Calon Pewaris.

Calon Pewaris.
Bagian 34.


__ADS_3

Ervan dengan kereta melaju sangat cepat, dia tahu ke mana istrinya pergi, dan tidak pulang-pulang. Tempatnya adalah rumah almarhum mertuanya. Selama beberapa minggu itu, Ervan dan Fira memang berniat akan tinggal di rumah mertua lelaki. Sebab, karena Ervan tiba-tiba mendapat pekerjaan sangat cepat. Maka tugas kerjanya juga tidak bisa ditinggal begitu saja.


Awal pertama kerja memang harus rajin-rajin, karena Ervan juga tidak ingin dilihat oleh orang-orang kalau dia tidak bisa diandalkan. Belum lagi Fira masa kehamilan, oleh karena itu, dia juga harus cari duit buat biaya hidup keluarganya. Tidak mungkin dia mengandalkan sisa duit di mana istrinya pinjam sama temannya itu. Itu juga dia harus mengembalikan sampai mendapat gaji pertama.


Pastinya Ervan tidak akan bisa sering berdua menemani istrinya di rumah. Pekerjaan juga banyak, kadang sering malam, tentunya Fira terlihat bosan, belum di rumah juga, mamanya Ervan tidak terlalu suka adanya Fira di sana.


Kembali di rumah, Fira dan Marika masih berbincang-bincang dengan berbagai aneka tumbuhan. Ternyata kedua wanita di ruang tamu mempunyai kesamaan. Marika sangat senang, apalagi bisa mendengar wawasan yang luas tentang tanaman dan tumbuh-tumbuhan.


Waktu itu Alex pernah mengatakan Fira menyukai bunga, tepat juga Marika menyebutkan beberapa bunga dia tanam di rumahnya.


"Saya bisa membawa kamu ke rumah, untuk melihat beberapa macam bunga di sana," ucap Marika.


Fira tentu senang mendengarnya. "Bolehkah?"


"Sangat dibolehkan, di sana juga bisa disaksikan cara perawatan. Karena saya tidak mungkin akan merawat dengan sendiri. Mereka sudah Berpengalaman. Kalau kamu merasa suntuk, kapanpun kamu bisa datang ke rumah. Cukup hubungi Nisan saja, atau sopir pribadi saya, Herman," ucap Marika dengan lembut menyentuh tangan Fira.


Pastinya Fira senang, bagaimanapun dia tidak pernah merasakan ada orang begitu peduli. Mempunyai kesamaan. Marika menoleh ke Nisan. Nisan yang dari tadi berdiri di depan rumah.


"Nisan, mulai besok saya tugaskan kamu temani Fira periksa ke dokter tempat di mana saya rawat," pinta Marika pada Nisan.


"Baik, Bu," sahut Nisan.


Fira yang dengar langsung tercegah. "Eh? Gak usah. Aku bisa sendiri."


"Tidak perlu sungkan. Apalagi kamu sudah baik beri sirup kietna buat putraku. Kamu harus tahu, kalau putraku itu memang sedikit pemalu dan mulutnya memang perlu dijahit sedikit biar tidak asal bikin orang kesal mulu. Saya sebagai ibunya, terus mengelus-elus dada," kata Marika masih tetap bersikap lembut pada Fira.


Beberapa menit kemudian, sebuah kereta bontot masuk ke rumah almarhum orang tuanya Fira. Di sana Nisan mengintip sekaligus orang itu bergegas masuk sambil berlari. Dengan muka cemas kalut.


"Fira! Fira! Kamu di mana!" teriak Ervan dengan suara tersengal-sengal.

__ADS_1


Fira dan Marika menoleh arah sumber suara itu, Fira beranjak dari duduk dan menatap suaminya begitu cemas kalut seperti kehilangan sesuatu.


"Aku di sini, Ervan! Ada apa?" sahut Fira dengan sikap tenangnya.


Sebaliknya Marika ikut berpaling arah seseorang lelaki dengan pakaian biasa berjalan dan mendekati Fira. "Kamu gak kenapa-kenapa, kan?" Ervan malah bertanya sambil memeriksa fisik Fira.


Fira sendiri bingung melihatnya. "Aku baik-baik saja, memang kamu kenapa?"


Ervan langsung menarik tubuh Fira, memeluk karena dia takut jika istrinya terjadi hal yang buruk. "Syukurlah, aku takut kamu terjadi apa-apa. Maafkan aku, membuat sendiri karena pekerjaan," ucap Ervan, dengan perasaan sangat bersalah sekali.


Ini juga bukan kemauannya, jika pekerjaan yang suka tiba-tiba. Tidak mungkin dia menolak, demi buah hati dan juga keluarga kecilnya.


