Calon Pewaris.

Calon Pewaris.
Bagian 39


__ADS_3

"Kenapa Mbak Luna membatalkan kontrak kerjasama dengan wanita tadi? Apa yang terjadi kalau Pak Hantari tahu soal ini?" ucap Ervan.


Dia merasa kasihan pada wanita tadi, pasti dia sudah cape-cape datang ke sini buat menemui Aluna. Bahkan Aluna dengan inti permasalahan, bahkan sampai terangan membatalkan kontrak kerjasama dari pemasaran industri. Bagaimana akan Ervan jelaskan nanti pada beliau.


"Orang semacam dia tidak pantas diberi belas kasihan. Kau tidak lihat baik-baik. Pakaian yang dia pakai saja tidak rapi, seolah dia memang melakukan sesuatu yang salah. Mana ada manusia seperti dia itu, hanya dengan alasan kecelakaan kecil? Lalu datang dengan terburu-buru? Kau tidak lihat jam tangan dia pakai? Rambutnya?"


Aluna menjelaskan semua segala penampilan dilihat olehnya pada wanita tadi. Memang Ervan tidak terlalu memerhatikan seluruh penampilannya. Entahlah, Ervan merasa dia pernah bertemu sebelumnya. Tidak tahu di mana, yang pasti wajahnya tidak asing banget.


"Ck! Sudahlah, gara-gara dia, aku membatalkan semua janji pada klien. Heran aku sama papa, kenapa masih mau terima tawaran kontrak perusahaan yang sudah hampir bangkrut itu. Sudah jelas, proposal dibuatnya sudah tidak menarik oleh masyarakat setempat. Kayak begini bikin repot satu sejagad raya."


Aluna masih mengomentari bisnis industri itu. Ervan memang tidak tahu menahu soal tentang dunia peng-industrian. Akan tetapi ada yang aneh pada proposal dibuat oleh wanita tadi. Ervan kembali meraih kertas itu, ada banyak aneka karangan bentuk. Walaupun dia tidak punya pengalaman sebuah pekerjaan kantor. Ervan seperti merasa ada yang salah pada titik grafik tersebut.


"Kayaknya bukan kesalahan kinerja atau perusahaan mereka yang tidak maju."


Aluna berkerut setelah Ervan bergumam. "Apa maksudmu?"


"Mbak Luna bisa lihat sekali lagi pada proposal diberikan pada wanita tersebut. Saya yakin dia melakukan sepanjang malam hanya membuat itu semua, walau terlihat tidak rapi pada isinya. Dia bahkan mengurai dan menggores garis dengan cermat. Bukankah sekarang sudah zaman moderen. Seharusnya membuat itu cukup 30 menit, tinggal print out, lalu diserahkan kepada persetujuan. Tapi, dia malah menggunakan dengan cara manual. Sudah pasti hasilnya tidak menarik dilihat oleh orang lain."


Ervan dengan cermat menerangkan semua kepada Aluna. Bahkan Aluna sendiri juga tidak menyadari akan hal itu. Meskipun dia mengandalkan alat elektronik canggih. Entah kenapa dia melupakan ini, dia juga pernah melakukan seperti wanita itu. Mengerjakan secara manual tanpa adanya mesin canggih saat zaman tersebut.


...***...


Wanita itu menghela napas pendek, kemudian membuka penutup kaleng dia beli di swalayan terdekat. Kemudian dia meneguhkan hingga separuh. Setelah itu, dia menatap awan putih dibariskan oleh langit biru.


"Tidak ada harapan lagi untuk mempertahankan perusahaan papa," ucapnya.

__ADS_1


Teringat saat memohon dan meminta untuk bertemu dengan putrinya Hantari. Demi bisa menyelematkan perusahaan papanya yang sebentar lagi lenyap. Mungkin tidak ada lagi nama Argodram Martari. Perusahaan yang sudah lama berdiri 25 tahun, kini harus diratakan oleh pembangunan dan penyitaan hutang dipinjam oleh papanya saat akan membuka usahanya.


