
Pada akhirnya Alex dan Nisan mengantar Fira ke rumah orang tua, di mana tinggal bersama Ervan, sebelum tinggal di rumah orang tua Ervan. Menurut Fira tinggal di sini lebih tenang daripada tinggal di rumah mertua. Tidak ada yang bisa mempercayai ucapan atau komentar. Karena Ervan tidak akan sering pulang. Sebab dia sudah mendapat pekerjaan tetap, bisa juga Ervan dinas ketika pemilik mendesak penting karena kerja. Jadi mereka akan membutuhkan tenaga Ervan.
Alangkah baik, Fira menetap, meskipun dia akan kembali sendiri lagi. Alex dan Nisan masuk bersamaan di rumah terlihat biasa-biasa saja. Jika diperhatikan, dibilang kecil tidak juga. Mungkin standart, bahkan tata barang juga sangat rapi dan terlihat bersih.
"Silakan duduk, maaf kalau rumahku tidak terlalu besar. Kalian mau minum apa?" Fira memberi sopan kepada Alex dan Nisan. Mereka menuruti dan duduk di sofa jika dilihat masih bisa di duduk.
"Tidak usah sungkan, kami hanya mampir sebentar ...."
Alex yang belum selesai berbicara sudah main potong saja oleh Nisan.
"..., air putih saja, sudah cukup Bu." Senyum Nisan, mengabaikan tatapan Alex yang akan mengisap darah karena haus.
"Baiklah, tunggu sebentar ya. Aku buatkan." Fira berlalu ke dapur untuk membuat minuman.
Di sana Alex melempar bantal sofa kepada Nisan. Nisan dengan cepat menangkap sambil melirik arah Fira sedang membuat minuman. Dengan pelan, Nisan berpindah duduk di samping Alex.
"Tidak sopan, kalau kita hanya antar dia di sini. Sebagai tamu, Tuan harus menghormati kebaikan, saling membalas kebaikan itu wajib. Agar pahala Tuan semakin melimpah," ucap Nisan berbisik pelan dan sangat bijaksana sekali kalimat berikan kepada Alex.
Alex mengerti maksud Nisan. "Kau pikir aku tidak bisa bersikap sopan, lain kali jangan pernah memotong ucapan yang belum aku ucapkan. Kalau ulang lagi, habis nyawamu, paham!"
Alex mengancam dengan satu jari telunjuk ke lehernya sebagai tanda memperingatkan kepada Nisan. "Iya, Tuan ... saya hanya takut Tuan menolak tadi, makanya saya melanjutkan ucapan sebagai perwakilan dari om Alberto," ujarnya.
Tak lama kemudian Fira muncul membawa dua gelas minuman bukan air putih, melainkan sirup kietna, yang Fira buat sendiri dari tanaman di belakang rumahnya.
__ADS_1
Alex belum pernah melihat warna seperti ini bahkan terlihat biji jeruk dan biji semboi warna merah pekat.
"Ini minuman kietna, biasa orang sebut ini Jeruk kalamansi adalah jenis buah jeruk yang berkembang pesat di Bengkulu, berbau harum, dan memiliki rasa yang asam ketika sudah masak, dan pahit ketika masih mentah. Atau bisa disebutkan yang lain adalah Jeruk Katsuri. Tapi, kami sering sebutnya Jeruk kietna. Aku ada tanam, kalau mau lihat, besok kalian bisa datang ke sini, biar aku bawakan keliling kebun apa saja yang aku tanam di belakang rumah almarhum orang tua," ucap Fira menjelaskan asal usul dari buah dia buat sendiri.
Alex pun menyesap minuman itu, segar, dan merasakan rasa asem manis. "Enak Tuan?" Nisan malah bertanya.
"Enak, rasanya pas banget, tidak asem banget dan manis juga oke. Ini kamu yang buat sendiri?"
Dengan cepat Fira mengangguk. "Aku yang buat sendiri, kalau kamu mau, aku masih ada satu botol. Bikinnya juga mudah, seperti buat minuman sirup, biasanya aku taruh air panas sedikit baru taruh air biasa dan es batu. Tidak taruh air panas juga bisa, langsung ditaruh air biasa di kocok sampai merata dan tinggal masukan ke es batu."
Fira beranjak dari duduk kemudian diambillah sirup kietna itu dari kulkas. Kemudian dibungkus ke plastik, lalu berikan kepada Alex. "Tidak perlu, aku hanya tanya saja, kenapa kamu malah ...."