Fira menarik pelan napas, kemudian membalas pelukan suaminya. "Gak apa-apa, aku bisa jaga diri kok, gak perlu di cemaskan. Asal pekerjaan kamu baik-baik saja, sudah jauh lebih cukup buatku," ungkap Fira memberi pendorongan dan semangat untuk suaminya.


Marika yang melihat suami istri di depannya, sedikit terharu. Namun ada rasa sedih dimatanya. Melihat sorot mata lelaki itu, sangat menyayangi istrinya.


Sampai membayangkan posisi Ervan yang sedang memeluk Fira adalah Alex. Tentu perasaan Marika begitu bahagia, bahkan tidak bisa mengucapkan kata-kata. Bagaimana terjadi jika Alex merasakan seperti itu.


Fira mencoba untuk melonggarkan pelukan Ervan, karena masih ada orang di sini. Dengan cepat Ervan mengerti langsung melepasnya. Setelah itu, dia melirik ke wanita tua yang seperti tidak asing di matanya.


"Maaf."


Marika dengan cepat menggeleng. "Tidak apa-apa, sudah sewajarnya kalau suami cemas karena tidak diberi kabar sama istri."


Mereka kembali duduk, tetapi Marika sepertinya tidak akan bisa berlama-lama lagi. Baru saja dia akan beranjak dari duduk untuk pamit pulang. Tiba-tiba Nisan menerima panggilan telepon dari seseorang. Sudah pasti siapa lagi yang menelepon dengan logat sangat besar.


Tentu Alex, karena dia saat bangun terus turun buat minum, dia sudah tidak menemukan ibunya dan juga sopir cadangan yaitu Nisan. Bukan itu saja, ketika Alex selesai mandi, dia hendak untuk keluar. Dia tidak menemukan mobilnya ada di depan halaman rumah. Lalu hanya ditemukan satpam sedang duduk di pos sendiri.


"Kau apakan mobilku? Sekarang kau ada di mana?" sengit Alex dengan logat sangat kesal di pagi jelang siang buta begini.

__ADS_1


"Saya sedang di luar, bersama ...."


"Di luar? Sama siapa?"


Tak lama suara seberang membuat Alex bungkam. "Dengan saya, ada apa? Apa mobilmu harus izin dulu?"


Suara Marika membuat Alex tidak bisa berkutik atau mengeluarkan satu patah kata pun.


"Eh ... bukan begitu, aku hanya tanya saja, soalnya ...."


"Hanya sebentar saja, ini juga saya sudah mau kembali," ucap Marika masih tidak ada beda dengan logat dia berikan kepada putranya.


Fira yang melihat ibu dan anak, seakan dia iri sekali. Kapan dia bisa merasakan keakraban seperti itu. Apalagi, Fira berharap mempunyai ibu mertua seperti Marika. Memahami, peduli, walau sikap putranya begitu menjengkelkan. Pastinya sepasang ibu dan anak itu jika mendapat menantu, akan jauh lebih bahagia daripada dirinya.


Usai berbicara di telepon, Marika mengembalikan kepada Nisan. Padahal dia ingin lebih lama lagi di sini. Karena putranya sudah merengek takut mobil kesayangan lecet atas ulang ibunya nanti.


"Baiklah, sepertinya sudah hampir siang, saya pamit untuk kembali. Anak itu sudah berkokok, dilain waktu saya datang lagi, padahal di sini sangat adem, namun hal tidak bisa ditinggalkan mau tak mau saya harus mengurusnya." Marika pun berdiri dan bersiap untuk pulang.


Ervan dan Fira juga berdiri dan mengantar wanita tua itu ke depan. Nisan sudah menghidupkan mobilnya, dengan secara hati-hati Nisan membantu majikannya masuk ke dalam mobil. Marika menurunkan kaca jendela sambil melambaikan tangan meminta Fira untuk mendekat.


Ketika Fira mendekat, dia memberikan sejumlah uang kepadanya. Sempat Fira menolak, tetapi Marika tetap kukuh memberikan. "Ini untuk pemeriksaan kandungan dan juga beli obat vitamin, kamu juga bisa beli beberapa kebutuhan untuk masa pertumbuhan kandungan dan juga dirimu," ucap Marika dengan sorotan mata yang tulus dan ikhlas.


Ervan yang berdiri tidak jauh, juga melihat sikap wanita itu cukup baik. Sampai sekarang dia masih mencoba mengingat paras muka wanita tua itu. Karena dia pernah bertemu sebelumnya. Karena terlalu banyak kegiatan sehingga ingatannya berkurang.


"Terima kasih, Bu. Akan aku kembalikan jika sudah mendapatkan penghasilan lebih," ujar Fira.


"Tidak perlu, asal kamu sehat, saya sudah senang."


Setelah itu mobil mereka pun meninggalkan tempat itu. Lalu Ervan baru teringat setelah mobil itu sudah menghilang dari bayangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2