Dia menyesal sudah menentang akan mempertahankan usaha papanya. Tetapi hasil yang dia lakukan masih belum sepenuhnya di penuhi.


"Areta akan mempertahankan apa pun. Areta yakin! Perusahaan kita bisa bangkit lagi. Walaupun hanya sistem manual yang kita punya! Percaya Pa. Areta tetap akan melakukan seperti Papa lakukan saat kakek berusaha untuk membangkitkan impiannya!"


Dia tertawa kecil. "Heh! Mempertahankan, membangkitkan, ternyata memang tidak semudah itu. Haaa ... Areta, kau masih perlu belajar dari orang-orang belum kau lakukan," ucapnya pelan sambil memejamkan matanya.


Areta Santaro, 26 tahun, perempuan yang tangguh mempunyai impian untuk bisa memajukan perusahaan papanya. Ketangguhan yang dia inginkan, bisa memberi kepercayaan, bahwa skill dia peroleh dengan pendidikan standar, dia mampu meyakinkan ke masyarkat bahwa kalangan di bawah rata-rata juga bisa berhasil.


Areta beranjak dari duduk setelah menit-menit merenung nasibnya tadi. Dia pun membuang kaleng minuman ke tempatnya. Baru saja akan berjalan beberapa langkah. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dari teman kerjanya, Jerry.


"Hari ini aku belum bisa traktir kamu makan, malam ini aku ...."


Jerry langsung memotong ucapan Areta, dia memberitahu secara langsung. Areta berdiam diri dengan wajah tidak percaya adalah suara Jerry dengan sorak bahwa proposal yang sempat dia berikan kepada Aluna, sempat dibatalkan dan ditolak, mereka menarik kembali. Mereka menerima dan akan menandatangani persetujuan kerjasama dengan perusahaan tersebut.


Areta bagaikan ombak baru saja akan menerjang batu yang kokoh itu. Kini perahu yang terdampar di pasir sudah bisa ditarik oleh air laut yang kencang.


Di hotel Ervan senyum dan lega, akhirnya Aluna menarik ucapan dan meminta maaf. Berkat dirinya juga Aluna tidak sadar akan hal itu.


"Tidak semua orang bisa melakukan itu tanpa kerja keras. Mungkin dari ini, pengindustrian bisnis Hantari baru saja di mulai," ujar Ervan senyum.


...***...


Fira kayak tidak punya tujuan hidup, setengah hari ini dia duduk kayak orang bodoh. Sejak kejadian tadi pagi terima panggilan telepon, isi otaknya hanya tertuju ke nama seseorang. Apalagi uang yang sempat dia terima tanpa tahu menahu siapa pemilik, dengan bebas dia memakainya seolah mendapat kemenangan lotre dadakan.

__ADS_1


Sekarang dia mulai mengerti sedikit demi sedikit tujuan wanita tua datang ke rumah beberapa hari yang lalu. Dari tampilan hingga sikap begitu ramah tamah padanya. Seolah dia memang sudah sangat mengenal dirinya. Bahkan tanpa ada rasa cela satu pun sindiran dari wanita tua itu.


Fira mengembuskan napas yang amat sangat berat, dia tidak bisa menjernihkan semua itu. Kejadian demi kejadian terulang, hingga dia juga tidak sadar pada seorang lelaki disebut OKB.


Kini, Fira mulai tahu tujuan wanita tua itu melakukan padanya, perhatian, simpati, kepedulian, sampai kecemasan pada kandungan. Apakah dibalik semua dikatakan oleh Bryan itu adalah imbalan uang dia pernah minta melunasi hutang Ervan saat bekerja di luar negeri? Apakah imbalan itu juga, dia menutupi sisi gelap kepada Ervan, bahwa dia memang sudah membohongi suaminya. Kalau kehamilan ini memang bukan darah dagingnya. Apakah Ervan akan percaya atau dia akan dibenci olehnya.