"Tidak apa-apa, sebagai imbalan sudah menyelamatkan dan menemani aku sepanjang waktu. Walau tidak seberapa harga ini. Hanya ini yang bisa aku membalaskan, mungkin bisa untuk ibu kamu, atau disaat waktu kamu bisa meminum dalam keadaan cuaca yang panas." Fira berujar, seakan dia tidak suka ada yang menolak.
"Iya imbalan, berarti tidak ada hutang sesama hutang," ujar Fira lagi.
...***...
"Tuan, wanita tadi ternyata baik juga, ya." Nisan masih mengoceh setelah mereka pamitan untuk pulang. Alex dari tadi mengamati botol kietna tersebut.
Ini kali pertama dia melihat warna kayak gini. Selain itu dilihat manapun Alex mulai terbiasa pada sikap wanita hamil itu. Awal-awal saja, ketemuan secara tidak sengaja, yang gegara¹ tolongin hampir terserempet sama kereta di pajak. Terus kejadian itu juga tidak sengaja saat sepatu terciplak sama botol minuman. Semua cuma kebetulan semua.
Alex yang awal mengira ketemu wanita judes kayak Fira memang bikin dia frustrasi, apalagi masa kehamilan yang entah ke berapa itu. Kadang dia juga merasa aneh, makanan yang paling tidak disukainya malah suka. Seakan membuat dia itu mempunyai sesuatu terhadap Fira. Kayak kejadian sore jelang malam tersebut, muka murung dan tetiba menangis. Dia langsung pergi beli es krim, seolah dia sudah tahu kalau wanita yang hamil manjur makan es krim.
__ADS_1
"Tuan ...."
Nisan sudah beberapa kali memanggil Alex. Tapi, Alex malah melamun, seakan ocehan sopir cadangannya bagaikan radio hampir setengah rusak.
Nisan coba lagi memanggil dan sambil menggoyangkan tangan ke depan wajah Alex. Alex sadar akan tangan itu, tetiba membuat dia berseteru, "Awas!"
Dengan cepat Nisan mengerem mendadak, hampir saja mobil Alex mencium pantat mobil depan.
"Kau mau cari mati!" bentak Alex pada Nisan.
Bahkan dia hampir menabrak wajah ke depan kaca. Kalau tidak dia teriak tadi. "Maaf, Tuan. Saya masih mau hidup, maaf. Saya benar-benar minta maaf. Tuan tidak kenapa-kenapa, kan?"
Asli Nisan sangat bersalah banget pada Alex. Dia tidak pernah alami hal seperti ini. Ini juga bukan kehendak untuk mencelakakan putra majikannya. Dia hanya memastikan Alex apakah baik-baik saja.
"Maaf, maaf, kau pikir aku polisi? Untung saja botol ini tidak pecah. Bagaimana aku bisa beritahu sama Fira, pemberian dia dengan hasil kerja keras membuat ini penuh keringat, bisa jatuh!" Alex mengomel dan menyalahkan Nisan.
"Saya benar-benar minta maaf, ini juga bukan kehendak saya, Tuan. Saya juga tidak rela kalau botol kietna itu jatuh. Nanti saya bisa-bisa di golok sama ibu Fira! Maaf Tuan!" Nisan tetap memohon sehingga menyatukan kedua tangan sebagai tanda permintaan maaf yang sesungguhnya. Dia tidak tahu lagi, jika nanti Alex bakal mencincang dirinya.
Alex meletakkan botol kietna itu ke tempat aman. Kemudian dia keluar, membuat Nisan kebingungan. "Eh, Tuan ...."
Alex berjalan dan membuka pintu di mana Nisan mengemudi. Lalu meminta Nisan keluar. "Tuan, saya tidak bawa duit lebih. Nanti saya pulang naik apa?"
"Memang aku ada minta kau pulang naik angkot? Daripada kau menghancurkan mobil kesayanganku, lebih bagus aku yang mengemudi," ujar Alex.
__ADS_1
Nisan sudah berpikir hal-hal aneh, ternyata dia salah sangka. Dia pun keluar dari mobil, kemudian Alex masuk dan Nisan baru saja akan membuka pintu belakang. Akan tetapi mobil Alex malah melaju membuat Nisan berteriak sambil berlari mengejar mobilnya.