Coba Tuan pikirkan baik-baik, kalau memang Tuan tidak punya rasa simpati pada ibu Fira. Tidak mungkin, Tuan bisa menjawab secepat itu. Apalagi, Tuan ngotot banget yang periksa ibu Fira itu, dokter wanita. Dari mata penglihatan saya waktu Tuan selamatin ibu Fira dari pingsan beberapa minggu yang lalu. Saya merasa Tuan memang punya kedekatan, bisa kemungkinan Tuan memang sudah lama kenal ibu Fira. Hanya, hanya saja Tuan tidak ingat, pernah bertemu sebelumnya," terang Nisan, mencoba menjelaskan apa yang selama ini dia tahu, dia analisa.
__ADS_1
Walaupun dia masih baru, masih asisten sopir Alberto, tetapi seorang yang mempunyai insting kuat itu pastinya akurat banget. Di sinilah Alex mulai mengulang permasalahan dengan wanita hamil itu. Benar, di mulai dari pertama kali yang tidak sengaja saat lemparan botol minuman hingga insiden tidak sengaja atau disengaja. Bahkan dengan jasa baiknya, dia mengantar Fira pulang sampai dicemooh oleh wanita tua tak lain adalah ibu mertua dari wanita hamil itu.
Dari kekesalan itu membuat dia terus tidak tidur tenang, bahkan sampai meminta informasi tentang wanita itu melalui Alberto. Bukan itu saja, ibunya juga ngotot meminta dirinya segera membawa pulang wanita sudah dia menghamili dan berikan cek milliaran.
Lagipula, David--seorang doktor juga seperti itu. Menceritakan kalau dia sudah berhasil membuat seorang wanita mengandung calon anak di keluarga Sanjaya.
Semua memori yang tertempel di otak Alex benar-benar nyata dan terjadi banget. Tidak pernah ada satu rekayasa yang terulang. Apalagi seorang cewek cupu dari mana asal itu membuat kebencian di mata Alex semakin muak.
"Ya sudah Tuan, saya balik ke tempatku dulu. Mau sampaikan ke ibu Marika soal kandungan ibu Fira," ujar Nisan pamit pada Alex. Alex malah tidak menanggapi.
...***...
Kediaman Sanjaya, Marika sedang menggunting rating bunga baru saja dia petik. Alberto sedang istirahat di kamar. Elisa baru saja berikan obat untuknya. Sekarang dia menyusul ke tempat di mana Marika berada.
"Bagaimana keadaan Alberto, Lisa?" Marika langsung bertanya.
"Baguslah," ujar Marika.
Elisa sesekali memperhatikan Marika. Seperti ingin mengatakan sesuatu. "Ada apa Elisa? Ada yang mau kau tanyakan?"
"Begini Nyonya. Tadi sebelum antar Alberto untuk pulang. Apa Nyonya meminta tuan Alex membawa wanita itu periksa kandungan?" Elisa pun menanyakan hal itu.
Marika yang asyik menggunting ranting-ranting bunga terhenti sambil menatap ke Elisa. "Soalnya tuan Alex menyebutkan kalau Nyonya yang meminta dia membawa wanita itu periksa kandungan. Jadi saya hanya ingin memastikan apakah Nyonya memang minta dia ...."
"Dia bilang begitu?"
"Iya, Nyonya."
__ADS_1
Marika tertawa seolah pembahasan itu lelucon. "Akhirnya dia menyadari sendiri," ucapnya pelan.
Elisa tidak mengerti maksud ucapan majikannya. "Biarkan saja, biarkan dia lakukan sesuka dirinya," kata Marika kembali melanjutkan pekerjaan itu.
"Jadi, bukan Nyonya yang meminta tuan Alex membawa wanita itu periksa kandungan?" Elisa bertanya sekali lagi.
"Tidak! Justru saya minta Nisan membawa dia untuk periksa kandungan. Lalu apa yang terjadi setelah mereka tiba di sana?" Kali ini Marika malah bertanya pada Elisa. Seolah dia bisa memprediksi kalau Alex akan melakukan sesuatu oleh nalar orang lain.
"Tadi Nisan daftar wanita itu, namanya Fira. Saat namanya dipanggil, Alex dan dia masuk ke ruang pemeriksaan. Yang bikin lucunya adalah ...."
Elisa tidak bisa melanjutkan cerita kronologi saat di rumah sakit 25 menit yang lalu.
"Apa Elisa? Jangan membuat saya semakin penasaran. Apa yang terjadi di sana?" Marika tidak sabar ingin mendengar kronologi kejadian itu.
"Tuan Alex marah-marah saat Fira akan periksa oleh seorang dokter bernama Andrew, tetapi tuan Alex menolak. Malah meminta perawat, yang memeriksa Fira adalah seorang wanita juga. Masalahnya dokter berikutnya akan bergiliran periksa pasien punya jadwal tersendiri. Tetap tuan Alex ingin wanita. Keributan itu pun menjadi. Sehingga mau tak mau yang harus yang periksa seorang dokter manga." Elisa pun menjelaskan kejadian pada matanya sendiri.
Jika Elisa membayangkan sekali lagi. Mungkin Alex memang sudah cocok menjadi suami wanita hamil itu. "Lalu setelah itu, apa yang terjadi lagi?"
"Saat akan diperiksa, dokter manga itu memberitahu kepada tuan Alex, kalau kandungan Fira baik-baik saja, janinnya juga sehat, saat diperiksa detak jantung janinnya. Tuan Alex jelas mendengarnya, bahkan wajahnya pun terpaku tanpa bisa berkata-kata. Apalagi, foto USG 4D juga berikan kepadanya. Untuk jenis kelamin masih tabu, dalam kronologi diberitahu oleh dokter manga tersebut, kemungkinan perempuan," ucap Elisa selesai kisah kelucuan dari insiden itu.
"Benarkah? Dia melihat dengan tatapan matanya sendiri?"
Elisa mengangguk. "Saya yakin, Alex akan menyadari bahwa wanita yang selama ini dia temui adalah takdir mereka."
"Saya juga berharap begitu. Saya bahkan sudah tidak sabar ingin memberitahu sesungguhnya kepada wanita itu. Akan tetapi ...."
"Apa itu tidak terlalu cepat? Apalagi saya takut wanita itu tidak akan percaya. Saya juga dengar kalau tuan Alex mulai mencari tahu tentang dia."
__ADS_1