Apalagi, sang ibu mertuanya juga tidak pernah mengakui, calon cucunya benar-benar adalah hasil benih dari putranya. Kelak semua akan terkuak, terbongkar. Apa yang harus dia lakukan setelah ini. Mengembalikan uang itu lalu memilih untuk tidak berurusan dengan orang kaya? Mungkin saja, dia akan lakukan. Tapi dengan cara apa dia melakukannya. Uang yang masuk 10 juta itu sudah digunakan setengah, bagaimana dia menjelaskan, bagaimana dia memberitahu kepada mereka. Dia tidak mempunyai apa pun. Harta benda apa yang bisa dia jual, emas pernikahan, itu juga sudah dia jual saat untuk mengumpulkan uang agar suaminya bisa pulang dari perantauan.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Di cuaca terik panas seperti ini? Bagaimana kalau kamu sakit?" Suara menggema itu menyadarkan seluruh lamunannya.


Fira menoleh dan memandang seseorang berdiri dengan baju biasa serta celana santai sambil memegang payung ditangannya. Alex, siapa lagi.


Lelaki itu selalu ada di mana saja, setiap apa yang terjadi pada Fira. Fira tidak mengerti, tujuan lelaki ini untuk apa? Untuk bersimpati kepadanya, atau hanya tujuan lain.


"Jelaskan padaku, tujuan rasa kepedulian kalian itu apa? Apa karena aku miskin? Atau aku memang tidak pantas diberi kesempatan hidup tenang?" ucap Fira dan bergumam seolah dia memang sudah menyerah.


Alex yang berdiri di sana tidak mengerti maksud diucapkan oleh Fira. Dia kembali menutup payung itu. Kemudian meletakkan ke samping meja kecil, lalu dia gabung duduk di sebelahnya sambil mengeluarkan satu permen fox dari kantongnya, pastinya berikan kepada Fira juga.


Fira masih menunggu jawaban dari Alex. "Siapa pun pasti ingin hidup tenang, hidup bebas. Sebaliknya denganku. Tapi aku tidak tahu, apa yang kamu bicarakan. Yang pasti semua orang punya masalah sendiri. Dalam kondisi kamu sekarang, lebih bagus jangan terlalu banyak beban pikiran. Apa kamu lupa, kata dokter, kamu harus cukup banyak istirahat, harus semangat, kandungan kamu itu jauh lebih ...."


"..., apa peduli kamu pada kandungan ku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Apa aku pernah menyerahkan sesuatu kepadamu?"


Alex terdiam setelah diberi pertanyaan tidak dia pahami. Dia memandang dua bola mata yang pernah dia puji karena bagus. Ada keanehan di balik tatapan pada wanita di depannya. Entahlah, Alex tidak bisa menebak.


"Aku sudah mengerti semua yang terjadi padaku selama tiga bulan belakangan ini. Bahkan masa kehamilan saat aku senang, diberi kesempatan bisa merasakan menjadi sosok orang tua. Tapi, di waktu insiden itu, aku dan kamu pernah bertemu, entah itu insiden tabrakan. Hingga perdebatan yang tidak penting sering terjadi. Seolah aku dan kamu memang ditakdirkan atau sudah direncanakan oleh mamamu," ungkap Fira menjelaskan semua yang dari tadi dia renungan.

__ADS_1


"Jika memang ini adalah rencana dari mamamu, apa uang selama aku terima itu juga karena dia menginginkan agar aku bisa melahirkan dan memberikan anakku untuk mamamu sebagai kesepakatan penukaran?" lanjut Fira mempertanyakan lagi kepada Alex.


Alex tidak mengerti semua ucapan dibicarakan oleh Fira. Dia juga tidak tahu apa tujuan ibunya. Yang dia tahu memang ibunya ingin mempunyai seorang cucu. Tapi ....


__ADS_2